Larangan Mengharamkan yang Baik-baik

Kajian Tafsir Surah Al-Maa'idah ayat 87

0
19

Kajian Tafsir Surah Al-Maa’idah ayat 87. Larangan mengharamkan yang baik-baik dan penjelasan tentang hukum sumpah. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُحَرِّمُوا طَيِّبَاتِ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكُمْ وَلا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengharamkan apa yang baik yang telah dihalalkan Allah kepadamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (Q.S. Al-Maa’idah : 87)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Yā ayyuhal ladzīna āmanū lā tuharrimū thayyibāti mā ahallallāhu lakum. (wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengharamkan apa-apa yang baik yang telah Dihalalkan Allah untuk kalian). Ayat ini diturunkan berkenaan dengan sepuluh orang shahabat Rasulullah ﷺ. Mereka adalah Abu Bakr ash-Shiddiq, ‘Umar, ‘Ali, ‘Abdullah bin Mas‘ud, ‘Utsman bin Mazh‘un al-Jumahi, Miqdad bin al-Aswad al-Kindi, Salim maulā (bekas budak) Abu Hudzaifah bin ‘Utbah, Salman al-Farisi, Abu Dzarr, dan ‘Ammar bin Yasir. Di rumah ‘Utsman bin Mazh‘un, mereka telah bersepakat untuk tidak makan dan minum kecuali makanan pokok saja, tidak akan tinggal di rumah, tidak akan menggauli istri, tidak akan makan daging, dan tidak akan makan lemak. Mereka mewajibkan kepada diri mereka untuk meninggalkan semua itu. Kemudian Allah Ta‘ala Melarang mereka dari kesepakatan itu. Berkenaan dengan hal itulah, Allah Ta‘ala Menurunkan ayat: yā ayyuhal ladzīna āmanū lā tuharrimū thayyibāti mā ahallallāhu lakum (wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengharamkan apa-apa yang baik yang telah Dihalalkan Allah untuk kalian) berupa makanan, minuman, dan jimak. …

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-7  

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

87.[5] Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengharamkan apa yang baik yang telah dihalalkan Allah kepadamu[6], ….

[5] Ayat ini turun berkenaan sebagian sahabat yang hendak melazimkan puasa, shalat malam dan tidak mendekati istri, serta tidak mau memakai wewangian, tidak memakan daging dan tidak tidur di atas kasur, padahal yang demikian dihalalkan Allah Subhaanahu wa Ta’aala.

[6] Nikmat-nikmat yang diberikan Allah patut disyukuri, baik dengan memuji Allah ketika memperolehnya, tidak kufur nikmat dan tidak menolaknya atau meyakini haramnya, karena yang demikian sama saja berkata dusta tentang Allah, kufur nikmat, dan meyakini yang baik sebagai sesuatu yang haram lagi buruk, ini semua merupakan sikap melampaui batas.

.

Tafsir Jalalain

  1. Ayat ini diturunkan tatkala ada suatu kaum dari kalangan para sahabat yang bertekad menetapi puasa dan melakukan shalat di malam harinya; mereka tidak mau mendekati wanita-wanita, memakai wewangian, memakan daging dan tidur di ranjang/kasur. (Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu) ….

.

Tafsir Ibnu Katsir

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari ibnu Abbas, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan segolongan orang dari sahabat Nabi ﷺ yang mengatakan, “Kita kebiri diri kita, tinggalkan nasfu syahwat duniawi dan mengembara di muka bumi seperti yang dilakukan oleh para rahib di masa lalu.” Ketika berita tersebut sampai kepada Nabi ﷺ, maka beliau mengirimkan utusan untuk menanyakan hal tersebut kepada mereka. Mereka menjawab, “Benar.” Maka Nabi ﷺ bersabda:

لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ، وَأُصَلِّي وَأَنَامُ، وَأَنْكِحُ النِّسَاءَ، فَمَنْ أَخَذَ بسُنَّتِي فَهُوَ مِنِّي، وَمَنْ لَمْ يَأْخُذْ بِسُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

Tetapi aku puasa, berbuka, shalat, tidur, dan menikahi wanita. Maka barang siapa yang mengamalkan sunnahku (tuntunanku), berarti dia termasuk golonganku; dan barang siapa yang tidak mengamalkan sunnahku, maka dia bukan termasuk golonganku. (Riwayat Ibnu Abu Hatim)

Ibnu Murdawaih telah meriwayatkan melalui jalur Al-Aufi, dari Ibnu Abbas, hal yang semisal.

Di dalam kitab Sahihain disebutkan dari Siti Aisyah radiyallahu ‘anha bahwa pernah ada segolongan orang dari kalangan sahabat Rasulullah ﷺ bertanya kepada istri-istri Nabi ﷺ tentang amal perbuatan Nabi ﷺ yang bersifat pribadi. Maka sebagian dari para sahabat itu ada yang menyangkal, “Kalau aku tidak makan daging.” Sebagian yang lain mengatakan, “Aku tidak akan mengawini wanita.” Dan sebagian lagi mengatakan, “Aku tidak tidur di atas kasur. “Ketika hal itu sampai kepada Nabi ﷺ, maka beliau bersabda:

مَا بَالُ أَقْوَامٍ يَقُولُ أَحَدُهُمْ كَذَا وَكَذَا، لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ، وَأَنَامُ وَأَقُومُ، وَآكُلُ اللَّحْمَ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

Apakah gerangan yang dialami oleh kaum, seseorang dari mereka mengatakan anu dan anu, tetapi aku puasa, berbuka, tidur, bangun, makan daging, dan kawin dengan wanita. Maka barang siapa yang tidak suka dengan sunnah (tuntunan)ku, maka dia bukan dari golonganku.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Isam Al-Ansari, telah menceritakan kepada kami Abu Asim Ad-Dahhak ibnu Mukhallad, dari Usman (yakni Ibnu Sa’id), telah menceritakan kepadaku Ikrimah, dari Ibnu Abbas bahwa pernah ada seorang lelaki datang kepada Nabi ﷺ, lalu lelaki itu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku apabila makan daging ini, maka berahiku terhadap wanita memuncak, dan sesungguhnya aku sekarang mengharamkan daging atas diriku.” Maka turunlah firman-Nya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kalian. (Al-Maa’idah: 87)

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Turmuzi dan Imam Ibnu Jarir, keduanya dari Amr ibnu Ali Al-Fallas, dari Abu Asim An-Nabil dengan sanad yang sama. Menurut Imam Turmuzi hadits ini hasan garib. Telah diriwayatkan pula melalui jalur lain secara mursal, dan telah diriwayatkan secara mauquf pada Ibnu Abbas.

Sufyan As-Sauri dan Waki’ mengatakan bahwa Ismail ibnu Abu Khalid telah meriwayatkan dari Qais ibnu Abu Hazim, dari Abdullah ibnu Mas’ud yang menceritakan, “Kami pernah berperang bersama Nabi ﷺ sedangkan kami tidak membawa wanita. Maka kami berkata, ‘Sebaiknya kita kebiri saja diri kita.’ Tetapi Rasulullah ﷺ melarang kami melakukannya dan memberikan rukhsah (kemurahan) bagi kami untuk mengawini wanita dengan maskawin berupa pakaian dalam jangka waktu yang ditentukan.” Kemudian Abdullah ibnu Mas’ud membacakan firman-Nya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kalian. (Al-Maa’idah: 87), hingga akhir ayat.

Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkannya melalui hadits Ismail. Peristiwa ini terjadi sebelum nikah mut’ah diharamkan. Al-A’masy telah meriwayatkan dari Ibrahim, dari Hammam ibnul Haris, dari Amr ibnu Syurahbil yang menceritakan bahwa Ma’qal ibnu Muqarrin datang kepada Abdullah ibnu Mas’ud, lalu Ma’qal berkata, “Sesungguhnya aku sekarang telah mengharamkan tempat tidurku (yakni tidak mau tidur di kasur lagi)” Maka Abdullah ibnu Mas’ud membacakan firman-Nya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kalian. (Al-Maa’idah: 87), hingga akhir ayat.

As-Sauri telah meriwayatkan dari Mansur, dari Abud Duha, dari Masruq yang menceritakan, “Ketika kami sedang berada di rumah Abdullah ibnu Mas’ud, maka disuguhkan kepadanya air susu perahan. Lalu ada seorang lelaki (dari para hadirin) yang menjauh. Abdullah ibnu Mas’ud berkata kepadanya, “Mendekatlah!” Lelaki itu berkata, ‘Sesungguhnya aku telah mengharamkan diriku meminumnya.’ Abdullah ibnu Mas’ud berkata, ‘Mendekatlah dan minumlah, dan bayarlah kifarat sumpahmu,’ lalu Abdullah ibnu Mas’ud membacakan firman-Nya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kalian. (Al-Maa’idah: 87), hingga akhir ayat.

Bersambung: Yang Baik-baik yang Telah Allah Halalkan 

Keduanya diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim. Imam Hakim telah meriwayatkan asar yang terakhir ini di dalam kitab Mustadrak-nya melalui jalur Ishaq ibnu Rahawaih, dari Jarir, dari Mansur dengan sanad yang sama. Kemudian Imam Hakim mengatakan bahwa asar ini sahih dengan syarat Syaikhain (Bukhari dan Muslim), tetapi keduanya tidak mengetengahkannya.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here