Wasiat dengan Persaksian Jika Sedang dalam Perjalanan

Kajian Tafsir Surah Al-Maa'idah ayat 106

0
62

Kajian Tafsir Surah Al-Maa’idah ayat 106. Di antara hukum-hukum wasiat dan mengadakan saksi terhadapnya; Allah Ta‘ala menerangkan wasiat dengan persaksian jika sedang dalam perjalanan. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا شَهَادَةُ بَيْنِكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ حِينَ الْوَصِيَّةِ اثْنَانِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ أَوْ آخَرَانِ مِنْ غَيْرِكُمْ إِنْ أَنْتُمْ ضَرَبْتُمْ فِي الأرْضِ فَأَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةُ الْمَوْتِ تَحْبِسُونَهُمَا مِنْ بَعْدِ الصَّلاةِ فَيُقْسِمَانِ بِاللَّهِ إِنِ ارْتَبْتُمْ لا نَشْتَرِي بِهِ ثَمَنًا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى وَلا نَكْتُمُ شَهَادَةَ اللَّهِ إِنَّا إِذًا لَمِنَ الآثِمِينَ 

Wahai orang-orang yang beriman! Apabila salah seorang (di antara) kamu menghadapi kematian, sedang dia akan berwasiat, maka hendaklah (wasiat itu) disaksikan oleh dua orang yang adil di antara kamu, atau dua orang yang berlainan agama dengan kamu. Jika kamu dalam perjalanan di bumi lalu kamu ditimpa bahaya kematian, hendaklah kamu tahan kedua saksi itu setelah shalat, agar keduanya bersumpah dengan nama Allah jika kamu ragu-ragu, “Demi Allah, kami tidak akan mengambil keuntungan dengan sumpah ini, walaupun dia karib kerabat, dan kami tidak akan menyembunyikan kesaksian Allah; sesungguhnya jika demikian tentu kami termasuk orang-orang yang berdosa.(Q.S. Al-Maa’idah : 106)

.

Tafsir Ibnu Abbas

In aηtum dlarabtum (jika kalian dalam perjalanan), yakni jika kalian sedang bepergian.

Fil ardli fa ashābatkum mushībatul maūt (di muka bumi lalu kalian ditimpa bahaya kematian). Ayat ini diturunkan berkenaan dengan tiga orang yang mengadakan kerja sama dalam suatu perdagangan ke negeri Syam. Salah seorang di antara mereka meninggal dunia di Syam. Orang tersebut adalah seorang Muslim yang bernama Badil bin Abi Mariyah, maulā (bekas budak) ‘Amr bin al-‘Ash. Sebelum meninggal, Badil berwasiat kepada kedua orang temannya yang beragama Nasrani, yaitu ‘Adi bin Bada’ dan Tamim bin Aus ad-Dari. Namun, wasiat Badil dikhianati oleh kedua orang temannya. Maka Allah Ta‘ala berfirman kepada para wali si mati:

Tahbisūnahumā (kalian tahan keduanya), yakni kedua orang Nasrani itu.

Mim ba‘dish shalāti (sesudah shalat), yakni shalat Asar.

Fa yuqsimāni billāhi inirtabtum (lalu keduanya bersumpah dengan nama Allah, jika kalian ragu-ragu), yakni jika kalian, hai para wali si mati, ragu-ragu bahwa harta yang sebenarnya lebih banyak daripada yang telah diberikan oleh kedua orang itu.

Lā nasytarī bihī (“Kami tidak akan menukarnya), yakni hendaknya kedua orang itu berkata, “Kami tidak akan menukar sumpah ini.”

Tsamanan (dengan sesuatu harga [untuk kepentingan seseorang]), yakni dengan harta dunia yang tidak seberapa.

Wa lau kāna dzā qurbā (meskipun dia itu kerabat), yakni meskipun si mati itu mempunyai hubungan kekerabatan dengan kami.

Wa lā naktumu syahādatallāhi (dan juga kami tidak akan menyembunyikan kesaksian Allah), yakni hendaklah keduanya mengatakan, “Kami tidak akan menyembunyikan kesaksian atas Nama Allah jika diminta.”

Innā (sesungguhnya kami), jika kami menyembunyikan.

Idzan (kalau demikian), yakni ketika itu.

La minal ātsimīn (tentulah termasuk orang-orang yang berdosa”), yakni orang-orang yang durhaka. Akhirnya, setelah kedua orang itu bersumpah, jelaslah tindakan khianat yang dilakukan oleh keduanya, dan para wali si mati pun menjadi tahu.

Sebelumnya: Hukum-hukum Wasiat 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. … Jika kamu dalam perjalanan di bumi lalu kamu ditimpa bahaya kematian, hendaklah kamu tahan kedua saksi itu setelah shalat[13], agar keduanya bersumpah dengan nama Allah jika kamu ragu-ragu[14], “Demi Allah, kami tidak akan mengambil keuntungan dengan sumpah ini, walaupun dia karib kerabat, dan kami tidak akan menyembunyikan kesaksian Allah[15]; sesungguhnya jika demikian tentu kami termasuk orang-orang yang berdosa.”

[13] Yakni setelah shalat ‘Ashar, di mana bermaksiat di waktu itu dosanya lebih besar. Di dalam hadits riwayat Muslim disebutkan:

ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ رَجُلٌ حَلَفَ عَلَى يَمِينٍ بَعْدَ صَلاَةِ الْعَصْرِ عَلَى مَالِ مُسْلِمٍ فَاقْتَطَعَهُ

“Ada tiga orang yang tidak diajak bicara oleh Allah, tidak diperhatikan-Nya dan bagi mereka azab yang pedih; seseorang yang bersumpah setelah shalat Ashar terhadap harta seorang muslim, lalu ia mengambilnya.”

[14] Terhadap persaksian itu. Jika yakin (tidak meragukan persaksian itu), maka tidak perlu diadakan sumpah.

[15] Bahkan kami akan menyampaikannya sesuai yang kami ketahui atau kami dengar.

.

Tafsir Jalalain

  1. … (jika kamu dalam perjalanan) sedang bepergian (di muka bumi lalu kamu tertimpa bahaya kematian. Kamu tahan kedua saksi itu) kamu pegang kedua orang itu; kalimat ini menjadi kata sifat dari lafal aakharaani (sesudah kamu shalat) yaitu shalat asar (lalu mereka keduanya bersumpah) mengikrarkan perjanjian (dengan atas nama Allah jika kamu ragu-ragu) kamu merasa syakwasangka mengenainya, kemudian keduanya mengatakan: (“Kami tidak akan membeli dengan sumpah itu) atas nama Allah (harga yang sedikit) sebagai imbalan berupa materi/duniawi yang kami ambil sebagai penggantinya dengan cara bersumpah atau mengadakan kesaksian dusta demi untuk meraih imbalan itu (walaupun dia) orang yang disumpahi atau orang yang disaksikan itu adalah (kerabat karib) familinya sendiri (dan tidak pula kami menyembunyikan persaksian Allah) yang kami diperintahkan-Nya untuk melaksanakannya (sesungguhnya kami kalau demikian) kalau kami menyembunyikannya (termasuk orang-orang yang berdosa.”)

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala :

إِنْ أَنْتُمْ ضَرَبْتُمْ فِي الأرْضِ

Jika kalian dalam perjalanan di muka bumi. (Al Maidah: 106)

Yakni sedang melakukan perjalanan

فَأَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةُ الْمَوْتِ

Lalu kalian ditimpa bahaya kematian. (Al-Maa’idah: 106)

Hal tersebut merupakan dua syarat bagi pembolehan mengangkat saksi dari kalangan kafir zimmi, jika saksi dari kalangan orang-orang mukmin tidak didapat; yaitu hendaknya hal tersebut terjadi dalam perjalanan, dan kedua hendaknya dalam kasus wasiat. Demikianlah menurut keterangan yang dikemukakan oleh Syuraih Al-Qadi.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Ali, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah dan Waki’; keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, dari Ibrahim, dari Syuraih, bahwa tidak boleh memakai persaksian orang Yahudi dan Nasrani kecuali dalam perjalanan. Tidak boleh pula menerimanya dalam perjalanan, kecuali dalam kasus wasiat.

Kemudian Ibnu Jarir meriwayatkan dari Abu Kuraib, dari Abu Bakar ibnu Ayyasy, dari Abu Ishaq As-Subai’i yang mengatakan bahwa Syuraih telah mengatakan hal yang semisal. Telah diriwayatkan pula hal yang semisal dari Imam Ahmad ibnu Hambal, dan masalah ini termasuk masalah munfarid-nya. Ketiga imam lainnya berbeda pendapat, mereka mengatakan bahwa tidak boleh mengangkat kesaksian orang zimmi atas kaum muslim. Tetapi Imam Abu Hanifah membolehkannya selagi dalam batasan di antara sesama mereka yang zimmi.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Ali, telah menceritakan kepada kami Abu Daud, telah menceritakan kepada kami Saleh ibnu Abul Akhdar, dari Az-Zuhri yang menceritakan bahwa sunnah telah menetapkan bahwa tidak boleh memakai kesaksian orang kafir, baik di tempat maupun dalam perjalanan; sesungguhnya kesaksian itu hanyalah bagi orang-orang muslim.

Ibnu Zaid mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan seorang lelaki yang menghadapi kematiannya, sedangkan di dekatnya tidak ada seorang pun dari kalangan pemeluk agama Islam. Hal ini terjadi di masa permulaan Islam, yaitu di saat mereka berada di tempat musuh dan semua orang dalam keadaan kafir. Orang-orang (kaum muslim) saling mewaris mempergunakan wasiat. Kemudian hukum wasiat (yakni kefarduannya) dihapuskan dan ditetapkanlah faraid (pembagian waris), dan semua kaum muslim mengamalkannya. Demikianlah menurut riwayat Ibnu Jarir, tetapi kesahihan hal ini masih perlu dipertimbangkan.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa telah diperselisihkan makna firman-Nya: Apabila salah seorang dari kalian menghadapi kematian, sedangkan dia akan berwasiat, maka hendaklah (wasiat itu) disaksikan oleh dua orang yang adil di antara kalian, atau dua orang yang berlainan agama dengan kalian. (Al-Maa’idah: 106) Apakah makna yang dimaksud adalah ‘berwasiat kepada keduanya’ ataukah ‘mengangkat keduanya menjadi saksi’, ada dua pendapat mengenainya:

Pertama, orang yang bersangkutan memberikan wasiat kepada keduanya, yakni menitipkannya, seperti yang dikatakan oleh Muhammad ibnu Ishaq, dari Yazid ibnu Abdullah ibnu Qasit yang menceritakan bahwa sahabat Ibnu Mas’ud radiyallahu ‘anhupernah ditanya mengenai makna ayat ini. Maka ia menjawab, “Seorang lelaki sedang melakukan suatu perjalanan dengan membawa hartanya, kemudian takdir batas umurnya telah berada di ambang pintu. Maka jika ia menemukan dua orang lelaki dari kaum muslim, ia boleh menyerahkan harta peninggalannya kepada kedua orang lelaki itu, dan penyerahan itu disaksikan oleh dua orang yang adil dari kalangan kaum muslim.”Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim, tetapi di dalam riwayat ini terdapat inqita’.

Kedua, sesungguhnya kedua orang tersebut merupakan dua orang saksi. Pengertian ini sesuai dengan makna lahiriah ayat. Jika tidak ada orang ketiga bersama keduanya, maka kedua orang itu merangkap sebagai penerima titipan wasiat, juga sebagai saksinya, seperti yang terjadi pada kisah Tamim Ad-Dari dan Addi ibnu Bada yang akan diterangkan kemudian.

Ibnu Jarir sulit menanggapi kedua penerima wasiat itu sebagai saksi, dengan alasan “dia belum pernah mengetahui ada suatu ketentuan hukum yang membolehkan saksi disumpah”.

Kenyataan tersebut sama sekali tidak bertumpukan dengan ketentuan hukum yang dikandung oleh ayat yang mulia ini, mengingat ketentuan hukumnya merupakan hukum yang berdiri sendiri. Secara mendasar hukum ini tidak diharuskan berjalan sesuai dengan kaidah yang berlaku dalam semua hukum. Hukum dalam ayat ini bersifat khusus, dengan kesaksian yang khusus, dan terjadi dalam tempat yang khusus pula- Untuk hal seperti ini dapat dimaafkan semua hal yang tidak dimaafkan pada ketentuan hukum lainnya. Untuk itu apabila terdapat qarinah yang menandai adanya kecurigaan, maka saksi ini boleh disumpah. Demikian¬lah menurut pengertian yang ditunjukkan oleh ayat yang mulia ini.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala :

تَحْبِسُونَهُمَا مِنْ بَعْدِ الصَّلاةِ

Kalian tahan kedua saksi itu sesudah shalat (untuk bersumpah). (Al-Maa’idah: 106)

Menurut Al-Aufi, dari Ibnu Abbas, shalat yang dimaksud adalah shalat Asar. Hal yang sama telah dikatakan oleh Sa’id ibnu Jubair, Ibrahim An-Nakha’i, Ikrimah, dan Muhammad ibnu Sirin.

Sedangkan menurut Az-Zuhri, shalat yang dimaksud ialah shalat kaum muslim (tanpa ikatan waktu).

As-Saddi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa yang dimaksud dengan “shalat” dalam ayat ini ialah shalat menurut agamanya masing-masing. Telah diriwayatkan dari Abdur Razzaq, dari Ayyub, dari Ibnu Sirin, dari Ubaidah hal yang semisal; dan hal yang sama telah dikatakan oleh Ibrahim dan Qatadah serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang.

Makna yang dimaksud ialah kedua saksi tersebut diberdirikan sesudah shalat jamaah yang dilakukan oleh orang banyak di hadapan mereka.

فَيُقْسِمَانِ بِاللَّهِ

Lalu mereka keduanya bersumpah dengan nama Allah (Al-Maa’idah: 106)

Yakni keduanya disumpah dengan menyebut nama Allah.

إِنِ ارْتَبْتُمْ

Jika kalian ragu-ragu. (Al-Maa’idah: 106)

Yakni jika tampak oleh kalian tanda yang mencurigakan pada keduanya, bahwa keduanya akan berbuat khianat atau melakukan penggelapan. Maka saat itu kalian boleh menyumpah keduanya dengan menyebut nama Allah.

لَا نَشْتَرِي بِهِ

(Demi Allah) kami tidak akan membeli dengan sumpah ini. (Al-Maa’idah: 106)

Menurut Muqatil ibnu Hayyan, yang dimaksud ialah tidak menjual sumpahnya.

ثَمَنًا

Harga yang sedikit (Al-Maa’idah: 106)

Yakni kami tidak akan menukar sumpah ini dengan harga yang sedikit berupa kebendaan yang fana dan pasti lenyap itu.

وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى

Walaupun dia karib kerabat. (Al-Maa’idah: 106)

Yakni sekalipun orang yang disaksikannya itu adalah karib kerabat sendiri, kami tidak akan memihaknya.

وَلا نَكْتُمُ شَهَادَةَ اللَّهِ

Dan tidak (pula) kami menyembunyikan persaksian Allah (Al-Maa’idah: 106)

Lafaz syahddah di-mudaf-kan kepada lafaz Allah, sebagai penghormatan terhadap kesaksian itu dan sekaligus mengagungkannya. Tetapi sebagian ulama ada yang membacanya syahadatillah dengan dibaca jar karena dianggap sebagai qasam (sumpah), menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, dari Amir Asy-Sya’bi. Dan telah diriwayatkan dari sebagian ulama bacaan rafa’, yaitu menjadi syahddatullahi. Akan tetapi, qiraah pertama adalah qiraah yang terkenal.

Ayat berikutnya: Mengadakan Saksi 

إِنَّا إِذًا لَمِنَ الآثِمِينَ

Sesungguhnya kami kalau demikian termasuk orang-orang yang berdosa. (Al-Maa’idah: 106)

Yakni jika kami melakukan sesuatu penyimpangan dalam persaksian ini atau mengganti atau mengubah atau sama sekali menyembunyikannya.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Berita sebelumyaMengadakan Saksi
Berita berikutnyaHukum-hukum Wasiat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here