Terputusnya Hubungan dan Nasab pada Hari Kiamat

Kajian Tafsir Surah Al-An'aam ayat 94

0
27

Kajian Tafsir Surah Al-An’aam ayat 94. Hal yang akan disaksikan oleh orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah Subhaanahu wa Ta’aala menjelang mati, serta terputusnya hubungan dan nasab pada hari Kiamat. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَلَقَدْ جِئْتُمُونَا فُرَادَى كَمَا خَلَقْنَاكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَتَرَكْتُمْ مَا خَوَّلْنَاكُمْ وَرَاءَ ظُهُورِكُمْ وَمَا نَرَى مَعَكُمْ شُفَعَاءَكُمُ الَّذِينَ زَعَمْتُمْ أَنَّهُمْ فِيكُمْ شُرَكَاءُ لَقَدْ تَقَطَّعَ بَيْنَكُمْ وَضَلَّ عَنْكُمْ مَا كُنْتُمْ تَزْعُمُونَ

Dan kamu benar-benar datang sendiri-sendiri kepada Kami sebagaimana Kami ciptakan kamu pada mulanya, dan apa yang telah Kami karuniakan kepadamu, kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia). Kami tidak melihat pemberi syafa’at (pertolongan) besertamu yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu (bagi Allah). Sungguh, telah terputuslah (semua pertalian) antara kamu dan telah lenyap dari kamu apa yang dahulu kamu sangka. (Q.S. Al-An’aam : 94)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa laqad ji’tumūnā furādā (dan sungguh kalian datang kepada Kami sendiri-sendiri), yakni tanpa membawa harta dan anak.

Kamā khalaqnākum awwala marratin (sebagaimana Kami ciptakan kalian pada pertama kalinya) di dunia tanpa membawa harta dan anak.

Wa taraktum mā khawwalnākum (dan kalian tinggalkan apa yang telah Kami karuniakan kepada kalian), yakni apa yang telah Kami anugerahkan kepada kalian.

Warā-a zhuhūrikum (di belakang kalian), yakni di dunia.

Wa mā narā ma‘akum (dan Kami tiada melihat beserta kalian), yakni bagi kalian.

Syufa‘ā-akumu (para pemberi syafaat kalian), yakni tuhan-tuhan kalian.

Alladzīna za‘amtum annahum fīkum (yang kalian anggap bahwa mereka pada kalian), yakni bagi kalian.

Syurakā’ (sekutu-sekutu), yakni para pemberi syafaat.

Laqat taqath-tha‘a bainakum (sungguh telah terputuslah di antara kalian), yakni hubungan persahabatan yang pernah ada antara kalian.

Wa dlalla ‘angkum (dan telah lenyaplah dari kalian), yakni mengacuhkan kalian.

Mā kuηtum taz‘umūn (apa yang dahulu kalian anggap [sebagai tuhan-tuhan]), yakni yang dahulu kalian sembah dan kalian katakan bahwa berhala-berhala itu adalah para pemberi syafaat kalian.

BACA JUGA Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-7 Lengkap 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Dan[42] kamu benar-benar datang sendiri-sendiri kepada Kami[43] sebagaimana Kami ciptakan kamu pada mulanya[44], dan apa yang telah Kami karuniakan kepadamu[45], kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia). Kami tidak melihat pemberi syafa’at (pertolongan) besertamu[46] yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu (bagi Allah)[47]. Sungguh, telah terputuslah (semua pertalian) antara kamu dan telah lenyap dari kamu apa yang dahulu kamu sangka[48].

[42] Akan dikatakan kepada mereka saat mereka dibangkitkan.

[43] Tanpa membawa anak, istri dan harta selain amalan.

[44] Dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang dan belum dikhitan.

[45] Berupa harta.

[46] Kata-kata ini diucapkan sebagai sindiran terhadap mereka.

[47] Seperti patung, berhala, malaikat, para nabi dan para wali yang mereka anggap sebagai sekutu bagi Allah.

[48] Berupa keberuntungan, keamanan serta kebahagiaan yang disangka akan mereka peroleh.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan) dikatakan kepada mereka ketika dibangkitkan (sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri) dalam keadaan sendiri-sendiri, terpisah dari keluarga, harta benda dan anak (sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya) dalam keadaan telanjang bulat dan masih belum disunatkan (dan kamu tinggalkan apa yang telah Kami berikan kepadamu) apa-apa yang telah Kami anugerahkan kepadamu berupa harta benda (berada di belakangmu) di dunia tanpa ada pilihan lain bagimu. (Dan) dikatakan kepada mereka sebagai cemoohan (Kami tidak melihat besertamu pemberi syafaat kamu) berhala-berhala kamu (yang kamu anggap bahwa mereka di antara kamu) artinya yang berhak kamu sembah (sebagai sekutu-sekutu) Allah. (Sungguh telah terputuslah di antara kamu) pertalian kamu, artinya telah tercerai-berailah persatuanmu. Dan di dalam suatu qiraat dibaca nashab sebagai zharaf; yang artinya telah terputuslah pertalian antara kamu (dan telah lenyap) maksudnya telah hilang (daripada kamu apa yang dahulu kamu anggap) sewaktu hidup di dunia bahwa kamu mendapatkan syafaatnya.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

Dan sesungguhnya kalian datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kalian Kami ciptakan pada mulanya. (Al-An’aam: 94)

Artinya, hal tersebut dikatakan kepada mereka pada hari mereka dikembalikan, seperti yang disebutkan dalam ayat yang lain, yaitu:

وَعُرِضُوا عَلَى رَبِّكَ صَفًّا لَقَدْ جِئْتُمُونَا كَمَا خَلَقْنَاكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ

Dan mereka akan dibawa ke hadapan Tuhanmu dengan berbaris. Sesungguhnya kalian datang kepada Kami, sebagaimana Kami menciptakan kalian pada yang pertama kali. (Al-Kahfi: 48)

Yakni sebagaimana Kami memulai penciptaan kalian, maka Kami kembalikan kalian, sedangkan kalian dahulu mengingkarinya dan menganggapnya mustahil, maka sekarang inilah hari berbangkit.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

Dan kalian tinggalkan di belakang kalian (di dunia) apa yang telah Kami karuniakan kepada kalian. (Al-An’aam: 94)

Yaitu berupa semua kenikmatan dan harta benda yang kalian pelihara selama kalian hidup di dunia, semuanya itu kalian tinggalkan di belakang kalian.

Di dalam sebuah hadits sahih disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:

يَقُولُ ابْنُ آدَمَ: مَالِي مَالِي، وَهَلْ لَكَ مِنْ مالك إِلَّا مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ، أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ، أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ، وَمَا سِوَى ذَلِكَ فَذَاهِبٌ وَتَارِكُهُ لِلنَّاسِ

Anak Adam berkata, Hartaku-hartaku! Padahal tiada yang engkau miliki dari hartamu kecuali apa yang engkau makan, lalu engkau habiskan; atau apa yang engkau pakai, lalu engkau lapukkan; atau apa yang engkau sedekahkan, lalu engkau kekalkan, sedangkan selain dari itu semuanya pergi dan ditinggalkan untuk orang lain.

Al-Hasan Al-Basri mengatakan bahwa seorang anak Adam dihadapkan (kepada Allah) pada hari kiamat dalam keadaan tidak membawa apa-apa, lalu Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman, Ke manakah harta yang telah kamu himpun? Ia menjawab, Wahai Tuhanku, aku telah mengumpulkannya, tetapi aku meninggalkannya semua secara penuh. Allah berfirman kepadanya, Hai anak Adam, manakah amal yang kamu bawa untuk dirimu? Maka ia melihat bahwa dirinya tidak melakukan suatu amal pun. Kemudian Al-Hasan Al-Basri membacakan firman-Nya: Dan sesungguhnya kalian datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kalian Kami ciptakan pada mulanya, dan kalian tinggalkan di belakang kalian (di dunia) apa yang telah Kami karuniakan. (Al-An’aam: 94), hingga akhir ayat.

Demikianlah menurut riwayat Imam Ibnu Abu Hatim.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

Dan Kami tidak melihat besertamu pemberi syafaat yang kalian anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu Tuhan di antara kalian. (Al-An’aam: 94)

Ayat ini mengandung makna kecaman dan celaan terhadap mereka, karena ketika di dunia mereka menjadikan sekutu-sekutu dan berhala-berhala serta patung-patung sebagai sembahan mereka, dengan dugaan bahwa semuanya itu dapat memberikan manfaat bagi kehidupan mereka dan dapat menyejahterakan kehidupan akhirat mereka, jika menurut keyakinan mereka ada hari akhirat.

Apabila hari kiamat tiba, maka terputuslah dari mereka semua hubungan di antara mereka, lenyaplah semua kesesatan, dan hilanglah apa yang dahulu mereka buat-buat dalam mempersekutukan-Nya, lalu Tuhan menyerukan kepada mereka di hadapan semua makhluk:

أَيْنَ شُرَكَاؤُكُمُ الَّذِينَ كُنْتُمْ تَزْعُمُونَ

Di manakah sembahan-sembahan kalian yang dahulu kalian katakan (sekutu-sekutu Kami)? (Al-An’aam: 22)

أَيْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ هَلْ يَنْصُرُونَكُمْ أَوْ يَنْتَصِرُونَ

Di manakah berhala-berhala yang dahulu kalian selalu menyembah (nya) selain dari Allah? Dapatkah mereka menolong kalian atau menolong diri mereka sendiri? (Asy-Syu’ara: 92-93)

Karena itu, dalam ayat ini disebutkan:

Dan Kami tiada melihat beserta kalian pemberi syafaat yang kalian anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu Tuhan di antara kalian. (Al-An’aam: 94)

Yakni yang kalian sembah, dan kalian duga bahwa mereka mempunyai bagian hak untuk kalian sembah.

Kemudian Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman dalam firman selanjutnya:

Sungguh telah terputuslah (pertalian) antara kalian. (Al-An’aam: 94)

Kalau dibaca rafa’ artinya ‘telah terputuslah perhimpunan kalian’, dan kalau dibaca nasab artinya ‘telah terputuslah semua jalinan antara kalian, yakni semua pertalian, hubungan, dan perantaraan’.

Dan telah lenyap dari kalian. (Al-An’aam: 94)

Artinya, pergi dan lenyap dari kalian.

Apa yang dahulu kalian anggap (sebagai sekutu Allah). (Al-An’aam: 94)

Yakni harapan dari berhala dan sekutu-sekutu itu. Sama halnya dengan makna yang terkandung di dalam firman-Nya:

إِذْ تَبَرَّأَ الَّذِينَ اتُّبِعُوا مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا وَرَأَوُا الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الأسْبَابُ * وَقَالَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّءُوا مِنَّا كَذَلِكَ يُرِيهِمُ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ حَسَرَاتٍ عَلَيْهِمْ وَمَا هُمْ بِخَارِجِينَ مِنَ النَّارِ

(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya dan mereka melihat siksa, dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali. Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti, Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami. Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesatan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka. (Al-Baqarah: 166-167)

Allah Subhaanahu wa Ta’aala telah berfirman dalam ayat-ayat lain, yaitu:

فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ فَلا أَنْسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلا يَتَسَاءَلُونَ

Apabila sangkakala ditiup, maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya. (Al-Mu’minun: 101)

إِنَّمَا اتَّخَذْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْثَانًا مَوَدَّةَ بَيْنِكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ثُمَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُ بَعْضُكُمْ بِبَعْضٍ وَيَلْعَنُ بَعْضُكُمْ بَعْضًا وَمَأْوَاكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ نَاصِرِينَ

Sesungguhnya berhala-berhala yang kalian sembah selain Allah adalah untuk menciptakan perasaan kasih sayang di antara kalian dalam kehidupan dunia ini, kemudian di hari kiamat sebagian kalian mengingkari sebagian (yang lain) dan sebagian kalian melaknati sebagian (yang lain); dan tempat kembali kalian ialah neraka, dan sekali-kali tak ada bagi kalian para penolong pun. (Al-‘Ankabut:25)

وَقِيلَ ادْعُوا شُرَكَاءَكُمْ فَدَعَوْهُمْ فَلَمْ يَسْتَجِيبُوا لَهُمْ

Dikatakan (kepada mereka), Serulah oleh kalian sekutu-sekutu kalian, lalu mereka menyerunya, maka sekutu-sekutu itu tidak memperkenankan (seruan) mereka. (Al-Qashash: 64), hingga akhir ayat.

BACA JUGA : Allah yang Menumbuhkan Butir (Padi-padian) dan Biji (kurma) 

وَيَوْمَ نَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا ثُمَّ نَقُولُ لِلَّذِينَ أَشْرَكُوا إِلَى قَوْلِهِ: وَضَلَّ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَفْتَرُونَ

Dan (ingatlah) hari yang di waktu itu Kami menghimpun mereka semuanya, kemudian Kami berkata kepada orang-orang musyrik. (Al-An’aam: 22) sampai dengan firman-Nya; dan hilanglah dari mereka sembahan-sembahan yang dahulu mereka ada-adakan. (Al-An’aam: 24)

Ayat-ayat yang menerangkan hal ini cukup banyak.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here