Mengembalikan Semua Urusan Kepada-Nya

Kajian Tafsir Surah Al-A'raaf ayat 188

0
22

Kajian Tafsir Surah Al-A’raaf  ayat 188. Pengetahuan tentang hari Kiamat dan apa yang terjadi pada hari itu hanyalah milik Allah Subhaanahu wa Ta’aala. Demikian pula pengetahuan tentang yang gaib tidak diketahui kecuali oleh-Nya, tidak ada seorang pun di antara makhluk-Nya yang mengetahuinya. Dan Allah memerintahkan agar mengembalikan semua urusan kepada-Nya. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

قُلْ لا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلا ضَرًّا إِلا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudharat bagi diriku kecuali apa yang dikehendaki Allah. Sekiranya aku mengetahui yang ghaib, niscaya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan tidak akan ditimpa bahaya. Aku hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” (Q.S. Al-A’raaf : 188)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Qul (katakanlah) hai Muhammad, kepada penduduk Mekah.

Lā amliku li nafsī naf‘an (“Aku tidak menguasai kemanfaatan untuk diriku), yakni aku tidak berkuasa menarik manfaat untuk diriku.

Wa lā dlarran (dan tidak pula kemudaratan), yakni untuk menolak mudarat.

Illā mā syā-allāh, (kecuali apa yang dikehendaki Allah), yakni kecuali manfaat dan mudarat yang dikehendaki Allah Subhaanahu wa Ta’aala untuk ditimpakan kepadaku.

Wa lau kuηtu a‘lamul ghaiba (dan seandainya aku mengetahui yang gaib), yakni mengetahui tentang manfaat dan mudarat.

Las taktsartu minal khairi (niscaya aku akan banyak mengerjakan kebaikan), yakni niscaya aku akan banyak mengerjakan kemanfaatan.

Wa mā massaniyas sū-u (dan aku tidak akan ditimpa keburukan), yakni kemudaratan. Menurut satu pendapat, seandainya aku mengetahui kapan azab akan ditimpakan kepada kalian, niscaya aku akan banyak mengerjakan kebaikan sebagai rasa syukur akan hal itu.

Wa mā massaniyas sū-u (dan aku tidak akan ditimpa keburukan), yakni aku tidak akan ditimpa kemurungan dan kesedihan lantaran kalian.

Pendapat lain mengatakan, wa lau kuηtu a‘lamul ghaiba (dan seandainya aku mengetahui yang gaib), yakni seandainya aku mengetahui kapan aku mati; lastaktsartu minal khairi (niscaya aku akan banyak mengerjakan kebaikan), yakni akan banyak mengerjakan amal saleh; wa mā massaniyas sū-u (dan aku tidak akan ditimpa keburukan), yakni sehingga aku tidak akan ditimpa kesusahan.

Menurut pendapat yang lain, wa lau kuηtu a‘lamul ghaiba (dan seandainya aku mengetahui yang gaib), yakni mengetahui tentang akan terjadinya paceklik, kekeringan, dan melonjaknya harga-harga; lastaktsartu minal khairi (niscaya aku akan banyak mengerjakan kebaikan), yakni memperbanyak berbagai kenikmatan; wa mā massaniyas sū-u (dan aku tidak akan ditimpa keburukan), yakni sehingga aku tidak akan ditimpa kesusahan.

In anā illā nadzīrun (aku hanyalah pemberi peringatan) tentang adanya neraka.

Wa basyīrun (dan pembawa berita gembira) tentang adanya surga.

Li qaumiy yu’minūn (bagi orang-orang yang beriman”) akan adanya surga dan neraka.

BACA JUGA Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-9 Lengkap 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudharat bagi diriku kecuali apa yang dikehendaki Allah[17]. Sekiranya aku mengetahui yang ghaib, niscaya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya[18] dan tidak akan ditimpa bahaya[19]. Aku hanyalah pemberi peringatan[20], dan pembawa berita gembira[21] bagi orang-orang yang beriman.”

[17] Yakni karena diriku adalah seorang yang fakir dan diatur, tidak ada satu pun kebaikan yang datang kepadaku melainkan berasal dari Allah, dan tidak ada yang menghilangkan bahaya yang menimpaku selain Dia, dan aku pun tidak mengetahui apa-apa selain yang diajarkan Allah kepadaku.

[18] Yakni mengerjakan sebab-sebab yang menghasilkan maslahat dan manfaat.

[19] Akan tetapi, karena aku tidak mengetahui yang ghaib, maka aku tertimpa bahaya dan luput bagiku berbagai maslahat dunia dan manfaatnya. Ayat yang mulia ini menerangkan kesalahan orang yang meminta dan berdoa kepada Nabi ﷺ untuk memperoleh manfaat atau menghindarkan bahaya. Demikian pula menerangkan salahnya orang yang menganggap bahwa Nabi Muhammad ﷺ mengetahui yang ghaib.

[20] Bagi orang-orang kafir dengan neraka.

[21] Dengan surga.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Katakanlah, “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku sendiri) untuk mendapatkannya (dan tidak pula menolak kemudaratan) mampu menolaknya (kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib) apaapa yang gaib dariku (tentulah aku membuat kebaikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan) berupa kemiskinan dan lain sebagainya karena sebelumnya aku telah bersiap-siap menghadapinya dengan cara menghindari kemudaratan-kemudaratan itu (tidak lain) (aku ini hanyalah pemberi peringatan) dengan neraka bagi orang-orang kafir (dan pembawa berita gembira) dengan surga (bagi orang-orang yang beriman”).

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah memerintahkan Nabi ﷺ agar mengembalikan semua urusan kepada-Nya, dan hendaklah Nabi ﷺ menyampaikan bahwa dirinya tidak mengetahui perkara gaib di masa mendatang dan tidak sedikit pun mengetahui hal tersebut kecuali sebatas apa yang telah diperlihatkan oleh Allah kepada dirinya, seperti apa yang disebutkan oleh Allah Subhaanahu wa Ta’aala dalam firman-Nya:

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا

(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu. (Al-Jin: 26)

Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya. (Al-A’raaf : 188)

Abdur Razzaq telah meriwayatkan dari As-Sauri, dari Mansur, dari Mujahid sehubungan dengan makna Firman Allah tersebut, yaitu : Sekiranya aku mengetahui bilakah aku akan mati, niscaya aku akan mengamalkan amalan yang saleh.

Hal yang sama telah diriwayatkan dari Ibnu Abu Mujaih, dari Mujahid; dan Ibnu Juraij telah mengatakan hal yang sama. Tetapi pendapat ini masih perlu diperiksa kebenarannya, mengingat amal perbuatan Rasulullah ﷺ bersifat terus-menerus.

Di dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ apabila mengerjakan suatu amal, maka beliau mengukuhkannya. Semua amal perbuatan Rasulullah ﷺ bersifat terus-menerus, seakan-akan beliau melihat Allah Subhaanahu wa Ta’aala dalam semua keadaannya; kecuali jika makna yang dimaksud ialah memberikan petunjuk kepada orang lain agar membuat bekal untuk hal tersebut.

Hal yang paling baik sehubungan dengan makna ayat berikut ini ialah apa yang telah diriwayatkan oleh Ad-Dahhak dari Ibnu Abbas: Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya. (Al-A’raaf : 188) Yang dimaksud dengan kebajikan atau kebaikan di sini adalah harta benda. Menurut riwayat lain, sekiranya aku mengetahui jika aku membeli sesuatu yang tidak menguntungkan aku, niscaya aku tidak akan menjual sesuatu kecuali aku mendapat keuntungan dan aku tidak pernah tertimpa kemiskinan.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa ulama lainnya mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah’ seandainya aku mengetahui hal yang gaib, niscaya aku akan. membuat perbekalan di musim subur untuk menghadapi musim paceklik; dan di saat harga sedang murah untuk menghadapi masa kemahalan, yaitu dengan membuat persiapan untuk menghadapinya selagi harga sedang murah’.

Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan. (Al-A’raaf : 188) Dengan kata lain, niscaya aku akan menjauhi marabahaya sebelum terjadinya dan aku akan menghindarinya sejak dini.

BACA JUGA Kajian Tafsir ayat berikutnya .... 

Kemudian Nabi ﷺ menyampaikan bahwa dirinya hanyalah seorang pemberi peringatan dan pembawa berita gembira, yakni memberikan peringatan akan adanya siksa Allah serta menyampaikan berita gembira kepada orang-orang mukmin akan pahala surga. Seperti yang disebutkan oleh Allah Subhaanahu wa Ta’aala dalam ayat lain, yaitu:

فَإِنَّمَا يَسَّرْنَاهُ بِلِسَانِكَ لِتُبَشِّرَ بِهِ الْمُتَّقِينَ وَتُنْذِرَ بِهِ قَوْمًا لُدًّا

Maka sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an itu dengan bahasamu, agar kamu dapat memberi kabar gembira dengan Al-Qur’an itu kepada orang-orang yang bertakwa, dan agar kamu memberi peringatan dengannya kepada kaum yang membangkang. (Maryam: 97)

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here