Dari Unta Sepasang dan dari Sapi Sepasang

Kajian Tafsir Surah Al-An'aam ayat 144

0
245

Kajian Tafsir Surah Al-An’aam ayat 144. Mendustakan sikap kaum jahiliyah yang menghalalkan atau mengharamkan tanpa ada izin dari Allah Subhaanahu wa Ta’aala; dari unta sepasang dan dari sapi sepasang. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَمِنَ الإبِلِ اثْنَيْنِ وَمِنَ الْبَقَرِ اثْنَيْنِ قُلْ آلذَّكَرَيْنِ حَرَّمَ أَمِ الأنْثَيَيْنِ أَمَّا اشْتَمَلَتْ عَلَيْهِ أَرْحَامُ الأنْثَيَيْنِ أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ وَصَّاكُمُ اللَّهُ بِهَذَا فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا لِيُضِلَّ النَّاسَ بِغَيْرِ عِلْمٍ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Dan dari unta sepasang dan dari sapi sepasang. Katakanlah, “Apakah yang diharamkan dua yang jantan atau dua yang betina, atau yang ada dalam kandungan kedua betinanya? Apakah kamu menjadi saksi ketika Allah menetapkan ini bagimu? Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah untuk menyesatkan orang-orang tanpa pengetahuan?” Sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (Q.S. Al-An’aam : 144)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa minal ibili (dan dari unta), yakni Dia menciptakan dari unta.

Itsnaini (sepasang), yakni jantan dan betina.

Wa minal baqaritsnain (serta dari lembu sepasang), yakni jantan dan betina.

Qul (katakanlah) hai Muhammad, kepada Malik.

Ādz-dzakaraini harrama amil uηtsayaini (“Apakah dua yang jantan yang diharamkan ataukah dua yang betina), yakni apakah pengharaman bahīrah dan washīlah karena sperma dua yang jantan, ataukah karena ovum dua yang betina?

Ammasytamalat ‘alaihi (ataukah yang dikandung), yakni ataukah yang berpadu hingga menjadi anak.

Arhāmul uηtsayain (oleh kandungan dua betinanya). Berkenaan dengan masalah ini ada penjelasan lain, yaitu apakah pengharaman tersebut karena hewan ternak itu melahirkan anak jantan, ataukah karena melahirkan anak betina.

Am kuηtum syuhadā-a (apakah kalian menyaksikan), yakni apakah kalian hadir.

Idz wash-shākumullāhu (ketika Allah berpesan kepada kalian), yakni ketika Allah Ta‘ala memerintakan kepada kalian.

Bi hādzā (tentang ini), yakni tentang apa yang kalian katakan ini.

Fa man azhlamu (maka siapakah yang lebih zalim), yakni lebih durhaka dan lebih lancang kepada Allah Ta‘ala.

Mimmaniftarā (daripada orang-orang yang membuat-buat), yakni mereka-reka.

‘Alallāhi kadzibal li yudlillan nāsa (kebohongan terhadap Allah untuk menyesatkan manusia) dari agama Allah Dan ketaatan kepada-Nya.

Bi ghairi ‘ilm (tanpa ilmu), yakni tanpa dasar ilmu yang diberikan Allah kepadanya.

Innallāha lā yahdī (sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk), yakni tidak akan membimbing pada agama dan keterangan-Nya.

Al-qaumazh zhālimīn (kepada orang-orang yang zalim), yakni orang-orang yang musyrik, yaitu Malik bin ‘Auf. Setelah mendengar penuturan ayat ini Malik pun diam karena dia memahami maksud ayat ini, lalu dia berkata, “Bicaralah hai Muhammad dan saya akan mendengarkannya. Lalu mengapa para leluhur kami mengharamkannya?”

BACA JUGA Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-8 Lengkap 

Tafsir Jalalain

  1. (Dan ari sepasang unta dan dari sepasang lembu, katakanlah, “Apakah dua yang jantan yang diharamkan ataukah dua yang betina, ataukah yang ada di dalam kandungan dua betinanya. Apakah) bahkan (kamu menyaksikan) hadir (di waktu Allah menetapkan ini bagimu?) tentang pengharaman ini kemudian sengaja kamu menyatakan hal ini, tidak, bahkan kamu adalah orang-orang yang dusta dalam hal ini. (Maka siapakah) tak ada seorang pun (yang lebih lalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah) dalam hal itu (untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan?” Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.)

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala :

Apakah kalian menyaksikan di waktu Allah menetapkan ini bagi kalian. (Al-An’aam  : 144)

Makna ayat ini mengandung pengertian kecaman yang ditujukan kepada mereka karena mereka telah berani membuat-buat kedustaan terhadap Allah dalam mengharamkan apa yang mereka haramkan dari hewan ternak itu.

Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan? (Al-An’aam  : 144)

Yakni tidak ada seorang pun yang lebih zalim dan lebih aniaya daripada orang tersebut.

Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim (Al-An’aam  : 144)

BACA JUGA Kajian Tafsir ayat berikutnya .... 

Orang yang mula-mula termasuk ke dalam kecaman ayat ini ialah Amr ibnu Luhai ibnu Qum’ah, karena dialah orang yang mula-mula mengubah agama para nabi dan yang mula-mula mengadakan hewan saibah, wasilah, dan ham, seperti yang diterangkan di dalam hadits sahih mengenai hal tersebut.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Berita sebelumyaSyariat Ilahi dalam Hal Makanan yang Diharamkan
Berita berikutnyaDua yang Jantan atau Dua yang Betina?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here