Allah Telah Mengunci Hati Mereka

Kajian Tafsir Surah At-Taubah ayat 92-93

0
290

Kajian Tafsir Surah At-Taubah ayat 92-93. Menerangkan tentang orang-orang yang mendapatkan uzur dan celaan kepada orang-orang yang tidak ikut berjihad tanpa ada uzur dan Allah telah mengunci hati mereka, sehingga mereka tidak mengetahui akibat perbuatan mereka. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَلا عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لا أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ تَوَلَّوْا وَأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا أَلا يَجِدُوا مَا يُنْفِقُونَ (٩٢) إِنَّمَا السَّبِيلُ عَلَى الَّذِينَ يَسْتَأْذِنُونَكَ وَهُمْ أَغْنِيَاءُ رَضُوا بِأَنْ يَكُونُوا مَعَ الْخَوَالِفِ وَطَبَعَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لا يَعْلَمُونَ (٩٣)

Dan tidak ada (pula) dosa atas orang-orang yang datang kepadamu (Muhammad), agar engkau memberi kendaraan kepada mereka, lalu engkau berkata, “Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu,” lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena sedih, disebabkan mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka infakkan (untuk ikut berperang). (Q.S. At-Taubah : 92)

Sesungguhnya alasan (untuk menyalahkan) hanyalah terhadap orang-orang yang meminta izin kepadamu (untuk tidak ikut berperang) padahal mereka orang kaya. Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak ikut berperang dan Allah telah mengunci hati mereka, sehingga mereka tidak mengetahui (akibat perbuatan mereka). (Q.S. At-Taubah : 93)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa lā ‘alal ladzīna idzā mā atauka li tahmilahum (dan tidak ada pula [dosa] atas orang-orang yang ketika mereka datang kepadamu agar kamu membawa mereka), yakni agar kamu menanggung nafkah mereka untuk berjihad. Mereka adalah ‘Abdullah bin Mughaffal bin Yasar al-Muzani, Salim bin ‘Umair al-Anshari, dan sahabat-sahabat mereka.

Qulta (lalu kamu katakan) kepada mereka.

Lā ajidu mā ahmilukum ‘alaihi (“Aku tidak mendapatkan apa yang dapat membawa kalian”), yakni tidak mempunyai biaya yang dapat membawa kalian ke medan jihad.

Tawallau (mereka pun kembali), yakni mereka pergi dari hadapanmu.

Wa a‘yunuhum tafīdlu (sedang mata mereka meneteskan), yakni mencucurkan.

Minad dam‘i hazanan allā yajidū (air mata karena sedih tidak memperoleh), yakni lantaran mereka tidak mendapatkan.

Mā yuηfiqūn (apa yang dapat mereka nafkahkan) dalam berjihad.

Innamas sabīlu (sesungguhnya jalan hanyalah), yakni sesungguhnya dosa hanyalah.

‘Alal ladzīna yasta’dzinūnaka (atas orang-orang yang meminta izin kepadamu) untuk tidak berangkat.

Wa hum aghniyā-u (padahal mereka adalah orang-orang yang memiliki kecukupan) harta. Mereka adalah ‘Abdullah bin Ubay, Jadd bin Qais, Mu‘tab bin Qusyair, dan kawan-kawan mereka yang berjumlah sekitar tujuh puluh orang.

Radlū bi ay yakūnū ma‘al khawālifi (mereka senang berada bersama orang-orang yang tidak ikut berperang), yakni bersama kaum perempuan dan anak-anak.

Wa thaba‘allāhu (dan Allah telah mengunci mati), yakni Allah Ta‘ala telah menyegel.

‘Alā qulūbihim fa hum lā ya‘lamūn (hati mereka, karena itu maka mereka tidak mengetahui) dan tidak pula membenarkan Perintah Allah Ta‘ala.


BACA JUGA : Kajian Tafsir Juz Ke-10 untuk ayat lainnya

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Dan tidak ada (pula) dosa atas orang-orang yang datang kepadamu (Muhammad), agar engkau memberi kendaraan kepada mereka[36], lalu engkau berkata, “Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu,” lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena sedih[37], disebabkan mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka infakkan (untuk ikut berperang)[38].

[36] Mereka adalah tujuh orang Anshar, ada yang mengatakan, bahwa mereka adalah Bani Muqarrin.

[37] Maksudnya mereka bersedih hati karena tidak mempunyai harta yang akan diinfakkan dan kendaraan untuk membawa mereka pergi berperang.

[38] Mereka memiliki niat baik dan berusaha melakukannya semampunya, namun niatnya tidak tercapai, maka ia dianggap seperti orang yang melakukannya secara sama.

  1. Sesungguhnya alasan (untuk menyalahkan) hanyalah terhadap orang-orang yang meminta izin kepadamu (untuk tidak ikut berperang) padahal mereka orang kaya[39]. Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak ikut berperang dan Allah telah mengunci hati mereka[40], sehingga mereka tidak mengetahui (akibat perbuatan mereka).

[39] Lagi mampu berperang.

[40] Sehingga tidak mungkin dimasuki oleh kebaikan dan tidak mengetahui hal yang bermaslahat bagi mereka baik agama maupun dunia.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan tiada pula dosa atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu supaya kamu memberi mereka kendaraan) untuk berangkat berperang bersamamu; jumlah mereka ada tujuh orang yang semuanya berasal dari kalangan sahabat Ansar. Akan tetapi menurut pendapat lain dikatakan bahwa mereka semua berasal dari Bani Muqarrin (lalu kamu berkata, “Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawa kalian.”) jumlah ayat ini menjadi hal/kalimat keterangan (lalu mereka kembali) lafal ayat ini menjadi jawab dari kata idzaa, artinya mereka bubar kembali ke rumah masing-masing (sedangkan mata mereka bercucuran) yakni mengalirkan (berupa) lafal min di sini mempunyai arti bayan/kata penjelasan/kata penafsir (air mata karena kesedihan) lantaran mereka (tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan) untuk berjihad.
  2. (Sesungguhnya jalan untuk menyalahkan itu hanyalah terhadap orang-orang yang meminta izin kepadamu) untuk tidak ikut berangkat berjihad (padahal mereka itu orang-orang kaya. Mereka rela berada bersama-sama orang-orang yang tidak ikut berperang dan Allah telah mengunci mati hati mereka, maka mereka tidak mengetahui) akibat perbuatan mereka.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Mujahid telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan. (At-Taubah: 92) Ayat ini diturunkan berkenaan dengan Bani Muqarrin dari kalangan Bani Muzayyanah. Muhammad ibnu Ka’b mengatakan bahwa jumlah mereka ialah tujuh orang, dari Bani Amr ibnu Auf adalah Salim ibnu Auf, dari Bani Waqif adalah Harami ibnu Amr, dari Bani Mazin ibnun Najjar adalah Abdur Rahman ibnu Ka’b yang dijuluki Abu Laila, dari Banil Ma’la adalah Fadlullah, dan dari Bani Salamah adalah Amr Ibnu Atabah dan Abdullah ibnu Amr Al Muzani.

Muhammad ibnu Ishaq dalam konteks riwayat mengenai Perang Tabuk mengatakan bahwa ada segolongan kaum lelaki datang meng­hadap Rasulullah ﷺ seraya menangis, mereka ada tujuh orang yang terdiri atas kalangan Ansar dan lain-lainnya. Dari Bani Amr ibnu Auf adalah Salim ibnu Umair, lalu Ulayyah ibnu Zaid (saudara lelaki Bani Harisah), Abu Laila Abdur Rahman ibnu Ka’b (saudara lelaki Bani Mazin ibnun Najjar), Amr ibnul Hamam ibnul Jamuh (saudara lelaki Bani Salamah), dan Abdullah ibnul Mugaffal Al-MuZani. Menurut sebagian orang, dia adalah Abdullah ibnu Amr Al-Muzani, lalu Harami ibnu Abdullah (saudara lelaki Waqif), dan Iyad ibnu Sariyah Al-Fazzari. Mereka meminta kendaraan kepada Rasulullah ﷺ agar dapat berangkat berjihad, karena mereka adalah orang-orang yang tidak mampu. Maka Rasulullah ﷺ bersabda, seperti yang disitir oleh firman-Nya: “Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawa kalian, ” niscaya mereka kembali, sedangkan mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan. (At-Taubah: 92)

قَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ الْأَوْدِيُّ، حَدَّثَنَا وَكيع، عَنِ الرَّبِيعِ، عَنِ الْحَسَنِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَقَدْ خَلَّفْتُمْ بِالْمَدِينَةِ أَقْوَامًا، مَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ نَفَقَةٍ، وَلَا قَطَعْتُمْ وَادِيًا، وَلَا نِلْتُمْ مِنْ عَدُوٍّ نَيْلًا إِلَّا وَقَدْ شَركوكم فِي الْأَجْرِ، ثُمَّ قَرَأَ: وَلا عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَا أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ الْآيَةَ

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Amr ibnul Audi, telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Ar-Rabi’, dari Al-Hasan yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: Sesungguhnya kalian telah meninggalkan banyak kaum di Madinah; tidak sekali-kali kalian mengeluarkan suatu nafkah dan tidak sekali-kali kalian menempuh suatu lembah dan tidak sekali-kali kalian memperoleh suatu kemenangan atas musuh, melainkan mereka bersekutu dengan kalian dalam perolehan pahala. Kemudian Nabi membacakan firman-Nya : dan tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata, “Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawa kalian.” (At-Taubah: 92), hingga akhir ayat.

Asal hadis di dalam kitab Sahihain melalui riwayat Anas radiyallahu ‘anhu yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

إِنَّ بِالْمَدِينَةِ أَقْوَامًا مَا قَطَعْتُمْ وَادِيًا، وَلَا سِرْتُمْ [مَسِيرًا] إِلَّا وَهُمْ مَعَكُمْ. قَالُوا: وَهُمْ بِالْمَدِينَةِ؟ قَالَ: نَعَمْ، حَبَسَهُمُ الْعُذْرُ

Sesungguhnya di Madinah terdapat kaum-kaum; tidak sekali-kali kalian menempuh suatu lembah, tidakpula kalian menempuh suatu perjalanan, melainkan mereka selalu beserta kalian. Para sahabat bertanya, “Padahal mereka di Madinah?” Rasulullah bersabda, “Ya, mereka tertahan oleh uzurnya.”

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا وَكِيع، حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ، عَنْ أَبِي سُفْيَانَ، عَنْ جَابِرٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَقَدْ خَلَّفْتُمْ بِالْمَدِينَةِ رِجَالًا مَا قَطَعْتُمْ وَادِيًا، وَلَا سَلَكْتُمْ طَرِيقًا إِلَّا شَركوكم فِي الْأَجْرِ، حَبَسَهُمُ الْمَرَضُ

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Waki’, telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, dari Abu Sufyan, dari Jabir yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Sesungguhnya kalian telah meninggalkan banyak kaum lelaki di Madinah; tidak sekali-kali kalian menempuh suatu lembah, tidak pula suatu jalan, melainkan mereka bersekutu dengan kalian dalam perolehan pahala, mereka tertahan oleh sakitnya.

Imam Muslim dan Imam Ibnu Majah telah meriwayatkannya melalui berbagai jalur dari Al-A’Masy dengan sanad yang sama.

Kemudian Allah Allah Subhaanahu wa Ta’aala menunjukkan cela-Nya terhadap orang-orang yang meminta izin untuk tinggal di tempat dan tidak mau pergi berjihad, padahal mereka adalah orang-orang kaya. Allah mengecam kerelaan mereka yang memilih duduk di Madinah bersama kaum wanita yang ditinggalkan di kemahnya masing-masing. Hal ini diungkapkan melalui firman-Nya:

وَطَبَعَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

Dan Allah telah mengunci mati hati mereka, maka mereka tidak mengetahui (akibat perbuatan mereka). (At-Taubah: 93)

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Berita sebelumyaPerihal Orang-orang Munafik
Berita berikutnyaTidak Ada Alasan Apa Pun untuk Menyalahkan Orang-orang yang Berbuat Baik

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here