Menghilangkan Gangguan-gangguan Setan

Kajian Tafsir Surah Al-Anfaal ayat 11

0
234

Kajian Tafsir Surah Al-Anfaal ayat 11. Permintaan pertolongan yang dilakukan oleh Nabi ﷺ kepada Tuhannya dalam perang Badar; Allah menurunkan air hujan untuk menyucikan, menghilangkan gangguan-gangguan setan, dan untuk menguatkan hati, serta memperteguh telapak kaki. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

إِذْ يُغَشِّيكُمُ النُّعَاسَ أَمَنَةً مِنْهُ وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لِيُطَهِّرَكُمْ بِهِ وَيُذْهِبَ عَنْكُمْ رِجْزَ الشَّيْطَانِ وَلِيَرْبِطَ عَلَى قُلُوبِكُمْ وَيُثَبِّتَ بِهِ الأقْدَامَ (١١)

(Ingatlah), ketika Allah membuat kamu mengantuk untuk memberi ketenteraman dari-Nya, dan Allah menurunkan air (hujan) dari langit kepadamu untuk menyucikan kamu dengan (hujan) itu dan menghilangkan gangguan-gangguan setan dari dirimu dan untuk menguatkan hatimu serta memperteguh telapak kakimu. (Q.S. Al-Anfaal : 11)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Idz yughasy-syīkumun nu‘āsa ([ingatlah] ketika Allah menyelimuti kalian dengan kantuk), membuat kalian mengantuk.

Amanatan (sebagai suatu penenteraman) bagi kalian.

Minhu (dari-Nya), yakni dari Allah Ta‘ala dalam menghadapi musuh. Hal itu merupakan Anugerah dari Allah Ta‘ala untuk kalian.

Wa yunazzilu ‘alaikum minas samā-i mā-an (dan Dia menurunkan air dari langit kepada kalian), yakni hujan.

Li yuthahhirakum bihī (untuk menyucikan kalian dengannya), yakni agar kalian dapat bersuci dari hadas dan junub dengan menggunakan air hujan.

Wa yudz-hiba ‘angkum rijzasy syaithāni (dan menghilangkan gangguan setan dari kalian), yakni bisikan jahat setan.

Wa li yarbitha ‘alā qulūbikum (dan untuk meneguhkan qalbu kalian), yakni untuk menjaga qalbu kalian dengan kesabaran.

Wa yutsabbita bihi (serta mengukuhkan dengannya), yakni dengan hujan itu.

Al-aqdām (telapak kaki) di atas pasir. Maksudnya, membuat pasir jadi padat sehingga telapak kaki kalian pun menjadi kukuh.

BACA JUGA Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-9 Lengkap 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. (Ingatlah), ketika Allah membuat kamu mengantuk untuk memberi ketenteraman dari-Nya[31], dan Allah menurunkan air (hujan) dari langit kepadamu untuk menyucikan kamu dengan (hujan) itu[32] dan menghilangkan gangguan-gangguan setan dari dirimu[33] dan untuk menguatkan hatimu[34] serta memperteguh telapak kakimu[35].

[31] Yang sebelumnya kamu ditimpa ketakutan. Hal ini termasuk pertolongan-Nya dan pengabulan-Nya terhadap doamu.

[32] Dari hadats maupun kotoran.

[33] Yakni was-wasnya kepadamu, seperti was-wasnya kepadamu bahwa jika kamu berada di atas kebenaran, tentu kamu tidak akan kehausan lagi berhadats, sedangkan kaum musyrik berada di dekat air.

[34] Dengan keyakinan dan kesabaran, karena kuatnya hati mempengaruhi kokohnya badan.

[35] Ada yang mengartikan dengan teguh hati dan pendirian, dan ada pula yang mengartikan dengan tidak terperosok ke dalam pasir.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Ingatlah, ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteram) untuk menenteramkan hatimu dari rasa takut yang menimpa dirimu (daripada-Nya) Allah Yang Maha Tinggi (dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk menyucikan kamu dengan hujan itu) dari hadas dan jinabah itu (dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan setan) godaan setan dari dirimu yang mengatakan bahwasanya jika kamu berada dalam jalan kebenaran, niscaya kamu tidak akan kehausan lagi berhadas sedang kaum musyrikin berada dekat air (dan untuk menguatkan) mengokohkan (hatimu) dalam keyakinan dan kesabaran (dan memperteguh dengannya telapak kakimu) agar telapak kakimu berdiri tegar di padang pasir.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah mengingatkan mereka akan nikmat yang telah dilimpahkan-Nya kepada mereka, yaitu rasa kantuk yang membuai mereka; hal ini menjadi penenteram hati mereka dari rasa ketakutan yang diakibatkan dari minimnya bilangan mereka, sedangkan jumlah musuh mereka sangat banyak. Hal yang sama telah dilakukan pula oleh Allah sesudah Perang Uhud sebagai penenteram hati mereka, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya:

ثُمَّ أَنزلَ عَلَيْكُمْ مِنْ بَعْدِ الْغَمِّ أَمَنَةً نُعَاسًا يَغْشَى طَائِفَةً مِنْكُمْ وَطَائِفَةٌ قَدْ أَهَمَّتْهُمْ أَنْفُسُهُمْ

Kemudian setelah kalian berduka cita Allah menurunkan kepada kalian keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari kalian, sedangkan segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri. (Ali Imran: 154), hingga akhir ayat,

Abu Talhah mengatakan bahwa dia termasuk salah seorang yang terkena rasa kantuk itu dalam Perang Uhud, dan sesungguhnya pedangnya sampai terjatuh berkali-kali dari tangannya. Bila pedangnya jatuh, maka ia memungutnya; dan bila jatuh lagi, ia memungutnya kembali. Dan sesungguhnya dia melihat pasukan kaum muslim menelentangkan tubuh mereka, sedangkan mereka berada di bawah lindungan tamengnya masing-masing.

Al-Hafiz Abu Ya’la mengatakan, telah menceritakan kepada kami Zuhair, telah menceritakan kepada kami Ibnu Mahdi, dari Syu’bah, dari Abu Ishaq, dari Harisah ibnu Mudarrib, dari Ali radiyallahu ‘anhu yang mengatakan, “Di antara kami tiada seorang penunggang kuda pun selain Al-Miqdad dalam Perang Badar. Dan sesungguhnya di antara kami tiada seorang pun melainkan dalam keadaan tertidur, kecuali Rasulullah ﷺ yang sedang shalat di bawah sebuah pohon seraya menangis hingga pagi harinya.”

Sufyan As-Sauri telah meriwayatkan dari Asim, dari Abu Razin, dari Abdullah ibnu Mas’ud radiyallahu ‘anhu yang mengatakan bahwa rasa kantuk dalam situasi perang merupakan penenteram hati dari Allah Subhaanahu wa Ta’aala, sedangkan kalau kantuk dalam shalat merupakan godaan dari setan.

Qatadah mengatakan bahwa kantuk mempengaruhi kepala, sedangkan tidur mempengaruhi hati. Menurut kami, kantuk telah menimpa mereka dalam Perang Uhud; kisah mengenainya telah dikenal. Adapun mengenai apa yang disebutkan di dalam ayat ini tiada lain berkaitan dengan kisah dalam Perang Badar. Hal ini menunjukkan bahwa rasa kantuk itu pun telah dialami pula oleh mereka saat itu. Seakan-akan hal tersebut selalu menimpa kaum mukmin di saat menghadapi peperangan, dimaksudkan agar hati mereka tenteram dan percaya akan pertolongan Allah. Hal ini merupakan karunia dari Allah dan merupakan rahmat-Nya bagi mereka serta nikmat yang dilimpahkan-Nya kepada mereka, seperti yang disebutkan oleh Allah Subhaanahu wa Ta’aala dalam ayat lain melalui firman-Nya:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (Alam Nasyrah: 5-6)

Karena itulah di dalam kitab Sahih disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ  ketika dalam Perang Badar berada di dalam kemah kecilnya dengan Abu Bakar As-Siddiq radiyallahu ‘anhu sedang berdoa terkena rasa kantuk, kemudian beliau terbangun seraya tersenyum dan bersabda:

أَبْشِرْ يَا أَبَا بَكْرٍ، هَذَا جِبْرِيلُ عَلَى ثَنَايَاهُ النَّقْعُ  ثُمَّ خَرَجَ مِنْ بَابِ الْعَرِيشِ، وَهُوَ يَتْلُو قَوْلَهُ تَعَالَى: سَيُهْزَمُ الْجَمْعُ وَيُوَلُّونَ الدُّبُرَ

Bergembiralah, hai Abu Bakar, ini Malaikat Jibril datang (dengan mengendarai kuda) yang pada kedua sisinya beterbangan debu-debu. Kemudian Nabi   keluar (berangkat) melalui pintu Al-Arisy seraya membacakan firman-Nya: Golongan (kaum musyrik) itu pasti akan dikalahkan, dan mereka akan mundur ke belakang. (Al-Qamar: 45)

Mengenai firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

Dan Allah menurunkan kepada kalian hujan dari langit. (Al-Anfaal: 11)

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi ﷺ ketika berangkat menuju medan Badar dan sampai padanya, lalu turun beristirahat. Saat itu pasukan kaum musyrik berada di dalam posisi yang antara mereka dan mata air terdapat banyak gundukan pasir, sedangkan keadaan pasukan kaum muslim sangat lemah, lalu setan menyusupkan rasa kebencian di dalam hati mereka dan membisikkan godaannya di antara mereka seraya mengatakan, “Kalian mengakui bahwa diri kalian adalah kekasih-kekasih Allah, dan di antara kalian terdapat Rasul-Nya, tetapi kaum musyrik ternyata dapat mengalahkan kalian dalam menguasai mata air; sedangkan kalian, shalat pun kalian kerjakan dalam keadaan berjinabah.”

Maka Allah menurunkan hujan kepada pasukan kaum muslim, yaitu hujan yang cukup lebat, sehingga kaum muslim beroleh minum dan dapat bersuci. Allah pun menghilangkan godaan setan dari mereka, dan tanah yang berpasir itu setelah terkena hujan menjadi padat dan kuat, sehingga orang-orang dengan mudah dapat berjalan di atasnya, begitu pula hewan-hewan kendaraan mereka; lalu pasukan kaum muslim maju menuju ke arah pasukan kaum musyrik. Kemudian Allah menurunkan bala bantuan kepada Nabi-Nya dan kaum mukmin dengan seribu malaikat. Malaikat Jibril turun bersama lima ratus malaikat di suatu sisi, sedangkan di sisi lain turun Malaikat Mikail dengan membawa lima ratus malaikat lagi.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Al-Aufi, dari Ibnu Abbas, bahwa sesungguhnya pasukan kaum musyrik dari kalangan Quraisy ketika berangkat untuk melindungi iringan kafilah mereka dan membelanya dari serangan kaum muslim, mereka turun istirahat di dekat mata air Badar, sehingga mereka menguasai sumber air itu dan mendahului kaum muslim. Karenanya pasukan kaum muslim mengalami kehausan hingga mereka shalat dalam keadaan mempunyai jinabah dan berhadas (tanpa bersuci), hal tersebut membuat mereka merasa berdosa besar.

Kemudian Allah menurunkan hujan dari langit, hujan yang deras, sehingga lembah tempat mereka berada dialiri oleh air yang banyak. Lalu pasukan kaum mukmin minum dan memenuhi wadah-wadah air mereka serta memberi minum kendaraan-kendaraan mereka, dan mereka melakukan mandi jinabah. Maka hal itu dijadikan oleh Allah sebagai sarana bersuci buat mereka dan untuk memantapkan pijakan mereka. Demikian itu karena antara mereka dan kaum terdapat padang pasir maka Allah menurunkan hujan di atas pasir itu sehingga membuat tanah pasir itu keras dan kuat dipijak oleh kaki.

Hal yang sama telah diriwayatkan dari Qatadah, Ad-Dahhak, dan As-Saddi. Telah diriwayatkan pula dari Sa’id ibnul Musayyab, Asy-Sya’bi, Az-Zuhri, Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam, bahwa mereka tertimpa hujan dalam Perang Badar.

Tetapi kisah yang dikenal mengatakan bahwa ketika Rasulullah ﷺ  berjalan menuju medan Perang Badar, beliau turun istirahat di dekat sumber air yang ada di tempat itu, yakni permulaan mata airyang dijumpainya. Maka Al-Habbab ibnul Munzir menghadap kepada beliau dan berkata, “Wahai Rasulullah, apakah tempat ini merupakan tempat yang diperintahkan oleh Allah agar engkau berhenti padanya dan kita tidak boleh melampauinya? Ataukah tempat ini engkau jadikan sebagai tempat untuk menyusun strategi perang dan melancarkan tipu muslihat perang?” Maka Rasulullah ﷺ menjawab, “Tidak, bahkan ini merupakan tempat yang sengaja saya tempati untuk strategi perang dan menyusun tipu muslihatnya.”

Al-Habbab ibnul Munzir berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya tempat ini bukan tempat yang strategis untuk berperang dan melancarkan siasatnya. Tetapi bawalah kami hingga sampai di mata air yang paling dekat dengan pasukan kaum musyrik, kemudian kita keringkan semua sumur lainnya, sehingga kita beroleh mata air untuk minum, sedangkan mereka tidak mempunyai air.” Maka Rasulullah ﷺ berangkat untuk melakukan strategi tersebut

Di dalam ‘kitab Magazil Umawi disebutkan bahwa ketika Al-Habbab melakukan hal tersebut, turunlah malaikat dari langit, sedangkan Malaikat Jibril sedang duduk di dekat Rasulullah ﷺ Lalu malaikat itu berkata, “Wahai Muhammad sesungguhnya Tuhanmu mengirimkan salam buatmu. Dia berfirman bahwa pendapat yang benar adalah pendapat yang diutarakan oleh Al-Habbah ibnul Munzir.”

Maka Rasulullah ﷺ menoleh ke arah Malaikat Jibril ‘alaihis salam dan bersabda, “Tahukah kamu siapakah ini?” Jibril memandang ke arah malaikat itu dan berkata, “Tidak semua malaikat dapat aku kenal. Tetapi dia adalah malaikat, bukan setan.”

Hal yang lebih baik dari riwayat ini ialah apa yang telah diriwayatkan oleh Imam Muhammad ibnu Ishaq ibnu Yasar, penulis kitab Al-Magazi rahimahullah; telah menceritakan kepadaku Yazid ibnu Ruman, dari Urwah ibnuz Zubair yang mengatakan bahwa Allah menurunkan hujan dari langit yang sebelumnya lembah itu (Badar) dalam keadaan kering. Maka Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya terkena hujan yang membuat tanah berpijak mereka menjadi kuat dan tidak menghalangi mereka untuk berjalan. Sedangkan hujan yang menimpa kaum musyrik membuat mereka tidak mampu bergerak dengan bebas.

Mujahid mengatakan bahwa Allah menurunkan hujan kepada kaum muslim sebelum rasa kantuk menyerang mereka. Dengan air hujan itu debu tidak ada lagi, dan tanah menjadi keras karenanya, sehingga hati mereka menjadi senang dan kaki mereka menjadi kokoh.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Harun ibnu Ishaq, telah menceritakan kepada kami Mus’ab ibnul Miqdam, telah menceritakan kepada kami Israil, telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq, dari Jariyah, dari Ali radiyallahu ‘anhu yang mengatakan bahwa di malam hari kami tertimpa hujan yakni malam hari yang keesokan harinya terjadi Perang Badar Hingga kami berlindung di bawah pepohonan dan  memakai tameng-tameng untuk menaungi diri dari siraman air hujan. Sedangkan Rasulullah ﷺ malam itu terus-menerus memberikan semangat untuk berperang.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

Untuk menyucikan kalian dengan hujan itu. (Al-Anfaal: 11)

Maksudnya, menyucikan kalian dari hadas kecil atau hadas besar, yakni penyucian lahiriah.

Dan menghilangkan dari kalian gangguan-gangguan setan. (Al-Anfaal: II)

Yaitu melenyapkan gangguan setan dan bisikannya yang jahat, hal ini merupakan penyucian batin. Pengertian ini sama dengan apa yang dikatakan oleh Allah Subhaanahu wa Ta’aala dalam kisah ahli surga, yaitu:

عَالِيَهُمْ ثِيَابُ سُنْدُسٍ خُضْرٌ وَإِسْتَبْرَقٌ وَحُلُّوا أَسَاوِرَ مِنْ فِضَّةٍ

Mereka memakai pakaian sutera halus yang hijau dan sutera tebal dan dipakaikan kepada mereka gelang terbuat dari perak (Al-Insan:21)

Hal ini merupakan perhiasan lahiriah.  Dalam firman selanjutnya disebutkan:

وَسَقَاهُمْ رَبُّهُمْ شَرَابًا طَهُورًا

Dan Tuhan memberikan kepada mereka minuman yang bersih (Al-Insan: 21)

Yakni untuk menyucikan kedengkian, kebencian, dan permusuhan yang ada di dalam hati mereka; hal ini merupakan, perhiasan batin dan penyuciannya.

BACA JUGA Kajian Tafsir ayat berikutnya .... 

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

Dan untuk menguatkan hati kalian. (Al-Anfaal: 11)

Yaitu dengan kesabaran dan pendirian yang kokoh dalam menghadapi musuh. Hal ini merupakan sifat keberanian yang tidak kelihatan,

Dan untuk memperteguh dengannya telapak kaki(kalian). (Al-Anfaal: 11)

Hal ini merupakan keberanian yang lahir, yakni yang tampak.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

 

Berita sebelumyaTeguhkanlah Pendirian Orang-orang yang Telah Beriman
Berita berikutnyaKemenangan Itu Hanyalah dari Sisi Allah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here