Jika Setan Datang Menggoda

Kajian Tafsir Surah Al-A'raaf ayat 200

0
228

Kajian Tafsir Surah Al-A’raaf ayat 200. Perintah meminta perlindungan kepada Allah dari was-was setan dan tipu dayanya; jika setan datang menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Dan jika setan datang menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Q.S. Al-A’raaf : 200)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa immā yaηzaghannaka (dan jika menimpa kamu), yakni menerpamu.

Minasy syaithāni nazghun (suatu godaan dari setan), yakni bisikan jahat dan keraguan.

Fasta‘idz billāh (maka berlindunglah kepada Allah), yakni maka hendaklah kamu memohon perlindungan kepada Allah Ta‘ala dari bisikan jahat itu.

Innahū samī‘un (sesungguhnya Allah Maha Mendengar) permohonan perlindunganmu.

‘Alīm (lagi Maha Mengetahui) bisikan jahat setan.

BACA JUGA Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-9 Lengkap 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Dan jika setan datang menggodamu[15], maka berlindunglah kepada Allah[16]. Sungguh, Dia Maha Mendengar[17] lagi Maha Mengetahui[18].

[15] Ingin memalingkan kamu dari ketaatan kepada-Nya atau melemahkan kamu mengerjakan kebaikan atau mendorong kamu mengerjakan keburukan.

[16] Maksudnya membaca A’udzubillahi minasy-syaithaanir-rajiim, niscaya Allah akan menyingkirkan godaan itu.

[17] Semua perkataanmu.

[18] Niat dan perbuatanmu.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan jika) lafal immaa merupakan gabungan antara in syarthiah dan maa zaidah atau tambahan (kamu ditimpa suatu godaan setan) dimaksud jika setan memalingkan kamu dari apa yang kamu diperintahkan untuk melakukannya dengan suatu godaan (maka berlindunglah kepada Allah) sebagai jawab syarath sedangkan jawab amarnya dibuang, yaitu guna menolak setan daripada dirimu (sesungguhnya Allah Maha Mendengar) semua perkataan (lagi Maha Mengetahui) semua pekerjaan.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Kemudian dalam ayat selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

وَإِمَّا يَنزغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نزغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Dan jika kamu ditimpa suatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (Al-A’raaf : 200)

Sedangkan dalam surat ini (yakni Al-A’raaf) disebutkan pula hal yang sama, yaitu melalui firman-Nya:

وَإِمَّا يَنزغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نزغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Dan jika kamu ditimpa suatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al-A’raaf : 200)

Ketiga ayat ini berada di dalam surat Al-A’raaf , Al-Mu’minun, dan Ha-mim Sajdah, tidak ada lainnya lagi. Melaluinya Allah Subhaanahu wa Ta’aala memberikan petunjuk tentang tata cara menghadapi orang yang berbuat maksiat, yaitu menghadapinya dengan cara yang baik, karena dengan cara inilah dalam berbuat maksiat dapat dihentikan dengan seizin Allah Subhaanahu wa Ta’aala Karena itulah dalam surat Fushshilat disebutkan:

فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah teman yang setia. (Fushshilat: 34)

Kemudian Allah memberikan petunjuk untuk meminta perlindungan; pada-Nya dari godaan setan yang tidak kelihatan, karena sesunguhnya setan tidak senang bila kita berbuat kebaikan. Dan sesungguhnya setan itu hanya bertujuan untuk menghancurkan dan membinasakan kita secara keseluruhan. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kita dan bagi kakek moyang kita jauh sebelum kita (yakni Nabi Adam).

Ibnu Jarir mengatakan sehubungan dengan tafsir firman-Nya: Dan jika kamu ditimpa suatu godaan setan. (Al-A’raaf : 200) yaitu jika setan menggodamu dengan perasaan marah yang karena itu kamu tidak mampu berpaling dari orang yang bodoh, dan justru kamu terdorong untuk memberinya pelajaran, maka berlindunglah kepada Allah. (Al-A’raaf : 200) maksudnya, mintalah perlindungan kepada Allah dari godaannya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al-A’raaf : 200) Allah Maha Mendengar terhadap kebodohan orang yang berbuat kebodohan terhadap dirimu, dan Maha Mendengar terhadap permintaan perlindunganmu dari godaan setan serta lain-lainnya yang berupa obrolan orang lain. Tiada sesuatu pun yang samar bagi-Nya, Dia Maha mengetahui semua urusan makhluk-Nya, termasuk godaan setan yang telah merasuki hatimu.

Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam telah mengatakan bahwa ketika ayat ini diturunkan, yaitu firman-Nya: Jadilah engkau pemaaf dan serulah orang mengerjakan yang makruf serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh (Al-A’raaf : 199) Maka Nabi ﷺ bertanya, “Wahai Tuhanku, bagaimanakah dengan amarah?” Maka Allah menurunkan firman-Nya: Dan jika kamu ditimpa suatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al-A’raaf : 200)

Menurut kami, pada permulaan pembahasan mengenai isti’azah (memohon perlindungan kepada Allah) telah disebutkan sebuah hadits tentang dua orang lelaki yang saling mencaci di hadapan Nabi ﷺ. Kemudian salah seorangnya marah, sehingga hidungnya mekar karena emosinya. Maka Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنِّي لِأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ. فَقِيلَ لَهُ، فَقَالَ: مَا بِي مِنْ جُنُونٍ

Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui suatu kalimat, seandainya dia mengucapkannya, niscaya akan lenyaplah dari dirinya emosi yang membakarnya, yaitu: “Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk”.Ketika disampaikan kepada lelaki itu apa yang telah disabdakan oleh Rasulullah , maka si lelaki yang emosi itu menjawab, “Saya tidak gila.”

Asal makna dari lafaz an-nazgu ialah kerusakan, penyebabnya adakalanya karena marah (emosi) atau lainnya. Sehubungan dengan pengertian ini disebutkan di dalam firman-Nya:

وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنزغُ بَيْنَهُمْ

Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. (Al-Isra: 53)

Makna al-‘iyaz ialah memohon perlindungan, naungan, dan pembentengan dari ulah kejahatan. Sedangkan al-malaz. pengertiannya tertuju kepada memohon kebaikan, juga pengertian memohon perlindungan. Hal ini seperti yang dikatakan oleh Al-Hasan ibnu Hani’ dalam syairnya:

يَا مَنْ ألوذُ بِهِ فيمَا أؤمِّلُه … وَمَنْ أعوذُ بِهِ مِمَّا أحَاذرُه …

لَا يَجْبر النَّاسُ عَظمًا أَنْتَ كاسرُه … وَلَا يَهِيضُون عَظمًا أَنْتَ جَابِره…

BACA JUGA Kajian Tafsir ayat berikutnya .... 

Wahai Tuhan yang aku berlindung kepada-Nya dalam memohon apa yang aku cita-citakan, dan Yang aku berlindung kepada-Nya dari semua yang aku hindari.

Tiada seorang manusia pun yang dapat menambal tulang yang telah Engkau pecahkan, dan mereka tidak akan dapat mematahkan suatu tulangpun yang telah Engkau tambal.

Mengenai hadits-hadits yang berkaitan dengan masalah isti’azah (memohon perlindungan kepada Allah) kebanyakan telah kami kemukakan, sehingga tidak perlu diulangi lagi.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

 

Berita sebelumyaMeminta Perlindungan kepada Allah dari Was-was Setan
Berita berikutnyaJadilah Engkau Pemaaf

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here