Kisah Nabi Musa ‘Alaihis Salam

Kajian Tafsir Surah Al-A'raaf ayat 103

0
25

Kajian Tafsir Surah Al-A’raaf ayat 103. Kisah Nabi Musa ‘alaihis salam, pengutusannya kepada Fir’aun dan ditunjukkan kepadanya ayat-ayat Allah. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

ثُمَّ بَعَثْنَا مِنْ بَعْدِهِمْ مُوسَى بِآيَاتِنَا إِلَى فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِ فَظَلَمُوا بِهَا فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ

Setelah mereka, kemudian Kami utus Musa dengan membawa bukti-bukti Kami kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya, lalu mereka mengingkari bukti-bukti itu. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan. (Q.S. Al-A’raaf : 103)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Tsumā ba‘atsnā (kemudian Kami mengutus), yakni Kami mengirim.

Mim ba‘dihim (sesudah mereka), yakni sesudah rasul-rasul itu.

Mūsā bi āyātinā (Musa, dengan membawa mukjizat-mukjizat Kami) yang berjumlah sembilan.

Ilā fir‘auna wa malā-ihī (kepada Fir‘aun dan pemuka-pemukanya), yakni pemuka-pemuka kaumnya.

Fa zhalamū bihā (tetapi mereka bersikap zalim terhadapnya), yakni tetapi mereka mengingkari mukjizat-mukjizat itu.

Faη zhur kaifa kānā ‘āqibatul mufsidīn (maka perhatikanlah olehmu, bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan itu), yakni bagaimana orang-orang musyrik itu akhirnya dibinasakan.

BACA JUGA Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-9 Lengkap 

Hidayatul  Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Setelah mereka, kemudian Kami utus Musa dengan membawa bukti-bukti Kami kepada Fir’aun[1] dan pemuka-pemuka kaumnya, lalu mereka mengingkari bukti-bukti itu. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan[2].

[1] Fir’aun adalah gelar bagi raja-raja Mesir purbakala. Menurut sejarah, Fir’aun di masa Nabi Musa ‘alaihis salam adalah Menephthah (1232-1224 S.M.) anak dari Ramses.

[2] Allah membinasakan mereka, mengiringinya dengan celaan dan laknat di dunia dan pada hari kiamat, itulah seburuk-buruk pemberian yang diberikan. Ayat ini masih mujmal dan diperinci dengan ayat-ayat setelahnya.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Kemudian Kami utus sesudah rasul-rasul itu) sesudah diutusnya rasul-rasul tersebut (Musa dengan membawa ayat-ayat Kami) yang banyaknya sembilan (kepada Firaun dan pemuka-pemuka kaumnya) golongannya (lalu mereka mengingkari) mengkafiri (ayat-ayat itu. Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang membuat kerusakan) artinya mereka binasa akibat kekafirannya itu.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

Kemudian Kami utus sesudah rasul-rasul itu. (Al-A’raaf : 103)

Artinya, sesudah rasul-rasul yang telah disebutkan di atas, seperti Nabi Nuh, Nabi Hud, Nabi Saleh, Nabi Luth, dan Nabi Syu’aib; semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada mereka, juga kepada seluruh para nabi.

Musa dengan membawa ayat-ayat Kami kepada Fir’aun. (Al- A’raf : 103)

Yakni dengan membawa bukti-bukti dan dalil-dalil Kami yang jelas kepada Raja Fir’aun, Raja negeri Mesir di zamannya.

Dan pemuka-pemuka kaumnya, lalu mereka mengingkari ayat-ayat itu. (Al-A’raaf : 103)

Yang dimaksud dengan al-mala’ ialah kaumnya, yakni pembesar-pembesar negerinya. Tetapi mereka mengingkari ayat-ayat itu dan mengafirinya secara aniaya dan sombong yang timbul dari diri mereka. Perihalnya sama dengan makna yang terkandung di dalam ayat lain, yaitu firman-Nya:

وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ

Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka), padahal hati mereka meyakini (kebenarannya. Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan. (An-Naml: 14)

BACA JUGA Kajian Tafsir ayat berikutnya .... 

Yakni orang-orang yang menghalang-halangi jalan Allah dan mendustakan rasul-rasul-Nya. Dengan kata lain, lihatlah, hai Muhammad, bagaimana Kami berbuat terhadap mereka, Kami tenggelamkan mereka ke akar-akarnya di hadapan pandangan mata Musa dan para pengikutnya. Hal ini merupakan suatu pembalasan yang lebih menyakitkan terhadap Firaun dan kaumnya, serta melegakan kalbu kekasih-kekasih Allah, yaitu Musa dan orang-orang mukmin yang bersamanya.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here