Perdebatan Musa Terhadap Fir’aun

Kajian Tafsir Surah Al-A'raaf ayat 104-106

0
178

Kajian Tafsir Surah Al-A’raaf ayat 104-106. Kisah Nabi Musa ‘alaihis salam, perdebatan Musa terhadap Fir’aun. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَقَالَ مُوسَى يَا فِرْعَوْنُ إِنِّي رَسُولٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ (١٠٤) حَقِيقٌ عَلَى أَنْ لا أَقُولَ عَلَى اللَّهِ إِلا الْحَقَّ قَدْ جِئْتُكُمْ بِبَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ فَأَرْسِلْ مَعِيَ بَنِي إِسْرَائِيلَ (١٠٥) قَالَ إِنْ كُنْتَ جِئْتَ بِآيَةٍ فَأْتِ بِهَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ (١٠٦)

Dan Musa berkata, “Wahai Fir’aun! Sungguh, aku adalah seorang utusan dari Tuhan seluruh alam, (Q.S. Al-A’raaf : 104)

Aku wajib mengatakan yang sebenarnya tentang Allah. Sungguh, aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata dari Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersama aku.” (Q.S. Al-A’raaf : 105)

Dia (Fir’aun) menjawab, “Jika benar kamu membawa sesuatu bukti, maka tunjukkanlah, kalau kamu termasuk orang-orang yang benar.” (Q.S. Al-A’raaf : 106)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa qāla mūsā yā fir‘aunu innī rasūlum mir rabbil ‘ālamīn (dan Musa berkata, “Hai Fir‘aun, sesungguhnya aku adalah seorang rasul dari Rabb semesta alam), yang diutus kepadamu.

Fir‘aun berkata, “Kamu berdusta!” Kemudian Musa ‘alaihis salam menjawab:

Haqīqun ‘alā (sepatutnyalah aku), yakni selayaknya aku ….

Allā aqūla ‘alallāhi illal haqq (tidak mengatakan sesuatu terhadap Allah selain yang hak), yakni kecuali kebenaran.

Qad ji’tukum bi bayyinatin (sungguh aku datang kepada kalian dengan membawa bukti yang nyata), yakni keterangan.

Mir rabbikum fa arsil ma‘ī banī isrā-īl (dari Rabb kalian, karena itu lepaskanlah Bani Israil bersamaku”), yakni beserta harta kekayaan mereka, baik sedikit ataupun banyak.

Qāla ing kuηta ji’ta bi āyatin (berkatalah Fir‘aun, “Jika benar kamu membawa suatu bukti), yakni membawa suatu tanda (mukjizat).

Fa’ti bihā ing kuηta minash shādiqīn (maka datangkanlah bukti itu, jika kamu termasuk orang-orang yang benar”) bahwa kamu sungguh-sungguh seorang rasul.

BACA JUGA Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-9 Lengkap 

Hidayatul  Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Dan Musa berkata[3], “Wahai Fir’aun! Sungguh, aku adalah seorang utusan dari Tuhan seluruh alam,

[3] Ketika ia datang kepada Fir’aun mengajaknya beriman.

105.[4] Aku wajib mengatakan yang sebenarnya tentang Allah. Sungguh, aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata dari Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersama aku[5].”

[4] Oleh karena Beliau adalah utusan Tuhan seluruh alam, maka wajib atasnya tidak berkata dusta terhadap Allah dan tidak mengatakan selain kata-kata yang benar. Karena jika tidak begitu, Beliau akan ditimpa dengan hukuman yang segera. Hal ini tentu mengharuskan mereka tunduk dan mengikutinya, terlebih telah datang kepada mereka bukti dari Allah yang menunjukkan kebenaran apa yang Beliau bawa, oleh karenanya mereka harus melaksanakan tujuan daripada risalah-Nya, yaitu mengikuti dan mengimani serta melepaskan Bani Israil, bangsa yang diberikan kelebihan oleh Allah di atas bangsa yang lain pada zaman itu.

[5] Karena mereka memperbudak Bani Israil.

  1. Dia (Fir’aun) menjawab, “Jika benar kamu membawa sesuatu bukti, maka tunjukkanlah, kalau kamu termasuk orang-orang yang benar.”

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan Musa berkata, “Hai Firaun, sesungguhnya aku ini adalah seorang utusan Tuhan semesta alam”) kepadamu, akan tetapi Firaun mendustakannya dan Musa berkata,
  2. (“Aku lebih berhak) lebih pantas (untuk) agar (tidak mengatakan sesuatu terhadap Allah kecuali yang hak) menurut suatu qiraat dibaca tasydid ya-nya; haqiiqun adalah mubtada sedangkan khabarnya adalah an dan kalimat sesudahnya (Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata dari Tuhanmu, maka lepaskanlah pergi bersamaku) menuju ke negeri Syam (Bani Israel.”) kaum Bani Israel itu selalu ditindas oleh Firaun.
  3. (Berkatalah) Firaun kepadanya, (“Jika kamu benar membawa sesuatu ayat) bukti yang memperkuat pengakuanmu (maka datangkanlah bukti itu jika betul kamu termasuk orang-orang yang benar.”) membawa bukti itu.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Subhaanahu wa Ta’aala menceritakan perdebatan Musa terhadap Fir’aun dan tekanannya terhadap Fir’aun dengan hujah dan menampilkan kepadanya mukjizat-mukjizat yang jelas. Hal ini dilakukannya di hadapan Fir’aun dan kaumnya dari bangsa Qibti penghuni negeri Mesir. Untuk itu Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

Dan Musa berkata, “Hai Fir’aun, sesungguhnya aku ini adalah seorang utusan dari Tuhan semesta alam.” (Al-A’raaf : 104)

Maksudnya, Tuhan yang telah menciptakan segala sesuatu telah mengutusku menjadi seorang rasul, Dia adalah Pemilik dan Penguasa segala sesuatu.

Wajib bagiku tidak mengatakan sesuatu terhadap Allah, kecuali yang hak (Al-A’raaf : 105)

Menurut sebagian ulama tafsir, makna ayat ini ialah ‘suatu keharusan bagiku untuk tidak mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar’. Dengan kata lain, hal itu merupakan suatu keharusan dan suatu hal yang pantas dikatakan terhadap-Nya. Mereka mengatakan bahwa huruf ba dan ‘ala mempunyai makna-makna yang satu sama lainnya dapat dipertukarkan bila dikatakan ramaitu bil qausi dan ramaitu  ‘alal qausi, maknanya sama, yaitu ‘saya melepaskan anak panah dari busurnya’. Dikatakan pula ja-a ‘ala halin hasanah atau bihalin hasanah, artinya sama, yaitu ‘saya datang dengan keadaan yang baik’.

Sebagian ulama tafsir ada yang mengatakan bahwa makna ayat ini ialah sudah selayaknya bagiku untuk tidak mengatakan terhadap Allah kecuali perkataan yang benar.

Ulama tafsir lainnya dari kalangan penduduk Madinah membaca ayat ini dengan pengertian ‘sudah seharusnya dan sudah sewajibnya bagiku hal tersebut’. Dengan kata lain, sudah seharusnya bagiku untuk tidak menyampaikan dari-Nya kecuali menurut apa yang dibenarkan dan yang hak sesuai dengan apa yang aku terima dari-Nya.

Sesungguhnya aku datang kepada kalian dengan membawa bukti yang nyata dari Tuhan kalian (Al-A’raaf : 105)

Maksudnya, hujjah yang pasti dari Allah yang telah diberikan-Nya kepadaku sebagai bukti akan kebenaran perkara hak yang kusampaikan kepada kalian.

Maka lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersama aku. (Al-A’raaf : 105)

Maksudnya, lepaskanlah mereka dari tahanan dan penindasanmu, dan biarkanlah mereka menyembah Tuhanmu dan Tuhan mereka (yakni Allah), karena sesungguhnya mereka berasal dari keturunan seorang nabi yang mulia yaitu Israil atau Nabi Ya’qub ibnu Ishaq ibnu Ibrahim, kekasih Allah Yang Maha Pemurah.

BACA JUGA Kajian Tafsir ayat berikutnya .... 

Firaun menjawab, “Jika kamu benar membawa sesuatu bukti, maka datangkanlah bukti itu jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang benar.” (Al-A’raaf : 106)

Yakni Fir’aun berkata, “Saya tidak akan percaya kepadamu tentang semua yang kamu katakan, dan tidak akan mengabulkan apa yang kamu minta. Dan jika engkau membawa suatu bukti, maka kemukakanlah agar kami dapat melihatnya jika engkau benar dalam pengakuanmu itu.”

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

 

Berita sebelumyaTiba-tiba Tongkat Itu Menjadi Ular Besar
Berita berikutnyaKisah Nabi Musa ‘Alaihis Salam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here