Berbelok untuk Siasat

Kajian Tafsir Surah Al-Anfaal ayat 16

0
59

Kajian Tafsir Surah Al-Anfaal ayat 16. Menaati Allah dan Rasul-Nya merupakan jalan untuk memperoleh kemuliaan di dunia dan akhirat, serta larangan melarikan diri dari pertempuran; kecuali berbelok untuk siasat. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَمَنْ يُوَلِّهِمْ يَوْمَئِذٍ دُبُرَهُ إِلا مُتَحَرِّفًا لِقِتَالٍ أَوْ مُتَحَيِّزًا إِلَى فِئَةٍ فَقَدْ بَاءَ بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ وَمَأْوَاهُ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ (١٦)

Dan barang siapa mundur pada waktu itu, kecuali berbelok untuk (sisat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sungguh, orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah. Tempatnya ialah neraka Jahanam, dan seburuk-buruk tempat kembali. (Q.S. Al-Anfaal : 16)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa may yuwallihim (dan barangsiapa yang berpaling dari mereka), yakni meninggalkan mereka.

Yauma-idzin (pada waktu itu), yakni pada Perang Badr.

Duburahū (ke belakang), yakni lari tunggang langgang.

Illā mutaharrifal li qitālin (kecuali berpaling untuk [strategi] perang), yakni mundur sebagai siasat perang. Menurut pendapat yang lain, mundur untuk melakukan penyerangan.

Au mutahayyizan ilā fi-atin (atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain) yang akan menolong dan membela dia.

Fa qad bā-a bi ghadlabim minallāhi (maka sungguh ia telah kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah), yakni maka sungguh ia telah kembali dari medan perang dan memastikan dirinya mendapat Murka dari Allah Ta‘ala.

Wa ma‘wāhū (dan tempatnya), yakni tempat dia kembali.

Jahannam, wa bi’sal mashīr (adalah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembali itu), yakni tempat kembali yang dia tuju.

BACA JUGA Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-9 Lengkap 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Dan barang siapa mundur pada waktu itu, kecuali berbelok untuk (sisat) perang[1] atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain[2], maka sungguh, orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah. Tempatnya ialah neraka Jahanam, dan seburuk-buruk tempat kembali[3].

[1] Seperti memperlihatkan kepada musuh seakan-akan lari ke belakang sebagai tipu daya, padahal akan kembali menyerang atau berpindah dari satu tempat ke tempat lain agar lebih mudah memerangi.

[2] Yakni meminta bantuan kepada pasukan kaum muslimin yang lain. Jika pasukan lain berada dekat dengannya (di sekitar medan peperangan), maka masalahnya sudah jelas, yakni boleh. Tetapi apabila pasukan lain di luar medan peperangan, misalnya kaum muslimin kalah dan pergi menuju ke salah satu negeri kaum muslimin atau ke pasukan lain dari pasukan kaum muslimin, maka telah ada riwayat dari para sahabat yang menunjukkan bolehnya. Namun mungkin saja, hal ini apabila mundur lebih baik akibatnya, akan tetapi apabila mereka melihat jika tetap di tempat dapat mengalahkan musuh, maka dalam hal ini tidak termasuk keadaan yang diberi rukhshah (keringanan) sehingga mereka tidak boleh mundur. Ayat ini masih mutlak, dan akan disebutkan di akhir surat batasan jumlahnya yang membolehkan mundur.

[3] Hal ini apabila kaum kafir tidak berjumlah lebih dari dua kali lipat kaum muslimin sebagaimana akan diterangkan nanti. Ayat ini menunjukkan bahwa melarikan diri dari peperangan merupakan dosa yang besar.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Barang siapa yang membelakangi mereka di waktu itu) ketika berhadapan dengan mereka di medan peperangan (dalam keadaan mundur kecuali berbelok) mengelak (untuk siasat perang) dengan cara berpura-pura lari tetapi untuk tujuan menyerang (atau menggabungkan diri) menyatu (dengan pasukan yang lain) dengan pasukan kaum Muslimin lainnya meminta tolong kepada mereka (maka sesungguhnya orang itu kembali) pulang (dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahanam. Dan amat buruklah tempat kembalinya) sejelek-jelek tempat kembali ialah neraka Jahanam. Keadaan ini khusus jika orang-orang kafir tidak makin bertambah lemah.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala

Barang siapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang. (Al-Anfaal: 16)

Yaitu lari dari teman-temannya sebagai siasat perang, untuk memperlihatkan kepada musuh bahwa dia takut kepada musuh, hingga musuh mengejarnya. Kemudian secara mendadak ia berbalik menyerang dan membunuh musuhnya, maka cara seperti ini tidak dilarang. Demikianlah menurut apa yang telah dinaskan oleh Sa’id ibnu Jubair dan As-Saddi.

Ad-Dahhak mengatakan, misalnya seseorang maju di hadapan teman-temannya karena dia melihat adanya kelalaian pada pihak musuh, sehingga ia berhasil memanfaatkan situasi ini dan dapat membunuh musuhnya.

Atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan lain. (Al-Anfaal: 16)

Artinya, lari dari suatu kelompok ke kelompok yang lain di dalam pasukan kaum muslim untuk membantu mereka atau untuk meminta bantuan mereka; hal ini diperbolehkan. Hingga seandainya ia berada di dalam suatu sariyyah (pasukan khusus), lalu ia lari ke arah amirnya atau kepada imam besarnya, maka hal ini termasuk ke dalam pengertian kemurahan yang disebutkan dalam ayat ini.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا حَسَنٌ، حَدَّثَنَا زُهَيْر، حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ أَبِي زِيَادٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: كُنْتُ فِي سَرِيَّةٍ مِنْ سَرَايَا رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَحَاصَ النَّاسُ حَيْصَةً وَكُنْتُ فِيمَنْ حَاصَ  فَقُلْنَا: كَيْفَ نَصْنَعُ وَقَدْ فَرَرْنَا مِنَ الزَّحْفِ وَبُؤْنَا بِالْغَضَبِ؟ ثُمَّ قُلْنَا: لَوْ دَخَلْنَا الْمَدِينَةَ فَبِتْنَا؟ ثُمَّ قُلْنَا: لَوْ عَرَضْنَا أَنْفُسَنَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَإِنْ كَانَتْ لَنَا تَوْبَةٌ وَإِلَّا ذَهَبْنَا؟ فَأَتَيْنَاهُ قَبْلَ صَلَاةِ الْغَدَاةِ، فَخَرَجَ فَقَالَ: مَنِ الْقَوْمُ؟  فَقُلْنَا: نَحْنُ الْفَرَّارُونَ. فَقَالَ: لَا بَلْ أَنْتُمُ العَكَّارون، أَنَا فِئَتُكُمْ، وَأَنَا فِئَةُ الْمُسْلِمِينَ  قَالَ: فَأَتَيْنَاهُ حَتَّى قَبَّلنا يَدَهُ

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasan, telah menceritakan kepada kami Zuhair, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Abu Ziyad, dari Abdur Rahman ibnu Abu Laila, dari Abdullah ibnu Umar radiyallahu ‘anhu yang mengatakan, “Saya termasuk di dalam suatu pasukan yang dikirimkan oleh Rasulullah ﷺ. Kemudian orang-orang terpukul mundur dan lari, sedangkan saya termasuk orang-orang yang mundur. Lalu kami berkata, ‘Apakah yang harus kita perbuat, sedangkan kita telah lari dari serangan musuh dan kita kembali dalam keadaan beroleh murka Allah?’ Akhirnya kami mengatakan, ‘Sebaiknya kita kembali ke Madinah dan menginap.’ Dan kami berkata lagi, “Bagaimana kalau kita tanyakan perihal diri kita ini kepada Rasulullah ﷺ. Jika masih ada pintu tobat buat kita, kita akan bertobat; dan jika tidak ada, maka kita akan berangkat kembali.’ Kemudian kami menghadap kepadanya sebelum shalat Subuh. Beliau ﷺ keluar (dari rumahnya) seraya bertanya, ‘Siapakah kaum ini?’ Maka kami menjawab, ‘Kami adalah orang-orang yang lari dari medan perang? Nabi ﷺ bersabda: ‘Bukan, bahkan kalian adalah orang-orang yang sedang melakukan siasat perang, saya sendiri termasuk golongan pasukan kaum muslim. Ibnu Umar melanjutkan kisahnya, “Lalu kami (para sahabat yang bertugas dalam sariyyah itu) mendekati beliau dan mencium tangan beliau.”

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Abu Daud, Turmuzi. dan Ibnu Majah melalui berbagai jalur dari Yazid ibnu Abu Ziyad. Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadits ini hasan, kami tidak mengenalnya melainkan melalui hadits Ibnu Abi Ziyad.

Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkannya melalui hadits Yazid ibnu Abu Ziyad dengan sanad yang sama, yang pada penghujungnya disebutkan bahwa lalu Rasulullah ﷺ  membacakan firman-Nya:

Atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain. (Al-Anfaal: 16)

Menurut ahlul ‘ilmi, makna al-‘akkaruna yang ada dalam hadits ini ialah orang-orang yang menggunakan siasat perang.

Hal yang sama telah dikatakan oleh Umar ibnul Khattab radiyallahu ‘anhu sehubungan dengan gugurnya Abu Ubaidah di atas sebuah jembatan di negeri Persia ketika berperang melawan musuh. Ia gugur karena banyaknya pasukan pihak Majusi yang menyerangnya. Lalu Umar berkata, “Sekiranya dia bergabung kepadaku (yakni mundur untuk mencari bantuan), niscaya aku akan menjadi pasukan pembantunya.”

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Muhammad ibnu Sirin, dari Umar.

Menurut riwayat Abu Usman An-Nahdi melalui Umar, ketika Abu Ubaidah gugur, Umar berkata, “Hai manusia, aku adalah pasukan kalian juga. “Mujahid mengatakan bahwa Umar telah mengatakan, “Saya adalah pasukan semua orang muslim.””

Abdul Malik ibnu Umair telah meriwayatkan dari Umar, “Hai manusia, jangan sekali-kali kalian salah pengertian terhadap ayat ini, sesungguhnya kisah dalam ayat ini hanya terjadi dalam Perang Badar, aku adalah pasukan setiap orang muslim.”

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Hissan ibnu Abdullah Al-Masri, telah menceritakan kepada kami Khallad ibnu Sulaiman Al-Hadrami, telah menceritakan kepada kami Nafi’, bahwa Nafi’ pernah bertanya kepada ibnu Umar, “Sesungguhnya kami adalah suatu kaum yang tidak kokoh dalam peperangan melawan musuh, sedangkan kami tidak mengerti apakah yang dimaksud dengan lafaz al-fi-ah, apakah ia imam kami atau basis pasukan kami?” Ibnu Umar menjawab, “Sesungguhnya yang dimaksud dengan al-fi-ah ialah Rasulullah ﷺ sendiri.” Saya (Nafi’) mengatakan, sesungguhnya Allah Swt telah berfirman: apabila kalian bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerang kalian. (Al-Anfaal: 15), hingga akhir ayat. Ibnu Umar menjawab, “Sesungguhnya ayat ini hanyalah diturunkan di waktu Perang Badar, bukan sebelumnya, bukan pula sesudahnya.”

BACA JUGA Kajian Tafsir ayat berikutnya .... 

Ad-Dahhak mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain. (Al-Anfaal: 16) Yakni yang lari untuk menggabungkan diri dengan Nabi dan para sahabatnya.

Hal yang sama dikatakan terhadap orang yang lari dari medan perang pada hari itu (di masa pemerintahan Khal ifah Umar) untuk bergabung dengan amir dan teman-temannya.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Berita sebelumyaLari Bukan Karena Suatu Penyebab
Berita berikutnyaLarangan Melarikan Diri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here