Masing-masing Berbeda Balasannya

Kajian Tafsir Surah At-Taubah ayat 98-99

0
25

Kajian Tafsir Surah At-Taubah ayat 98-99. Orang-orang Arab badui terbagi dua; ada yang munafik dan ada yang mukmin, dan masing-masing berbeda balasannya. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَمِنَ الأَعْرَابِ مَن يَتَّخِذُ مَا يُنفِقُ مَغْرَماً وَيَتَرَبَّصُ بِكُمُ الدَّوَائِرَ عَلَيْهِمْ دَآئِرَةُ السَّوْءِ وَاللّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ -٩٨- وَمِنَ الأَعْرَابِ مَن يُؤْمِنُ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَيَتَّخِذُ مَا يُنفِقُ قُرُبَاتٍ عِندَ اللّهِ وَصَلَوَاتِ الرَّسُولِ أَلا إِنَّهَا قُرْبَةٌ لَّهُمْ سَيُدْخِلُهُمُ اللّهُ فِي رَحْمَتِهِ إِنَّ اللّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ -٩٩

Di antara orang-orang Arab Badui itu ada yang memandang apa yang diinfakkannya (di jalan Allah) sebagi suatu kerugian; dia menanti-nanti mara bahaya menimpamu, merekalah yang akan ditimpa mara bahaya. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan di antara orang-orang Arab Badui itu ada yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan memandang apa yang diinfakkannya (di jalan Allah) sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah dan sebagai jalan untuk (memperoleh) doa rasul. Ketahuilah, sesungguhnya infak itu suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah). Kelak Allah akan memasukan mereka ke dalam rahmat (surga)-Nya; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. At-Taubah : 98-99)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa minal a‘rābi (dan di antara orang-orang Arab Badui itu), yakni kabilah Asad dan Ghathafan.

May yattakhidzu (ada yang memandang), yakni ada yang menganggap.

Mā yuηfiqu (apa yang dinafkahkannya) dalam berjihad.

Maghramaw wa yatarabbashū (sebagai suatu kerugian dan ia menunggu-nunggu), yakni menanti.

Bikumud dawā-ir (malapetaka menimpa kalian), yakni kematian dan kebinasaan.

‘Alaihim dā-iratus sau’ (merekalah yang akan ditimpa malapetaka yang buruk), yakni tempat kembali dan kesudahan yang buruk.

Wallāhu samī‘un (dan Allah Maha Mendengar) perkataan mereka.

‘Alīm (lagi Maha Mengetahui) orang-orang yang bertobat.

Wa minal a‘rābi (dan di antara orang-orang Arab Badui), yakni kabilah Muzayyinah, Juhainah, dan Aslam.

May yu’minu billāhi wal yaumil ākhiri (ada orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat), baik secara tersembunyi maupun terang-terangan.

Wa yattakhidzu mā yuηfiqu (serta memandang apa yang dinafkahkannya) dalam jihad.

Qurubātin ‘iηdallāhi (sebagai perbuatan yang dapat mendekatkan kepada Allah), yakni sebagai perbuatan yang dapat mendekatkan kepada Allah Ta‘ala dalam berbagai tingkatan.

Wa shalawātir rasūl (dan sebagai upaya untuk mendapat selawat rasul), yakni doa rasul.

Alā innāhā (ketahuilah, sesungguhnya hal itu), yakni nafkah.

Qurbatul lahum (merupakan perbuatan yang dapat mendekatkan mereka) kepada Allah Ta‘ala dalam berbagai tingkatan.

Sayudkhiluhumullāhu fī rahmatih (kelak Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya), yakni ke dalam surga-Nya.

Innallāha ghafūrun (sesungguhnya Allah Maha Pengampun), yakni Maha memberi ampunan.

Rahīm (lagi Maha Penyayang) kepada orang-orang yang bertobat.


BACA JUGA: Kajian Tafsir Juz Ke-11 untuk ayat lainnya

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Di antara orang-orang Arab Badui itu ada yang memandang apa yang diinfakkannya (di jalan Allah) sebagi suatu kerugian[12]; dia menanti-nanti mara bahaya menimpamu[13], merekalah yang akan ditimpa mara bahaya. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui[14].

[12] Karena mereka tidak mencari keridhaan Allah dan mengharapkan pahalanya, bahkan mengeluarkannya karena terpaksa. Seperti yang dilakukan Bani Asad dan Ghatfan.

[13] Karena bencinya mereka kepada kaum mukmin.

[14] Dia mengetahui niat semua hamba dan amalan yang muncul darinya berupa keikhlasan atau selainnya.

99.[15] Dan di antara orang-orang Arab Badui itu ada yang beriman kepada Allah dan hari kemudian[16], dan memandang apa yang diinfakkannya (di jalan Allah) sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah[17] dan sebagai jalan untuk (memperoleh) doa rasul. Ketahuilah, sesungguhnya infak itu suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah). Kelak Allah akan memasukan mereka ke dalam rahmat (surga)-Nya; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang[18].

[15] Tidak semua orang-orang Arab badui tercela, bahkan di antara mereka ada yang mukmin, dirinya selamat dari kekafiran dan kemunafikan serta mengerjakan konsekwensi keimanan.

[16] Seperti suku Juhainah dan Muzainah.

[17] Sebagai jalan untuk mencari keridhaan-Nya dan sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

[18] Ayat ini menunjukkan bahwa Allah tidak mencela mereka karena tinggal mereka di daerah badui, akan tetapi Dia mencela mereka karena meninggalkan perintah Allah dan bahwa mereka berada di tempat yang jauh dari ilmu sehingga berpeluang besar untuk terjatuh ke dalam maksiat. Ayat ini juga menunjukkan keutamaan ilmu agama, dan bahwa orang yang jauh dari ilmu lebih dekat kepada keburukan. Demikian juga menunjukkan bahwa ilmu yang paling bermanfaat adalah mengetahui hukum-hukum yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya, seperti dasar-dasar agama (Aqidah), dan furu’nya (fiqh), di mana dengan mengetahuinya seseorang dapat mengamalkannya. Demikian pula bahwa sepatutnya seorang mukmin melakukan kewajiban dengan dada yang lapang, jiwa yang tenang, dan tidak menganggapnya sebagai suatu kerugian.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Di antara orang-orang Arab badui itu ada orang yang memandang apa yang dinafkahkannya) di jalan Allah (sebagai suatu kerugian) ketekoran dan kerugian sebab ia tidak mengharapkan akan pahalanya melainkan menginfakkannya karena rasa takut; mereka adalah Bani Asad dan Bani Ghathafan (dan menanti-nanti) malapetaka menimpa kalian sehingga ia bebas dari kalian (merekalah yang akan ditimpa marabahaya) dapat dibaca as-suu` dan dapat pula dibaca as-sau`, artinya azab dan kebinasaan itu justru akan menimpa mereka sendiri bukannya menimpa kalian. (Dan Allah Maha Mendengar) akan semua ucapan hamba-hamba-Nya (lagi Maha Mengetahui) perbuatan-perbuatan mereka.
  2. (Dan di antara orang-orang Arab badui itu ada orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian) seperti kabilah Juhainah dan kabilah Muzayyanah (dan menjadikan apa yang ia infakkan) di jalan Allah (sebagai amal taqarrub) maksudnya mendekatkan diri kepada-Nya (di sisi Allah dan) sebagai jalan untuk (memperoleh selawat) yakni doa-doa (Rasul) kepadanya.

(Ketahuilah, sesungguhnya nafkah itu) artinya nafkah mereka itu (merupakan amal taqarrub) dapat dibaca qurubaatun dan dapat pula dibaca qurbatun (bagi mereka) di sisi-Nya. (Kelak Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya) yaitu surga-Nya. (Sesungguhnya Allah Maha Pengampun) kepada orang-orang yang taat kepada-Nya (lagi Maha Penyayang) terhadap mereka yang taat.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Subhaanahu wa Ta’aala  memberitahukan bahwa di antara orang-orang Arab Badui itu:

Ada orang yang memandang apa yang dinafkahkannya. (At-Taubah: 98)

Yakni yang ia belanjakan di jalan Allah.

Sebagai suatu kerugian. (At-Taubah: 98)

Maksudnya, kerugian dan kebangkrutan.

Dan dia menanti-nanti mara bahaya menimpa kalian. (At-Taubah:98)

Mereka selalu mengharapkan dan menunggu agar kejadian dan malapetaka menimpa diri kalian.

Merekalah yang akan ditimpa mara bahaya. (At-Taubah: 98)

Yaitu bahkan sebaliknya mara bahaya itu akan berbalik menimpa mereka.

Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (At-Taubah: 98)

Allah Maha Mendengar doa hamba-hamba-Nya, lagi Maha Mengetahui siapa yang berhak mendapat kemenangan dan siapa yang berhak mendapat kekalahan (kehinaan).

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala :

Dan di antara orang-orang Arab Badui itu ada orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) itu, sebagai jalan mendekatkannya kepada Allah dan sebagai jalan untuk memperoleh doa Rasul. (At-Taubah: 99)

Apa yang disebutkan oleh ayat ini merupakan golongan yang terpuji dari kalangan orang-orang Arab Badui. Mereka adalah orang-orang yang menjadikan harta yang mereka nafkahkan di jalan Allah sebagai amal pendekatan diri mereka kepada Allah dengan melalui infak tersebut, dan dengan infak itu mereka berharap akan beroleh doa Rasul buat mereka.

Ketahuilah, sesungguhnya nafkah itu adalah suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah). (At-Taubah: 99)

Dengan kata lain, ketahuilah bahwa hal itu berhasil mereka raih.

Kelak Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat (surga)-Nya; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (At-Taubah: 99)

Hanya Allah-lah Yang Maha mengetahui dan hanya bagi Allah-lah segala puji.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here