Kerugian Orang-orang yang Mendustakan Pada Hari Itu

Kajian Tafsir Surah Al-An'aam ayat 31

0
40

Kajian Tafsir Surah Al-An’aam ayat 31. Hal-hal yang akan disaksikan pada hari Kiamat, kerugian orang-orang yang mendustakan pada hari itu, dan menerangkan nilai kehidupan dunia. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

قَدْ خَسِرَ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِلِقَاءِ اللَّهِ حَتَّى إِذَا جَاءَتْهُمُ السَّاعَةُ بَغْتَةً قَالُوا يَا حَسْرَتَنَا عَلَى مَا فَرَّطْنَا فِيهَا وَهُمْ يَحْمِلُونَ أَوْزَارَهُمْ عَلَى ظُهُورِهِمْ أَلا سَاءَ مَا يَزِرُونَ

Sungguh rugi orang-orang yang mendustakan pertemuan dengan Allah; sehingga apabila Kiamat datang kepada mereka secara tiba-tiba, mereka berkata, “Alangkah besarnya penyesalan kami, terhadap kelalaian Kami tentang kiamat itu,” sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Alangkah buruknya apa yang mereka pikul itu. (Q.S. Al-An’aam : 31)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Qad khasira (sungguh telah rugilah), yakni telah tertipulah.

Alladzīna kadz-dzabū bi liqā-illāh (orang-orang yang mendustakan pertemuan dengan Allah), yakni adanya kebangkitan sesudah mati. Allah Ta‘ala berfirman, “Aku beri mereka tempo ….”

Hattā idzā jā-at-humus sā‘atu baghtatan (hingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba), yakni secara mendadak.

Qālū yā hasratanā (mereka mengatakan, “Alangkah menyesalnya kami), yakni alangkah sedih dan menyesalnya.

‘Alā mā farrathnā fīhā (atas kelalaian kami padanya”), yakni keimanan dan tobat yang kami lalaikan di dunia.

Wa hum yahmilūna auzārahum ‘alā zhuhūrihim, alā sā-a mā yazirūn (sedang mereka memikul dosa-dosa mereka di atas punggung mereka. Ingatlah, alangkah buruk apa yang mereka pikul itu), yakni alangkah buruk dosa-dosa yang mereka pikul.

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-7  

Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

  1. Sungguh rugi orang-orang yang mendustakan pertemuan dengan Allah[16]; sehingga apabila Kiamat datang kepada mereka secara tiba-tiba[17], mereka berkata, “Alangkah besarnya penyesalan kami[18], terhadap kelalaian Kami tentang kiamat itu,” sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Alangkah buruknya apa yang mereka pikul itu.

[16] Yakni mendustakan kebangkitan, di mana hal itu membuatnya berani mengerjakan perbuatan haram dan perbuatan yang dapat membinasakan.

[17] Sedangkan mereka dalam keadaan yang paling buruk, lantas mereka menampakkan penyesalan yang mendalam.

[18] Akan tetapi penyesalan pada saat itu tidak berguna lagi.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Sungguh telah rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah) mendustakan adanya hari kebangkitan (sehingga) sebagai tanda keterlaluan mereka dalam mendustakan (apabila kiamat datang kepada mereka) yaitu hari kiamat (dengan tiba-tiba) secara mendadak (mereka berkata, “Alangkah besarnya penyesalan kami) sebagai ungkapan rasa derita yang sangat keras; dan pemakaian huruf nida atau panggilan di sini hanyalah majaz atau kiasan yang artinya sekarang saatnya telah tiba maka datanglah (terhadap kelalaian kami) kealpaan kami (tentang kiamat itu.”) sewaktu di dunia (sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya) dosa-dosa itu mendatangi mereka dalam bentuk yang paling buruk dan paling berbau kemudian dosa-dosa itu menaiki mereka. (Ingatlah, amatlah buruk) sangat jeleklah (apa yang mereka pikul itu) beban yang mereka pikul itu.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman, menceritakan kerugian yang dialami oleh orang-orang yang mendustakan adanya hari bersua dengan-Nya, kekecewaan mereka apabila datang kepada mereka hari kiamat secara tiba-tiba, dan penyesalan mereka atas kelalaian mereka terhadap amal saien serta perbuatan-perbuatan jahat yang pernah mereka lakukan. Hal ini digambarkan oleh firman-Nya:

Sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata, “Alangkah besarnya penyesalan kami terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu!” (Al-An’aam: 31)

Damir yang terdapat pada lafaz fiha dapat dirujukkan kepada kehidupan dunia, dapat dirujukkan kepada amal-amal saleh, dapat pula dirujukkan kepada hari akhirat, yakni perkara yang menyangkut hari akhirat (termasuk hari kiamat).

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

Sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, amatlah buruk apa yang mereka pikul itu. (Al-An’aam: 31)

Yaziruna artinya apa yang mereka pikul. Menurut Qatadah adalah ‘apa yang mereka kerjakan’.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Abu Khalid Al-Ahmar, dari Amr ibnu Qais, dari Abu Marzuq yang mengatakan bahwa orang kafir atau orang durhaka ketika keluar dari kuburnya disambut oleh seseorang yang rupanya sangat buruk dan baunya sangat busuk. Lalu ditanya, ”Siapakah kamu?” Ia menjawab, * Apakah kamu tidak mengenalku?” Si kafir menjawab, “Tidak, demi Allah, hanya Allah telah memburukkan mukamu dan membusukkan baumu.” Lalu yang ditanya menjawab, “Aku adalah amal perbuatanmu, seperti inilah keadaanmu sewaktu di dunia, yaitu buruk dan busuk. Sekarang kemarilah kamu, aku akan menaikimu sebagai pembalasan selama engkau menaikiku sewaktu di dunia.” Yang demikian itu disebutkan dalam firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala: sambil mereka memikul dosa-dosa itu di atas punggungnya. (Al-An’aam: 31), hingga akhir ayat.

Ayat berikutnya: Nilai Kehidupan Dunia 

Asbat telah meriwayatkan dari As-Saddi yang mengatakan bahwa tiada seorang zalim pun yang dimasukkan ke dalam kuburnya melainkan didatangi oleh seorang lelaki yang buruk wajahnya, hitam lagi busuk baunya dan memakai pakaian yang sangat kotor; lelaki itu masuk ke dalam kubur bersamanya. Apabila si zalim itu melihatnya, ia bertanya, “Mengapa wajahmu sangat buruk?” Dijawab, ”Demikian pula amal perbuatanmu dahulu, buruk seperti aku.” Ia bertanya, “Mengapa baumu sangat busuk?” Dijawab, “Demikian pula amal perbuatanmu dahulu, busuk seperti aku.” Ia bertanya, “Mengapa pakaianmu kotor?” Dijawab, “Sesungguhnya amal perbuatanmu dahulu kotor.” Ia bertanya, “Siapakah kamu sebenarnya?” Dijawab, “Amal perbuatanmu.” Lalu ia bersamanya di dalam kuburnya. Apabila ia dibangkitkan pada hari kiamat, maka amalnya itu berkata kepadanya, “Sesungguhnya dahulu ketika di dunia akulah yang menggendongmu dengan semua kelezatan dan nafsu syahwat, sekarang gantian engkaulah yang menggendongku.” Maka amalnya itu menaiki punggungnya, lalu orang tersebut digiring oleh amalnya hingga masuk ke dalam neraka. Yang demikian itu disebutkan oleh firman-Nya: sambil mereka memikul dosa-aosa di atas punggungnya. Ingatlah amatlah buruk apa yang mereka pikul itu. (Al-An’ am: 31)

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here