Angin Sebagai Pembawa Kabar Gembira

Kajian Tafsir Surah Al-A'raaf ayat 57

0
227

Kajian Tafsir Surah Al-A’raaf ayat 57. Di antara bukti adanya kebangkitan; Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa kabar gembira. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

وَهُوَ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ حَتَّى إِذَا أَقَلَّتْ سَحَابًا ثِقَالا سُقْنَاهُ لِبَلَدٍ مَيِّتٍ فَأَنْزَلْنَا بِهِ الْمَاءَ فَأَخْرَجْنَا بِهِ مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ كَذَلِكَ نُخْرِجُ الْمَوْتَى لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ (٥٧)

Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa kabar gembira, mendahului kedatangan rahmat-Nya (hujan), sehingga apabila angin itu membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu. Kemudian Kami tumbuhkan dengan hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran. (Q.S. Al-A’raaf : 57)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa huwal ladzī yursilur riyāha busyran (dan Dia-lah yang mengirimkan angin sebagai pembawa kabar gembira), yakni membawa kebaikan.

Baina yadai rahmatih (sebelum kedatangan rahmat-Nya), yakni sebelum turunnya hujan.

Hattā idzā aqallat (hingga apabila angin itu telah membawa), yakni mengangkat.

Sahābaη tsiqālan (awan yang berat), yakni yang berat dengan air.

Suqnāhu li baladin (Kami menggiringnya ke suatu tanah), yakni ke suatu tempat.

Mayyitin (yang gersang) yang tidak ditumbuhi tumbuh-tumbuhan.

Fa aηzalnā bihi (kemudian Kami turunkan padanya), yakni di tempat yang gersang itu.

Al-mā-a fa akhrajnā bihī (hujan, lalu Kami keluarkan dengannya), yakni dengan perantaraan hujan itu.

Ming kullits tsamarāt (segala macam buah-buahan), yakni beraneka ragam buah-buahan.

Kadzālika (seperti itulah), yakni sebagaimana halnya Kami menghidupkan tanah dengan tumbuh-tumbuhan.

Nukhrijul mautā (Kami mengeluarkan orang-orang yang telah mati), yakni Kami menghidupkan dan mengeluarkan orang-orang yang telah mati dari dalam kuburnya.

La‘allakum tadzakkarūn (mudah-mudahan kalian ingat), yakni mengambil pelajaran.

BACA JUGA Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-8 Lengkap 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa kabar gembira, mendahului kedatangan rahmat-Nya (hujan), sehingga apabila angin itu membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus[18], lalu Kami turunkan hujan di daerah itu. Kemudian Kami tumbuhkan dengan hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang yang telah mati[19], mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran[20].

[18] Untuk dihidupkannya, di mana sebeumnya hewan-hewannya hampir binasa dan penduduknya hampir berputus asa dari rahmat Allah.

[19] Yakni sebagaimana Kami hidupkan tanah yang mati dengan ditumbuhnya pohon-pohon, seperti itulah Kami menghidupkan orang-orang yang telah mati dari kubur-kubur mereka setelah sebelumnya mereka sebagai tulang belulang. Hal ini adalah pendalilan yang jelas, karena tidak ada perbedaan antara kedua perkara tersebut. Oleh karena itu, orang yang mengingkari kebangkitan padahal ia melihat sesuatu yang semisalnya, sama saja orang yang memang keras kepala, dan sama saja mengingkari hal yang dapat dirasakan. Dalam ayat ini terdapat anjuran untuk memikirkan nikmat-nikmat Allah, melihatnya dengan mengambil pelajaran, tidak dengan hati yang lalai dan kurang peduli.

[20] Sehingga kamu beriman.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya) yakni terpencar-pencar sebelum datangnya hujan. Menurut suatu qiraat dibaca dengan takhfif, yaitu syin disukunkan; dan menurut qiraat lainnya dengan disukunkan syinnya kemudian memakai nun yang difatahkan sebagai mashdar. Menurut qiraat lainnya lagi dengan disukunkan syinnya kemudian didamahkan huruf sebelumnya sebagai pengganti dari nun, yakni mubsyiran. Bentuk tunggal (dari yang pertama ialah nusyuurun seperti lafal rasuulun, sedangkan bentuk tunggal yang kedua ialah basyiirun (sehingga apabila angin itu membawa) maksudnya meniupkan (mendung yang tebal) yaitu hujan (Kami halau mendung itu) mega yang mengandung air hujan itu. Di dalam lafal ini terkandung makna iltifat ‘anil ghaibiyyah (ke suatu daerah yang tandus) daerah yang tidak ada tetumbuhannya guna menyuburkannya (lalu Kami turunkan di daerah itu) di kawasan tersebut (hujan, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah) cara pengeluaran itulah (Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati) dari kuburan mereka dengan menghidupkan mereka kembali (mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran) kemudian kamu mau beriman.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Dalam pembahasan di atas disebutkan bahwa Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi, dan Dialah Yang Mengatur, Yang Memutuskan, Yang Memerintah, dan Yang Menundukkannya. Dia memberikan petunjuk kepada mereka agar berdoa kepada-Nya karena Dia Maha Kuasa atas semua yang dikehendaki-Nya. Kemudian dalam pembahasan ayat ini disebutkan bahwa Allah mengingatkan kepada hamba-hamba-Nya bahwa Dialah yang memberi mereka rezeki, dan bahwa kelak Dia akan membangkitkan orang-orang yang telah mati di hari kiamat. Untuk itu Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

وَهُوَ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ نشْرًا

Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira. (Al-A’raaf : 57)

Yakni angin yang bertiup menyebar membawa awan yang mengandung hujan. Di antara ahli qiraat ada yang membacanya dengan bacaan yang semakna dengan apa yang dikandung oleh firman-Nya:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ يُرْسِلَ الرِّيَاحَ مُبَشِّرَاتٍ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah bahwa Dia mengirimkan angin sebagai pembawa berita gembira. (Ar-Rum: 46)

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

Sebelum kedatangan rahmat-Nya. (Al-A’raaf : 57)

Maksudnya, sebelum kedatangan hujan. Sama pengertiannya dengan apa yang disebutkan di dalam firman-Nya:

وَهُوَ الَّذِي يُنزلُ الْغَيْثَ مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهُ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ

Dan Dialah yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji. (Asy-Syura: 28)

فَانْظُرْ إِلَى أَثَر رَحْمَةِ اللَّهِ كَيْفَ يُحْيِي الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا إِنَّ ذَلِكَ لَمُحْيِي الْمَوْتَى وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi yang sudah mati. Sesungguhnya (Tuhan yang berkuasa seperti) demikian benar-benar (berkuasa) menghidupkan orang-orang yang telah mati. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. (Ar-Rum: 50)

Adapun firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

حَتَّى إِذَا أَقَلَّتْ سَحَابًا ثِقَالا

Hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung. (Al-A’raaf : 57)

Yakni angin tersebut membawa awan yang mengandung air hujan yang ciri khasnya gelap karena berat, penuh dengan air, dan tidak jauh dari permukaan bumi.

Perihalnya sama dengan apa yang dikatakan oleh Zaid ibnu Amr ibnu Nufail dalam bait-bait syairnya, yaitu:

وأسلمتُ وجْهِي لمنْ أسْلَمَتْ … لَهُ المُزْنُ تَحْمل عَذْبا زُلالا …

وأسلَمْتُ وَجْهي لِمَنْ أسلَمَتْ … لَهُ الْأَرْضُ تحملُ صَخرًا ثِقَالًا

Saya berserah diri kepada Tuhan yang berserah diri kepada-Nya awan yang mengandung air hujan yang tawar lagi mudah diminum.

Dan saya berserah diri kepada Tuhan yang berserah diri kepada-Nya bumi yang membawa batu-batu besar lagi berat.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

سُقْنَاهُ لِبَلَدٍ مَيِّتٍ

Kami halau ke suatu daerah yang tandus. (Al-A’raaf : 57)

Yakni ke suatu daerah yang kering dan tandus tidak ada tanam-tanamannya. Ayat ini semakna dengan ayat lain, yaitu firman-Nya:

وَآيَةٌ لَهُمُ الأرْضُ الْمَيْتَةُ أَحْيَيْنَاهَا

Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi mati, Kami hidupkan bumi itu. (Yasin: 33), hingga akhir ayat.

Karena itulah dalam ayat ini yakni firman selanjutnya disebutkan:

فَأَخْرَجْنَا بِهِ مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ كَذَلِكَ نُخْرِجُ الْمَوْتَى

Maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati. (Al-A’raaf : 57)

Yaitu sebagaimana Kami hidupkan bumi yang telah mati itu sesudah matinya, demikian pula Kami hidupkan jasad-jasad sesudah tulang belulangnya hancur kelak di hari kiamat. Di hari kiamat nanti Allah menurunkan hujan dari langit, hujan itu menyirami bumi selama empat puluh hari. Maka tumbuhlah dari bumi semua jasad dari kuburnya masing-masing seperti tumbuhnya bebijian dari dalam tanah.

BACA JUGA Kajian Tafsir ayat berikutnya .... 

Pengertian seperti ini banyak didapat di dalam Al-Qur’an. Diungkapkan oleh Allah Subhaanahu wa Ta’aala sebagai perumpamaan kejadian hari kiamat; Allah mengungkapkannya dengan contoh Dia menghidupkan bumi yang telah mati. Karena itulah di akhir ayat ini disebutkan oleh firman-Nya:

Mudah-mudahan kalian mengambil pelajaran. (Al-A’raaf : 57)

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Berita sebelumyaPerumpamaan Orang Mukmin dengan Tanah yang Baik
Berita berikutnyaBagaimanakah Bermohon Kepada-Nya?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here