Keputusan Mengenai Azab

Kajian Tafsir Surah Al-An'aam ayat 58

0
58

Kajian Tafsir Surah Al-An’aam ayat 58. Memerintah, menetapkan dan keputusan mengenai azab adalah hak Allah Subhaanahu wa Ta’aala saja. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

قُلْ لَوْ أَنَّ عِنْدِي مَا تَسْتَعْجِلُونَ بِهِ لَقُضِيَ الأمْرُ بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالظَّالِمِينَ

Katakanlah (Muhammad), Seandainya ada padaku apa (azab) yang kamu minta agar disegerakan kedatangannya, tentu selesailah segala perkara antara aku dan kamu. Dan Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang zalim. (Q.S. Al-An’aam : 58)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Qul (katakanlah), hai Muhammad ﷺ!

Lau anna ‘iηdī mā tasta‘jilūna bihī (Seandainya apa yang kalian minta supaya disegerakan itu ada padaku), yakni azab.

La qudliyal amru bainī wa bainakum (pastilah telah diselesaikan urusan yang ada antara aku dan kalian), yakni pastilah telah diselesaikan pembinasaan kalian.

Wallāhu a‘lamu bizh zhālimīn (dan Allah lebih mengetahui perihal orang-orang yang zalim), yakni mengetahui hukuman untuk orang-orang musyrik. Mereka adalah an-Nadlar dan teman-temannya. Alhasil, azab yang diminta oleh an-Nadlar bin al-Harits pun menimpanya, ia mati secara mengenaskan pada Perang Badr.

Daftar Isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-7  

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Katakanlah (Muhammad), Seandainya ada padaku apa (azab) yang kamu minta agar disegerakan kedatangannya, tentu selesailah segala perkara antara aku dan kamu[7]. Dan Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang zalim[8].

[7] Maksudnya tentu Allah telah menurunkan azab kepadamu hingga kamu binasa. Akan tetapi hal itu (menimpakan azab) adalah hak Allah yang Maha Penyantun lagi Maha Sabar (Al Haliim-Ash Shabuur) meskipun manusia berbuat kufur kepada-Nya, namun Dia tetap memberikan mereka rezki, mengulang-ulang peringatan agar mereka berhenti, dan Dia menginginkan kebaikan untuk mereka.

[8] Dia mengetahui kapan mereka dihukum.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Katakanlah) kepada mereka (Kalau sekiranya ada padaku apa/azab yang kamu minta supaya disegerakan kedatangannya, tentu telah diselesaikan Allah urusan yang ada antara aku dan kamu) yaitu dengan cara aku menyegerakan azab itu kepadamu, kemudian aku istirahat. Akan tetapi azab itu hanya ada di tangan kekuasaan Allah (Dan Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang lalim.) di kala Ia mau menghukum mereka.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

قُلْ لَوْ أَنَّ عِنْدِي مَا تَسْتَعْجِلُونَ بِهِ لَقُضِيَ الأمْرُ بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ

Katakanlah, Kalau sekiranya ada padaku apa (azab) yang Kalian minta supaya disegerakan kedatangannya, tentu telah diselesaikan Allah urusan yang ada di antara aku dan kalian. (Al-An’aam: 58)

Yaitu seandainya keputusan mengenai azab itu berada di tanganku, niscaya aku benar-benar akan menimpakannya kepada kalian sesuai dengan kadar yang berhak kalian terima darinya.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالظَّالِمِينَ

Dan Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang zalim. (Al-An’aam: 58)

Bila ditanyakan, bagaimanakah menggabungkan pengertian antara ayat ini dengan sebuah hadits yang disebutkan di dalam kitab Sahihain melalui jalur Ibnu Wahb, dari Yunus, dari Az-Zuhri, dari Urwah, dari Siti Aisyah, bahwa Siti Aisyah pernah berkata kepada Rasulullah ﷺ, Wahai Rasulullah, apakah engkau pernah mengalami suatu hari yang terasa lebih keras olehmu daripada Perang Uhud? Rasulullah ﷺ menjawab:

لَقَدْ لقيتُ مِنْ قَوْمِكِ، وَكَانَ أَشَدُّ مَا لَقِيتُ مِنْهُ يَوْمَ الْعَقَبَةِ؛ إِذْ عَرَضْتُ نَفْسِي على ابن عبد يا ليل ابْنِ عَبْدِ كُلال، فَلَمْ يُجِبْنِي إِلَى مَا أردتُ، فَانْطَلَقْتُ وَأَنَا مَهْمُومٌ عَلَى وَجْهِي، فَلَمْ أَسْتَفِقْ إِلَّا بِقَرْنِ الثَّعَالِبِ، فَرَفَعْتُ رَأْسِي، فَإِذَا أَنَا بِسَحَابَةٍ قَدْ أظَلَّتْني، فَنَظَرْتُ فَإِذَا فِيهَا جِبْرِيلُ، عَلَيْهِ السَّلَامُ، فَنَادَانِي، فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ قَدْ سَمِعَ قَوْلَ قَوْمِكَ لَكَ، وَمَا رَدُّوا عَلَيْكَ، وَقَدْ بَعَثَ إِلَيْكَ مَلَك الْجِبَالِ لِتَأْمُرَهُ بِمَا شِئْتَ فِيهِمْ. قَالَ: فَنَادَانِي مَلَك الْجِبَالِ وَسَلَّمَ عَلَيَّ، ثُمَّ قَالَ: يَا مُحَمَّدُ، إِنَّ اللَّهَ قَدْ سَمِعَ قَوْلَ قَوْمِكَ لَكَ، وَقَدْ بَعَثَنِي رَبُّكَ إِلَيْكَ، لِتَأْمُرَنِي بِأَمْرِكَ، فَمَا شِئْتَ؟ إِنْ شِئْتَ أَطْبَقْتُ عَلَيْهِمُ الْأَخْشَبَيْنِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ، لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

Sesungguhnya aku pernah mengalaminya dari kaummu, dan hari yang paling keras yang pernah kualami adalah hari Aqabah. Yaitu ketika aku menampilkan diriku menyeru Ibnu Abdu Yalil ibnu Abdu Kalal untuk masuk Islam, tetapi dia tidak mau menerima apa yang kutawarkan kepadanya. Maka aku pergi dengan hati yang penuh kesusahan dan kedukaan, aku tidak sadar dari kesusahanku kecuali setelah tiba di Qarnus Sa’alib. Lalu aku angkat kepalaku, tiba-tiba aku melihat segumpal awan yang menaungiku. Ketika kuperhatikan, ternyata di dalamnya terdapat Malaikat Jibril ‘alaihis salam. Jibril menyeruku dan berkata, Sesungguhnya Allah telah mendengar jawaban kaummu kepadamu, mereka tidak mau memenuhi seruanmu, dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepadamu malaikat penjaga gunung-gunung untuk engkau perintahkan sesukamu terhadap mereka. Malaikat penjaga gunung menyeruku dan memberi salam kepadaku, kemudian berkata, Hai Muhammad, sesungguhnya Allah telah mendengar jawaban kaummu kepadamu, dan sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan kepadaku menemuimu untuk engkau perintah menurut apa yang engkau kehendaki. Jika engkau suka, maka aku timpakan kepada mereka kedua Bukit Akhsyab ini. Maka Rasulullah ﷺ bersabda, Tidak, tetapi aku berharap semoga Allah mengeluarkan dari tulang sulbi mereka orang-orang yang menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.

Demikianlah menurut lafaz Imam Muslim, Nabi ﷺ ditawari agar mereka diazab dan dibinasakan sampai ke akar-akarnya, tetapi Nabi ﷺ bersikap lunak kepada mereka dan memohon agar mereka ditangguhkan, dengan harapan semoga saja Allah mengeluarkan dari mereka keturunan yang mau menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.

Pertanyaan yang dimaksud ialah bagaimanakah menggabungkan pengertian hadits ini dengan apa yang disebutkan oleh Allah Subhaanahu wa Ta’aala Dalam ayat ini:

قُلْ لَوْ أَنَّ عِنْدِي مَا تَسْتَعْجِلُونَ بِهِ لَقُضِيَ الأمْرُ بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالظَّالِمِينَ

Katakanlah, Kalau sekiranya ada padaku apa (azab) yang kalian minta supaya disegerakan kedatangannya, tentu telah diselesaikan Allah urusan yang ada antara aku dan kalian. Dan Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang zalim. (Al-An’aam: 58)

Ayat berikutnya: Kunci-kunci Semua yang Gaib 

Sebagai jawabannya hanya Allah yang lebih mengetahui dapat dikatakan bahwa ayat ini menunjukkan pengertian ‘seandainya persoalan azab yang mereka minta itu berada di tangan Nabi ﷺ, niscaya Nabi ﷺ akan menimpakannya kepada mereka pada saat mereka memintanya’. Adapun mengenai hadits ini, maka di dalamnya tidak mengandung makna bahwa mereka meminta agar dijatuhkan azab atas diri mereka. Tetapi yang menawarkannya datang dari pihak malaikat penjaga gunung-gunung, yaitu ‘apabila Nabi ﷺ menginginkan agar kedua Bukit Akhsyab ditimpakan kepada mereka, niscaya akan dilakukan oleh malaikat penjaga gunung’. Gunung Akhsyab ialah dua buah bukit yang meliputi kota Mekah dari arah selatan dan utaranya. Karena itulah Nabi ﷺ memohon agar hal itu ditangguhkan dan memohon agar mereka dibelaskasihani.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Berita sebelumyaKunci-kunci Semua yang Gaib
Berita berikutnyaMemerintah dan Menetapkan Adalah Hak Allah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here