Menjadikan Jin Sebagai Sekutu Allah

Kajian Tafsir Surah Al-An'aam ayat 100

0
36

Kajian Tafsir Surah Al-An’aam ayat 100. Penguatan terhadap keesaan Allah Subhaanahu wa Ta’aala, sucinya Dia dari sekutu, anak dan penyerupaan; kaum musyrikin menjadikan jin sebagai sekutu Allah. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَجَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَاءَ الْجِنَّ وَخَلَقَهُمْ وَخَرَقُوا لَهُ بَنِينَ وَبَنَاتٍ بِغَيْرِ عِلْمٍ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يَصِفُونَ

Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin sekutu-sekutu Allah, padahal Dia yang menciptakannya (jin-jin itu), dan mereka berbohong (dengan mengatakan), Allah mempunyai anak laki-laki dan anak perempuan, tanpa (dasar) pengetahuan. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka gambarkan. (Q.S. Al-An’aam : 100)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa ja‘alū lillāhi syurakā-al jinna (dan mereka [kaum musyrikin] menjadikan jin sebagai sekutu Allah), yakni mereka mengatakan bahwa Allah Ta‘ala dan iblis adalah dua saudara yang bersekutu. Allah Ta‘ala adalah yang menciptakan manusia, binatang-binatang, hewan-hewan ternak, sedangkan iblis yang menciptakan ular, kalajengking, dan binatang buas. Hal ini adalah pendapat kaum Majusi.

Wa khalaqahum (padahal Allah-lah yang menciptakan mereka), yakni padahal Allah-lah yang menciptakan jin dan menyuruhnya bertauhid.

Wa kharaqū lahū (dan mereka membuat-buat kebohongan bahwasanya Allah mempunyai), yakni mereka mengatakan bahwa Allah Ta‘ala memiliki ….

Banīna (anak-anak laki-laki). Ungkapan ini merupakan pendapat orang-orang Yahudi dan Nasrani.

Wa banātin (dan anak-anak perempuan) dari kalangan malaikat dan berhala. Ini adalah pendapat kaum musyrikin Arab.

Bi ghairi ‘ilm (tanpa [berdasar pada] ilmu), hujjah, dan keterangan.

Subhānahū (Maha Suci Allah), yakni Dzat Allah suci dari sifat memiliki anak dan sekutu.

Wa ta‘ālā (dan Maha Tinggi). Terbebas ….

‘Ammā yashifūn (dari sifat-sifat yang mereka kemukakan) bahwa Allah mempunyai anak-anak laki-laki dan anak-anak perempuan.

BACA JUGA Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-7 Lengkap 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin sekutu-sekutu Allah[17], padahal Dia yang menciptakannya (jin-jin itu), dan mereka berbohong (dengan mengatakan), Allah mempunyai anak laki-laki dan anak perempuan, tanpa (dasar) pengetahuan[18]. Mahasuci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka gambarkan.

[17] Dengan berdoa dan menyembah mereka.

[18] Mereka mengatakan bahwa Allah mempunyai anak seperti orang Yahudi mengatakan Uzair putera Allah dan orang musyrikin mengatakan bahwa malaikat putra-putra Allah. Mereka mengatakan demikian karena kebodohannya. Padahal siapakah yang lebih zalim daripada orang yang berkata tentang Allah tanpa ilmu dan mengadakan kedustaan terhadap-Nya?

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan mereka menjadikan di samping Allah) menjadi maf’ul tsani (sekutu-sekutu) menjadi maf’ul awal dan menjadi mubdal minhu (terdiri dari jin) yang mereka menaatinya dalam menyembah berhala-berhala (dan) padahal (Allahlah yang telah menciptakan mereka) lalu mengapa mereka menjadikannya sebagai sekutu-sekutu-Nya (dan mereka membohong) dengan dibaca takhfif dan tasydid; artinya mereka membuat-buat perkataan (bahwanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan, tanpa landasan ilmu pengetahuan) mereka telah mengatakan, bahwa Uzair adalah anak lelaki Allah, dan malaikat-malaikat itu adalah anak-anak perempuan Allah. (Maha Suci Allah) yakni sebagai ungkapan menyucikan-Nya (dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan) mengenai diri-Nya, yaitu mempunyai anak.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Ayat ini membantah orang-orang musyrik yang menyembah Allah dengan selain-Nya dan mempersekutukan-Nya dalam beribadah kepada-Nya, sebab mereka menyembah jin. Mereka menjadikan jin sebagai sekutu-sekutu Allah dalam ibadah mereka; Mahatinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan, dan Maha Tinggi Allah dari kekafiran mereka.

Apabila ditanyakan, mengapa jin disembah, padahal sesungguhnya mereka hanyalah menyembah berhala-berhala? Sebagai jawabannya dapat dikatakan bahwa mereka tidak sekali-kali menyembah berhala-berhala itu melainkan karena taat kepada jin, dan jin telah menganjurkan mereka untuk melakukan hal tersebut. Seperti yang disebutkan oleh Allah Subhaanahu wa Ta’aala dalam firman yang lain, yaitu:

إِنْ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ إِلا إِنَاثًا وَإِنْ يَدْعُونَ إِلا شَيْطَانًا مَرِيدًا * لَعَنَهُ اللَّهُ وَقَالَ لأتَّخِذَنَّ مِنْ عِبَادِكَ نَصِيبًا مَفْرُوضًا * وَلأضِلَّنَّهُمْ وَلأمَنِّيَنَّهُمْ وَلآمُرَنَّهُمْ فَلَيُبَتِّكُنَّ آذَانَ الأنْعَامِ وَلآمُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللَّهِ وَمَنْ يَتَّخِذِ الشَّيْطَانَ وَلِيًّا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًا مُبِينًا * يَعِدُهُمْ وَيُمَنِّيهِمْ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلا غُرُورًا

Yang mereka sembah selain Allah itu tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah setan yang durhaka, yang dilaknati Allah dan setan itu mengatakan, Saya benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bagian yang telah ditentukan (untuk saya), dan saya benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan akan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan saya suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka mengubahnya. Barang siapa yang menjadikan setan sebagai pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata. Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka. (An-Nisa: 117-120)

أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِي

Patutkah kalian mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain dari-Ku. (Al-Kahfi: 50), hingga akhir ayat.

Nabi Ibrahim pun pernah berkata kepada bapaknya, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya:

يَا أَبَتِ لَا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَنِ عَصِيًّا

Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah setan. Sesungguhnya setan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. (Maryam: 44)

Juga seperti yang disebutkan dalam firman-Nya yang lain, yaitu:

أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَنْ لَا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ * وَأَنِ اعْبُدُونِي هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ

Bukankah Aku telah memerintahkan kepada kalian, hai Bani Adam, supaya kalian tidak menyembah setan? Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian, dan hendaklah kalian menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus. (Yasin: 60-61)

Pada hari kiamat para malaikat mengatakan:

سُبْحَانَكَ أَنْتَ وَلِيُّنَا مِنْ دُونِهِمْ بَلْ كَانُوا يَعْبُدُونَ الْجِنَّ أَكْثَرُهُمْ بِهِمْ مُؤْمِنُونَ

Maha Suci Engkau, Engkaulah pelindung kami, bukan mereka; bahkan mereka telah menyembah jin, kebanyakan mereka beriman kepada jin itu. (Saba: 41)

Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:

وَجَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَاءَ الْجِنَّ وَخَلَقَهُمْ

Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu. (Al-An’aam: 100)

Yakni padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, karena Dialah Tuhan Maha Pencipta semata, tiada sekutu bagi-Nya, maka mengapa disembah selain Dia bersama-Nya? Perihalnya sama dengan perkataan Nabi Ibrahim, seperti yang disitir oleh firman-Nya:

أَتَعْبُدُونَ مَا تَنْحِتُونَ * وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

Apakah kalian menyembah patung-patung yang kalian pahat itu? Padahal Allah-lah yang menciptakan kalian dan apa yang kalian perbuat itu. (Ash-Shaffat: 95-96)

Makna ayat menunjukkan bahwa Allah Subhaanahu wa Ta’aala adalah Zat yang hanya Dia sendiri yang mampu menciptakan. Karena itu, hanya Dia semata yang wajib disembah, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

Dan mereka berbohong (dengan mengatakan), Bahwasannya Allah mempunyai anak laki-laki dan anak perempuan, tanpa (dasar) ilmu pengetahuan. (Al-An’aam: 100)

Melalui ayat ini Allah memperingatkan akan kesesatan orang yang sesat dalam menggambarkan Allah Subhaanahu wa Ta’aala dengan sebutan bahwa Dia beranak, seperti yang dikatakan oleh orang-orang Yahudi terhadap Uzair, yang dikatakan oleh orang-orang Nasrani terhadap Isa putra Maryam, dan perkataan sebagian orang-orang musyrik Arab bahwa para malaikat itu adalah anak-anak perempuan Allah.

Mahasuci dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang sebesar-besarnya. (Al-Isra: 43)

Makna firman-Nya, Kharaqu mereka membuat-buat kedustaan dan kebohongan terhadap Allah, menurut pendapat ulama Salaf.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya, Kharaqu membohong. Menurut Al-Aufi, dari Ibnu Abbas, sehubungan dengan makna firman-Nya: dan mereka berbohong (dengan mengatakan), Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan, tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan. (Al-An’aam: 100) Disebutkan bahwa mereka menjadikan bagi-Nya anak laki-laki dan perempuan.

Mujahid telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan mereka berbohong (dengan mengatakan), Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan. (Al-An’aam: 100) Bahwa makna kharaqu ialah membuat kebohongan. Hal yang sama telah dikatakan oleh Al-Hasan. Menurut Ad-Dahhak, makna kharaqu artinya membuat-buat. Menurut As-Saddi artinya memastikan.

Ibnu Jarir mengatakan, Kalau demikian, berarti makna ayat adalah: Mereka dalam ibadahnya mempersekutukan Allah dengan jin, padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, tanpa ada yang menyekutui-Nya, tanpa penolong, dan tanpa pembantu dalam menciptakan mereka. dan mereka berbohong (dengan mengatakan), Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan,  tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan. (Al-An’aam: 100)

BACA JUGA : Pencipta Langit dan Bumi 

Perihal hakikat dari apa yang mereka katakan, bahkan hal itu disebabkan kebodohan dan ketidaktahuan mereka tentang Allah dan kebesaran-Nya, karena sesungguhnya tidaklah layak bagi Tuhan bila beranak, beristri dan bersekutu dalam menciptakan semuanya. Karena itulah dalam akhir ayat ini disebutkan oleh  firman-Nya:

Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan. (Al-An’aam: 100)

Artinya, Maha Suci, Maha Bersih lagi Maha Besar Allah dari apa yang digambarkan oleh orang-orang bodoh lagi sesat itu yang telah mengatakan bahwa Allah beranak, mempunyai tandingan, teman, dan sekutu. Dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Berita sebelumyaPencipta Langit dan Bumi
Berita berikutnyaDia Tumbuhkan dengan Air Itu Segala Macam Tumbuh-tumbuhan