Orang-orang yang Mendustakan Ayat-ayat-Nya

Kajian Tafsir Surah Al-A'raaf ayat 72

0
30

Kajian Tafsir Surah Al-A’raaf ayat 72. Kisah Nabi Hud ‘alaihis salam; Allah musnahkan sampai ke akar-akarnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat-Nya. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

فَأَنْجَيْنَاهُ وَالَّذِينَ مَعَهُ بِرَحْمَةٍ مِنَّا وَقَطَعْنَا دَابِرَ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَمَا كَانُوا مُؤْمِنِينَ

Maka Kami selamatkan dia (Hud) dan orang-orang yang bersamanya dengan rahmat Kami dan Kami musnahkan sampai ke akar-akarnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Mereka bukanlah orang-orang beriman. (Q.S. Al-A’raaf : 72)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Fa aηjaināhu (kemudian Kami menyelamatkannya), yakni menyelamatkan Hud.

Wal ladzīna ma‘ahū bi rahmatim minnā (dan juga orang-orang yang bersamanya dengan rahmat dari Kami) yang dilimpahkan kepada mereka.

Wa qatha‘nā dābiral ladzīna kadz-dzabū bi āyātinā (dan Kami tumpas orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami), yakni Kami Binasakan orang-orang yang mendustakan kitab dan Hud Rasul Kami.

Wa mā kānū mu’minīn (dan tiadalah mereka itu orang-orang yang beriman), yakni yang Kami binasakan semuanya adalah orang-orang kafir.

BACA JUGA Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-8 Lengkap 

Tafsir Jalalain

  1. (Maka Kami selamatkan dia) Hud (beserta orang-orang yang bersamanya) dari kalangan orang-orang yang beriman (dengan rahmat yang besar dari Kami dan Kami tumpas) kaumnya itu (orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami) Kami habiskan mereka dengan akar-akarnya (dan tiadalah mereka orang-orang yang beriman) diathafkan kepada lafal kadzdzabuu.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Disebutkan dalam firman-Nya:

Maka Kami selamatkan Hud beserta orang-orang yang bersamanya dengan rahmat yang besar dari Kami, dan Kami tumpas orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan tiadalah mereka orang-orang yang beriman. (Al-A’raaf : 72)

Allah Subhaanahu wa Ta’aala telah menyebutkan gambaran tentang pembinasaan mereka di berbagai ayat dari Al-Qur’an, yang intinya menyebutkan bahwa Allah mengirimkan kepada mereka angin besar yang sangat dingin. Tidak ada sesuatu pun yang diterjang angin ini, melainkan pasti hancur berserakan, seperti yang disebutkan di dalam ayat lain melalui firman-Nya:

وَأَمَّا عَادٌ فَأُهْلِكُوا بِرِيحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍ * سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًا فَتَرَى الْقَوْمَ فِيهَا صَرْعَى كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍ * فَهَلْ تَرَى لَهُمْ مِنْ بَاقِيَةٍ

Adapun kaum ‘Aad, maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus-menerus; maka kamu lihat kaum ‘Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul-tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk). Maka kamu tidak melihat seorang pun yang tinggal di antara mereka. (Al-Haqqah: 6-8)

Setelah mereka membangkang dan durhaka kepada Nabi-Nya, maka Allah membinasakan mereka dengan angin yang sangat dingin. Angin tersebut dapat menerbangkan seseorang dari mereka, lalu menjatuhkannya dengan kepala di bawah sehingga kepalanya hancur dan terpisah dari tubuhnya. Karena itulah dalam ayat ini disebutkan oleh firman-Nya:

كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍ

Seakan-akan mereka tunggul-tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk). (Al-Haqqah: 7)

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan bahwa mereka mendiami negeri Yaman, tepatnya di suatu daerah yang terletak di antara Amman dan Hadramaut. Tetapi sekalipun demikian, mereka berhasil menyebar ke seluruh penjuru bumi dan dapat mengalahkan penduduknya berkat kekuatan yang diberikan oleh Allah kepada mereka. Mereka adalah orang-orang yang menyembah berhala, bukan menyembah Allah. Kemudian Allah mengutus kepada mereka Nabi Hud ‘alaihis salam yang nasabnya berasal dari kalangan menengah mereka dan berkedudukan’ terhormat di kalangan mereka.

Maka Nabi Hud ‘alaihis salam memerintahkan kepada mereka agar mengesakan Allah, jangan menjadikan bersama-Nya tuhan-tuhan selain Dia, dan jangan menganiaya manusia lagi. Tetapi mereka menolak seruannya, bahkan mendustakannya. Mereka mengatakan, “Siapakah yang lebih kuat dari kami?’

Tetapi ada segolongan orang dari mereka yang mengikuti Nabi Hud ‘alaihis salam, hanya jumlahnya sedikit dan mereka menyembunyikan keimanannya. Setelah kaum ‘Aad bertambah durhaka terhadap Allah dan mendustakan Nabi-Nya serta banyak menimbulkan kerusakan di muka bumi, dengan berlaku sewenang-wenang padanya dan meninggalkan jejak-jejak mereka di setiap tanah tinggi tempat-tempat bermainnya tanpa ada gunanya, maka Nabi Hud ‘alaihis salam berkata kepada mereka yang disitir oleh firman-Nya:

أَتَبْنُونَ بِكُلِّ رِيعٍ آيَةً تَعْبَثُونَ * وَتَتَّخِذُونَ مَصَانِعَ لَعَلَّكُمْ تَخْلُدُونَ * وَإِذَا بَطَشْتُمْ بَطَشْتُمْ جَبَّارِينَ * فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ

Apakah kalian mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi bangunan untuk bermain-main, dan kalian membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kalian kekal (di dunia)? Dan apabila kalian menyiksa, maka kalian menyiksa sebagai orang-orang kejam dan bengis. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. (Asy-Syu’ara: 128-131)

Tetapi mereka menjawab, seperti yang disebutkan di dalam ayat-ayat lainnya, yaitu firman-Nya:

قَالُوا يَا هُودُ مَا جِئْتَنَا بِبَيِّنَةٍ وَمَا نَحْنُ بِتَارِكِي آلِهَتِنَا عَنْ قَوْلِكَ وَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِينَ. إِنْ نَقُولُ إِلا اعْتَرَاكَ بَعْضُ آلِهَتِنَا بِسُوءٍ

Kaum ‘Aad berkata “Hai Hud. kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu. Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan keburukan kepadamu.” (Hud: 53-54)

Yang dimaksud dengan su’ atau keburukan ialah penyakit gila.

قَالَ إِنِّي أُشْهِدُ اللَّهَ وَاشْهَدُوا أَنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ * مِنْ دُونِهِ فَكِيدُونِي جَمِيعًا ثُمَّ لَا تُنْظِرُونِ * إِنِّي تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ رَبِّي وَرَبِّكُمْ مَا مِنْ دَابَّةٍ إِلا هُوَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا إِنَّ رَبِّي عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Hud menjawab, “Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah oleh kamu sekalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan dari selain-Nya, sebab itu jalankanlah tipu daya kalian semuanya terhadapku dan janganlah kalian memberi tangguh kepadaku. Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah Tuhanku dan Tuhan kalian. Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus.” (Hud: 54-56)

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan bahwa setelah mereka membangkang, tidak mau beriman dan hanya tetap kepada kekufurannya, maka Allah menahan hujan dari mereka selama tiga tahun menurut apa yang didugakan oleh mereka (para perawinya) sehingga keadaan tersebut membuat mereka benar-benar parah. Konon di zaman itu apabila orang-orang mengalami musim paceklik yang parah, dan mereka memohon kepada Allah agar dibebaskan dari paceklik, maka sesungguhnya mereka hanya mendoa kepada-Nya di tempat suci-Nya, yaitu di tempat bait-Nya.

Tempat tersebut di masa itu telah dikenal, sedangkan di tempat itu terdapat para penghuninya dari golongan amatiq (raksasa). Mereka adalah keturunan dari ‘Amliq Ibnu Lawuz ibnu Sam ibnu Nuh. Pemimpin mereka saat itu adalah seorang lelaki yang bernama Mu’awiyah ibnu Bakar. Sedangkan ibunya berasal dari kaum ‘Aad yang dikenal dengan nama Jahlazah, anak perempuan Al-Khubairi.

Ibnu Ishaq melanjutkan kisahnya, bahwa lalu kaum ‘Aad mengirimkan suatu delegasi yang jumlahnya kurang lebih tujuh puluh orang menuju tanah suci, untuk meminta istisqa (hujan) di tanah suci buat kaumnya.

Mereka bersua dengan Mu’awiyah ibnu Bakar di luar kota Mekah, lalu mereka tinggal di rumahnya selama satu bulan. Selama itu mereka mabuk-mabukan dan mendengarkan nyanyian yang didendangkan oleh dua orang penyanyi wanita Mu’awiyah.

Walaupun telah cukup lama mereka tinggal di tempat Mu’awiyah, tetapi ternyata mereka tidak beranjak juga dari rumahnya, sedangkan Mu’awiyah merasa kasihan kepada kaumnya (yang merasa terganggu dengan kehadiran mereka); sementara itu Mu’awiyah sendiri merasa malu untuk mengusir mereka pergi dari rumahnya. Maka ia membuat syair yang menyindir mereka untuk pergi, lalu memerintahkan kepada biduannya untuk mendendangkan syair itu kepada mereka. Isi syair tersebut adalah seperti berikut:

أَلَا يَا قَيْلُ وَيْحَكَ قُْم فَهَيْنم … لَعَلَّ اللَّهَ يُصْبحُنَا غَمَاما …

فَيَسْقي أرضَ عادٍ إِنَّ عَادًا … قَد امْسَوا لَا يُبِينُونَ الكَلاما …

مِنَ الْعَطَشِ الشَّدِيدِ فَلَيْسَ نَرجُو … بِهِ الشيخَ الكبيرَ وَلَا الغُلاما …

وَقَد كانَت نساؤهُم بخيرٍ … فَقَدْ أَمْسَتْ  نِسَاؤهم عَيَامى

وَإِنَّ الوحشَ تأتيهمْ جِهارا … وَلَا تَخْشَى لعاديَ سِهَاما …

وَأَنْتُمْ هاهُنَا فِيمَا اشتَهَيْتُمْ … نهارَكُمُ وَلَيْلَكُمُ التَّمَامَا …

فقُبّحَ وَفُْدكم مِنْ وَفْدِ قَوْمٍ … ولا لُقُّوا التحيَّةَ والسَّلاما …

Ingatlah, hai Qil, celakalah engkau, bangunlah dan sadarlah engkau, mudah-mudahan Allah memberikan hujan di pagi hari.

Karenanya maka tanah kaum ‘Aad menjadi tersirami hujan.

Sesungguhnya kaum Ad sekarang menjadi orang-orang yang tidak mengerti perkataan karena rasa haus berat yang menimpa mereka.

Kami tujukan kata-kata ini bukan kepada orang yang sudah pikun, bukan pula kepada anak-anak

Dahulu kaum wanita mereka dalam keadaan baik-baik, tetapi sekarang kaum wanita mereka dalam kesedihan dan kemurungan.

Dan sesungguhnya binatang-binatang liar berani datang kepada mereka secara terang-terangan, tanpa rasa takut sedikit pun kepada anak panah pemburu.

Sedangkan kalian di sini tenggelam ke dalam hura-hura sepanjang siang dan malam hari.

Maka seburuk-buruk delegasi dari suatu kaum adalah delegasi kalian.

Mereka tidak mendapat kehormatan, tidak pula mendapat salam (kesejahteraan).

Setelah syair tersebut dikemukakan kepada mereka, barulah mereka sadar akan tugas kedatangannya ke tanah suci itu. Lalu mereka bangkit menuju tanah suci dan berdoa untuk kaumnya. Mereka berdoa dipimpin oleh ketua mereka yang dikenal dengan nama Qil ibnu Anaz.

Maka Allah memunculkan tiga jenis awan, ada yang putih, ada yang hitam, dan ada yang merah. Lalu Qil mendengar suara dari langit yang mengatakan, “Pilihlah untukmu atau untuk kaummu dari awan-awan ini!”

BACA JUGA : Orang-orang yang Tersisa dari Keturunan Kaum ‘Aad 

Qil berkata, “Saya memilih awan yang hitam ini, karena sesungguhnya awan hitam ini banyak mengandung air.” Maka dijawablah oleh seruan itu, “Ternyata kamu memilih awan yang mengandung debu yang membinasakan.” Maka tidak ada seorang pun dan tidak ada seorang tua pun dari kaum ‘Aad serta tidak ada seorang anak pun dari mereka melainkan binasa saat itu, kecuali Bani Wuzyah Al-Muhannada.

Menurut Ibnu Ishaq, Banil Wuzyah adalah suatu kabilah dari kaum ‘Aad yang tinggal di Mekah, maka mereka tidak tertimpa azab yang menimpa kaumnya.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here