Muhajirin dan Anshar

Kajian Tafsir Surah At-Taubah ayat 100

0
29

Kajian Tafsir  Surah At-Taubah ayat 100. Menyebutkan keridhaan Allah kepada generasi yang lebih dulu masuk Islam dari kalangan kaum Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik . Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ -١٠٠

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung. (Q.S. At-Taubah : 100)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Was sābiqūnal awwalūna minal muhājirīna wal aηshāri (orang-orang yang terdahulu lagi paling awal di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar), yakni orang-orang yang terdahulu lagi paling awal dalam beriman. Mereka adalah orang-orang yang pernah shalat menghadap ke dua kiblat dan turut serta dalam Perang Badr.

Wal ladzīnattaba‘ūhum bi ihsānin (serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik), yakni dengan menjalankan segala kewajiban dan menjauhi segala kemaksiatan sampai hari kiamat.

Radliyallāhu ‘anhum (Allah rida kepada mereka) atas kebaikan mereka.

Wa radlū ‘anhu (dan mereka pun rida kepada-Nya) atas pahala dan kemuliaan yang Dia anugerahkan.

Wa a‘adda lahum jannātin (dan Dia telah menyediakan bagi mereka surga-surga), yakni taman-taman.

Tajrī tahtahā (yang mengalir di bawahnya), yakni di bawah pepohonan dan tempat-tempat tinggalnya.

Al-anhāru (sungai-sungai), yaitu sungai air, sungai khamar, sungai madu, dan sungai susu.

Khālidīna fīhā (mereka kekal di dalamnya), yakni mereka tinggal di dalam surga tanpa pernah akan mati dan tidak akan dikeluarkan dari dalamnya.

Abadā, dzālika (selama-lamanya. Itulah), yakni keridaan dan surga-surga itu adalah ….

Al-fauzul ‘azhīm (kemenangan yang besar), yakni kesuksesan gemilang.


BACA JUGA: Kajian Tafsir Juz Ke-11 untuk ayat lainnya

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam)[19] di antara orang-orang muhajirin[20] dan anshar[21] dan orang-orang yang mengikuti mereka[22] dengan baik[23], Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya[24]. Itulah kemenangan yang agung.

[19] Mereka adalah orang-orang yang lebih dulu dan bersegera beriman, berhijrah dan berjihad, serta menegakkan agama Allah. Ada yang mengatakan, bahwa mereka ini adalah para sahabat yang hadir dalam perang Badar, atau bisa maksudnya semua para sahabat.

[20] Yaitu para sahabat yang berhijrah dari Mekah ke Madinah; yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya, dan mereka menolong agama Allah dan Rasul-Nya.

[21] Yaitu para sahabat yang menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) kaum muhajirin. Mereka mencintai kaum muhajirin dan lebih mengutamakan kaum muhajirin di atas diri mereka sendiri, meskipun mereka dalam kesusahan.

[22] Mereka mengikuti ‘Aqidah, ibadah, manhaj (cara beragama) kaum muhajirin dan Anshar.

[23] Yakni dengan memperbaiki amalan. di mana mereka berdoa, “Ya Tuhan Kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian ada dalam hati Kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (lihat pula Al Hasyr: 8-10)

[24] Dan tidak ada keinginan di hati mereka untuk pindah, karena apa yang mereka inginkan ada dan apa yang mereka harapkan telah tersedia.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama masuk Islam di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar) mereka adalah para sahabat yang ikut perang Badar atau yang dimaksud adalah semua para sahabat (dan orang-orang yang mengikuti mereka) sampai hari kiamat (dengan baik) dalam hal amal perbuatannya. (Allah rida kepada mereka) melalui ketaatan mereka kepada-Nya (dan mereka pun rida kepada Allah) rida akan pahala-Nya (dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya) menurut suatu qiraat lafal tahtahaa dibaca dengan memakai huruf min sebelumnya sehingga bacaannya menjadi min tahtihaa (mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar).

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Subhaanahu wa Ta’aala menceritakan tentang rida-Nya kepada orang-orang yang terdahulu masuk Islam dari kalangan kaum Muhajirin, Ansar, dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik. Allah rida kepada mereka, untuk itu Dia menyediakan bagi mereka surga-surga yang penuh dengan kenikmatan dan kenikmatan yang kekal lagi abadi.

Asy-Sya’bi mengatakan bahwa orang-orang yang terdahulu masuk islam dari kalangan kaum Muhajirin dan Ansar ialah mereka yang mengikuti bai’at Ridwan pada tahun Perjanjian Hudaibiyyah.

Abu Musa Al-Asy’ari, Sa’id ibnul Musayyab, Muhammad ibnu Sirin, Al-Hasan, dan Qatadah mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang salat menghadap ke dua arah kiblat bersama-sama Rasulullah ﷺ.

Muhammad ibnu Ka’b Al-Qurazi mengatakan bahwa Khalifah Umar ibnul Khattab melewati seorang lelaki yang sedang membaca firman-Nya berikut ini: Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar. (At-Taubah: 100) Maka Umar memegang tangan lelaki itu dan bertanya, “Siapakah yang mengajarkan ayat ini kepadamu?” Lelaki itu menjawab, “Ubay ibnu Ka’b.” Umar berkata, “Kamu jangan berpisah dariku sebelum aku hadapkan kamu kepadanya.” Setelah Umar menghadapkan lelaki itu kepada Ubay, Umar bertanya, “Apakah engkau telah mengajarkan bacaan ayat ini kepadanya dengan bacaan demikian?” Ubay ibnu Ka’b menjawab, “Ya.” Umar bertanya, “Apakah engkau mendengarnya dari Rasulullah ﷺ?” Ubay ibnu Ka’b menjawab, “Ya.” Umar berkata, “Sesungguhnya aku berpendapat sebelumnya bahwa kami (para sahabat) telah menduduki tingkatan yang tinggi yang tidak akan dicapai oleh orang-orang sesudah kita.” Maka Ubay ibnu Ka’b menjawab bahwa yang membenarkan ayat ini terdapat pada permulaan surat Al-Jumu’ah. yaitu firman-Nya:

وَآخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka. Dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (Al-Jumu’ah: 3)

Di dalam surat Al-Hasyr disebutkan melalui firman-Nya:

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar). (Al-Hasyr: 10)

Dan dalam surat Al-Anfal disebutkan melalui firman-Nya:

وَالَّذِينَ آمَنُوا مِنْ بَعْدُ وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا مَعَكُمْ

Dan orang-orang yang beriman sesudah itu, kemudian berhijrah dan berjihad bersamamu. (Al-Anfal: 75), hingga akhir ayat.

Demikianlah menurut riwayat Ibnu Jarir.

Telah diriwayatkan dari Al-Hasan Al-Basri bahwa ia membaca rafa’ lafaz Al-Ansar karena di- ataf-kan kepada As-Sabiqunal Awwaluna.

Allah Subhaanahu wa Ta’aala  telah memberitakan bahwa Dia telah rida kepada orang-orang yang terdahulu masuk Islam dari kalangan kaum Muhajirin dan Ansar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Maka celakalah bagi orang yang membenci mereka, mencaci mereka, atau membenci dan mencaci sebagian dari mereka. Terlebih lagi terhadap penghulu para sahabat sesudah Rasul ﷺ dan yang paling baik serta paling utama di antara mereka, yaitu As-Siddiqul Akbar khalifah Rasulullah yang pertama Abu Bakar ibnu Abu Quhafah radiyallahu ‘anhu.

Lain halnya dengan golongan yang terhina dari kalangan golongan Rafidah (Khawarij), mereka memusuhi sahabat yang paling utama, membenci mereka serta memusuhinya; semoga Allah melindungi kita dari hal tersebut. Hal ini jelas menunjukkan bahwa akal mereka telah terbalik dan kalbu mereka telah tertutup. Maka mana mungkin mereka dinamakan sebagai orang yang beriman kepada Al-Qur’an bila mereka mencaci orang-orang yang telah diridai oleh Allah Subhaanahu wa Ta’aala?

Berbeda dengan golongan ahli sunnah, maka mereka rida kepada orang-orang yang diridai oleh Allah, mencaci orang-orang yang dicaci oleh Allah dan Rasul-Nya, memihak kepada orang-orang yang dipihak oleh Allah, dan memusuhi orang-orang yang dimusuhi oleh Allah. Dengan demikian, mereka adalah orang-orang yang mengikuti (Rasul dan sahabat-sahabatnya), bukan orang-orang ahli bid’ah; dan mereka adalah orang-orang yang bertaklid, bukan orang-orang yang memulai. Mereka itulah golongan Allah yang beruntung dan hamba-hamba-Nya yang beriman.

Hanya Allah-lah Yang Maha mengetahui dan hanya bagi Allah-lah segala puji.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here