Allah Maha Perkasa Lagi Memiliki Kekuasaan untuk Menyiksa

Kajian Tafsir Surah Al-Maa'idah ayat 95

0
20

Kajian Tafsir Surah Al-Maa’idah ayat 95. Hukum berburu di tanah haram dan kehormatan bulan-bulan haram; Allah Maha Perkasa lagi memiliki kekuasaan untuk menyiksa. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَقْتُلُوا الصَّيْدَ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ وَمَنْ قَتَلَهُ مِنْكُمْ مُتَعَمِّدًا فَجَزَاءٌ مِثْلُ مَا قَتَلَ مِنَ النَّعَمِ يَحْكُمُ بِهِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ هَدْيًا بَالِغَ الْكَعْبَةِ أَوْ كَفَّارَةٌ طَعَامُ مَسَاكِينَ أَوْ عَدْلُ ذَلِكَ صِيَامًا لِيَذُوقَ وَبَالَ أَمْرِهِ عَفَا اللَّهُ عَمَّا سَلَفَ وَمَنْ عَادَ فَيَنْتَقِمُ اللَّهُ مِنْهُ وَاللَّهُ عَزِيزٌ ذُو انْتِقَامٍ

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu membunuh hewan buruan, ketika kamu sedang ihram (haji atau umrah). Barang siapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan hewan ternak yang sepadan dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang adil di antara kamu sebagai hadyu yang dibawa ke Ka’bah, atau kaffarat (membayar tebusan) dengan memberi makan kepada orang-orang miskin, atau berpuasa, seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu, agar dia merasakan akibat buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. Dan barang siapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. Allah Maha Perkasa  lagi memiliki (kekuasaan untuk) menyiksa. (Q.S. Al-Maa’idah : 95)

.

Tafsir Ibnu Abbas

… Wa man ‘āda (namun, barangsiapa mengulanginya) sesudah ditetapkan hukuman kepadanya, dan ia dikenai hukuman berat ketika di dunia.

Fa yaηtaqimullāhu minh (maka Allah akan menyiksanya), yakni Allah Ta‘ala akan membiarkannya sampai kemudian Dia akan menyiksanya.

Wallāhu ‘azīzun (Allah Maha Perkasa) menimpakan hukuman.

Dzuηtiqām (lagi mempunyai [kekuasaan untuk] menyiksa), yakni mempunyai siksaan.

Sebelumnya: Memberi Makan kepada Orang-orang Miskin atau Berpuasa 

Tafsir Jalalain

  1. … (Dan siapa yang kembali mengerjakan)nya (niscaya Allah akan membalasnya. Allah Maha Perkasa) Maha Menang dalam segala perkara-Nya (lagi Yang mempunyai pembalasan) terhadap orang yang berbuat durhaka kepada-Nya dan kemudian disamakan dengan membunuh secara sengaja, yaitu membunuh secara kesalahan.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Subhaanahu wa Ta’aala  berfirman:

وَمَنْ عَادَ فَيَنْتَقِمُ اللَّهُ مِنْهُ

Dan barang siapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. (Al-Maa’idah: 95)

Yakni barang siapa yang melakukannya sesudah diharamkan dalam Islam dan hukum syariat telah sampai kepadanya.

فَيَنْتَقِمُ اللَّهُ مِنْهُ وَاللَّهُ عَزِيزٌ ذُو انْتِقَامٍ

Niscaya Allah akan menyiksanya. Allah Maha Kuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa. (Al-Maa’idah: 95)

Ibnu Juraij mengatakan, ia pernah bertanya kepada Ata mengenai apa yang dimaksudkan dalam firman-Nya: Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. (Al-Maa’idah: 95) Maka Ata menjawab, Yang dimaksud ialah Allah memaafkan apa yang telah terjadi di masa Jahiliah. Kemudian Ibnu Juraij bertanya lagi kepadanya mengenai makna firman-Nya: Dan barang siapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. (Al-Maa’idah: 95) Ata mengatakan, Barang siapa dalam masa Islam kembali melakukannya, maka Allah akan menyiksanya; selain itu ia dikenakan membayar kifarat dari perbuatannya. Ibnu Juraij bertanya, Apakah pengertian kembali ini mempunyai batasan yang kamu ketahui? Ata menjawab, Tidak. Ibnu Juraij berta-nya, Kalau demikian, engkau pasti berpandangan bahwa imam diwajibkan menghukum pelakunya? Ata menjawab, Tidak, hal itu merupakan suatu dosa yang dilakukannya antara dia dan Allah Subhaanahu wa Ta’aala , tetapi ia harus membayar dendanya. Demikianlah menurut riwayat Ibnu Jarir.

Menurut pendapat lain, makna yang dimaksud ialah bahwa Allah akan membalas pelakunya, yaitu dengan mengenakan hukuman wajib membayar denda kifarat terhadapnya. Demikianlah menurut Sa’id ibnu Jubair dan Ata.

Kemudian kebanyakan ulama Salaf dan Khalaf mengatakan, Manakala seseorang yang sedang ihram membunuh binatang buruan, maka ia diwajibkan membayar denda, tidak ada perbedaan antara pelanggaran pertama dengan yang kedua dan ketiganya; dan sekalipun pelanggarannya itu dilakukan berulang-ulang, baik ia lakukan secara keliru ataupun sengaja, semuanya sama.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas yang mengatakan, Barang siapa membunuh seekor binatang buruan secara keliru, sedangkan ia dalam keadaan berihram, maka ia dikenakan sanksi membayar dendanya setiap kali ia membunuhnya. Jika ia membunuh binatang buruan dengan sengaja, maka ia dikenakan sanksi membayar dendanya sekali; dan jika ia mengulangi lagi perbuatannya, maka Allah akan balas menyiksanya, seperti apa yang disebutkan oleh Allah Subhaanahu wa Ta’aala  dalam firman-Nya.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Ali, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Sa’id dan Ibnu Abu Addi, kedua-duanya dari Hisyam (yakni Ibnu Hassan), dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan seorang muhrim yang membunuh binatang buruan, bahwa pelakunya dikenakan sanksi membayar denda. Kemudian jika ia mengulangi lagi perbuatannya, ia tidak dikenakan sanksi membayar denda, tetapi Allah-lah yang akan balas menyiksanya. Hal yang sama telah dikatakan oleh Syuraih, Mujahid, Sa’id ibnu Jubair,

Al-Hasan Al-Basri, dan Ibrahim An-Nakha’i. Semuanya diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, kemudian Ibnu Jarir memilih pendapat yang pertama.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Abbas ibnu Yazid Al-Abdi, telah menceritakan kepada kami Al-Mu’tamir ibnu Sulaiman, dari Zaid Abul Ma’la, dari Al-Hasan Al-Basri, bahwa seorang lelaki membunuh binatang buruan, lalu ia dimaafkan; kemudian lelaki itu mengulangi lagi perbuatannya, ia membunuh binatang buruan lagi, maka turunlah api dari langit dan membakar lelaki itu. Hal inilah yang dimaksudkan dengan firman-Nya: Dan barang siapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. (Al-Maa’idah: 95)

Ibnu Jarir telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Allah Mahakuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa. (Al-Maa’idah: 95) Allah Subhaanahu wa Ta’aala  berfirman bahwa Diri-Nya Maha Perkasa  dalam kekuasaan-Nya, tiada seorang pun yang dapat memaksa-Nya, tiada yang dapat menghalangi pembalasan yang Dia timpakan terhadap orang yang hendak dibalas-Nya, dan tiada seorang pun yang dapat menghalangi siksaan yang hendak Dia kenakan terhadap orang yang dikehendaki-Nya, karena semuanya adalah makhluk-Nya, dan hanya Dialah yang berhak memerintah; bagi-Nya segala keagungan dan keperkasaan.

Ayat berikutnya: Makanan yang Berasal dari Laut 

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala :

ذُو انْتِقَامٍ

Lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa. (Al-Maa’idah: 95)

Yakni Dia berhak menyiksa orang yang durhaka terhadap-Mya, karena perbuatan maksiatnya terhadap Allah Subhaanahu wa Ta’aala

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here