Ketika Melempar

Kajian Tafsir Surah Al-Anfaal ayat 17

0
16

Kajian Tafsir Surah Al-Anfaal ayat 17. Menaati Allah dan Rasul-Nya merupakan jalan untuk memperoleh kemuliaan di dunia dan akhirat; bukan kamu yang membunuh mereka, melainkan Allah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah yang melempar. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

فَلَمْ تَقْتُلُوهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ قَتَلَهُمْ وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ رَمَى وَلِيُبْلِيَ الْمُؤْمِنِينَ مِنْهُ بَلاءً حَسَنًا إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (١٧)

Maka (sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, melainkan Allah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sungguh, Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Q.S. Al-Anfaal : 17)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Fa lam taqtulūhum (maka [sebenarnya] bukanlah kalian yang membunuh mereka) pada Perang Badr.

Wa lākinnallāha qatalahum (tetapi Allah-lah yang membunuh mereka) dengan perantaraan Jibril ‘alaihis salam dan para malaikat.

Wa mā ramaita (dan bukan pula kamu yang melempar), yakni bukanlah kamu yang mengenakan debu ke muka orang-orang musyrik.

Idz ramaita wa lākinnallāha ramā (ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar), yakni yang mengenakannya.

Wa li yubliyal mu’minīna ([hal itu] untuk memberi kemenangan kepada kaum mukminin), yakni untuk memberi bantuan kepada kaum mukminin.

Minhu (dengannya), yakni dengan lemparan debu itu.

Balā-an (dengan kemenangan), yakni dengan bantuan.

Hasanā (yang baik), yaitu kemenangan dan ghanimah.

Innallāha samī‘un (sesungguhnya Allah Maha Mendengar) permohonan kalian.

‘Alīm (lagi Maha Mengetahui) untuk memberi kemenangan kepada kalian.

BACA JUGA Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-9 Lengkap 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

17.[4] Maka (sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, melainkan Allah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik[5]. Sungguh, Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui[6].

[4] Ketika kaum musyrik telah kalah, maka dalam ayat ini Allah menerangkan, bahwa sesungguhnya yang membunuh dan melempar mereka adalah Allah. Thabrani meriwayatkan dari Hakim bin Hizam ia berkata, “Ketika perang Badar, Rasulullah ﷺ memerintahkan (diambilkan batu kerikil), lalu Beliau mengambil segenggam batu kerikil dan menghadap kepada kami serta melempar kami dengannya. Beliau bersabda, “Muka-muka yang buruk.” Kami pun kalah, dan Allah Azza wa Jalla menurunkan firman-Nya, “Wa maa ramaita idz ramaita wa laakinnallaha ramaa (artinya: Dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah yang melempar).” Haitsami dalam Majma’ juz 2 hal. 84 berkata, “Sanadnya hasan.” Menurut Syaikh Muqbil bahwa perkataannya “Sanadnya hasan” maksudnya adalah hasan lighairihi. Syaikh Muqbil juga menjelaskan, bahwa Haitsami menghasankannya karena hadits tersebut memiliki syawahid (penguat dari jalan lain) dan mutaba’ah (penguat dari jalan yang sama), karena ia menyebutkan setelahnya, dari Ibnu Abas bahwa Nabi ﷺ bersabda kepada ‘Ali, “Berikanlah kepadaku segenggam batu kerikil.” Maka Ali memberikannya, lalu Beliau melemparkannya ke arah wajah-wajah kaum musyrik, sehingga tidak ada salah seorang di antara mereka kecuali kedua matanya penuh kerikil. Ketika itulah turun ayat, “Wa maa ramaita idz ramaita wa laakinnallaha ramaa.” Haitsami berkata, “Diriwayatkan oleh Thabrani. Para perawinya adalah para perawi kitab shahih.”

[5] Yaitu ghanimah. Ada pula yang menafsirkan, bahwa Allah Ta’ala sessungguhnya berkuasa untuk memenangkan kaum mukmin di atas orang-orang kafir tanpa perlu adanya peperangan, akan tetapi Allah ingin menguji orang-orang mukmin dengan jihad agar mereka mencapai derajat yang tinggi, kedudukan yang mulia dan mendapat pahala yang baik dan banyak.

[6] Allah mendengar apa yang dirahasiakan hamba dan apa yang ditampakkannya, dan mengetahui apa yang ada dalam hati manusia berupa niat yang baik dan yang buruk, sehingga Dia menetapkan untuk hamba taqdir yang sesuai ilmu-Nya, kebijaksanaan-Nya dan maslahat hamba-hamba-Nya, dan akan memberikan balasan masing-masingnya sesuai niat dan amalnya.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Maka yang sebenarnya bukan kamu yang membunuh mereka) di Badar dengan kekuatanmu (akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka) dengan melalui pertolongan-Nya yang Dia limpahkan kepada kalian (dan bukan kamu yang melempar) mata kaum musyrikin, hai Muhammad (ketika kamu melempar) dengan batu kerikil, sebab sekali lempar dengan segenggam batu kerikil yang dilakukan oleh manusia tidak akan dapat memenuhi mata bala tentara yang begitu banyaknya (tetapi Allahlah yang melempar) dengan cara mengenakan lemparan itu kepada mereka; hal ini sengaja Dia lakukan guna mengalahkan orang-orang kafir (dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin dengan kemenangan) yakni anugerah (yang baik) yang dimaksud adalah ganimah/harta rampasan perang. (Sesungguhnya Allah Maha Mendengar) perkataan mereka (lagi Maha Mengetahui) tentang keadaan mereka.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Subhaanahu wa Ta’aala menjelaskan bahwa Dialah Yang menciptakan perbuatan-perbuatan hamba-hamba-Nya, dan Dia Maha Terpuji atas semua perbuatan baik yang dilakukan oleh mereka, karena Dia-lah yang menggerakkan mereka untuk melakukannya dan membantu mereka untuk menyelesaikannya. Karena itu disebutkan oleh firman-Nya:

Maka (yang sebenarnya) bukan kalian yang membunuh mereka,, tetapi Allah-lah yang membunuh mereka. (Al-Anfaal: 17)

Maksudnya, bukan karena upaya kalian, bukan pula karena kekuatan kalian. Kalian dapat membunuh musuh-musuh kalian karena jumlah mereka jauh-lebih banyak daripada jumlah kalian. Dengan kata lain, bahkan Allah-lah yang membuat kalian beroleh kemenangan atas mereka. Seperti pengertian yang ada dalam ayat lain, yaitu:

وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنْتُمْ أَذِلَّةٌ

Sungguh Allah telah menolong kalian dalam peperangan Badar, padahal kalian adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. (Ali Imran: 123), hingga akhir ayat.

لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الأرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ

Sesungguhnya Allah telah menolong kalian (hai para mukmin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kalian menjadi congkak karena banyaknya jumlah kalian, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepada kalian sedikit pun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit oleh kalian, kemudian kalian lari ke belakang dengan bercerai-berai. (At-Taubah: 25)

Allah Subhaanahu wa Ta’aala memberitahukan bahwa kemenangan itu bukan diperoleh karena banyaknya bilangan personel, bukan pula karena lengkapnya peralatan, melainkan karena ada pertolongan dari sisi Allah Subhaanahu wa Ta’aala, seperti pengertian yang disebutkan di dalam ayat lainnya:

كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah, dan Allah beserta orang-orang yang sabar. (Al-Baqarah: 249)

Kemudian Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman pula kepada Nabi-Nya berkenaan dengan segenggam pasir yang ditaburkan Nabi ﷺ ke arah wajah orang-orang kafir dalam Perang Badar, yaitu ketika beliau keluar dari Al-‘Arisy setelah beliau berdoa dan memohon kepada Allah dengan rendah diri dan khusyuk. Beliau melempar mereka dengan segenggam pasir itu seraya bersabda, “Mudah-mudahan mata-mata mereka kelilipan.” Kemudian Nabi ﷺ memerintahkan pasukannya untuk membuktikan hal tersebut dengan menelusuri jejaknya, lalu mereka melakukan apa yang diperintahkannya. Ternyata Allah menyampaikan pasir itu ke mata semua kaum musyrik, sehingga tidak ada seorang pun dari mereka melainkan terkena oleh pasir tersebut dan menyibukkan dirinya. Karena itulah disebutkan dalam firman-Nya:

Dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Al-Anfaal: 17)

Yakni Allah-lah yang menyampaikan pasir itu ke mata mereka dan yang membuat mereka semua kelilipan, bukan kamu, hai Muhammad.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah ﷺ mengangkat kedua tangannya yakni pada waktu Perang Badar seraya berdoa:

يَا رَبِّ إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ، فَلَنْ تُعْبَدَ فِي الْأَرْضِ أَبَدًا

Ya Tuhanku, jika golongan ini binasa, maka Engkau tidak akan disembah lagi di muka bumi ini untuk selama-lamanya.

Lalu Malaikat Jibril berkata kepadanya, “Ambillah segenggam pasir, lalu lemparkanlah ke arah muka mereka.” Maka Nabi ﷺ mengambil segenggam pasir dan melemparkannya ke arah muka mereka. Maka tidak ada seorang musyrik pun melainkan matanya terkena pasir itu, hidung serta mulut mereka pun terkena pasir itu pula, sehingga akhirnya mereka mundur bercerai-berai.

As-Saddi mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda kepada Ali radiyallahu ‘anhu pada hari Perang Badar, “Berikanlah kepadaku segenggam pasir.” Lalu Ali memberikan segenggam pasir kepadanya, kemudian Nabi ﷺ melemparkan pasir itu ke arah wajah kaum musyrik. Maka tidak ada seorang musyrik pun melainkan matanya kemasukan pasir itu. Kemudian pasukan kaum mukmin datang mengiringinya dan membunuh serta menahan mereka. Allah berfirman:

Maka (yang sebenarnya) bukan kalian yang membunuh mereka, tetapi Allah-lah yang membunuh mereka; dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Al-Anfaal: 17)

Abu Ma’syar Al-Madani telah meriwayatkan dari Muhammad ibnu Qais dan Muhammad ibnu Ka’b Al-Qurazi. Mereka mengatakan bahwa ketika kedua belah pasukan saling berhadapan satu sama lainnya, maka Rasulullah ﷺ mengambil segenggam pasir dan melemparkannya ke arah wajah pasukan kaum musyrik seraya bersabda, “Semoga wajah mereka kelilipan.” Maka masuklah pasir itu ke mata mereka semuanya. Kemudian sahabat Rasulullah ﷺ datang menyerang dan membunuh serta menahan mereka. Tersebutlah bahwa kekalahan pasukan kaum musyrik terjadi karena lemparan Rasulullah itu. Lalu Allah Subhaanahu wa Ta’aala menurunkan firman-Nya: dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allahlah yang melempar. (Al-Anfaal: 17)

Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Aliahlah yang melempar. (Al-Anfaal: 17) Hal ini terjadi dalam Perang Badar. Rasulullah ﷺ mengambil tiga genggam pasir, lalu melemparkannya ke arah sayap kanan pasukan musuh, dan melemparkannya lagi ke arah sayap kiri pasukan musuh, kemudian melemparkannya lagi ke arah sayap depan pasukan musuh, seraya bersabda, “Semoga mata-mata mereka kelilipan.” Akhirnya musuh terpukul mundur.

Kisah ini telah diriwayatkan pula dari Urwah, Mujahid, Ikrimah, Qatadah, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang dari kalangan para imam ahli hadits. Mereka mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan lemparan pasir yang dilakukan oleh Nabi ﷺ  dalam Perang Badar, sekalipun beliau ﷺ melakukan pula hal yang sama dalam Perang Hunain.

Abu Ja’far ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Mansur, telah menceritakan kepada kami Ya’qub ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz ibnu Imran, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Ya’qub ibnu Abdullah ibnu Rabi’ah, dari Yazid ibnu Abdullah, dari Abu Bakar ibnu Sulaiman ibnu Abu Khaisamah, dari Hakim ibnu Hizam yang menceritakan, “Ketika Perang Badar meletus, kami mendengar suara dari langit seakan-akan seperti suara batu kerikil yang jatuh ke dalam sebuah piala. Rasulullah ﷺ lah yang melakukan lemparan itu sehingga kami dapat memukul mundur musuh.” Bila ditinjau dari segi ini maka riwayat ini garib. Berikut ini ada dua pendapat lainnya yang garib sekali, yaitu:

Pertama, Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Auf At-Ta’i, telah menceritakan kepada kami Abul Mugirah, telah menceritakan kepada kami Safwan ibnu Amr, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Jubair, bahwa Rasulullah ﷺ ketika berperang melawan Ibnu Abul Haqiq di Khaibar, beliau meminta sebuah busur, lalu didatangkan kepadanya sebuah busur yang panjang, tetapi Rasul ﷺ bersabda, “Berikanlah kepadaku busur lainnya!” Maka mereka mendatangkan busur yang tidak panjang, kemudian Nabi ﷺ membidikkan panahnya ke arah benteng Khaibar. Maka panah yang dilepaskan oleh Nabi ﷺ melesat tinggi dan jatuh mengenai Ibnu Abul Haqiq yang berada di tempat tidurnya hingga ia mati. Maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala menurunkan firman-Nya: dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allahlah yang melempar. (Al-Anfaal: 17)

Riwayat ini berpredikat garib, tetapi sanadnya jayyid (baik) sampai kepada Abdur Rahman ibnu Jubair ibnu Nafir. Barangkali ia keliru, atau dia bermaksud bahwa ayat ini bermakna umum mencakup kesemuanya. Jika tidak demikian maka konteks ayat dalam surat Al-Anfaal menunjukkan kisah Perang Badar, tanpa diragukan lagi; dan hal ini tidaklah samar bagi semua imam ahlul ‘ilmi.

Kedua, Ibnu Jarir meriwayatkan begitu juga Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya dengan sanad yang sahih sampai kepada Sa’id ibnul Musayyab dan Az-Zuhri. Disebutkan bahwa keduanya mengatakan, “Ayat ini diturunkan berkenaan dengan lemparan yang dilakukan oleh Nabi ﷺ dalam Perang Uhud, ditujukan kepada Ubay ibnu Khalaf. Yaitu lemparan tombak kecil, sedangkan saat itu Ubay ibnu Khalaf memakai baju besi. Lalu tombak itu melukai bagian tenggorokannya, sehingga ia jatuh terjungkal berkali-kali dari atas kudanya, dan luka itulah yang membawa kepada kematiannya beberapa hari kemudian. Selama lukanya itu dia mengalami siksaan yang sangat pedih, dan siksaannya itu terus berlangsung sampai ke alam barzakh yang terus berhubungan dengan azab akhirat.”

Kedua pendapat yang diutarakan oleh kedua imam ini pun garib sekali. Barangkali keduanya bermaksud bahwa ayat ini bersifat umum dan mencakup kesemuanya itu, bukan hanya diturunkan berkenaan dengan Perang Badar saja secara khusus.

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Ja’far ibnu Zubair, dari Urwah ibnuz Zubair sehubungan dengan firman-Nya: (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. (Al-Anfaal: 17)

Yakni agar orang-orang mukmin merasakan nikmat-Nya kepada mereka, yaitu dimenangkan-Nya mereka atas musuh-musuh mereka sekalipun bilangan musuh mereka jauh lebih banyak, sedangkan bilangan mereka sendiri sedikit. Dan agar dengan hal tersebut mereka mengakui apa yang harus mereka lakukan kepada-Nya, yaitu mensyukuri nikmat-Nya kepada mereka. Demikian pula menurut apa yang ditafsirkan oleh Ibnu Jarir. Di dalam sebuah hadits disebutkan,

وَكُلُّ بَلَاءٍ حَسَنٌ أَبْلَانَا

“Semua ujian yang baik pernah ditimpakan oleh Allah kepada kami.”

BACA JUGA Kajian Tafsir ayat berikutnya .... 

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al-Anfaal: 17)

Artinya, Maha Mendengar semua doa, lagi Maha Mengetahui siapa orang-orang yang berhak beroleh pertolongan dan kemenangan.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here