Kisah Nabi Saleh ‘Alaihis Salam

Kajian Tafsir Surah Al-A'raaf ayat 73

0
28

Kajian Tafsir Surah Al-A’raaf ayat 73. Kisah Nabi Saleh ‘alaihis salam. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ قَدْ جَاءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ هَذِهِ نَاقَةُ اللَّهِ لَكُمْ آيَةً فَذَرُوهَا تَأْكُلْ فِي أَرْضِ اللَّهِ وَلا تَمَسُّوهَا بِسُوءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Dan kepada kaum Tsamud (Kami utus) saudara mereka Saleh. Dia berkata, “Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada Tuhan (sembahan) bagimu selain Dia. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Ini seekor unta betina dari Allah sebagai tanda untukmu. Biarkanlah ia makan di bumi Allah, janganlah disakiti, nanti akibatnya kamu akan mendapatkan siksaan yang pedih.” (Q.S. Al-A’raaf : 73)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa ilā tsamūda (dan kepada kaum Tsamud), yakni Kami telah mengutus kepada kaum Tsamud.

Akhāhum (saudara mereka), yakni nabi mereka. Menurut satu pendapat, yang dimaksud adalah saudara mereka yang senasab, dan bukan saudara seagama.

Shālihā, qāla yā qaumi‘budullāha (Shalih. Dia berkata, “Wahai kaumku, beribadahlah kepada Allah), yakni hendaklah kalian mengesakan Allah Ta‘ala.

Mā lakum min ilāhin ghairuh (sekali-kali tidak ada bagi kalian tuhan selain Dia), yakni selain yang aku perintahkan agar kalian imani.

Qad jā-atkum bayyinatum mir rabbikum (sungguh telah datang kepada kalian bukti yang nyata dari Rabb kalian), yakni penjelasan dari Rabb kalian.

Hādzihī nāqatullāhi lakum āyatan (ini adalah unta betina Allah, merupakan tanda bagi kalian), yakni tanda atas keberadaan risalah Allah Ta‘ala.

Fa dzarūhā (maka hendaklah kalian membiarkannya), yakni hendaklah kalian memperbolehkan unta betina itu.

Ta’kul fī ardlillāhi (makan di bumi Allah), yakni memakan rumput yang ada di daerah al-Hijr.

Wa lā tamassūhā bi sū-in (dan janganlah kalian menimpakan gangguan kepadanya), yakni menyembelihnya.

Fa ya’khudzakum ‘adzābun alīm (yang karenanya kalian akan ditimpa azab yang pedih”) sesudah menyembelihnya.

BACA JUGA Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-8 Lengkap 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Dan kepada kaum Tsamud[8] (Kami utus) saudara mereka Saleh. Dia berkata, “Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada Tuhan (sembahan) bagimu selain Dia. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu[9]. Ini seekor unta betina dari Allah sebagai tanda untukmu. Biarkanlah ia makan di bumi Allah[10], janganlah disakiti[11], nanti akibatnya kamu akan mendapatkan siksaan yang pedih.”

[8] Tsamud adalah kabilah (suku) yang tinggal di Hijr dan sekitarnya, yaitu negeri HIjaz dan jazirah Arab.

[9] Yang menunjukkan kebenaranku, di mana sebelumnya mereka meminta bukti kepada Saleh untuk mendatangkan mukjizat, maka Allah mendatangkan unta betina itu.

[10] Kamu tidak perlu memberinya makan.

[11] Dipukul atau disembelih.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan) Kami telah mengutus (kepada kaum Tsamud) tanpa tanwin, yang dimaksud adalah kabilahnya (saudara mereka Saleh. Ia berkata, “Hai kaumku, sembahlah Allah sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata) yakni mukjizat (dari Tuhanmu) yang membenarkan kerasulanku. (Unta betina ini menjadi tanda bagimu) menjadi hal sedangkan amilnya adalah makna yang terkandung dalam isyarah. Sebelumnya kaum Nabi Saleh itu meminta kepadanya agar ia mengeluarkan unta betina tersebut dari sebuah batu besar yang telah mereka tentukan sendiri (maka biarkanlah dia makan di bumi Allah dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apa pun) menyembelihnya atau memukulnya (maka kamu ditimpa siksaan yang pedih.”).

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud. (Al-A’raaf : 73)

Yaitu sesungguhnya Kami telah mengutus kepada kabilah Tsamud saudara mereka, Saleh.

Ia berkata, “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagi kalian selain-Nya.” (Al-A’raaf : 73)

Pada garis besarnya semua utusan Allah menyerukan untuk menyembah Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Sebagaimana yang disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat yang lain, yaitu:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, “Bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah oleh kamu sekalian akan Aku.” (Al-Anbiya: 25)

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah tagut itu.” (An-Nahl: 36)

Adapun firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepada kalian dari Tuhan kalian. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagi kalian. (Al-A’raaf : 73)

Artinya, telah datang hujah Allah kepada kalian yang membenarkan apa yang aku sampaikan kepada kalian. Sebelum itu mereka selalu meminta Suatu tanda dari Allah (mukjizat) kepada Nabi Saleh. Mereka meminta agar Saleh mengeluarkan dari sebuah batu besar seekor unta untuk mereka yang hal itu disaksikan oleh mata kepala mereka sendiri. Batu besar itu memang lain dari yang lain, terdapat di suatu bagian dari daerah Al-Hajar; batu itu dinamakan Al-Katibah.

Mereka meminta kepada Nabi Saleh untuk mengeluarkan seekor unta betina yang unggul dari batu besar itu buat mereka. Maka Nabi Saleh membuat perjanjian dan ikrar terhadap mereka: Jika Allah mengabulkan permintaan mereka, maka mereka mau beriman kepada Nabi Saleh dan benar-benar akan mengikutinya. Setelah mereka bersedia dan memberikan janji dan ikrar mereka kepadanya, maka Nabi Saleh ‘alaihis salam bangkit menuju ke tempat shalatnya dan berdoa memohon kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala. Maka batu besar itu mendadak bergerak dan terbelah, kemudian keluarlah darinya seekor unta betina yang janinnya bergerak pada kedua sisi lambungnya (yakni sedang mengandung kembar), persis seperti apa yang mereka minta.

Pada saat itu juga berimanlah kepada Nabi Saleh pemimpin mereka (yaitu Junda: ibnu Amr) bersama para pengikutnya yang taat kepada perintahnya. Ketika orang-orang terhormat lainnya dari kalangan kabilah Tsamud hendak beriman, mereka dihalang-halangi oleh Zu-ab ibnu Amr ibnu Labid dan Al-Hubab, pengurus berhala mereka; juga dihalang-halangi oleh Rabab ibnu Sa’r ibnu Jahlas.

Junda’ ibnu Amr mempunyai saudara sepupu yang dikenal dengan nama Syihab ibnu Khalifah ibnu Mihlah ibnu Labid ibnu Hiras, dia adalah orang yang terhormat dan terkemuka di kalangan kabilah Tsamud. Ketika dia mau masuk Islam, ia dihalang-halangi oleh orang-orang tadi, akhirnya dia menuruti kemauan mereka.

Sehubungan dengan peristiwa itu seorang lelaki dari kalangan orang-orang yang beriman dari kaum Tsamud yang dikenal dengan nama Muhawwisy ibnu Asamah ibnud Damil mengatakan melalui bait-bait syairnya:

وَكَانَتْ عُصْبةٌ مِنْ آلِ عَمْرو … إِلَى دِينِ النَّبِيِّ دَعَوا شِهَابا …

عَزيزَ ثَمُودَ كُلَّهمُ جَمِيعًا … فَهَمّ بِأَنْ يُجِيبَ فَلَوْ أَجَابَا …

لأصبحَ صالحٌ فِينَا عَزيزًا … وَمَا عَدَلوا بِصَاحِبِهِمْ ذُؤابا …

وَلَكِنَّ الغُوَاة مِنْ آلِ حُجْرٍ … تَوَلَّوْا بَعْدَ رُشْدهم ذِئَابَا …

Segolongan orang dari keluarga Amr yang dipimpin oleh Syihab diajak untuk memeluk agama Nabi (Saleh).

Dia adalah pemuka seluruh kaum Tsamud.

Maka ia berniat memenuhi seruan Nabi itu Seandainya dia memenuhi seruannya, niscaya Saleh hidup di kalangan kami menjadi orang kuat.

Dan mereka tidak rela bila pemimpin mereka menjadi mengekor.

Orang-orang yang sesat dari kalangan penduduk Hajar berpaling murtad sesudah mendapat petunjuk.

Unta betina itu beserta anaknya sesudah ia melahirkannya tinggal bersama mereka dalam suatu masa. Unta itu minum dari air sumur mereka sehari, dan hari yang lainnya air sumur itu merupakan bagian untuk minum mereka. Pada hari minum unta itu mereka dapat minum dari air susu unta itu yang mereka perah. Air susunya dapat memenuhi semua wadah dan panci besar mereka menurut sekehendak mereka. Hal ini dikisahkan oleh Allah Subhaanahu wa Ta’aala melalui firman-Nya:

وَنَبِّئْهُمْ أَنَّ الْمَاءَ قِسْمَةٌ بَيْنَهُمْ كُلُّ شِرْبٍ مُحْتَضَرٌ

Dan beritakanlah kepada mereka bahwa sesungguhnya air itu terbagi antara mereka (dengan unta betina itu); tiap-tiap giliran minum dihadiri (oleh yang punya giliran). (Al-Qamar: 28)

Dan firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala lainnya yang mengatakan:

هَذِهِ نَاقَةٌ لَهَا شِرْبٌ وَلَكُمْ شِرْبُ يَوْمٍ مَعْلُومٍ

Saleh menjawab, “Ini seekor unta betina, ia mempunyai giliran untuk mendapatkan air, dan kalian mempunyai giliran pula untuk mendapatkan air di hari yang tertentu.” (Asy-Syu’ara: 155)

Tersebutlah bahwa unta betina itu hidup bebas di lembah-lembah tempat mereka tinggal, datang dari suatu lembah dan keluar menuju lembah yang lain mencari kebebasan. Unta tersebut konon hidup dari air, dan menurut kisahnya unta betina itu sangat besar tubuhnya dan mempunyai penampilan yang sangat cantik. Apabila unta betina itu melewati ternak milik mereka, maka semua ternak mereka memisahkan diri darinya karena ketakutan.

Setelah hal tersebut berlangsung cukup lama di kalangan mereka, dan mereka makin gencar dalam mendustakan Nabi Saleh ‘alaihis salam, maka mereka bertekad membunuh unta betina itu dengan tujuan agar bagian airnya dapat mereka peroleh setiap harinya.

Menurut suatu pendapat, mereka semuanya sepakat untuk membunuh unta betina itu. Qatadah mengatakan, telah sampai kepadaku suatu kisah yang mengatakan bahwa lelaki yang membunuh unta itu terlebih dahulu berkeliling menemui semua kaumnya untuk memperoleh persetujuan dalam membunuhnya; yang dimintai persetujuan termasuk kaum wanita yang berada di dalam kemah-kemah pingitannya, juga anak-anak.

Menurut kami, memang demikianlah pengertian lahiriahnya karena berdasarkan kepada firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala yang mengatakan:

BACA JUGA Lanjutan Kajian tafsir ayat ini ... 

فَكَذَّبُوهُ فَعَقَرُوهَا فَدَمْدَمَ عَلَيْهِمْ رَبُّهُمْ بِذَنْبِهِمْ فَسَوَّاهَا

Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, maka Tuhan mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyamaratakan mereka (dengan tanah). (Asy-Syams: 14)

وَآتَيْنَا ثَمُودَ النَّاقَةَ مُبْصِرَةً فَظَلَمُوا بِهَا

Dan telah Kami berikan kepada Tsamud unta betina itu (sebagai mukjizat) yang dapat dilihat, tetapi mereka menganiaya unta betina itu. (Al-Isra: 59)

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here