Tidak Meminta Pertolongan kepada Selain-Nya

Kajian Tafsir Surah Al-A'raaf ayat 196-198

0
27

Kajian Tafsir Surah Al-A’raaf ayat 196-198. Bertawakkal kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala dan tidak meminta pertolongan kepada selain-Nya. Firman-Nya:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ (١٩٦) وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ لا يَسْتَطِيعُونَ نَصْرَكُمْ وَلا أَنْفُسَهُمْ يَنْصُرُونَ (١٩٧) وَإِنْ تَدْعُوهُمْ إِلَى الْهُدَى لا يَسْمَعُوا وَتَرَاهُمْ يَنْظُرُونَ إِلَيْكَ وَهُمْ لا يُبْصِرُونَ (١٩٨)

Sesungguhnya pelindungku adalah Allah yang telah menurunkan kitab (Al-Qur’an). Dia melindungi orang-orang saleh. (Q.S. Al-A’raaf : 196)

Dan berhala-berhala yang kamu seru selain Allah tidaklah sanggup menolongmu, bahkan tidak dapat menolong dirinya sendiri; (Q.S. Al-A’raaf : 197)

Dan jika kamu menyeru mereka (berhala-berhala) untuk memberi petunjuk, mereka tidak dapat mendengarnya. Kamu melihat mereka (berhala-berhala) memandangmu padahal mereka tidak melihat. (Q.S. Al-A’raaf : 198)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Inna waliyyiyallāhu (sesungguhnya pelindungku adalah Allah), yakni sesungguhnya penjaga dan penolongku adalah Allah.

Alladzī nazzalal kitāba (yang telah menurunkan al-Kitab), yakni yang telah menurunkan Jibril ‘alaihis salam membawa Al-Qur’an kepadaku.

Wa huwa yatawalla (dan Dia melindungi), yakni menjaga.

Ash-shālihīn (orang-orang yang saleh).

Wal ladzīna tad‘ūna (dan [tuhan-tuhan] yang kalian seru), yakni yang kalian sembah.

Miη dūnihī (selain-Nya), yakni selain Allah, yaitu berhala-berhala.

Lā yastathī‘ūna nashrakum (tidaklah sanggup menolong kalian), yakni tidak dapat memberi manfaat kepada kalian dan tidak pula dapat mencegah (mudarat yang akan menimpa) kalian.

Wa lā aηfusahum yaηshurūn (dan tidak pula dapat menolong diri mereka sendiri), yakni tak dapat menghalangi apa pun yang ditimpakan kepada mereka.

Wa iη tad‘ūhum ilal hudā (dan jika kamu menyeru mereka [berhala-berhala] pada petunjuk), yakni pada kebenaran.

Lā yasma‘ū (niscaya berhala-berhala itu tidak dapat mendengar) dan merespons seruan kalian, karena mereka adalah barang mati.

Wa tarāhum (dan kamu melihat mereka). Yakni hai Muhammad, apabila kamu melihat berhala-berhala itu.

Yaηzhurūna ilaika (memandang kepadamu), yakni seakan-akan berhala-berhala itu membuka mata dan memandang kepadamu.

Wa hum lā yubshirūn (padahal mereka tidak melihat), karena mereka adalah barang mati.

BACA JUGA Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-9 Lengkap 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Sesungguhnya pelindungku adalah Allah yang telah menurunkan kitab (Al-Qur’an)[8]. Dia melindungi[9] orang-orang saleh[10].

[8] Yang didalamnya terdapat petunjuk, penawar dan cahaya, di mana penurunan kitab itu salah satu bentuk tarbiyah(pendidikan)-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang terkait dengan agama.

[9] Contoh perlindungan-Nya kepada orang saleh adalah membantu mereka kepada sesuatu yang di sana terdapat kebaikan dan maslahat baik bagi agama maupun dunia mereka dan menghindarkan segala sesuatu yang tidak disukai mereka.

[10] Orang saleh adalah orang yang saleh atau baik niatnya, ucapannya dan perbuatannya.

197.[11] Dan berhala-berhala yang kamu seru selain Allah tidaklah sanggup menolongmu, bahkan tidak dapat menolong dirinya sendiri[12];

[11] Ayat ini juga sama menerangkan ketidakberhakannya berhala-berhala itu disembah karena mereka tidak memiliki kemampuan membela diri ketika ada yang menyerangnya, apalagi sampai menolong penyembahnya.

[12] Oleh karena itu, mengapa apa aku harus takut kepadanya?!

  1. Dan jika kamu menyeru mereka (berhala-berhala) untuk memberi petunjuk, mereka tidak dapat mendengarnya. Kamu melihat mereka (berhala-berhala) memandangmu padahal mereka tidak melihat.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Sesungguhnya pelindungku ialah Allah) yang mengurusi perkaraku (yang telah menurunkan Alkitab) Alquran (dan Dia melindungi orang-orang yang saleh) memeliharanya.
  2. (Dan berhala-berhala yang kamu seru selain Allah tidaklah sanggup menolongmu, bahkan tidak dapat menolong dirinya sendiri) lalu mengapa aku mempedulikan keadaan mereka.
  3. (Dan jika kamu sekalian menyeru mereka) berhala-berhala itu (untuk memberi petunjuk, niscaya berhala-berhala tidak dapat mendengarnya. Dan kamu melihat mereka) berhala-berhala itu, hai Muhammad (memandang kepadamu) yakni, mereka berhadapan denganmu bagaikan orang yang sedang memandang (padahal mereka tidak dapat melihat).

.

Tafsir Ibnu Katsir

Sesungguhnya pelindungku ialah Allah yang telah menurunkan Al-Kitab (Al-Qur’an) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh (Al-A’raaf : 196)

Yakni Allah-lah yang melindungiku dan memberikan kecukupan kepadaku, Dialah yang menolongku, hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan hanya kepada-Nya aku berlindung, Dia adalah Pelindungku di dunia dan akhirat. Dia adalah Pelindung semua orang yang saleh sesudahku. Hal ini semakna dengan perkataan Nabi Hud ‘alaihis salam ketika berkata kepada kaumnya, seperti yang disitir oleh firman-Nya:

إِنْ نَقُولُ إِلا اعْتَرَاكَ بَعْضُ آلِهَتِنَا بِسُوءٍ قَالَ إِنِّي أُشْهِدُ اللَّهَ وَاشْهَدُوا أَنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ * مِنْ دُونِهِ فَكِيدُونِي جَمِيعًا ثُمَّ لَا تُنْظِرُون * إِنِّي تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ رَبِّي وَرَبِّكُمْ مَا مِنْ دَابَّةٍ إِلا هُوَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا إِنَّ رَبِّي عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu. Hud menjawab, “Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah, dan saksikanlah oleh kalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan dari selain-Nya Sebab itu, jatankanlah tipu daya kalian semuanya terhadapku dan janganlah kalian memberi tangguh kepadaku. Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah, Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus.” (Hud: 54-56)

Semakna pula dengan perkataan Nabi Ibrahim kekasih Allah, seperti yang disitir oleh firman-Nya:

أَفَرَأَيْتُمْ مَا كُنْتُمْ تَعْبُدُونَ * أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمُ الأقْدَمُونَ * فَإِنَّهُمْ عَدُوٌّ لِي إِلا رَبَّ الْعَالَمِينَ * الَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهْدِينِ

Maka apakah kalian memperhatikan apa yang selalu kalian sembah, kalian dan nenek moyang kalian yang dahulu? Karena sesungguhnya apa yang kalian sembah itu adalah musuhku, kecuali Tuhan semesta alam (yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku. (Asy-Syu’ara: 75-78)

Sama juga dengan perkataan Nabi Ibrahim kepada orang tuanya dan kaumnya, seperti yang disitir oleh firman-Nya:

إِنَّنِي بَرَاءٌ مِمَّا تَعْبُدُونَ * إِلا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ * وَجَعَلَهَا كَلِمَةً بَاقِيَةً فِي عَقِبِهِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kalian sembah, tetapi (aku menyembah) Tuhan Yangmenjadikanku, karena sesungguhnya Dia akan memberi taufik kepadaku. Dan (Ibrahim) menjadikan kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka kembali kepada kalimat tauhid itu. (Az-Zukhruf: 26-28)

Adapun firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

Dan berhala-berhala yang kalian seru selain Allah. (Al-A’ raf: 197), hingga akhir ayat.

Ayat ini berkedudukan menguatkan apa yang disebutkan sebelumnya, hanya saja dalam ayat ini diungkapkan dalam bentuk khitab (sebagai lawan bicara), sedangkan pada sebelumnya disebutkan dengan ungkapan gaibah (yakni orang yang ketiga). Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:

Tidaklah sanggup menolong kalian, bahkan tidak dapat menolong dirinya sendiri. (Al-A’raaf : 197)

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

Dan jika kamu sekalian menyeru (berhala-berhala) untuk memberi petunjuk, niscaya berhala-berhala itu tidak dapat mendengarnya. Dan kamu melihat berhala-berhala itu memandang kepadamu, padahal mereka tidak melihat. (Al-A’raaf : 198)

Semakna dengan firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

إِنْ تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ

Jika kamu sekalian menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruan kalian. (Fathir: 14), hingga akhir ayat.

Adapun firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

Dan kamu melihat berhala-berhala itu memandang kepadamu, padahal mereka tidak melihat. (Al-A’raaf : 198)

Sesungguhnya dalam ayat ini disebutkan oleh firman-Nya:

Berhala-berhala itu memandang kepadamu. (Al-A’raaf : 198)

Yakni menghadapi kamu dengan matanya yang melotot, seakan-akan dapat melihat, padahal berhala-berhala itu benda mati. Karena itulah dalam ayat ini disebutkan seperti makhluk yang berakal, sebab memang berhala-berhala mereka itu dibentuk seperti manusia (yakni patung manusia).

BACA JUGA Kajian Tafsir ayat berikutnya .... 

Dan kamu melihat berhala-berhala itu memandang kepadamu (Al-A’raaf : 198)

Dalam ayat ini diungkapkan dengan damir untuk makhluk yang berakal.

As-Saddi mengatakan, yang dimaksud dalam ayat ini adalah orang-orang musyrik (bukan berhala, pent.). Hal yang semisal telah diriwayatkan pula dari Mujahid. Tetapi pendapat pertama adalah pendapat yang lebih utama, pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir dan dikatakan oleh Qatadah.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here