Di Antara Nikmat Allah

Kajian Tafsir Surah Al-A'raaf ayat 160-162.

0
303

Kajian Tafsir Surah Al-A’raaf  ayat 160-162. Di antara nikmat Allah kepada Bani Israil, dan bagaimana mereka merobah perintah-perintah Allah Subhaanahu wa Ta’aala. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَقَطَّعْنَاهُمُ اثْنَتَيْ عَشْرَةَ أَسْبَاطًا أُمَمًا وَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى إِذِ اسْتَسْقَاهُ قَوْمُهُ أَنِ اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْحَجَرَ فَانْبَجَسَتْ مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْنًا قَدْ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٍ مَشْرَبَهُمْ وَظَلَّلْنَا عَلَيْهِمُ الْغَمَامَ وَأَنْزَلْنَا عَلَيْهِمُ الْمَنَّ وَالسَّلْوَى كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَمَا ظَلَمُونَا وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ (١٦٠) وَإِذْ قِيلَ لَهُمُ اسْكُنُوا هَذِهِ الْقَرْيَةَ وَكُلُوا مِنْهَا حَيْثُ شِئْتُمْ وَقُولُوا حِطَّةٌ وَادْخُلُوا الْبَابَ سُجَّدًا نَغْفِرْ لَكُمْ خَطِيئَاتِكُمْ سَنَزِيدُ الْمُحْسِنِينَ (١٦١) فَبَدَّلَ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ قَوْلا غَيْرَ الَّذِي قِيلَ لَهُمْ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِجْزًا مِنَ السَّمَاءِ بِمَا كَانُوا يَظْلِمُونَ (١٦٢)

Dan Kami membagi mereka menjadi dua belas suku yang masing-masing berjumlah besar, dan Kami wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya, “Pukullah batu itu dengan tongkatmu!” Maka memancarlah dari (batu) itu dua belas mata air. Setiap suku telah mengetahui tempat minumnya masing-masing. Dan Kami naungi mereka dengan awan dan Kami turunkan kepada mereka mann dan salwa. (Kami berfirman), “Makanlah yang baik-baik dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu.” Mereka tidak menzalimi Kami, tetapi merekalah yang selalu menzalimi dirinya sendiri. (Q.S. Al-A’raaf : 160)

Dan (ingatlah), ketika dikatakan kepada mereka (Bani Israil), “Diamlah di negeri ini (Baitul Maqdis) dan makanlah dari (hasil bumi)nya di mana saja kamu kehendaki.” Dan katakanlah, “Bebaskanlah kami dari dosa kami, dan masukilah pintu gerbangnya sambil membungkuk, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu.” Kelak akan Kami tambah (pahala) kepada orang-orang yang berbuat baik. (Q.S. Al-A’raaf : 161)

Maka orang-orang yang zalim di antara mereka mengganti (perkataan itu) dengan perkataan yang tidak dikatakan kepada mereka, maka Kami timpakan kepada mereka azab dari langit disebabkan kezaliman mereka. (Q.S. Al-A’raaf : 162)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa qath-tha‘nāhumu (dan Kami membagi mereka), yakni Kami memilah mereka.

Itsnatai ‘asyrata asbāthan umamā (menjadi dua belas suku sebagai umat-umat). Dari kedua belas suku Bani Israil itu, sembilan suku dan separuh dari satu suku yang lain berada di daerah timur tempat matahari terbit, dekat negeri Cina, di sepanjang sungai ar-Raml. Dua suku dan separuh dari suku yang berada di daerah timur, tersebar di berbagai penjuru negeri.

Wa auhainā ilā mūsā (dan Kami mewahyukan kepada Musa), yakni Kami memerintahkan kepada Musa.

Idzistasqāhu qaumuhū (ketika kaumnya meminta air kepadanya) di Padang Sahara.

Anidlrib bi ‘ashākal hajara (“Pukulkanlah tongkatmu pada batu!”) yang ada di dekatmu.

Fambajasat (maka memancarlah), yakni mengalirlah.

Minhu (darinya), yakni dari batu itu.

Itsnatā ‘asyrata ‘ainā (dua belas mata air), yakni dua belas sungai.

Qad ‘alima kullu unāsin (setiap orang benar-benar telah mengetahui), yakni setiap suku benar-benar telah mengetahui.

Masyrabahum (tempat minumnya), yakni sungai masing-masing.

Wa zhallalnā ‘alaihimul ghamāma (dan Kami menaungkan awan di atas mereka) saat berada di Padang Sahara. Awan itu manaungi mereka dari terik matahari, dan menerangi mereka pada malam hari layaknya sebuah pelita.

Wa aηzalnā ‘alaihimul manna was salwā (dan Kami menurunkan manna dan salwā bagi mereka) di Padang Sahara.

Kulū miη thayyibāti mā razaqnākum ([Kami berfirman], “Makanlah yang baik-baik dari apa yang telah Kami rezekikan kepada kalian”), yakni manna dan salwā yang telah Kami berikan kepada kalian.

Wa mā zhalamūnā (dan tidaklah mereka menzalimi Kami), yakni mereka tidak membuat Kami kekurangan dan tidak pula memudaratkan Kami dengan apa yang mereka abaikan.

Wa lāking kānū aηfusahum yazhlimūn (tetapi merekalah yang senantiasa menzalimi diri sendiri), yakni yang membuat diri mereka kekurangan dan mudarat.

Wa idz qīla lahumuskunū (dan [ingatlah] ketika dikatakan kepada mereka [Bani Israil], “Tinggallah), yakni menetaplah.

Hādzihil qaryata (di negeri ini), yakni di negeri Ariha.

Wa kulū minhā haitsu syi’tum (dan makanlah darinya di mana saja kalian mau), yakni kapan saja dan di mana saja kalian suka.

Wa qūlū hith-thatun (dan katakanlah, ‘Hith-thah’), yakni ucapkanlah, lā ilāha illallāh (tidak ada tuhan yang berhak diibadahi kecuali Allah). Menurut satu pendapat, ucapkanlah, “Ampunilah segala dosa kami”.

Wadkhulul bāba (serta masukilah gerbangnya), yakni gerbang negeri Ariha.

Sujjadan (sambil bersujud), yakni sambil membungkuk.

Naghfir lakum khathī-atikum, sa nazīdul muhsinīn (niscaya Kami mengampuni dosa-dosa kalian. Kelak Kami akan memberi tambahan kepada orang-orang yang berbuat baik”), yakni menambah kebaikan orang-orang yang berbuat baik.

Fa baddala (lalu mengganti [ucapan itu]), yakni mengubah.

Alladzīna zhalamū minhum (orang-orang zalim di antara mereka). Mereka adalah para pembuat dosa. Mereka mengucapkan ….

Qaulan ghairal ladzī qīla lahum (dengan ucapan yang tidak dikatakan kepada mereka), yakni ucapan yang tidak diperintahkan kepada mereka. Mereka diperintah agar mengucapkan, hith-thah , tetapi mereka malah mengucapkan, hinthah (gandum).

Fa arsalnā ‘alaihim rijzam minas samā-i (oleh sebab itu, Kami timpakan kepada mereka azab dari langit), yakni menimpakan penyakit tha‘un dari langit.

Bimā kānū yazhlimūn (karena kezaliman mereka), yakni karena perilaku mereka yang telah mengubah-ubah Perintah Allah.

BACA JUGA Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-9 Lengkap 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Dan Kami membagi mereka menjadi dua belas suku yang masing-masing berjumlah besar, dan Kami wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya[26], “Pukullah batu itu dengan tongkatmu!” Maka memancarlah dari (batu) itu dua belas mata air. Setiap suku telah mengetahui tempat minumnya masing-masing. Dan Kami naungi mereka dengan awan[27] dan Kami turunkan kepada mereka mann dan salwa[28]. (Kami berfirman), “Makanlah yang baik-baik dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu.” Mereka tidak menzalimi Kami[29], tetapi merekalah yang selalu menzalimi dirinya sendiri.

[26] Saat mereka di tengah padang Tiih (padang atau lapangan luas yang tidak ada tanda yang menunjukkan jalan), lihat pula Surah Al Maa’idah: 26.

[27] Ketika mereka berada di padang Tiih, yang melindungi mereka dari panas terik matahari.

[28] Manna adalah makanan manis seperti madu, sedangkan Salwa adalah burung sebangsa puyuh.

[29] Ketika mereka tidak bersyukur kepada Allah dan tidak mengerjakan kewajiban yang Allah bebankan.

  1. Dan (ingatlah), ketika dikatakan kepada mereka (Bani Israil), “Diamlah di negeri ini (Baitul Maqdis) dan makanlah dari (hasil bumi)nya di mana saja kamu kehendaki.” Dan katakanlah, “Bebaskanlah kami dari dosa kami, dan masukilah pintu gerbangnya sambil membungkuk, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu.” Kelak akan Kami tambah (pahala) kepada orang-orang yang berbuat baik.
  2. Maka orang-orang yang zalim di antara mereka mengganti (perkataan itu) dengan perkataan yang tidak dikatakan kepada mereka[30], maka Kami timpakan kepada mereka azab dari langit[31] disebabkan kezaliman mereka.

[30] Mereka diperintah untuk mengucapkan hiththatun (artinya, “Bebaskanlah kami dari dosa”), namun mereka merubahnya sambil mencemooh dan mengucapkan hinthatun (artinya: gandum) sebagai gantinya, atau mengucapkan “hitthatun” namun dengan menambah “Habbah fii sya’iirah” (artinya: biji dalam sebuah gandum), dan lagi mereka masuk ke pintu gerbangnya sambil membelakangi (merangkak dengan mengedepankan bokong mereka). Jika mereka sudah berani merubah ucapan yang diperintahkan kepada mereka padahal ringan melakukannya, maka merubah sikap lebih berani lagi. Oleh karenanya, mereka masuk ke negeri itu dalam keadaan membelakangi (tidak sambil membungkuk).

[31] Bisa berupa tha’un atau hukuman dari langit lainnya.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan Kami bagi mereka) Kami pecahkan kaum Bani Israel (menjadi dua belas) sebagai hal (suku-suku) menjadi badal dari yang sebelumnya, yaitu kabilah-kabilah (yang masing-masingnya berjumlah besar) menjadi badal dari yang sebelumnya (dan Kami wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya,) di tengah padang sahara (“Pukullah batu itu dengan tongkatmu!”) kemudian Musa memukulkannya (maka memancarlah) maksudnya tersemburlah (daripadanya dua belas mata air) sesuai dengan bilangan kabilah (Sesungguhnya tiap-tiap suku telah mengetahui) setiap suku dari kalangan mereka (tempat minum masing-masing. Dan Kami naungkan awan di atas mereka) di padang pasir tempat mereka berada guna melindungi mereka dari panasnya matahari (dan Kami turunkan kepada mereka manna dan salwa) keduanya adalah taranjabin, makanan manis seperti madu, dan sebangsa burung puyuh dengan ditakhfifkan mimnya dan dibaca pendek. Dan Kami berfirman kepada mereka, (“Makanlah yang baik-baik dari apa yang telah Kami rezekikan kepadamu.” Mereka tidak menganiaya Kami, tetapi merekalah yang selalu menganiaya dirinya sendiri).
  2. (Dan) Ingatlah (ketika dikatakan kepada mereka, Bani Israel, “Diamlah di negeri ini saja) yaitu Baitulmakdis (dan makanlah dari hasil buminya di mana saja kamu kehendaki. Dan katakanlah,) perintah Kami (‘Bebaskanlah kami dari dosa kami’ dan masukilah pintunya) pintu gerbang negeri itu (sambil membungkuk) dengan membungkukkan punggung (niscaya Kami ampuni) dengan memakai nun dan ta, dan bina maf’ul (kesalahan-kesalahanmu.” Kelak Kami akan tambah pahala kepada orang-orang yang berbuat baik) orang-orang yang taat pahala.
  3. (Maka orang-orang yang lalim di antara mereka itu mengganti perkataan itu dengan perkataan yang tidak dikatakan kepada mereka) mereka mengatakan, “Habbatun fii sya`ratin sebagai ganti dari hiththatun” dan kemudian mereka memasuki pintu gerbangnya sambil merangkak bukannya membungkukkan badan (maka Kami timpakan kepada mereka azab) yakni siksaan (dari langit disebabkan kelaliman mereka.)
BACA JUGA Kajian Tafsir ayat berikutnya .... 

Tafsir Ibnu Katsir

Tafsir ayat-ayat ini telah dikemukakan di dalam tafsir surat Al-Baqarah yang Madaniyyah, sedangkan konteks ayat-ayat ini adalah Makkiyyah. Kami pun telah mengingatkan tentang perbedaan di antara Makkiyyah dan Madaniyah hingga tidak perlu untuk diulangi lagi di sini.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

 

Berita sebelumyaKisah As-Habus Sabt
Berita berikutnyaUmat yang Memberi Petunjuk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here