Perwujudan Keadilan yang Sempurna Pada Hari Kiamat

Kajian Tafsir Surah Al-A'raaf ayat 8-9

0
141

Kajian Tafsir Surah Al-A’raaf ayat 8-9. Perwujudan keadilan yang sempurna pada hari Kiamat. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (٨) وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَظْلِمُونَ (٩)

Timbangan pada hari itu (menjadi ukuran) kebenaran. Maka barang siapa berat timbangan (kebaikan)nya, mereka itulah orang yang beruntung. (Q.S. Al-A’raaf : 8)

Dan barang siapa ringan timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang yang telah merugikan dirinya sendiri, karena mereka mengingkari ayat-ayat kami. (Q.S. Al-A’raaf : 9)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wal waznu (dan timbangan), yakni timbangan amal.

Yauma-idzin (pada hari itu), yakni pada hari kiamat.

Al-haqqu (adalah kebenaran), yakni keadilan.

Fa maη tsaqulat mawāzīnuhū (maka barangsiapa yang berat timbangannya), yakni bobot timbangan kebaikannya.

Fa ulā-ika humul muflihūn (mereka itulah orang-orang yang beruntung), yakni orang-orang yang selamat dari murka dan azab Allah.

Wa man khaffat mawāzīnuhū (namun, barangsiapa yang ringan timbangannya), yakni bobot timbangan kebaikannya ringan.

Fa ulā-ikal ladzīna khasirū aηfusahum (maka itulah orang-orang yang telah merugikan dirinya sendiri) dengan mendapat siksa.

Bimā kānū bi āyātinā (disebabkan mereka terhadap ayat-ayat Kami), yakni terhadap Nabi Muhammad ﷺ dan Al-Qur’an.

Yazhlimūn (selalu mengingkari), yakni selalu kafir.

BACA JUGA Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-8 Lengkap 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Timbangan[13] pada hari itu (menjadi ukuran) kebenaran[14]. Maka barang siapa berat timbangan (kebaikan)nya, mereka itulah orang yang beruntung[15].

[13] Timbangan ini sebagaimana dalam hadits memiliki dua daun timbangan.

[14] Penimbangan dilakukan dengan adil.

[15] Selamat dari yang tidak diinginkan, dan memperoleh apa yang diinginkan, memperoleh keberuntungan yang besar dan kebahagiaan yang kekal.

  1. Dan barang siapa ringan timbangan (kebaikan)nya[16], maka mereka itulah orang yang telah merugikan dirinya sendiri, karena mereka mengingkari ayat-ayat kami.

[16] Karena banyaknya keburukan.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan timbangan) untuk amal-amal perbuatan atau untuk lembaran-lembaran catatan amal perbuatan yang ditaruh di dalamnya. Timbangan itu memiliki jarum penunjuk berat dan dua gantungan, demikian sebagaimana yang telah dijelaskan oleh hadits. Timbangan itu ada (pada hari itu) yakni hari penghisaban yang telah disebutkan, yaitu hari kiamat (adalah benar) adalah adil, menjadi sifat dari lafal al-wazn (maka barang siapa berat timbangannya) oleh kebaikan (maka mereka itulah orang-orang yang berbahagia) orang-orang yang beruntung.
  2. (Dan siapa yang ringan timbangannya) oleh sebab amal-amal keburukannya (maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri) yang membawa dirinya ke neraka (disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami) mereka tidak mau mempercayainya.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

Timbangan. (Al-A’raaf : 8)

Maksudnya, timbangan amal perbuatan kelak di hari kiamat.

Ialah kebenaran. (Al-A’raaf : 8)

Yakni Allah Subhaanahu wa Ta’aala tidak menganiaya seorang pun. Ayat ini semakna dengan ayat lain yang disebutkan melalui firman-Nya:

وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِينَ

Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun. Danjika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun, pasti Kami mendatangkan (pahalanya. Dan cukuplah Kami menjadi orang-orang yang membuat perhitungan. (Al-Anbiya: 47)

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا

Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun seberat zarrah; dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar. (An-Nisa: 40)

فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ * وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ * وَمَا أَدْرَاكَ مَا هِيَهْ * نَارٌ حَامِيَةٌ

Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. Dan tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu?” (Yaitu) api yang sangat panas. (Al-Qari’ah: 6-11)

Dan firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ فَلا أَنْسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلا يَتَسَاءَلُونَ * فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ * وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُونَ

Apabila sangkakala ditiup, maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya. (Al-Mu’minun: 101); Barang siapa yang berat timbangan (kebaikan)nya. maka mereka itulah orang-orang yang dapat keberuntungan. Dan barang siapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam. (Al-Mu’minun: 102-103)

Yang diletakkan pada timbangan amal perbuatan kelak di hari kiamat menurut suatu pendapat adalah amal-amal perbuatan, sekalipun berupa sesuatu yang abstrak, tetapi Allah Subhaanahu wa Ta’aala mengubah bentuknya menjadi jasad yang kongkret kelak di hari kiamat.

Al-Bagawi mengatakan bahwa hal tersebut telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas, seperti yang disebutkan di dalam sebuah hadits sahih, bahwa surat Al-Baqarah dan Ali Imran kelak di hari kiamat datang (dalam bentuk) seakan-akan seperti dua awan, atau dua naungan, atau dua kumpulan burung-burung yang terbang berbaris.

Termasuk ke dalam pengertian ini ialah apa yang disebut di dalam hadits sahih lainnya tentang kisah Al-Qur’an, bahwa Al-Qur’an kelak akan datang kepada pemiliknya dalam rupa seorang pemuda yang pucat warna (kulit)nya. Maka pemiliknya bertanya, “Siapakah kamu?” Ia menjawab, “Aku adalah Al-Qur’an yang membuatmu tidak dapat tidur di malam harimu dan membuatmu haus di siang harimu.”

Di dalam hadits Al-Barra mengenai kisah pertanyaan kubur disebutkan:

فَيَأْتِي الْمُؤْمِنَ شابٌّ حَسَنُ اللَّوْنِ طَيِّبُ الرِّيحِ، فَيَقُولُ: مَنْ أَنْتَ؟ فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ

Maka orang mukmin didatangi oleh seorang pemuda yang bagus warna kulitnya lagi harum baunya. Maka orang mukmin itu bertanya, “Siapakah kamu?” Ia menjawab, “Saya adalah amal salehmu.”

Lalu disebutkan hal yang sebaliknya tentang orang kafir dan orang munafik.

Menurut pendapat yang lain, yang ditimbang adalah kitab catatan amal perbuatan, seperti yang disebutkan di dalam hadits tentang bitaqah (kartu) mengenai seorang lelaki yang dihadapkan, lalu diletakkan baginya pada salah satu sisi timbangan sebanyak sembilan puluh sembilan catatan amal, setiap catatan amal tebalnya sejauh mata memandang. Kemudian bitaqah tersebut didatangkan yang di dalamnya bertuliskan kalimah “Tidak ada Tuhan selain Allah”. Lalu lelaki itu bertanya, “Wahai Tuhanku, apakah bitaqah dan semua catatan ini?” Allah Subhaanahu wa Ta’aala menjawab, “Sesungguhnya engkau tidak akan dianiaya.” Lalu bitaqah tersebut diletakkan di sisi timbangan yang lainnya. Rasulullah ﷺ bersabda:

فَطاشَت السِّجِلَّاتُ، وثَقُلَتِ الْبِطَاقَةُ

Maka catatan-catatan itu menjadi ringan dan bitaqah itu menjadi berat.

Imam Turmuzi meriwayatkan hal yang semisal melalui jalur ini, dan ia menilainya sahih.

Menurut pendapat yang lainnya lagi, yang ditimbang itu adalah diri orang yang bersangkutan. Seperti yang disebutkan di dalam hadits berikut:

يُؤتَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِالرَّجُلِ السَّمِين، فَلَا يَزِن عِنْدَ اللَّهِ جَنَاح بَعُوضَة ثُمَّ قَرَأَ: فَلا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا

Kelak di hari kiamat didatangkan seorang lelaki yang gemuk, tetapi di sisi Allah timbangannya tidaklah seberat sebuah sayap nyamuk kecil pun. Kemudian Rasulullah membacakan firman-Nya: dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat. (Al-Kahfi: 105)

Di dalam manaqib (riwayat hidup) sahabat Abdullah ibnu Mas’ud disebutkan bahwa Nabi ﷺ pernah bersabda:

أَتَعْجَبُونَ مِنْ دِقَّة ساقَيْهِ، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَهُمَا فِي الْمِيزَانِ أَثْقَلُ مِنْ أُحُدٍ

Apakah kalian merasa aneh dengan kedua betisnya (Ibnu Mas’ud) yang kecil itu. Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, kedua betisnya itu dalam timbangan amal perbuatan jauh lebih berat daripada Bukit Uhud.

BACA JUGA Kajian Tafsir ayat berikutnya .... 

Tetapi dapat pula digabungkan pengertian dari semua atsar tersebut, misalnya semuanya dinilai benar karena adakalanya yang ditimbang adalah amal perbuatannya, adakalanya catatan-catatan amalnya, dan adakalanya diri orang yang bersangkutan.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Berita sebelumyaPenundukkan Bumi untuk Manusia
Berita berikutnyaAllah Akan Menanyai Umat yang Telah Mendapat Seruan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here