Meminta Perlindungan kepada Allah dari Was-was Setan

Kajian Tafsir Surah Al-A'raaf ayat 201

0
60

Kajian Tafsir Surah Al-A’raaf ayat 201. Perintah meminta perlindungan kepada Allah dari was-was setan dan tipu dayanya. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka ditimpa was-was (dibayang-bayangi pikiran jahat) dari setan, mereka pun segera ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya). (Q.S. Al-A’raaf : 201)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Innal ladzīnattaqau (sesungguhnya orang-orang yang bertakwa), yakni orang-orang yang menjauhi bisikan setan.

Idzā massahum (apabila mereka ditimpa), yakni apabila mereka merasakan.

Thā-ifun (waswas), yakni keraguan dan bisikan jahat.

Minasy syaithāni tadzakkarū (dari setan, mereka ingat [kepada Allah]), yakni mereka segera mengingatkan (dirinya kepada Allah).

Fa idzā hum mubshirūn (maka ketika itu juga mereka melihat), yakni ketika itu juga mereka menghentikan kemaksiatan itu.

BACA JUGA Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-9 Lengkap 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

201.[19] Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka ditimpa was-was (dibayang-bayangi pikiran jahat) dari setan, mereka pun segera ingat kepada Allah[20], maka ketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya).

[19] Oleh karena seorang hamba terkadang lalai dan terkena godaan setan, yang memang senantiasa mencari kesempatan untuk menggelincirkannya, maka Allah Ta’ala menerangkan ciri orang yang bertakwa dan ciri orang yang tersesat. Orang yang bertakwa ketika merasakan dosa dan tergoda oleh setan sehingga mengerjakan perkara yang haram atau meninggalkan kewajiban, maka ia segera ingat dan menyadari kesalahannya serta meminta ampunan kepada Allah, mengejar kelalaiannya dengan tobat nashuha dan mengiringinya dengan amal saleh, sehinga ia membuat setan rugi dan kecewa. Berbeda dengan kawan-kawan setan (orang-orang sesat), apabila mereka terjatuh ke dalam perbuatan dosa, maka setan-setan menambah lagi mereka berdosa dan tidak henti-hentinya menambahkan dosa dan menyesatkan.

[20] Ingat siksa dan pahala Allah.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa) terkena (was-was) menurut suatu qiraat dibaca thaifun bukan thaaifun, artinya sesuatu yang menimpa mereka (dari setan mereka ingat) akan siksa Allah dan pahala-Nya (maka ketika itu mereka melihat) perbedaan antara perkara yang hak dan yang batil lalu mereka kembali kepada jalan yang hak.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Subhaanahu wa Ta’aala menceritakan perihal hamba-hamba-Nya yang bertakwa, yaitu orang-orang yang taat dalam menjalankan semua perintah-Nya dan meninggalkan semua hal yang dilarang-Nya, bahwa keadaan mereka itu:

Apabila mereka ditimpa (Al-A’raaf : 201)

yakni bilamana mereka terkena godaan. Sebagian ulama membacanya ta-ifun (bukan taifun), sehubungan dengan qiraat ini ada hadits yang menerangkannya; kedua qiraat ini merupakan qiraat yang terkenal. Menurut pendapat lain, kedua qiraat tersebut mempunyai makna yang sama; dan menurut pendapat yang lainnya lagi ada bedanya. Ada ulama yang menafsirkannya dengan pengertian al-gadab (amarah), ada yang menafsirkannya dengan pengertian sentuhan dari setan, yakni pingsan dan lain sebagainya; ada yang menafsirkannya dengan pengertian dosa, ada pula yang menafsirkannya dengan pengertian melakukan perbuatan dosa.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

Mereka ingat kepada Allah (Al-A’raaf : 201)

Maksudnya, mereka teringat akan azab Allah, pahala-Nya yang berlimpah, janji, dan ancaman-Nya. Karena itu, lalu mereka bertobat dan memohon perlindungan kepada Allah serta segera kembali kepada-Nya.

Maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya. (Al-A’raaf: 201)

Yakni mereka bangkit dan sadar dari keadaan sebelumnya.

Dalam hal ini Al-Hafiz Abu Bakar ibnu Murdawaih telah menceritakan sebuah hadits yang ia riwayatkan melalui Muhammad ibnu Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu yang mengatakan bahwa seorang wanita datang kepada Nabi ﷺ dalam keadaan sakit Lalu wanita itu berkata, “Wahai Rasulullah, doakanlah kepada Allah semoga Dia menyembuhkan diriku.” Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللَّهَ فَشَفَاكِ، وَإِنْ شِئْتِ فَاصْبِرِي وَلَا حِسَابَ عَلَيْكِ. فَقَالَتْ: بَلْ أَصْبِرُ، وَلَا حِسَابَ عَلَيَّ

Jika engkau suka (aku mendoakanmu), maka aku akan berdoa kepada Allah, dan Dia akan menyembuhkanmu. Tetapi jika engkau suka bersabar, maka bersabarlah, dan kelak tidak ada hisab atas dirimu. Wanita itu berkata, “Tidak, bahkan saya akan bersabar dan kelak saya tidak akan dihisab.”

Hadits ini diriwayatkan oleh bukan hanya seorang dari kalangan ulama pemilik kitab Sunnah. Menurut mereka wanita itu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku sering tak sadarkan diri, lalu pakaianku terbuka. Doakanlah kepada Allah semoga Dia menyembuhkanku.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يَشْفِيَكَ، وَإِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الْجَنَّةُ؟  فَقَالَتْ: بَلْ أَصْبِرُ، وَلِيَ الْجَنَّةُ، وَلَكِنِ ادْعُ اللَّهَ أَنْ لَا أَتَكَشَّفَ، فَدَعَا لَهَا، فَكَانَتْ لَا تَتَكَشَّفُ

Jika engkau menginginkan aku berdoa, maka aku akan berdoa dan Allah akan menyembuhkanmu. Dan jika engkau lebih suka bersabar, maka bersabarlah, dan engkau akan mendapat surga. Maka wanita itu berkata, “Tidak, bahkan aku lebih suka bersabar dan aku akan mendapat surga, tetapi doakanlah kepada Allah agar Dia jangan menjadikan aku membuka hijabku.” Lalu Nabi ﷺ berdoa untuk wanita itu, maka wanita itu tidak lagi membuka hijabnya (bila tak sadarkan dirinya).

Imam Hakim mengetengahkan hadits ini di dalam kitab Mustadrak-nya, dan ia mengatakan bahwa hadits ini sahih dengan syarat Imam Muslim; tetapi keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak mengetengahkannya.

BACA JUGA Kajian Tafsir ayat berikutnya .... 

Al-Hafiz ibnu Asakir dalam Bab “Riwayat Hidup Amr ibnu Jami”, bagian dari kitab Tarikh-nya, menyebutkan bahwa ada seorang pemuda yang sedang menekuni ibadah di dalam masjid. Lalu ada seorang wanita yang menyukainya, maka wanita itu merayunya agar ia mau menggauli dirinya. Wanita itu terus-menerus merayunya hingga hampir saja mereka berdua memasuki sebuah rumah. Tetapi pemuda itu teringat akan firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala yang mengatakan: Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya. (Al-A’raaf : 201) Maka pemuda itu jatuh terjungkal dalam keadaan pingsan tak sadarkan diri. Kemudian ia sadar kembali, dan wanita tersebut datang menjenguknya, maka pemuda itu mendadak mati. Khalifah Umar datang kepada ayah si pemuda, berbelasungkawa atas kematiannya; dan jenazah si pemuda itu telah dikebumikan sejak malam harinya. Lalu Khalifah Umar pergi dan melakukan shalat jenazah bersama orang-orang yang mengikutinya di atas kuburan pemuda itu. Kemudian Umar menyeru nama pemuda itu seraya membacakan firman-Nya: Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga. (Ar-Rahmah: 46) Maka pemuda itu menjawabnya dari dalam kuburan, “Wahai Umar, Tuhanku telah memberikannya kepadaku dua kali di dalam surga.”

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

 

Berita sebelumyaTeman-teman Setan dari Kalangan Umat Manusia
Berita berikutnyaJika Setan Datang Menggoda