Gembiranya Kaum Munafik

Kajian Tafsir Surah At-Taubah ayat 50-51

0
192

Kajian Tafsir Surah At-Taubah ayat 50-51. Gembiranya kaum munafik terhadap apa yang menimpa kaum mukmin berupa cobaan atau kekalahan. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

إِنْ تُصِبْكَ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكَ مُصِيبَةٌ يَقُولُوا قَدْ أَخَذْنَا أَمْرَنَا مِنْ قَبْلُ وَيَتَوَلَّوْا وَهُمْ فَرِحُونَ (٥٠) قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلانَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ (٥١)

Jika engkau (Muhammad) mendapat kebaikan, mereka tidak senang; tetapi jika engkau ditimpa bencana, mereka (kaum munafik) berkata, “Sungguh, sejak semula kami telah berhati-hati (tidak pergi perang).” Dan mereka berpaling dengan perasaan gembira. (Q.S. At-Taubah : 50)

Katakanlah (Muhammad), “Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah bertawakkallah orang-orang yang beriman.” (Q.S. At-Taubah : 51)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Iη tushibka hasanatun (jika kamu mendapat kebaikan), yakni kemenangan dan ghanimah seperti pada Perang Badr.

Tasu’hum (maka hal itu membuat mereka berduka), yakni hal itu membuat orang-orang munafik menjadi sedih.

Wa iη tushibka mushībatun (namun, jika kamu ditimpa suatu bencana), yakni kekalahan seperti yang terjadi pada Perang Uhud.

Yaqūlū (mereka pun berkata), yakni orang-orang munafik itu, ‘Abdullah bin Ubay dan teman-temannya berkata ….

Qad akhadznā amranā (“Sungguh kami telah memperhatikan urusan kami), yakni telah berhati-hati dengan tidak turut serta bersama mereka.

Ming qablu (sebelumnya”), yakni sebelum terjadinya musibah itu.

Wa yatawallau (dan mereka berpaling) dari jihad.

Wa hum farihūn (dengan bersukacita), yakni dengan perasaan senang atas hal-hal yang menimpa Nabi ﷺ dan para shahabatnya pada Perang Uhud.

Qul (katakanlah), hai Muhammad, kepada orang-orang munafik!

Lay yushībanā illā mā kataballāhu lanā (sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditentukan Allah bagi kami), yakni apa yang ditetapkan Allah Ta‘ala bagi kami.

Huwa maulānā (Dia-lah Pelindung kami) yang paling dekat kepada kami.

Wa ‘alallāhi falyatawakkalil mu’minūn (dan hanya kepada Allah-lah orang-orang yang beriman hendaknya bertawakal), yakni dan kaum Mukminin hendaklah hanya bertawakal kepada Allah Ta‘ala.

BACA JUGA Kajian Tafsir Juz Ke-10 untuk ayat lainnya

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Jika engkau (Muhammad) mendapat kebaikan[1], mereka tidak senang; tetapi jika engkau ditimpa bencana, mereka (kaum munafik) berkata, “Sungguh, sejak semula kami telah berhati-hati (tidak pergi perang).” Dan mereka berpaling dengan perasaan gembira.

[1] Seperti kemenangan dan ghanimah.

  1. Katakanlah (Muhammad), “Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami[2]. Dialah pelindung kami[3], dan hanya kepada Allah bertawakkallah orang-orang yang beriman[4].”

[2] Dalam Al Lauhul Mahfuzh.

[3] Yakni Pengatur urusan kami, baik yang terkait dengan agama maupun dunia. Oleh karena itu, sikap kami adalah ridha dengan qadar-Nya, dan kami tidak berkuasa apa-apa.

[4] Hanya kepada Alah kaum mukmin bersandar dalam menarik maslahat dan menghindarkan madharat serta mempercayakan kepada-Nya dalam mewujudkan apa yang mereka inginkan. Oleh karena itu, tidak akan kecewa orang-orang yang bertawakkal, sedangkan orang-orang yang tidak bertawakkal kepada-Nya, maka ia akan kecewa dan tidak memperoleh apa yang diharapkannya.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Jika kamu mendapat sesuatu kebaikan) seperti mendapat kemenangan dan ganimah (mereka merasa tidak senang karenanya dan jika kamu ditimpa oleh suatu bencana) yaitu keadaan yang kritis (mereka berkata, “Sesungguhnya kami telah memikirkan urusan kami) secara matang sewaktu kami tidak ikut berangkat (sebelumnya.”) sebelum terjadinya bencana ini (kemudian mereka berpaling dengan rasa gembira) atas musibah yang telah menimpamu.
  2. (Katakanlah,) kepada mereka (“Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami) yaitu bencana. (Dialah pelindung kami) yang menolong dan yang mengatur urusan-urusan kami (dan hanya kepada Allahlah orang-orang yang beriman harus bertawakal.”)

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Subhaanahu wa Ta’aala memberitahukan kepada Nabi-Nya perihal permusuhan yang terpendam di dalam hati orang-orang munafik itu. bahwa apabila Nabi beroleh kebaikan (yakni kemenangan dan pertolongan serta ganimah dari musuh-musuhnya yang membuat Nabi ﷺ dan para sahabatnya hidup dalam kemudahan), maka hal itu membuat mereka tidak senang.

Dan jika kamu ditimpa oleh suatu bencana, mereka berkata, “Sesungguhnya kami sebelumnya telah memperhatikan urusan kami (tidak pergi berperang).” (At-Taubah: 50)

Yakni kami sebelumnya selalu menghindar untuk tidak mengikutimu.

Dan mereka berpaling dengan rasa gembira (At-Taubah :  50)

Kemudian Allah Subhaanahu wa Ta’aala memberikan petunjuk kepada Rasulullah ﷺ bagaimana cara menjawab permusuhan mereka yang sangat keras itu. Untuk itu, Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

Katakanlah. (At-Taubah: 51)

Hai Muhammad, kepada mereka.

Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. (At-Taubah: 51)

Artinya. kami sepenuhnya berada di bawah kehendak dan kekuasaan Allah Subhaanahu wa Ta’aala

Dialah Pelindung kami. (At-Taubah: 51)

Yaitu Tuhan kami dan tempat kami berlindung.

BACA JUGA ayat berikutnya ....

Dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal. (At-Taubah: 51)

Yakni kami bertawakal kepada-Nya, Dialah yang mencukupi kami, Dia adalah sebaik-baik Pelindung.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

 

Artikulli paraprakAllah Akan Menimpakan Azab
Artikulli tjetërMengatur Berbagai Tipu Daya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini