Pengutusan Nabi Syu’aib ‘Alaihis Salam

Kajian Tafsir Surah Al-A'raaf ayat 85

0
43

Kajian Tafsir Surah Al-A’raaf ayat 85. Pengutusan Nabi Syu’aib ‘alaihis salam. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ قَدْ جَاءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ فَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ وَلا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلا تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ بَعْدَ إِصْلاحِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Dan kepada penduduk Madyan, Kami (utus) Syu’aib, saudara mereka sendiri. Dia berkata, “Wahai kaumku! Sembahlah Allah. Tidak ada Tuhan (sembahan) bagimu selain Dia. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Sempurnakanlah takaran dan timbangan, dan jangan kamu merugikan orang sedikit pun. Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (Allah) memperbaikinya. Itulah yang lebih baik bagimu jika kamu orang beriman.” (Q.S. Al-A’raaf : 85)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa ilā madyana (dan kepada kaum Madyan), yakni dan Kami telah mengutus kepada kaum Madyan.

Akhāhum (saudara mereka), yakni nabi mereka.

Syu‘aibā, qāla yā qaumi‘budullāha (Syu‘aib. Dia berkata, “Wahai kaumku, beribadahlah kepada Allah), yakni hendaklah kalian mengesakan Allah Ta‘ala.

Mā lakum min ilāhin ghairuh (sekali-kali tidak ada bagi kalian tuhan selain-Nya), yakni selain yang aku perintahkan agar kalian beriman kepada-Nya.

Qad jā-atkum bayyinatun (sungguh telah datang kepada kalian bukti yang nyata), yakni keterangan.

Mir rabbikum (dari Rabb kalian) atas risalah Allah Ta‘ala.

Fa auful kaila wal mīzāna wa lā tabkhasun nāsa asyyā-ahum (oleh karena itu, sempurnakanlah takaran dan timbangan, janganlah kalian mengurangi barang-barang orang lain), yakni janganlah mengurangi hak-hak orang lain ketika menakar dan menimbang.

Wa lā tufsidū fil ardli (serta janganlah berbuat kerusakan di muka bumi) dengan melakukan kemaksiatan-kemaksiatan, menyeru kepada selain Allah Subhaanahu wa Ta’aala serta mengurangi takaran dan timbangan.

Ba‘da ishlāhihā (sesudah memperbaikinya) dengan melakukan ketaatan, menyeru kepada Allah Ta‘ala, serta menyempurnakan takaran dan timbangan.

Dzālikum (yang demikian itu), yakni tauhid serta menyempurnakan takaran dan timbangan itu.

Khairul lakum (lebih baik bagi kalian) daripada yang biasa kalian lakukan.

Ing kuηtum mu’minīn (jika kalian adalah orang-orang yang beriman”), yakni orang-orang yang mengakui apa-apa yang aku katakan kepada kalian.

BACA JUGA Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-8 Lengkap 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Dan kepada penduduk Madyan, Kami (utus)[6] Syu’aib, saudara mereka sendiri. Dia berkata, “Wahai kaumku! Sembahlah Allah. Tidak ada Tuhan (sembahan) bagimu selain Dia. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu[7]. Sempurnakanlah takaran dan timbangan, dan jangan kamu merugikan orang sedikit pun. Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi[8] setelah (Allah) memperbaikinya[9]. Itulah yang lebih baik bagimu[10] jika kamu orang beriman.”

[6] Madyan adalah nama putera Nabi Ibrahim ‘alaihis salam kemudian menjadi nama kabilah yang terdiri dari anak cucu Madyan itu. Kabilah ini tinggal di suatu tempat yang juga dinamai Madyan yang terletak di pantai laut merah di tenggara gunung Sinai.

[7] Atas kebenaranku.

[8] Dengan melakukan banyak kekufuran dan kemaksiatan.

[9] Dengan diutus-Nya para rasul.

[10] Karena meninggalkan kekufuran dan kemaksiatan mengikuti perintah Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya lebih baik dan lebih bermanfaat bagi hamba karena akan membahagiakannya dan memasukkannya ke surga daripada mengerjakan perbuatan yang mendatangkan kemurkaan Allah dan membawa kepada kesengsaraan di dunia dan akhirat.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan) Kami telah mengutus (kepada penduduk Madyan saudara mereka Syuaib. Ia berkata, “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata) yakni mukjizat (dari Tuhanmu) yang membenarkan kerasulanku (Maka sempurnakanlah) genapkanlah (takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan) maksudnya menekorkan (bagi manusia barang-barang takaran dan timbangan mereka dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi) dengan kekafiran dan maksiat-maksiat (sesudah Tuhan memperbaikinya) dengan mengutus rasul-rasul-Nya (Yang demikian itu) yang telah disebutkan itu (lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman) yang menghendaki keimanan, maka bersegeralah kamu kepada keimanan.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan bahwa mereka adalah keturunan Madyan ibnu Ibrahim. Syu’aib adalah Ibnu Maikil ibnu Yasyjur, nama aslinya menurut bahasa Siryani ialah Yasrun.

Menurut kami, Madyan adalah nama kabilah, dapat pula diartikan nama kota. Kalau yang dimaksud dengan kota, terletak di dekat Ma’an bila dari jalur Hijaz.

Allah Subhaanahu wa Ta’aala telah berfirman:

وَلَمَّا وَرَدَ مَاءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِنَ النَّاسِ يَسْقُونَ

Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Mad-yan, ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya). (Al-Qashash: 23)

Mereka adalah orang-orang yang memiliki sumur Aikah, seperti yang akan kami jelaskan nanti insya Allah pada tempatnya.

قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ

Ia berkata, “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagi kalian selain-Nya.” (Al-A’raaf : 85)

Itulah seruan yang dikemukakan oleh semua rasul.

Sesungguhnya telah datang kepada kalian bukti yang nyata dari Tuhan kalian. (Al-A’raaf : 85)

Maksudnya, Allah telah menegakkan hujah-hujah dan bukti-bukti bagi kebenaran dari apa yang saya sampaikan kepada kalian ini.

Kemudian Nabi Syu’aib menasihati mereka agar dalam muamalah mereka dengan orang lain, hendaknya mereka berlaku adil dalam menakar dan menimbang barang-barangnya, dan janganlah sedikit pun mengurangi barang milik orang lain. Dengan kata lain, janganlah mereka berlaku khianat terhadap orang lain dalam harta bendanya, lalu mengambilnya dengan cara yang licik, yaitu dengan mengurangi takaran dan timbangannya secara sembunyi-sembunyi dan pemalsuan. Dalam ayat yang lain Allah Subhaanahu wa Ta’aala telah berfirman, mengancam para pelakunya:

BACA JUGA Kajian Tafsir ayat berikutnya .... 

وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ

Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. (Al-Muthaffifin: 1)

sampai dengan firman-Nya:

لِرَبِّ الْعَالَمِينَ

Menghadap Tuhan semesta alam. (Al-Muthaffifin: 6)

Di dalam ungkapan ayat-ayat ini terkandung pengertian ancaman yang keras dan peringatan yang pasti; semoga Allah menyelamatkan kita dari perbuatan tersebut.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Berita sebelumyaMelarang Mereka Melakukan Pembegalan di Jalan
Berita berikutnyaAllah Selamatkan Luth Bersama Keluarganya