Mengingatkan Manusia Kepada Asal Usul Kejadiannya

Kajian Tafsir Surah Al-A'raaf ayat 189

0
28

Kajian Tafsir Surah Al-A’raaf ayat 189. Allah Subhaanahu wa Ta’aala mengingatkan manusia kepada asal usul kejadiannya. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا فَلَمَّا تَغَشَّاهَا حَمَلَتْ حَمْلا خَفِيفًا فَمَرَّتْ بِهِ فَلَمَّا أَثْقَلَتْ دَعَوَا اللَّهَ رَبَّهُمَا لَئِنْ آتَيْتَنَا صَالِحًا لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ

Dialah yang menciptakan kamu dari jiwa yang satu (Adam) dan daripadanya Dia menciptakan pasangannya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, (isterinya) mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian ketika dia merasa berat, keduanya (suami-istri) bermohon kepada Allah, Tuhan mereka (seraya berkata), “Jika Engkau memberi kami anak yang sempurna fisiknya (tidak cacat), tentulah kami akan selalu bersyukur.” (Q.S. Al-A’raaf : 189)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Huwal ladzī khalaqakum min nafsiw wāhidatin (Dia-lah yang menciptakan kalian dari diri yang satu), yakni hanya dari diri Adam ‘alaihis salam

Wa ja‘ala minhā zaujahā (dan darinya Dia menciptakan pasangannya), yakni dan dari diri Adam ‘alaihis salam Dia menciptakan istrinya, yaitu Hawa.

Li yaskuna ilaihā (supaya dia merasa senang kepadanya), yakni supaya Adam merasa senang bersamanya.

Fa lammā taghasy-syāhā (maka setelah dia mencampurinya), yakni menggaulinya.

Hamalat hamlan khafīfan (istrinya itu mengandung kandungan yang ringan), yakni kandungan yang masih kecil.

Fa marrat bihī (kemudian teruslah ia dalam keadaan tersebut), yakni ia duduk dan berdiri seraya merasakan kesusahan.

Fa lammā atsqalat (maka ketika ia merasa berat), yakni ketika anak yang ada di dalam kandungannya sudah terasa berat, dan akibat bisikan iblis ia mengira anak yang dikandungnya berjenis hewan ternak.

Da‘awallāha rabbahumā la in ātainā shālihan (keduanya [suami-istri] memohon kepada Allah, Rabb-nya, “Sungguh jika Engkau mengaruniai kami anak yang sempurna), yakni memiliki sifat-sifat manusia yang sempurna.

La nakūnanna (niscaya kami benar-benar termasuk), yakni niscaya kami menjadi.

Minasy syākirīn (orang-orang yang bersyukur”) atas karunia itu.

BACA JUGA Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-9 Lengkap 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Dialah yang menciptakan kamu dari jiwa yang satu (Adam) dan daripadanya Dia menciptakan pasangannya[1], agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, (isterinya) mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian ketika dia merasa berat, keduanya (suami-istri) bermohon kepada Allah, Tuhan mereka (seraya berkata), “Jika Engkau memberi kami anak yang sempurna fisiknya (tidak cacat), tentulah kami akan selalu bersyukur.”

[1] Yaitu Hawa’.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dialah) Allahlah (yang menciptakan kamu dari diri yang satu) yaitu Adam (dan Dia menjadikan) Dia menciptakan (daripadanya istrinya) yakni Hawa (agar dia merasa tenang) Adam menjimaknya (istrinya itu mengandung kandungan yang ringan) berupa air mani (dan teruslah dia merasa ringan) masih bisa berjalan ke sana dan kemari mengingat ringannya kandungan (kemudian tatkala dia merasa berat) anak yang ada dalam perutnya makin membesar, kemudian ia merasa khawatir bahwa kandungannya itu nanti berupa hewan (keduanya bermohon kepada Allah Tuhannya seraya berkata, “Sesungguhnya jika Engkau memberi kami) anak (yang saleh) yang sempurna (tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur.”) kepada-Mu atas karunia itu.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Subhaanahu wa Ta’aala mengingatkan, sesungguhnya Dia telah menciptakan semua umat manusia dari Adam ‘alaihis salam Dia pulalah yang menciptakan istrinya yaitu Hawa dari dirinya, kemudian Allah menyebarkan manusia dari keduanya, seperti yang disebutkan dalam ayat lain:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan: dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. (Al-Hujurat: 13)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dari seorang diri, dan darinya Allah menciptakan istrinya. (An-Nisa: 1)

Sedangkan dalam ayat ini disebutkan oleh firman-Nya:

Dan darinya Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya (Al-A’raaf : 189)

Maksudnya, agar dia cenderung dan merasa tenteram kepadanya, seperti pengertian yang terkandung di dalam firman-Nya:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian rasa kasih dan sayang. (Ar-Rum: 21)

Tiada kecenderungan di antara dua jiwa yang melebihi kecenderungan antara sepasang suami istri. Karena itulah Allah menyebutkan bahwa seorang penyihir adakalanya menggunakan tipu muslihatnya untuk memisahkan antara seseorang dengan istrinya.

Maka setelah dicampurinya. (Al-A’raaf : 189)

Yakni setelah si lelaki menyetubuhi istrinya.

Istrinya itu mengandung kandungan yang ringan. (Al-A’raaf : 189)

Keadaan itu terjadi pada permulaan masa hamil, dalam masa ini seorang wanita yang mengandung tidak merasakan sakit apa pun karena sesungguhnya kandungannya itu hanya berupa nutfah, lalu ‘alaqah, kemudian segumpal daging.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

Dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). (Al-A’raaf : 189)

Menurut Mujahid, makna yang dimaksud ialah si istri menjalani masa hamilnya selama beberapa waktu. Telah diriwayatkan pula dari Al-Hasan dan Ibrahim An-Nakha’i serta As-Saddi hal yang semisal.

Maimun ibnu Mahran telah meriwayatkan dari ayahnya, bahwa makna yang dimaksud ialah si wanita menjalani kandungannya dengan ringan selama beberapa waktu.

Ayyub mengatakan, “Aku pernah bertanya kepada Al-Hasan mengenai firman-Nya: dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). (Al-A’raaf : 189) Al-Hasan menjawab.”Seandainya aku seorang ahli bahasa, tentu aku mengetahui apa makna yang dimaksud.

Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). (Al-A’raaf : 189) Yakni hamilnya mulai jelas.

Menurut Ibnu Jarir makna ayat tersebut ialah benih suami telah tertanam di dalam rahim si istri, si istri bangun dan tidur dengan mengandungnya selama beberapa waktu.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa makna yang dimaksud ialah si istri terus-menerus mengalami perubahan, hingga ia merasa ragu apakah dirinya sedang hamil atau tidak.

Kemudian tatkala dia merasa berat. (Al-A’raaf : 189)

Maksudnya, kandungannya sudah mulai terasa berat.

Menurut As-Saddi, makna yang dimaksud ialah janin yang ada di dalam kandungannya mulai membesar.

keduanya bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata, “Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang saleh, (Al-A’raaf : 189)

Yang dimaksud dengan pengertian kata ‘saleh’ dalam ayat ini ialah seorang manusia yang utuh. Demikianlah menurut Ad-Dahhak, dari Ibnu Abbas; Adam dan Hawa merasa takut bila anaknya lahir berupa hewan.

Hal yang sama telah dikatakan pula oleh Abul Buhturi dan Abu Malik, bahwa keduanya merasa takut bila anak yang dikandungnya nanti bukan berupa manusia. Sedangkan menurut Al-Hasan Al-Basri, makna yang dimaksud ialah sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak laki-laki.

لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ. فَلَمَّا آتَاهُمَا صَالِحًا جَعَلا لَهُ شُرَكَاءَ فِيمَا آتَاهُمَا فَتَعَالَى اللَّهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur.” Tatkala Allah memberi kepada keduanya seorang anak yang saleh, maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianugerahkan Allah kepada keduanya itu. Maka Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan. (Al-A’raaf : 189-190)

Sehubungan dengan makna ayat ini ulama tafsir telah menuturkan banyak atsar dan hadits yang akan kami kemukakan berikut ini disertai keterangan hal-hal yang sahih darinya.

Imam Ahmad di dalam kitab Musnad-nya mengatakan bahwa:

حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ، حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، حَدَّثَنَا قَتَادَةُ، عَنِ الْحَسَنِ، عَنْ سُمْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: وَلَمَّا وَلَدَتْ حَوَّاءُ طَافَ بِهَا إِبْلِيسُ  وَكَانَ لَا يَعِيشُ لَهَا وَلَدٌ فَقَالَ: سَمِّيهِ عَبْدَ الْحَارِثِ؛ فَإِنَّهُ يَعِيشُ، فَسَمَّتْهُ عَبْدَ الْحَارِثِ، فَعَاشَ وَكَانَ ذلك من وحي الشَّيْطَانِ وَأَمْرِهِ

Telah menceritakan kepada kami Abdus Samad, telah menceritakan kepada kami Umar ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Qatadah, dari Al-Hasan, dari Samurah, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda: Ketika Hawa melahirkan, iblis berputar-putar mengelilinginya, dan Hawa tidak pernah mempunyai anak yang tetap hidup. Lalu iblis berkata, “Namailah dia Abdul Haris. maka sesungguhnya dia akan hidup.” Lalu Hawa menamai anaknya Abdul Haris. dan ternyata anaknya tetap hidup. Hal tersebut berasal dari inspirasi dan perintah setan.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, dari Muhammad ibnu Basysyar, dari Bandar, dari Abdus Samad ibnu Abdul Waris dengan sanad yang sama. Imam Turmuzi telah meriwayatkannya di dalam kitab Tafsir-nya sehubungan dengan tafsir ayat ini, dari Muhammad ibnul Musanna, dari Abdus Samad dengan sanad yang sama. Imam Turmuzi mengatakan, “Hadits ini hasan garib. Kami tidak mengenalnya kecuali hanya melalui hadits Umar ibnu Ibrahim. Sebagian di antara mereka ada yang meriwayatkannya dari Abdus Samad tanpa me-rafa’-kannya.” Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya telah meriwayatkannya melalui hadits Abdus Samad secara marfu’. Kemudian ia mengatakan bahwa hadits ini sahih sanadnya, tetapi keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak mengetengahkannya. Imam Abu Muhammad ibnu Abu Hatim telah meriwayatkannya di dalam kitab Tafsir, dari Abu Zar’ah Ar-Razi, dari Hilal ibnu Fayyad, dari Umar ibnu Ibrahim dengan sanad yang sama secara marfu’. Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Al-Hafiz Abu Bakar ibnu Murdawaih di dalam kitab Tafsir-nya melalui hadits Syaz ibnu Fayyad, dari Umar ibnu Ibrahim secara marfu’.

Menurut hemat kami, Syaz adalah Hilal itu sendiri, Syaz itu adalah nama julukannya. Tujuan utama dari pengetengahan jalur-jalur hadits ini untuk menunjukkan bahwa hadits ini ma’lul (ada celanya) dipandang dari tiga segi:

Pertama, Umar ibnu Ibrahim adalah seorang Basri. Ia dinilai siqah oleh Ibnu Mu’in, tetapi Abu Hatim Ar-Razi mengatakan bahwa Umar ibnu Ibrahim haditsnya tidak dapat dijadikan hujah. Tetapi Ibnu Murdawaih telah meriwayatkannya melalui hadits Al-Mu’tamir, dari ayahnya, dari Al-Hasan, dari Samurah secara marfu’.

BACA JUGA Kajian Tafsir ayat berikutnya .... 

Kedua, hal ini telah diriwayatkan pula dari perkataan Samurah sendiri dan tidak marfu’ seperti apa yang dikatakan oleh Ibnu Jarir, bahwa telah menceritakan kepada kami Ibnu Abdul A’la, telah menceritakan kepada kami Al-Mu’tamir, dari ayahnya; telah menceritakan kepada kami Bakr ibnu Abdullah, dari Sulaiman At-Taimi, dari Abul Ala ibnusy Syikhkhir, dari Samurah ibnu Jundub, bahwa Adam menamakan anaknya dengan nama Abdul Haris.

Ketiga, Al-Hasan sendiri menafsirkan ayat ini dengan tafsiran lain. Seandainya hadits ini ada padanya dari Samurah secara marfu’, niscaya dia tidak akan menyimpang darinya.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here