Melarang Mereka Melakukan Pembegalan di Jalan

Kajian Tafsir Surah Al-A'raaf ayat 86

0
8

Kajian Tafsir Surah Al-A’raaf ayat 86. Kisah Nabi Syu’aib ‘alaihis salam. Nabi Syu’aib ‘alaihis salam melarang mereka melakukan pembegalan di jalan, baik secara fisik maupun secara mental, yaitu melalui apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَلا تَقْعُدُوا بِكُلِّ صِرَاطٍ تُوعِدُونَ وَتَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِهِ وَتَبْغُونَهَا عِوَجًا وَاذْكُرُوا إِذْ كُنْتُمْ قَلِيلا فَكَثَّرَكُمْ وَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ

Dan janganlah kamu duduk di setiap jalan dengan menakut-nakuti dan menghalang-halangi orang-orang yang beriman dari jalan Allah, dan ingin membelokkannya. Ingatlah ketika kamu dahulunya sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu. Dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan. (Q.S. Al-A’raaf : 86)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa lā taq‘udū bi kulli shirāthin (dan janganlah duduk di tiap-tiap jalan), yakni di setiap jalan tempat orang berlalu lalang.

Tū‘idūna (sambil menakut-nakuti), yakni kalian memukul, mengancam, dan merampas pakaian orang-orang asing yang lewat di depan kalian.

Wa tashuddūna (dan menghalang-halangi), yakni memalingkan.

‘Aη sabīlillāhi (dari jalan Allah), yakni dari agama Allah dan ketaatan kepada-Nya.

Man āmana bihī (orang-orang yang beriman kepadanya), yakni kepada Nabi Syu‘aib ‘alaihis salam.

Wa tabghūnahā ‘iwajan (serta menghendaki agar Jalan Allah menjadi bengkok), yakni menghendaki agar Jalan Allah berubah.

Wadz kurū idz kuηtum qalīlan (dan ingatlah ketika dahulu kalian sedikit) secara kuantitas.

Fa kats-tsarakum (kemudian Dia memperbanyak kalian), yakni memperbanyak jumlah kalian.

Waη zhurū kaifa kāna ‘āqibatul mufsidīn (dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan), yakni bagaimanakah orang-orang musyrik yang hidup sebelum kalian dibinasakan.

BACA JUGA Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-8 Lengkap 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Dan janganlah kamu duduk di setiap jalan dengan menakut-nakuti[11] dan menghalang-halangi orang-orang yang beriman dari jalan Allah[12], dan ingin membelokkannya[13]. Ingatlah ketika kamu dahulunya sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu[14]. Dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan[15].

[11] Seperti merampas pakaian mereka atau mengenakan pajak kepada barang dagangan yang mereka bawa.

[12] Dengan mengancam akan membunuhnya.

[13] Mengikuti hawa nafsu kamu, padahal seharusnya sikap kamu dan yang lain adalah menghormati dan memuliakan jalan yang dibentangkan Allah untuk hamba-hamba-Nya agar mereka memperoleh keridhaan Allah dan surga-Nya, menolongnya, mengajak orang lain kepadanya dan membelanya. Tidak malah menjadi pembegal jalan dan menghalangi manusia dari jalan Allah, karena yang demikian merupakan kufur nikmat dan menantang Allah.

[14] Dia menjadikan kamu berkumpul, memperbanyak rezeki untukmu dan memperbanyak keturunanmu.

[15] Dengan mendustakan para rasul. Di mana keadaan mereka yang sebelumnya bersatu menjadi berpecah belah, tempat tingalnya menjadi dijauhi manusia, tidak disebut kebaikannya, bahkan di dunia ini dilaknat dan di akhirat mendapat kehinaan dan terbongkarnya aib.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan janganlah kamu duduk di tiap-tiap jalan) yakni tempat orang berlalu lintas (dengan menakut-nakuti) membuat orang-orang takut untuk melewatinya karena takut pakaian mereka diambil atau dikenakan pajak (dan menghalang-halangi) menghambat (dari jalan Allah) agama-Nya (terhadap orang yang beriman kepada-Nya) dengan cara kamu mengancam akan membunuhnya (dan kamu menginginkan agar jalan Allah itu) kamu menghendaki agar jalan itu (menjadi bengkok) tidak lurus (Dan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, kemudian Allah membuat kamu menjadi banyak, lalu perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan”) sebelum kamu, oleh karena mereka mendustakan rasul-rasul mereka; yakni akhir dari perkara mereka ialah kebinasaan.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Nabi Syu’aib ‘alaihis salam melarang mereka melakukan pembegalan di jalan, baik secara fisik maupun secara mental, yaitu melalui apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

Dan janganlah kalian duduk di tiap-tiap jalan dengan menakut-nakuti. (Al-A’raaf : 86)

Yaitu menakut-nakuti akan membunuhnya bila ia tidak memberikan hartanya kepada kalian. As-Saddi dan lain-lainnya mengatakan bahwa mereka adalah para pemungut liar (pemeras).

Tetapi diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Mujahid serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan janganlah kalian duduk di tiap-tiap jalan dengan menakut-nakuti. (Al-A’raaf : 86) Yakni kalian menakut-nakuti orang-orang mukmin yang datang kepada Nabi Syu’aib untuk mengikutinya. Tetapi pendapat yang pertama lebih kuat, karena lafaz as-sirat artinya jalan.

Yang kedua disebutkan oleh firman-Nya:

Dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah, dan menginginkan agar jalan Allah itu menjadi bengkok. (Al-A’raaf : 86)

Maksudnya, kalian menghendaki agar jalan Allah bengkok dan menyimpang.

Dan ingatlah di waktu dahulunya kalian berjumlah sedikit, kemudian Allah menjadikan kalian berjumlah banyak. (Al-A’raaf : 86)

Yaitu pada asal mulanya kalian lemah karena bilangan kalian yang sedikit (minoritas), kemudian menjadi kuat karena bilangan kalian telah banyak (mayoritas). Maka ingatlah kalian akan nikmat Allah kepada kalian dalam hal tersebut.

BACA JUGA Kajian Tafsir ayat berikutnya .... 

Lalu perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan. (Al-A’raaf : 86)

Yakni nasib yang dialami oleh umat-umat terdahulu dan generasi-generasi di masa silam, serta azab dan pembalasan Allah yang menimpa mereka karena mereka berani berbuat durhaka terhadap Allah dan mendustakan rasul-rasul-Nya.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here