Menyumpah Saksi

Kajian Tafsir Surah Al-Maa'idah ayat 108

0
195

Kajian Tafsir Surah Al-Maa’idah ayat 108. Di antara hukum-hukum wasiat, mengadakan saksi terhadapnya; dan menyumpah saksi. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يَأْتُوا بِالشَّهَادَةِ عَلَى وَجْهِهَا أَوْ يَخَافُوا أَنْ تُرَدَّ أَيْمَانٌ بَعْدَ أَيْمَانِهِمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاسْمَعُوا وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Dengan cara itu mereka lebih patut memberikan kesaksiannya menurut yang sebenarnya, dan mereka merasa takut akan dikembalikan sumpahnya (kepada ahli waris) setelah mereka bersumpah. Bertakwalah kepada Allah dan dengarkanlah (perintah-Nya). Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (Q.S. Al-Maa’idah : 108)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Dzālika adnā (hal itu memungkinkan), yakni lebih pantas dan lebih patut.

Ay ya’tū bisy syahādati (agar [para saksi] mengemukakan persaksian), yakni agar kedua orang Nasrani itu mengemukakan persaksian.

‘Alā wajhihā (menurut apa yang sebenarnya), yakni sebagaimana adanya.

Au yakhāfū (atau membuat mereka merasa takut), yakni agar kedua orang Nasrani itu merasa takut.

Aη turadda aimānun (sumpahnya akan dikembalikan [kepada ahli waris]), yakni sumpah mereka berdua ditolak (lalu diangkat sumpah dari ahli waris).

Ba‘da aimānihim (sesudah mereka bersumpah), yakni sesudah persaksian dua orang Muslim. Oleh karena itu, janganlah keduanya menutup-nutupi.

Wat taqullāha (dan bertakwalah kalian kepada Allah), yakni hendaklah kalian takut kepada Allah Ta‘ala berkenaan dengan persoalan amanat.

Wasma‘ū (dan dengarkanlah) apa yang diperintahkan kepada kalian, dan hendaklah kalian taat kepada Allah Ta‘ala.

Wallāhu lā yahdil qaumal fāsiqīn (Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik), yakni Allah Ta‘ala tidak akan membimbing orang-orang yang durhaka, pendusta, dan kafir, pada agama dan Keterangan-Nya, sebab mereka tidak layak mendapatkannya.

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-7  

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Dengan cara itu[21] mereka[22] lebih patut memberikan kesaksiannya menurut yang sebenarnya[23], dan mereka merasa takut akan dikembalikan sumpahnya (kepada ahli waris) setelah mereka bersumpah[24]. Bertakwalah kepada Allah[25] dan dengarkanlah (perintah-Nya). Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.

[21] Mengembalikan sumpah kepada wali si mati (ahli waris) ketika nampak sikap khianat dari kedua saksi.

[22] Yakni para saksi.

[23] Tanpa memutarbalikan dan berkhianat.

[24] Maksud “sumpah itu dikembalikan” adalah saksi-saksi yang berlainan agama itu ditolak, dan sumpah yang dipegang adalah sumpah saksi-saksi yang terdiri dari karib kerabat, atau berarti orang-orang yang bersumpah itu akan mendapat balasan di dunia (seperti terbuka aibnya) dan akhirat, karena melakukan sumpah palsu, akhirnya mereka tidak jadi bersumpah palsu.

Kesimpulan:

Jika seseorang bersafar, lalu ia merasakan akan meninggal di perjalanan itu, maka hendaknya ia berwasiat kepada dua orang saksi yang muslim dan adil. Jika tidak ada orang muslim, maka tidak mengapa dua orang non muslim. Akan tetapi, karena keadaan mereka yang kafir, maka para ahli waris jika meragukan keduanya menyuruh dua saksi itu bersumpah setelah shalat Ashar, bahwa keduanya tidak akan berkhianat, tidak akan berdusta dan merubah apa yang dipesankan si mati. Dengan sumpah ini, mereka dibebaskan dari hak yang ditujukan kepada keduanya. Jika ahli waris tidak membenarkan keduanya dan mengetahui berdasarkan qarinah, bahwa keduanya berdusta, maka jika ahli waris menghendaki, mereka angkat dua orang dari mereka untuk bersumpah dengan nama Allah yang isinya menyatakan bahwa sumpah mereka lebih berhak diikuti daripada sumpah kedua orang tadi.

Dari ayat di atas dapat ditarik beberapa hukum, di antaranya:

  • Berwasiat itu disyari’atkan, dan sepatutnya bagi orang yang merasakan akan meninggal untuk berwasiat.
  • Wasiat bisa dijadikan pegangan, meskipun seseorang sedang dalam keadaan akan wafat, selama ia masih sadar terhadap apa yang diucapkannya.
  • Persaksian orang kafir dalam hal ini diterima karena darurat, inilah yang dipegang oleh Imam Ahmad. Adapun ulama yang lain berpendapat, bahwa hukum tersebut sudah mansukh (dihapus), namun pendapat tersebut tidak ada dalilnya.
  • Seorang muslim boleh bersafar dengan orang non muslim, jika tidak berbahaya.
  • Bolehnya bepergian jauh untuk berdagang.
  • Para saksi, jika masih diragukan meskipun tidak ada qarinah yang menunjukkan bahwa keduanya berdusta, maka ahli waris boleh menyuruhnya bersumpah setelah shalat agar lebih yakin.
  • Jika saksi tidak tertuduh, maka tidak butuh ditahan dan disuruh bersumpah.
  • Persaksian merupakan masalah penting, oleh karena itu harus diperhatikan dan ditegakkan secara adil.
  • Boleh mengetes para saksi jika masih diragukan. Misalnya dengan memisahkan mereka berdua, di mana seorang-seorang yang ditanya.
  • Jika ada qarinah yang menunjukkan bahwa kedua saksi itu berdusta, maka dua orang dari ahli waris boleh bangkit meluruskan.

[25] Dengan tidak berkhianat dan berdusta.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Hal itu) hukum yang telah disebutkan itu, yaitu yang menyangkut perpindahan sumpah kepada para ahli waris (lebih dekat) lebih mendekati untuk (menjadikan mereka mau mengemukakan) artinya para saksi itu atau orang-orang yang diwasiatkan (persaksiannya menurut apa yang sebenarnya) yang mendorong mereka untuk mengemukakan persaksian tanpa diubah-ubah dan juga tanpa khianat (atau) lebih dekat untuk menjadikan mereka (merasa takut akan dikembalikan sumpahnya sesudah mereka bersumpah) kepada para ahli waris yang mengajukan tuntutan, maka ahli waris si mayat melakukan sumpah yang menyatakan khianat mereka dan kedustaan yang mereka lakukan yang akibatnya mereka akan ditelanjangi kejelekannya hingga mereka harus mengganti kerugian kepada ahli waris mayat, oleh karena itu janganlah kamu berdusta. (Dan bertakwalah kamu kepada Allah) dengan cara meninggalkan perbuatan khianat dan dusta (dan dengarkanlah olehmu) dengan pendengaran yang insaf akan hal-hal yang kamu diperintahkan melakukannya (dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik) orang-orang yang keluar dari garis ketaatan terhadap-Nya atau orang-orang yang menyimpang dari jalan yang baik.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala :

ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يَأْتُوا بِالشَّهَادَةِ عَلَى وَجْهِهَا

Itu lebih dekat untuk (menjadikan para saksi) mengemukakan persaksiannya menurut apa yang sebenarnya. (Al-Maa’idah: 108)

Yakni demikianlah cara mempraktekkan hukum ini dengan cara yang lebih memuaskan, yaitu menyumpah kedua saksi yang zimmi serta menaruh rasa curiga terhadap keduanya. Hal ini lebih dekat untuk menjadikan keduanya mengemukakan persaksian menurut apa yang sebenarnya lagi memuaskan.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala :

أَوْ يَخَافُوا أَنْ تُرَدَّ أَيْمَانٌ بَعْدَ أَيْمَانِهِمْ

Dan (lebih dekat untuk menjadikan mereka) merasa takut akan dikembalikan sumpahnya (kepada ahli waris) sesudah mereka bersumpah. (Al-Maa’idah: 108)

Yakni hal yang mendorong mereka untuk menunaikan persaksian menurut apa adanya ialah dengan memberatkan sumpah terhadap mereka, yaitu dengan menyebut nama Allah, dan rasa takut akan dipermalukan, di hadapan orang banyak jika sumpahnya dikembalikan kepada ahli waris si mayat, yang akibatnya merekalah yang bersumpah dan mereka berhak mendapatkan apa yang diakuinya. Karena itulah Allah Subhaanahu wa Ta’aala  berfirman: dan (lebih dekat untuk menjadikan mereka) merasa takut akan dikembalikan sumpahnya (kepada ahli waris) sesudah mereka bersumpah (Al-Maa’idah: 108)

Kemudian Allah Subhaanahu wa Ta’aala  berfirman:

وَاتَّقُوا اللَّهَ

Dan bertakwalah kepada Allah (Al-Maa’idah: 108)

Yakni dalam semua urusan kalian.

Ayat berikutnya: Ketika Allah Mengumpulkan Para Rasul 

وَاسْمَعُوا

Dan dengarkanlah (perintah-Nya). (Al-Maa’idah: 108)

Yakni taatilah perintah-Nya.

وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (Al-Maa’idah: 108)

Yakni orang-orang yang keluar dari jalan ketaatan kepada-Nya dan menyimpang dari syariat-Nya.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Artikulli paraprakKetika Allah Mengumpulkan Para Rasul
Artikulli tjetërMasalah Berwasiat di Saat Menjelang Kematian

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini