Menjadikan Gelap dan Terang

Kajian Tafsir Surah Al-An'aam ayat 1

0
18

Kajian Tafsir Surah Al-An’aam (Binatang Ternak). Surah ke-6. 165 ayat. Turun sesudah surat Al-Hijr. Makkiyyah kecuali beberapa ayat, yaitu ayat 20, 23, 91, 93, 114, 141, 151, 152 dan 153, ayat-ayat tersebut adalah Madaniyyah. Ayat 1. Keberhakan Allah Subhaanahu wa Ta’aala untuk diibadahi yang tampak pada ciptaan-Nya serta bukti-buktinya dalam alam semesta dan pada diri manusia; Dia telah menciptakan langit dan bumi, dan menjadikan gelap dan terang. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ

Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi, dan menjadikan gelap dan terang, namun demikian orang-orang kafir masih mempersekutukan Tuhan mereka dengan sesuatu. (Q.S. Al-An’aam : 1)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Al-hamdu lillāhi (segala puji kepunyaan Allah), yakni syukur dan ketuhanan adalah kepunyaan Allah Ta‘ala.

Alladzī khalaqas samāwāti (yang telah menciptakan langit) dalam dua hari, yaitu hari Ahad dan Senin.

Wal ardla (dan bumi) juga dalam dua hari, yaitu hari Selasa dan Rabu.

Wa ja‘alazh zhulumāti wan nūr (serta mengadakan gelap dan terang), yakni menciptakan kekafiran dan keimanan, atau menciptakan malam dan siang.

Tsummal ladzīna kafarū (kemudian orang-orang kafir), yakni orang-orang kafir Mekah.

Bi rabbihim ya‘dilūn (mempersekutukan Rabb mereka), yakni mempersekutukan-Nya dengan berhala-berhala.

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-7  

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

1.Segala puji bagi Allah[1] yang telah menciptakan langit dan bumi[2], dan menjadikan gelap dan terang[3], namun demikian orang-orang kafir masih mempersekutukan Tuhan mereka dengan sesuatu.

[1] Ayat ini sebagai pemberitahuan tentang terpuji-Nya Dia serta pujian terhadap-Nya karena sifat-sifat-Nya yang sempurna dan agung secara umum, dan lebih khusus lagi karena apa yang disebutkan pada ayat-ayat setelahnya. Allah memuji Diri-Nya karena Dia menciptakan langit dan bumi di mana hal itu menunjukkan sempurnanya kekuasaan-Nya, luasnya ilmu dan rahmat-Nya serta meratanya kebijaksanaan-Nya. Dia yang sendiri menciptakan, mengatur, mengadakan gelap dan terang; baik yang dirasakan seperti malam dan siang, matahari dan bulan, maupun yang maknawi seperti gelapnya kebodohan, keraguan, kemusyrikan, kemaksiatan, kelalaian, dan terangnya ilmu, iman, yakin, dan taat. Ini semua menunjukkan bahwa Allah Ta’ala berhak diibadati dan ditujukan keikhlasan dalam beribadah. Meskipun dalil dan bukti ini begitu jelas, namun orang-orang kafir masih saja menyamakan makhluk dengan Allah dalam hal ibadah dan ta’zhim (pengagungan), padahal makhluk-makhluk tersebut tidak sama sedikit pun dengan Allah dalam hal kesempurnaan; makhluk fakir lagi lemah, sedangkan Allah Maha Kaya lagi Maha Kuasa.

[2] Disebutkan hanya Langit dan bumi karena keduanya merupakan makhluk terbesar bagi orang-orang yang melihatnya.

[3] Disebutkan dengan bentuk jama’ kata zhulumat (kegelapan-kegelapan) karena banyak bentuk kegelapan dan bermacam-macam jalannya, dan disebutkan secara mufrad (tunggal) kata nuur (cahaya) karena jalan yang mengantarkan kepada Allah hanya satu, yaitu jalan Rasulullah ﷺ; berupa mengetahui kebenaran dan mengamalkannya, sebagaimana firman Allah Ta’ala, Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa. (Terj. Al An’aam: 153)

.

Tafsir Jalalain

  1. (Segala puji) yaitu ungkapan tentang sifat yang baik lagi tetap (bagi Allah) apakah yang dimaksud dengan pemberitaan dalam bentuk ini sebagai ungkapan rasa iman terhadap-Nya ataukah hanya sebagai panjatan puji kepada-Nya atau memang untuk maksud keduanya? Memang mengandung beberapa hipotesis akan tetapi hipotesis yang paling banyak faedahnya ialah yang ketiga, demikianlah menurut pendapat Syekh di dalam surah Al-Kahfi (Yang telah menciptakan langit dan bumi) Allah menyebutkan keduanya secara khusus mengingat keduanya adalah makhluk ciptaan Allah yang paling besar di mata orang-orang yang menyaksikannya (dan mengadakan) menjadikan (gelap dan terang) artinya setiap yang gelap dan terang; pengungkapan kata gelap dengan bentuk jamak sedangkan untuk terang tidak karena gelap itu mempunyai banyak penyebabnya. Hal ini merupakan sebagian dari bukti-bukti keesaan-Nya (namun orang-orang yang kafir) sekalipun dengan adanya bukti ini (terhadap Tuhan mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan-Nya) mereka menyamakan selain Allah dalam hal ibadah.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Al-Aufi, Ikrimah, dan Ata telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa surat Al-An’aam diturunkan di Mekah.

Imam Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Abdul Aziz, telah menceritakan kepada kami Hajjaj ibnu Minhal, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Ali ibnu Zaid, dari Yusuf ibnu Mahran, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa surat Al-An’aam diturunkan di Mekah di malam hari sekaligus, di sekelilingnya terdapat tujuh puluh ribu malaikat, semuanya mengumandangkan tasbih di sekitarnya.

Sufyan As-Sauri telah meriwayatkan dari Lais, dari Syahr Ibnu Hausyab, dari Asma binti Yazid yang mengatakan, Surat Al-An’aam diturunkan kepada Nabi ﷺ sekaligus, sedangkan saat itu aku memegang tali kendali untanya. Sesungguhnya hampir saja surat ini mematahkan tulang-tulang unta yang dinaikinya karena beratnya surat Al-An’aam yang sedang diturunkan.

Syarik telah meriwayatkan dari Lais, dari Syahr, dari Asma yang mengatakan bahwa surat Al-An’aam diturunkan kepada Rasulullah ﷺ ketika beliau sedang dalam perjalanannya dengan diiringi oleh sejumlah besar malaikat; jumlah mereka menutupi semua yang ada di antara langit dan bumi.

As-Saddi telah meriwayatkan dari Murrah, dari Abdullah ibnu Mas’ud yang mengatakan bahwa surat Al-An’aam diturunkan dengan diiringi oleh tujuh puluh ribu malaikat. Hal yang semisal telah diriwayatkan pula melalui jalur lain, bersumber dari Ibnu Mas’ud.

قَالَ الْحَاكِمُ فِي مُسْتَدْرَكِهِ: حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ الْحَافِظُ، وَأَبُو الْفَضْلِ الْحَسَنِ بْنُ يَعْقُوبَ الْعَدْلُ قَالَا حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْوَهَّابِ الْعَبْدِيُّ، أَخْبَرَنَا جَعْفَرُ بْنُ عَوْن، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّدِّي، حَدَّثَنَا مُحَمَّدِ بْنِ المُنْكَدِر، عَنْ جَابِرٍ قَالَ: لَمَّا نَزَلَتْ سُورَةُ الْأَنْعَامِ سَبّح رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ قَالَ:  لَقَدْ شَيَّعَ هَذِهِ السُّورَةَ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مَا سَدَّ الْأُفُقَ

Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya. mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah Muhammad ibnu Ya’qub Al-Hafiz dan Abul Fadl, yaitu Al-Hasan ibnu Ya’qub Al-Adi; keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdul Wahhab Al-Abdi, telah menceritakan kepada kami Ja’far ibnu Aun, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Abdur Rahman As-Saddi, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Munkadir, dari Jabir yang mengatakan bahwa ketika surat Al-An’aam diturunkan, Rasulullah ﷺ membaca tasbih, kemudian bersabda: Sesungguhnya surat ini diiringi oleh para malaikat (yang jumlahnya) menutupi cakrawala langit.

Kemudian Imam Hakim mengatakan bahwa hadits ini sahih dengan syarat Imam Muslim.

وَقَالَ أَبُو بَكْرِ بْنُ مَرْدُوَيه: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَعْمَرٍ، حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ دُرُسْتُويه الْفَارِسِيُّ، حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ سَالِمٍ، حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي فُدَيْكٍ، حَدَّثَنِي عُمَرُ بْنُ طَلْحَةَ الرَّقَاشِيُّ، عَنْ نَافِعِ بْنِ مَالِكٍ أَبِي سُهَيْلٍ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:  نَزَلَتْ سُورَةُ الْأَنْعَامِ مَعَهَا مَوْكِبٌ مِنَ الْمَلَائِكَةِ، سَد مَا بَيْنَ الخَافِقَين لَهُمْ زَجَل بِالتَّسْبِيحِ وَالْأَرْضُ بِهِمْ تَرْتَجّ ، وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ:  سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

Abu Bakar ibnu Murdawaih mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ma’mar, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Durustuwaih Al-Farisi, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Ahmad ibnu Muhammad ibnu Salim, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Fudaik, telah menceritakan kepadaku Umar ibnu Talhah Ar-Raqqasyi, dari Nafi’ ibnu Malik ibnu Abu Suhail, dari Anas ibnu Malik yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:  Surat Al-Al-An’aam diturunkan dengan diiringi oleh sejumlah malaikat yang banyaknya menutupi semua yang ada di cakrawala timur dan barat. Suara gemuruh tasbih mereka terdengar, dan bumi bergetar karenanya. Sedangkan Rasulullah sendiri mengucapkan: Maha Suci Allah Yang Maha Agung, Maha Suci Allah Yang Maha Agung.

ثُمَّ رَوَى ابْنُ مَرْدُوَيه عَنِ الطَّبَرَانِيِّ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ نَائِلَةَ، عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ يُوسُفَ بْنِ عَطِيَّةَ، عَنِ ابْنِ عَوْن، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ:  نَزَلَتْ عَلَيّ سُورَةُ الْأَنْعَامِ جُمْلَةً وَاحِدَةً، وشَيَّعَها سَبْعُونَ أَلْفًا مِنَ الْمَلَائِكَةِ، لَهُمْ زَجَلٌ بِالتَّسْبِيحِ وَالتَّحْمِيدِ

Kemudian Ibnu Murdawaih meriwayatkan dari Imam Tabrani, dari Ibrahim Ibnu Nailah, dari Ismail ibnu Umar, dari Yusuf ibnu Atiyyah, dari Ibnu Aun, dari Nafi’, dari Ibnu Umar yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: Surat Al-An’aam diturunkan kepadaku sekaligus, dan diiringi oleh tujuh puluh ribu malaikat, dari mereka terdengar suara gemuruh karena bacaan tasbih dan tahmid.

Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman memuji diri-Nya sendiri Yang Mahamulia, karena Dia telah menciptakan langit dan bumi sebagai suatu pernyataan yang ditujukan kepada hamba-hamba-Nya, juga karena Dia telah menjadikan gelap dan terang untuk kemanfaatan hamba-hamba-Nya, yaitu di malam hari dan di siang hari mereka.

Lafaz zulumat diungkapkan dalam bentuk jamak, sedangkan lafaz nur diungkapkan dalam bentuk tunggal, karena cahaya lebih mulia daripada gelap. Perihalnya sama dengan yang disebutkan di dalam firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

عَنِ الْيَمِينِ وَالشَّمَائِلِ

Ke kanan dan ke kiri. (An-Nahl: 48)

Sama seperti yang disebutkan di akhir surat ini melalui firman-Nya:

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ

Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya (Al-An’aam: 153)

Ayat berikutnya: Batas Waktu Tertentu yang Hanya Diketahui oleh-Nya 

Kemudian Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

Namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka. (Al-An’aam: 1)

Yakni sekalipun demikian ada juga sebagian dari hamba-hamba-Nya yang kafir kepada Allah dan menjadikan sekutu bagi-Nya, serta menjadikan baginya istri dan anak. Maha Tinggi Allah dari semuanya itu dengan ketinggian yang setinggi-tingginya.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here