Hukuman Bagi As-habus Sabt

Kajian Tafsir Surah Al-A'raaf ayat 165-166

0
256

Kajian Tafsir Surah Al-A’raaf  ayat 165-166. Kisah dan hukuman bagi As-habus Sabt. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ أَنْجَيْنَا الَّذِينَ يَنْهَوْنَ عَنِ السُّوءِ وَأَخَذْنَا الَّذِينَ ظَلَمُوا بِعَذَابٍ بَئِيسٍ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ (١٦٥) فَلَمَّا عَتَوْا عَنْ مَا نُهُوا عَنْهُ قُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ (١٦٦)

Maka setelah mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang orang berbuat jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik. (Q.S. Al-A’raaf : 165)

Maka setelah mereka bersikap sombong terhadap segala apa yang dilarang. Kami katakan kepada mereka, “Jadilah kamu kera yang hina.” (Q.S. Al-A’raaf : 166)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Fa lammā nasū mā dzukkirū bihī (maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka), yakni tatkala mereka mengabaikan apa yang diperintahkan kepada mereka.

Aηjainal ladzīna yanhauna ‘anis sū-i (Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan buruk), yakni yang melarang menangkap ikan pada hari Sabtu.

Wa akhadznal ladzīna zhalamū (dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim) karena mereka menangkap ikan pada hari Sabtu.

Bi ‘adzābim ba-īsin (azab yang keras), yakni yang dahsyat.

Bimā kānū yafsuqūn (karena mereka senantiasa berbuat fasik), yakni karena mereka senantiasa berbuat durhaka.

 

Fa lammā ‘atau (maka tatkala mereka bersikap sombong), yakni tatkala mereka membangkang.

‘Am mā nuhū ‘anhu qulnā lahum kūnū (terhadap larangan yang ditetapkan kepada mereka, Kami katakan kepada mereka, “Jadilah), yakni berubahlah kalian menjadi ….

Qiradatan khāsi-īn (monyet-monyet yang hina”), yakni yang rendah lagi tercela.

BACA JUGA Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-9 Lengkap 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Maka setelah mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang orang berbuat jahat[40] dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik.

[40] Inilah Sunatullah, yakni bahwa hukuman ketika turun, yang selamat biasanya orang-orang yang melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar. Namun apakah golongan yang tidak melakukan penjaringan ikan tetapi tidak mengingkari ikut selamat? Para mufassir berbeda pendapat, zhahirnya bahwa mereka ikut selamat, karena Allah mengkhususkan hukuman itu kepada orang-orang yang zalim, sedangkan Allah tidak menyebut golongan yang ketiga sebagai zalim, oleh karenanya hukuman itu khusus menimpa orang-orang yang melanggar aturan pada hari Sabat, di samping itu amar ma’ruf dan nahi mungkar hukumnya fardhu kifayah, jika suda ada yang melakukannya maka bagi yang lain menjadi gugur, oleh karenanya mereka mencukupkan diri dengan pengingkaran oleh yang lain. Demikian juga mereka mengingkari dengan hatinya berdatsarkan kata-kata, “Mengapa kamu menasehati kaum yang akan dibinasakan atau diazab Allah dengan azab yang sangat keras?” di mana mereka juga membenci perbuatan itu dan menampakkan marahnya dengan kata-kata itu

  1. Maka setelah mereka bersikap sombong[41] terhadap segala apa yang dilarang. Kami katakan kepada mereka, “Jadilah kamu kera yang hina[42].”

[41] Hati mereka menjadi keras.

[42] Jumhur (mayoritas) mufassir menerangkan bahwa mereka benar-benar berubah menjadi kera, hanyasaja mereka tidak beranak, tidak makan dan minum, dan tidak hidup lebih dari tiga hari.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Maka tatkala mereka melupakan) yaitu mereka meninggalkan (apa yang diperingatkan kepada mereka) apa yang dinasihatkan kepada mereka (tentang hal itu) kemudian mereka tidak mau juga menuruti nasihat (Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang lalim) yang melakukan pelanggaran (siksaan yang berat) yang keras (disebabkan mereka selalu berbuat fasik.)
  2. (Maka tatkala mereka bersikap sombong) yakni bersikap takabur (terhadap) tidak mau meninggalkan (apa yang dilarang mereka mengerjakannya, Kami katakan kepada mereka, “Jadilah kamu kera yang hina.”) yang terhina, maka jadilah mereka itu kera yang hina; keterangan ini adalah penjelasan dari apa yang telah lalu. Ibnu Abbas mengatakan, “Saya tidak mengetahui tentang apa yang terjadi dengan golongan yang bersikap abstain.” Ikrimah mengatakan, “Mereka tidak dibinasakan, sebab mereka membenci apa yang telah dilakukan rekan-rekannya dan mereka mengatakan, ‘Mengapa kamu menasihati….’.” Hakim telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa golongan tersebut ikut pula melakukannya dan bahkan takjub dengan sikap mereka yang melakukannya.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka. (Al-A’raaf : 165)

Artinya, ketika mereka menolak nasihat itu dan tetap melakukan pelanggaranya.

Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim. (Al-A’raaf : 165)

Yakni kepada orang-orang yang berbuat durhaka itu.

siksaan yang keras. (Al-A’raaf : 165)

Allah menegaskan bahwa orang-orang yang ber-nahi munkar itu selamat, sedangkan orang-orang yang berbuat aniaya itu binasa. Adapun orang-orang yang bersikap diam, Allah Subhaanahu wa Ta’aala tidak menyebutkan nasib mereka, karena setiap pembalasan itu disesuaikan dengan jenis pelanggarannya; sedangkan mereka yang bersikap diam bukanlah orang-orang yang berhak mendapat pujian, bukan pula orang-orang yang melakukan pelanggaran berat yang berhak untuk dicela. Tetapi sekalipun demikian, para imam berbeda pendapat mengenai nasib mereka. Apakah mereka termasuk orang-orang yang dibinasakan ataukah termasuk orang-orang yang diselamatkan, ada dua pendapat mengenainya.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata, “Mengapa kalian menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang keras?” (Al-A’raaf : 164) Mereka adalah penduduk kota yang berada di tepi laut antara Mesir dan Madinah, kota itu dikenal dengan nama Ailah. Allah mengharamkan mereka berburu ikan pada hari Sabtu, padahal ikan-ikan itu datang kepada mereka pada hari Sabtunya dalam keadaan terapung-apung di permukaan tepi laut. Tetapi apabila hari Sabtu telah lewat, mereka tidak mampu lagi menangkapnya (karena sudah bubar). Hal tersebut berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama seperti yang dikehendaki Allah. Kemudian ada segolongan orang dari mereka berani menangkap ikan-ikan itu pada hari Sabtunya, lalu ada segolongan lain dari mereka yang melarangnya dan mengatakan kepada mereka, “Mengapa kalian menangkap ikan-ikan itu, padahal Allah telah mengharamkannya bagi kalian pada hari Sabtu ini?” Tetapi nasihat itu justru membuat mereka makin berani, bertambah sesat, dan sombong. Kemudian ada segolongan lainnya dari mereka yang melarang para pemberi nasihat itu melarang mereka. Ketika hal itu berlangsung cukup lama, maka segolongan orang dari kelompok yang ketiga itu ada yang mengatakan, “Kalian telah mengetahui bahwa mereka adalah kaum yang telah berhak mendapat azab Allah atas diri mereka,” seperti yang disebutkan oleh firman-Nya: Mengapa kalian menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka (Al-A’raaf : 164) Mereka adalah orang-orang yang paling marah terhadap para pelanggar itu karena Allah daripada golongan lainnya. Maka orang-orang yang memberi nasihat itu berkata, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya: Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhan kalian, dan supaya mereka bertakwa. (Al-A’raaf : 164) Masing-masing dari kedua golongan selain golongan pelanggar itu telah melarang mereka yang melanggar. Ketika murka Allah menimpa para pelanggar itu, maka diselamatkan-Nya-lah kedua golongan tersebut yang mengatakan, “Mengapa kalian menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka,” dan orang-orang yang mengatakan, “Agar kami mempunyai alasan (terlepas tanggung jawab) kepada Tuhan kalian.  Kemudian Allah membinasakan orang-orang yang berbuat durhaka, yaitu mereka yang menangkap ikan-ikan itu pada hari Sabtunya, lalu Allah mengutuk mereka menjadi kera.

At-Aufi telah meriwayatkan hal yang mendekati atsar di atas, dari Ibnu Abbas.

BACA JUGA Lanjutan Kajian Tafsir ayat ini .... 

Sedangkan Hammad ibnu Zaid telah meriwayatkan dari Daud ibnul Husain, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan ayat ini, bahwasanya Ibnu Abbas tidak mengetahui selamatkah orang-orang yang telah mengatakan: Mengapa kalian menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka. (Al-Abu’raf: 164) ataukah mereka tidak selamat (yakni terkena azab itu juga). Ibnu Abbas mengatakan bahwa dirinya masih tetap mempertanyakan nasib mereka, hingga ia mengetahui bahwa mereka benar-benar telah diselamatkan pula, maka merasa tenteramlah hatinya.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Berita sebelumyaKisah Kota Ailah dan Ikan-ikan
Berita berikutnyaMenasehati Kaum yang Akan Dibinasakan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here