Mereka Tidak Akan Beriman

Kajian Tafsir Surah Al-An'aam ayat 111

0
230

Kajian Tafsir Surah Al-An’aam ayat 111. Awal Juz ke-8. Permusuhan orang-orang yang berada di atas kebatilan kepada orang-orang yang yang berada di atas kebenaran; mereka tidak akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui arti kebenaran. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَلَوْ أَنَّنَا نَزَّلْنَا إِلَيْهِمُ الْمَلائِكَةَ وَكَلَّمَهُمُ الْمَوْتَى وَحَشَرْنَا عَلَيْهِمْ كُلَّ شَيْءٍ قُبُلا مَا كَانُوا لِيُؤْمِنُوا إِلا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ يَجْهَلُونَ

Sekalipun Kami benar-benar menurunkan malaikat kepada mereka, dan orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) di hadapan mereka segala sesuatu (yang mereka inginkan), mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui (arti kebenaran). (Q.S. Al-An’aam : 111)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa lau annanā nazzalnā ilaihimu (dan seandainya Kami menurunkan kepada mereka), yakni kepada orang-orang yang mengolok-olok itu.

Al-malā-ikata (malaikat) sebagaimana yang mereka minta, lalu malaikat menjadi saksi atas pengingkaran mereka.

Wa kallamahumul mautā (dan orang-orang yang telah mati berbicara kepada mereka), yakni orang-orang yang telah mati keluar dari dalam kubur, sebagaimana yang mereka minta, lalu berbicara kepada mereka bahwasanya Muhammad adalah Rasulullah dan Al-Qur’an adalah kalāmullāh (Kalam Allah).

Wa hasyarnā ‘alaihim kulla syai-in (dan Kami Kumpulkan pula segala sesuatu) berupa burung-burung dan hewan-hewan ternak.

Qubulan (ke hadapan mereka) secara langsung (berhadap-hadapan). Jika kata qubulan dibaca qabilan, maka berarti kelompok demi kelompok. Namun, jika kata qubulan dibaca qabīlan, maka berarti sebagai penjamin bahwa apa yang Kami ucapkan adalah hak (kebenaran), dan para malaikat pun menjadi saksi atas pengingkaran mereka.

Mā kānū li yu’minū (niscaya mereka tetap tidak akan beriman) kepada Muhammad ﷺ dan Al-Qur’an.

Illā ay yasyā-allāhu (kecuali jika Allah menghendaki) mereka beriman.

Wa lākinna ak-tsarahum yajhalūn (tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui) bahwa Al-Qur’an itu merupakan kebenaran dari Allah Ta‘ala.

BACA JUGA Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-8 Lengkap 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Sekalipun Kami benar-benar menurunkan malaikat kepada mereka, dan orang yang telah mati berbicara dengan mereka[1] dan Kami kumpulkan (pula) di hadapan mereka segala sesuatu (yang mereka inginkan)[2], mereka tidak (juga) akan beriman[3], kecuali jika Allah menghendaki. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui (arti kebenaran).

[1] Sebagaimana yang mereka usulkan.

[2] Untuk menjadi saksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah.

[3] Karena Allah telah lebih dulu mengetahui.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka) seperti apa yang telah mereka minta (dan Kami kumpulkan pula) Kami himpunkan pula (segala sesuatu ke hadapan mereka) dibaca dengan damah kedua huruf permulaannya, jamak dari Lafal qabiil yakni gelombang demi gelombang. Dibaca kasrah huruf qaf-nya serta dibaca fatah huruf ba-nya; artinya: secara terang-terangan sehingga mereka dapat menyaksikan kebenaranmu (niscaya mereka tidak juga akan beriman) karena hal itu telah diketahui oleh Allah sebelumnya (kecuali) melainkan (jika Allah menghendaki) mereka beriman, maka baru mereka dapat beriman (akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui) tentang hal itu.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Subhaanahu wa Ta’aala  berfirman bahwa sekiranya Allah memperkenankan permintaan mereka yang bersumpah dengan menyebut nama Allah dengan sumpah yang penuh kesungguhan, sesungguhnya jika datang kepada mereka suatu mukjizat, pastilah mereka akan beriman kepada mukjizat itu. Allah menurunkan malaikat kepada mereka untuk memberitahukan risalah Allah yang dibawa oleh rasul-rasul-Nya agar mereka percaya kepada rasul-rasul itu. Seperti yang mereka mintakan, yang disitir dalam firman-Nya:

أَوْ تَأْتِيَ بِاللَّهِ وَالْمَلائِكَةِ قَبِيلا

Atau kamu datangkan Allah dan malaikat-malaikal dengan berhadapan muka dengan kami. (Al-Isra: 92)

قَالُوا لَنْ نُؤْمِنَ حَتَّى نُؤْتَى مِثْلَ مَا أُوتِيَ رُسُلُ اللَّهِ

Mereka berkata, “Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada utusan-utusan Allah.”(Al-An’aam : 124)

وَقَالَ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا لَوْلا أُنزلَ عَلَيْنَا الْمَلائِكَةُ أَوْ نَرَى رَبَّنَا لَقَدِ اسْتَكْبَرُوا فِي أَنْفُسِهِمْ وَعَتَوْا عُتُوًّا كَبِيرًا

Berkatalah orang-orang yang tidak menanti-nanti pertemuan(nya) dengan Kami, “Mengapakah tidak diturunkan kepada kita malaikat atau (mengapa) kita (tidak) melihat Tuhan kita?” Sesungguhnya mereka memandang besar tentang diri mereka dan mereka benar-benar telah melampaui batas (dalam melakukan) kezaliman. (Al-Furqan: 21)

Adapun firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala :

Dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka. (Al-An’aam : 111)

Maksudnya, orang-orang yang telah mati itu memberitahukan kepada mereka tentang kebenaran dari apa yang didatangkan oleh para rasul (dalam dialog mereka dengan para malaikat).

Dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka. (Al-An’aam : 111)

Sebagian dari ulama membacanya qibalan, berasal dari kata muqabalah dan mu’ayanah (berhadap-hadapan). Sedangkan ulama yang lainnya membaca qubulan, yang menurut suatu pendapat mempunyai makna yang sama, yaitu berasal dari muqabalah dan mu’ayanah juga, seperti yang diriwayatkan oleh Ali ibnu Abu Talhah dan Al-Aufi, dari Ibnu Abbas. Hal yang sama dikatakan pula oleh Qatadah dan Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam.

Mujahid mengatakan, makna qubulan ialah bergelombang-gelombang, yakni ditampilkan kepada mereka semua umat secara bergiliran, satu demi satu, lalu para malaikat memberitahukan kepada mereka tentang kebenaran dari apa yang didatangkan oleh para rasul kepada mereka.

Niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki. (Al-An’aam : 111)

Dengan kata lain, sesungguhnya hidayah itu hanyalah diberikan oleh Allah, bukan oleh mereka (para malaikat itu), bahkan Allah memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dia Maha Melakukan semua apa yang dikehendaki-Nya. Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai. (Al-Anbiya: 23) Berkat ilmu-Nya, hikmah-Nya, kekuasaan-Nya, keperkasaan-Nya, dan kemenangan-Nya.

BACA JUGA Kajian Tafsir ayat berikutnya .... 

Ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan oleh Allah Subhaanahu wa Ta’aala  dalam firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ حَقَّتْ عَلَيْهِمْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ. وَلَوْ جَاءَتْهُمْ كُلُّ آيَةٍ حَتَّى يَرَوُا الْعَذَابَ الألِيمَ

Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti terhadap mereka kalimat Tuhanmu, tidak akan beriman, meskipun datang kepada mereka segala macam keterangan, hingga mereka menyaksikan azab yang pedih. (Yunus: 96-97)

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

 

Berita sebelumyaUntuk Setiap Nabi
Berita berikutnyaKajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-7 Lengkap

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here