Khitab Allah yang Ditujukan Kepada Hamba dan Rasul-Nya

Kajian Tafsir Surah Al-Maa'idah ayat 116

0
15

Kajian Tafsir Surah Al-Maa’idah ayat 116. Menerangkan berlepasnya Nabi Isa ‘alaihis salam dari pengakuan sebagai tuhan dan khitab Allah yang ditujukan kepada hamba dan rasul-Nya. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلامُ الْغُيُوبِ (١١٦)

Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, Wahai Isa putera Maryam! Kamukah yang mengatakan kepada orang-orang, jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah?. Isa menjawab, Maha Suci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada-Mu. Sungguh, Engkau-lah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib. (Q.S. Al-Maa’idah : 116)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa idz qālallāhu (dan [ingatlah] ketika Allah berfirman), yakni Allah Ta‘ala berfirman pada hari kiamat.

Yā ‘īsabna maryama a aηta qulta lin nāsi (Hai ‘Isa putra Maryam, apakah kamu mengatakan kepada orang-orang) ketika di dunia.

Ittakhidzūnī wa ummī ilāhaini miη dūnillāh, qāla (‘Hendaklah kalian menjadikan aku dan ibuku sebagai dua orang tuhan selain Allah.’ Dia menjawab), yakni ‘Isa ‘alaihis salam menjawab.

Subhānaka (Maha Suci Engkau), yakni ‘Isa ‘alaihis salam menyucikan Rabb-nya.

Mā yakūnu (tak pantas), yakni tak selayaknya dan tak boleh ….

Lī an aqūla (bagiku mengatakan) kepada mereka.

Mā laisa lī bi haqq (apa yang bukan hakku), yakni apa yang tidak diperbolehkan.

Ing kuηtu qultuhū (jika aku pernah mengatakannya) kepada mereka.

Fa qad ‘alimtah, ta‘lamu mā fī nafsī (maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada dalam diriku), yakni perintah dan larangan yang aku sampaikan kepada mereka.

Wa lā a‘lamu mā fī nafsik (sedangkan aku tidak mengetahui apa yang ada dalam diri-Mu), yakni apakah Engkau membiarkan mereka atau memberi mereka taufik.

Innaka aηta ‘allāmul ghuyūb (sesungguhnya Engkau Maha mengetahui hal-hal yang gaib), yakni hal-hal yang gaib dari semua hamba.

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-7  

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman[15], Wahai Isa putera Maryam! Kamukah yang mengatakan kepada orang-orang, jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah?. Isa menjawab, Mahasuci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada-Mu. Sungguh, Engkau-lah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib[16].

[15] Hal ini merupakan celaan terhadap orang-orang Nasrani yang mengatakan, bahwa Allah adalah salah satu dari yang tiga, maka Nabi Isa ‘alaihis salam menyatakan berlepas diri dari perkataan itu. Demikian juga sebagai bantahan terhadap orang-orang Nasrani yang menganggap bahwa Nabi Isa mengajak mereka menyembah dirinya, padahal Beliau sebagaimana nabi-nabi yang lain mengajak manusia beribadah hanya kepada Allah Ta’ala saja.

[16] Kata-kata yang halus ini menunjukkan tingginya adab Nabi Isa ‘alaihis salam dalam berbicara dengan Allah subhaanahu wa Ta’aala.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan) ingatlah (ketika berfirman) artinya akan berfirman (Allah) kepada Isa di hari kiamat sebagai penghinaan terhadap kaumnya (Hai Isa putra Maryam! Adakah kamu mengatakan kepada manusia, ‘Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?’ Ia menjawab) Isa menjawab seraya gemetar (‘Maha Suci Engkau) aku menyucikan-Mu dari apa-apa yang tidak layak bagi-Mu seperti sekutu dan lain-lainnya (tidaklah patut) tidak pantas (bagiku mengatakan apa yang bukan hakku mengatakannya) bihaqqin menjadi khabar dari laisa sedangkan kata lii adalah untuk penjelas/tabyin (jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau mengetahuinya. Engkau mengetahui apa) yang aku sembunyikan (pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau) artinya apa-apa yang Engkau sembunyikan di antara pengetahuanpengetahuan Engkau (Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib-gaib.)

.

Tafsir Ibnu Katsir

Hal ini pun termasuk khitab Allah yang ditujukan kepada hamba dan rasul-Nya, yaitu Isa putra Maryam seraya berfirman kepadanya di hari kiamat di hadapan orang-orang yang menjadikan dia dan ibunya sebagai dua tuhan selain Allah, yaitu:

يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ

Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia, Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah? (Al-Maa’idah: 116)

Di balik kalimat ini terkandung ancaman yang ditujukan kepada orang-orang Nasrani, sekaligus sebagai celaan dan kecaman terhadap mereka di hadapan semua para saksi di hari kiamat. Demikianlah menurut apa yang dikatakan oleh Qatadah dan yang lainnya. Pengertian ini disimpulkan oleh Qatadah melalui firman selanjutnya:

هَذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ

Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. (Al-Maa’idah: 119)

As-Saddi mengatakan, khitab dan jawaban ini terjadi di dunia. Pendapat ini dibenarkan oleh Ibnu Jarir. Ia mengatakan bahwa hal ini terjadi ketika Allah mengangkatnya ke langit. Imam Ibnu Jarir mengemukakan alasannya untuk memperkuat pendapat tersebut melalui dua segi, yaitu: Pertama, pembicaraan dalam ayat ini memakai bentuk madi (masa lalu). Kedua, firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan: Jika Engkau menyiksa mereka. (Al-Maa’idah: 118); dan jika Engkau mengampuni mereka. (Al-Maa’idah: 118)

Tetapi kedua alasan tersebut masih perlu dipertimbangkan, mengingat madi menunjukkan pengertian bahwa kejadiannya merupakan suatu kepastian yang telah ditetapkan.

إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ

Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau. (Al-Maa’idah: 118), hingga akhir ayat.

Ini merupakan ungkapan pembersihan diri Nabi Isa ‘alaihis salam terhadap perbuatan mereka dan menyerahkan perkara mereka kepada kehendak Allah Subhaanahu wa Ta’aala Ungkapan dengan bentuk syarat ini tidak memberikan pengertian kepastian akan kejadiannya, seperti juga yang terdapat di dalam ayat-ayat lain yang semisal. Tetapi pendapat yang dikatakan oleh Qatadah dan lain-lainnya adalah pendapat yang paling kuat, yaitu yang menyatakan bahwa hal tersebut terjadi pada hari kiamat, dengan makna yang menunjukkan sebagai ancaman kepada orang-orang Nasrani dan kecaman serta celaan bagi mereka di hadapan para saksi di hari tersebut.

Pengertian ini telah diriwayatkan oleh sebuah hadits yang berpredikat marfu yaitu diriwayatkan oleh Al-Hafiz Ibnu Asakir di dalam pembahasan autobiografi Abu Abdullah, maula Umar ibnu Abdul Aziz yang dinilai siqah.

سَمِعْتُ أَبَا بُرْدَةَ يُحَدِّثُ عُمَرَ بْنَ عَبْدِ الْعَزِيزِ عَنْ أَبِيهِ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ دُعِيَ بِالْأَنْبِيَاءِ وَأُمَمِهِمْ، ثُمَّ يُدْعَى بِعِيسَى فَيُذَكِّرُهُ اللَّهُ نِعْمَتَهُ عَلَيْهِ، فيقِر بِهَا، فيقولُ: يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ اذْكُرْ نِعْمَتِي عَلَيْكَ وَعَلى وَالِدَتِكَ الْآيَةَ [الْمَائِدَةِ: 110] ثُمَّ يَقُولُ: أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ ؟ فَيُنْكِرُ أَنْ يَكُونَ قَالَ ذَلِكَ، فَيُؤْتَى بِالنَّصَارَى فَيُسْأَلُونَ، فَيَقُولُونَ: نَعَمْ، هُوَ أَمَرَنَا بِذَلِكَ، قَالَ: فَيُطَوَّلُ شَعْرُ عِيسَى، عَلَيْهِ السَّلَامُ، فَيَأْخُذُ كُلُّ مَلَكٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ بِشَعْرَةٍ مِنْ شَعْرِ رَأْسِهِ وَجَسَدِهِ. فَيُجَاثِيهِمْ بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ، عَزَّ وَجَلَّ، مِقْدَارَ أَلْفِ عَامٍ، حَتَّى تُرْفَعَ عَلَيْهِمُ الْحُجَّةُ، وَيُرْفَعَ لَهُمُ الصَّلِيبُ، وَيُنْطَلَقَ بِهِمْ إِلَى النَّارِ

Disebutkan bahwa ia pernah mendengar Abu Burdah menceritakan hadits kepada Umar ibnu Abdul Aziz, dari ayahnya (yaitu Abu Musa Al-Asy’ari) yang telah mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda, Apabila hari kiamat tiba, maka para nabi dipanggil bersama dengan umatnya masing-masing. Kemudian dipanggillah Nabi Isa, lalu Allah mengingatkannya akan nikmat-nikmat yang telah Dia karuniakan kepadanya, dan Nabi Isa mengakuinya. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman: Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu. (Al-Maa’idah: 110), hingga akhir ayat. Kemudian Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman: Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia, Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah? (Al-Maa’idah: 116) Isa ‘alaihis salam mengingkari, bahwa dia tidak mengatakan hal tersebut. Kemudian didatangkanlah orang-orang Nasrani, lalu mereka ditanya. Maka mereka mengatakan, Ya, dialah yang mengajarkan hal tersebut kepada kami. Maka rambut Nabi Isa ‘alaihis salam menjadi memanjang, sehingga setiap malaikat memegang sehelai rambut kepala dan rambut tubuhnya (karena merinding ketakutan). Lalu mereka didudukkan di hadapan Allah Subhaanahu wa Ta’aala dalam jarak seribu tahun perjalanan, hingga hujjah (alasan) mereka ditolak dan diangkatkan bagi mereka salib, kemudian mereka digiring ke dalam neraka.

Hadits ini berpredikat garib lagi ‘aziz.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ

Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). (Al-Maa’idah: 116)

Menurut Ibnu Abu Hatim, jawaban ini merupakan jawaban yang sempurna, mengandung etika yang tinggi. Ia mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Umar, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Amr, dari Tawus, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Nabi Isa mengemukakan hujjahnya, dan Allah Subhaanahu wa Ta’aala menerimanya, yaitu dalam firman-Nya: Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia, Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah’? (Al-Maa’idah: 116) Abu Hurairah menceritakan dari Nabi ﷺ, bahwa setelah itu Allah mengajarkan hujjah itu kepada Isa. Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). (Al-Maa’idah: 116), hingga akhir ayat.

Hal ini telah diriwayatkan pula oleh As-Sauri, dari Ma’mar, dari Ibnu Tawus, dari Tawus dengan lafaz yang semisal.

Ayat berikutnya: Dia Yang Maha Menyaksikan Atas Segala Sesuatu 

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ

Jika aku pernah mengatakannya, maka tentulah Engkau telah mengetahui. (Al-Maa’idah: 116)

Yakni jika hal ini pernah aku lakukan, maka sesungguhnya Engkau telah mengetahuinya, wahai Tuhanku. Karena sesungguhnya tidak ada sesuatu pun dari apa yang kukatakan samar bagi-Mu. Aku tidak pernah mengatakan hal itu, tidak pernah berniat untuk mengatakannya, tidak pula pernah terdetik dalam hatiku.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here