Beribadah Kepada Selain Allah Adalah Batil

Kajian Tafsir Surah Al-A'raaf ayat 192-195

0
18

Kajian Tafsir Surah Al-A’raaf ayat 192-195. Menerangkan bahwa beribadah kepada selain Allah adalah batil. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

وَلا يَسْتَطِيعُونَ لَهُمْ نَصْرًا وَلا أَنْفُسَهُمْ يَنْصُرُونَ (١٩٢) وَإِنْ تَدْعُوهُمْ إِلَى الْهُدَى لا يَتَّبِعُوكُمْ سَوَاءٌ عَلَيْكُمْ أَدَعَوْتُمُوهُمْ أَمْ أَنْتُمْ صَامِتُونَ (١٩٣) إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ عِبَادٌ أَمْثَالُكُمْ فَادْعُوهُمْ فَلْيَسْتَجِيبُوا لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (١٩٤) أَلَهُمْ أَرْجُلٌ يَمْشُونَ بِهَا أَمْ لَهُمْ أَيْدٍ يَبْطِشُونَ بِهَا أَمْ لَهُمْ أَعْيُنٌ يُبْصِرُونَ بِهَا أَمْ لَهُمْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا قُلِ ادْعُوا شُرَكَاءَكُمْ ثُمَّ كِيدُونِ فَلا تُنْظِرُونِ (١٩٥)

Dan berhala itu tidak dapat memberikan pertolongan kepada penyembahnya, dan kepada dirinya sendiri pun mereka tidak dapat memberi pertolongan. (Q.S. Al-A’raaf : 192)

Dan jika kamu (wahai orang-orang musyrik) menyerunya (berhala-berhala) untuk memberi petunjuk kepadamu, berhala-berhala itu tidak dapat memperkenankan seruanmu; sama saja (hasilnya) buat kamu menyeru mereka atau berdiam diri. (Q.S. Al-A’raaf : 193)

Sesungguhnya mereka (berhala-berhala) yang kamu seru selain Allah adalah makhluk (yang lemah) yang serupa juga dengan kamu. Maka serulah mereka lalu biarkanlah mereka memperkenankan permintaanmu, jika kamu orang yang benar. (Q.S. Al-A’raaf : 194)

Apakah mereka (berhala-berhala) mempunyai kaki untuk berjalan, atau mempunyai tangan untuk memegang dengan keras, atau mempunyai mata untuk melihat, atau mempunyai telinga untuk mendengar? Katakanlah (Muhammad), “Panggillah (berhala-berhalamu) yang kamu anggap sekutu Allah, kemudian lakukanlah tipu daya (untuk mencelakakan)ku, dan jangan kamu tunda lagi.” (Q.S. Al-A’raaf : 195)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa lā yastathī‘ūna lahum nashran (dan berhala-berhala itu tidak sanggup memberi pertolongan kepada para penyembahnya), yakni tidak sanggup memberi manfaat dan menimpakan mudarat.

Wa lā aηfusahum (dan kepada diri mereka sendiri pun tidak dapat), yakni kepada diri tuhan-tuhan itu sendiri pun tidak dapat.

Yaηshurūn (memberi pertolongan), yakni tidak sanggup mencegah apa pun yang akan menimpa mereka.

Wa iη tad‘ūhum (dan sekiranya kamu menyeru mereka), yakni hai Muhammad, sekiranya kamu mengajak orang-orang kafir.

Ilal hudā (pada petunjuk), yakni agar bertauhid.

Lā yattabi‘ūkum (niscaya mereka tidak akan mengikuti seruan kalian), yakni niscaya orang-orang kafir itu tidak akan menyambut seruan kalian.

Sawā-un ‘alaikum a da‘autumūhum (sama saja bagi kalian, apakah kalian menyeru mereka) untuk bertauhid.

Am aηtum shāmitūn (ataupun kalian berdiam diri), yakni orang-orang kafir tetap tidak akan menyambut tauhid yang kalian serukan. Ada yang berpendapat, wa iη tad‘ūhum (dan sekiranya kamu menyeru mereka), wahai segenap kaum kafir; ilal hudā (kepada petunjuk), yakni pada kebenaran; lā yattabi‘ūkum (niscaya berhala-berhala itu tidak akan mengikuti seruan kalian), yakni tidak akan merespons ajakan kalian; sawā-un ‘alaikum a da‘autumūhum (sama saja bagi kalian, apakah kalian menyeru mereka), yakni menyeru berhala-berhala itu; am Aηtum shāmitūn (ataupun kalian berdiam diri), yakni ataupun tidak menyerunya. Berhala-berhala itu tidak akan menjawab seruan kalian dan tidak pula bisa mendengar seruan kalian, sebab mereka barang mati.

Innal ladzīna tad‘ūna (sesungguhnya [tuhan-tuhan] yang kalian seru), yakni yang kalian sembah.

Miη dūnillāhi (selain Allah itu), yaitu berhala-berhala.

‘Ibādun amtsālukum (adalah hamba-hamba yang seperti kalian juga), yakni makhluk seperti halnya kalian.

Fad ‘ūhum (maka serulah mereka), yakni tuhan-tuhan kalian.

Fal yastajībū lakum (lalu biarkanlah mereka memperkenankan [permohonan] kalian), yakni lalu biarkanlah tuhan-tuhan kalian mendengarkan dan mengabulkan permohonan kalian.

Ing kuηtum shādiqīn (sekiranya kalian memang benar) bahwa mereka dapat memberi manfaat untuk kalian.

A lahum arjuluy yamsyūna bihā (apakah berhala-berhala itu memiliki kaki yang dengannya mereka dapat berjalan) menuju kebaikan.

Am lahum aidiy yabthi-syūna bihā (atau mempunyai tangan yang dengannya mereka dapat memegang), yakni yang dengan tangan itu mereka dapat menerima dan memberi.

Am lahum a‘yunuy yubshirūna bihā (atau memiliki mata yang dengannya mereka dapat melihat) ibadah kalian.

Am lahum ādzānuy yasma‘ūna bihā (atau memiliki telinga yang dengannya mereka dapat mendengar) permohonan kalian.

Qul (katakanlah) hai Muhammad, kepada kaum musyrikin penduduk Mekah.

Ud‘ū syurakā-akum (“Serulah sekutu-sekutu kalian [tuhan-tuhan selain Allah] itu), yakni mintalah pertolongan kepada tuhan-tuhan kalian itu.

Tsumma kīdūni (kemudian lakukanlah tipu daya terhadapku), yakni berusahalah kalian dan sekutu-sekutu untuk membinasakanku.

Fa lā tuηzhirūn (dan janganlah kalian memberi tangguh”), yakni janganlah kalian memberi tempo kepadaku.

BACA JUGA Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-9 Lengkap 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Dan berhala itu tidak dapat memberikan pertolongan kepada penyembahnya, dan kepada dirinya sendiri pun mereka tidak dapat memberi pertolongan[3].

[3] Ketika ada yang hendak menghancurkannya.

  1. Dan jika kamu (wahai orang-orang musyrik) menyerunya (berhala-berhala) untuk memberi petunjuk kepadamu, berhala-berhala itu tidak dapat memperkenankan seruanmu; sama saja (hasilnya) buat kamu menyeru mereka atau berdiam diri[4].

[4] Ia tidak dapat memperkenankan seruanmu karena tidak dapat mendengar.

  1. Sesungguhnya mereka (berhala-berhala) yang kamu seru selain Allah adalah makhluk (yang lemah) yang serupa juga dengan kamu. Maka serulah mereka lalu biarkanlah mereka memperkenankan permintaanmu, jika kamu orang yang benar[5].

[5] Jika mereka tidak dapat memperkenankan seruanmu, berarti kamu orang-orang yang berdusta. Kemudian atas dasar apa kamu menyembah mereka?

195.[6] Apakah mereka (berhala-berhala) mempunyai kaki untuk berjalan, atau mempunyai tangan untuk memegang dengan keras, atau mempunyai mata untuk melihat, atau mempunyai telinga untuk mendengar? Katakanlah (Muhammad), “Panggillah (berhala-berhalamu) yang kamu anggap sekutu Allah[7], kemudian lakukanlah tipu daya (untuk mencelakakan)ku, dan jangan kamu tunda lagi.”

[6] Dalam ayat ini Allah Subhaanahu wa Ta’aala menerangkan kelemahan berhala-berhala itu dan bahwa penyembahnya ternyata lebih unggul dibanding berhala itu. Dan merupakan sebuah kebodohan jika yang kuat menyembah yang lemah.

[7] Yakni kumpulkanlah mereka bersama kamu untuk menimpakan bahaya kepadaku.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan berhala-berhala itu terhadap mereka tidak dapat) terhadap para pengabdinya (memberikan pertolongan, dan kepada dirinya sendiri pun berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan) tidak dapat mencegah orang yang bermaksud merusak mereka, apakah orang itu mau memecahkannya atau mau berbuat yang lain. Istifham/kata tanya di sini mempunyai pengertian untuk mencemoohkan.
  2. (Dan jika kamu menyerunya) menyeru berhala-berhala itu (untuk memberi petunjuk kepadamu, tidaklah berhala-berhala itu dapat memperkenankan seruanmu) dengan memakai takhfif dan tasydid (sama saja hasilnya buat kamu menyeru mereka) untuk meminta petunjuk (atau pun kamu berdiam diri) tidak menyeru mereka, maka mereka pasti tidak dapat memenuhi permintaanmu karena mereka tidak dapat mendengar.
  3. (Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu seru) yang kamu sembah (selain Allah itu adalah makhluk yang lemah) hamba-hamba (yang serupa juga dengan kamu. Maka serulah berhala-berhala itu lalu biarkanlah mereka memperkenankan permintaanmu) doa kamu (jika kami memang orang-orang yang benar) dalam anggapanmu bahwa mereka adalah tuhan. Kemudian Allah menjelaskan tentang kelemahan berhala-berhala tersebut dan Dia menjelaskan pula bahwa justru para pengabdinyalah yang lebih utama dari berhala-berhala itu sendiri. Untuk itu Allah berfirman:
  4. (Apakah berhala-berhala itu mempunyai kaki yang dengan itu mereka dapat berjalan atau) bahkan apakah (mereka mempunyai tangan-tangan) bentuk jamak dari lafal yadun/tangan (yang dengan tangan-tangan itu mereka dapat memukul atau) bahkan apakah (mereka mempunyai mata yang dengan mata itu mereka dapat melihat atau) bahkan apakah (mereka mempunyai telinga yang dengan telinga itu mereka dapat mendengar?) kata tanya yang terdapat di dalam ayat ini menunjukkan makna ingkar. Yakni bahwa berhala-berhala itu tidak mempunyai sesuatu pun dari hal-hal tersebut seperti apa yang kamu sekalian miliki. Lalu mengapa kamu menyembahnya sedang diri kamu sendiri keadaannya jauh lebih baik daripada mereka.

(Katakanlah) kepada mereka, hai Muhammad (“Panggillah berhala-berhalamu yang kamu jadikan sekutu bagi Allah itu) untuk mencelakakanku (kemudian lakukanlah tipu-daya kepadaku tanpa memberi tangguh kepadaku”) memberi tenggang waktu karena aku tidak lagi memperdulikanmu.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Kemudian dalam ayat selanjutnya Allah berfirman:

وَلا يَسْتَطِيعُونَ لَهُمْ نَصْرًا وَلا أَنْفُسَهُمْ يَنْصُرُونَ

Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya, dan kepada dirinya sendiri pun berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan. (Al-A’raaf : 192)

Berhala-berhala itu sama sekali tidak dapat memberikan pertolongan apa pun kepada mereka, bahkan terhadap dirinya sendiri. Sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, beliau memecahkan berhala-berhala kaumnya dan mencemoohkannya dengan penghinaan yang berat, seperti yang disebutkan oleh Allah Subhaanahu wa Ta’aala dalam firman-Nya:

فَرَاغَ عَلَيْهِمْ ضَرْبًا بِالْيَمِينِ

Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulinya dengan tangan kanannya (dengan kuat). (Ash-Shaffat: 93)

Dalam ayat yang lain disebutkan pula melalui firman-Nya:

فَجَعَلَهُمْ جُذَاذًا إِلا كَبِيرًا لَهُمْ لَعَلَّهُمْ إِلَيْهِ يَرْجِعُونَ

Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. (Al-Anbiya: 58)

Hal yang sama pernah dilakukan oleh Mu’az ibnu Amr ibnul Jamuh dan Mu’az ibnu Jabal ketika keduanya masih muda dan telah masuk Islam, yaitu di saat Rasulullah ﷺ telah tiba di Madinah. Keduanya merusak berhala-berhala orang-orang musyrik di malam hari, yaitu dengan memecahkannya dan menjadikannya sebagai kayu bakar buat para janda, agar kaumnya mau mengambil pelajaran dari hal tersebut dan menyalahkan diri mereka sendiri.

Disebutkan bahwa Amr ibnul Jamuh seorang pemimpin di kalangan kaumnya mempunyai sebuah berhala yang menjadi sembahannya, ia selalu memberi berhalanya itu wewangian. Tersebut pula bahwa keduanya selalu datang kepadanya di malam hari, lalu membalikkan berhala itu dengan kepala di bawah dan melumurinya dengan kotoran hewan. Ketika Amr ibnul Jamuh melihat apa yang dilakukan terhadap berhalanya itu, maka ia memandikannya dan memberinya lagi wewangian, lalu meletakkan sebilah pedang di sisi berhala itu seraya berkata kepadanya, “Belalah dirimu!”

Mu’az ibnu Amr Ibnu Jamal dan Mu’az ibnu Jabal kembali melakukan hal itu terhadap berhala tersebut dari Amr Ibnul Jamuh pun kembali melakukan hal yang sama (yakni membersihkan dan memberinya wewangian). Kemudian pada akhirnya keduanya mengambil berhala itu dan mengikatnya bersama bangkai seekor anjing, lalu menggantungkannya dengan seutas tali di atas sebuah sumur yang ada di tempat itu. Ketika Amr ibnul Jamuh datang dan melihat hal tersebut, ia berpikir dan sampailah pada suatu kesimpulan bahwa agama yang dipeluknya itu adalah batil. Lalu ia membacakan sebuah syair:

تَالله لَوْ كُنتَ إِلَها مُسْتَدن … لَمْ تَكُ والكَلْبُ جَمِيعًا فِي قَرنْ

Demi Allah, seandainya kamu adalah tuhan yang disembah, niscayalah kamu dan anjing tidak dapat dikumpulkan bersama-sama.

Akhirnya Amr ibnul Jamuh masuk Islam dan mengamalkan Islamnya dengan baik, lalu ia gugur dalam perang Uhud sebagai seorang yang mati syahid; semoga Allah melimpahkan rida-Nya kepada dia dan memberinya pahala yang memuaskannya, serta menjadikan surga Firdaus sebagai tempat tinggalnya.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

وَإِنْ تَدْعُوهُمْ إِلَى الْهُدَى لَا يَتَّبِعُوكُمْ

Dan jika kalian menyerunya untuk memberi petunjuk kepada kalian, tidaklah berhala-berhala itu dapat memperkenankan seruan kalian. (Al-A’raaf : 193)

Artinya, berhala-berhala itu tidak dapat mendengar seruan orang yang menyerunya. Keadaannya akan tetap sama, baik di depannya ada orang yang menyerunya ataupun orang yang menggulingkannya, seperti yang dikatakan oleh Nabi Ibrahim yang disitir oleh firman-Nya:

يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلا يُبْصِرُ وَلا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا

Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolong kamu sedikit pun? (Maryam: 42)

Kemudian Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan bahwa berhala-berhala itu adalah hamba-hamba Allah juga, sama dengan para penyembahnya. Dengan kata lain, berhala-berhala itu makhluk juga, sama dengan para penyembahnya. Bahkan manusia jauh lebih sempurna daripada berhala-berhala tersebut, karena manusia dapat mendengar, melihat, dan memukul; sedangkan berhala-berhala tersebut tidak dapat melakukan sesuatu pun dari hal itu.

BACA JUGA Kajian Tafsir ayat berikutnya .... 

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

قُلِ ادْعُوا شُرَكَاءَكُمْ ثُمَّ كِيدُونِ فَلا تُنْظِرُونِ

Katakanlah, “Panggillah berhala-berhala kalian yang kalian jadikan sekutu-sekutu Allah.” (Al-A’raaf : 195), hingga akhir ayat.

Maksudnya, panggillah berhala-berhala itu untuk menolong kalian dari-Ku, janganlah kalian memberi masa tangguh barang sekejap pun untuk itu, dan berupayalah kalian dengan semampu kalian.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here