Diterimanya Tobat Orang-orang yang Bertobat

Kajian Tafsir Surah At-Taubah ayat 104

0
96

Kajian Tafsir Surah At-Taubah ayat 104. Diterimanya tobat orang-orang yang bertobat. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

أَلَمْ يَعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ هُوَ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَأْخُذُ الصَّدَقَاتِ وَأَنَّ اللّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ -١٠٤

Tidakkah mereka mengetahui, bahwa Allah menerima tobat hamba-hamba-Nya dan menerima zakat(nya), dan bahwa Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang? Q.S. At-Taubah : 104)

.

Tafsir Ibnu Abbas

A lam ya‘lamū annallāha huwa yaqbalut taubata ‘an ‘ibādihī wa ya’khudzush shadaqāti (tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah menerima tobat dari hamba-hamba-Nya serta mengambil sedekah-sedekah), yakni menerima sedekah-sedekah.

Wa annallāha huwat tawwābun (dan bahwasanya Allah Maha Penerima Tobat), yakni Maha Mengampuni.

Rahīm (lagi Maha Penyayang) kepada orang-orang yang bertobat.


BACA JUGA: Kajian Tafsir Juz Ke-11 untuk ayat lainnya

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. [42]Tidakkah mereka mengetahui[43], bahwa Allah menerima tobat hamba-hamba-Nya[44] dan menerima zakat(nya)[45], dan bahwa Allah Maha Penerima tobat[46] lagi Maha Penyayang?[47]

[42] Pertanyaan ini adalah untuk menetapkan, dan tujuannya agar mendorong mereka bertobat dan bersedekah.

[43] Yakni tidakkah mereka menetahui luasnya rahmat Allah dan meratanya kepemurahan-Nya.

[44] Betapa pun besar dosanya, bahkan sangat gembira dengan tobat hamba-hamba-Nya.

[45] Dia menerima zakat itu dan mengambilnya dengan tangan kanan-Nya lalu mengembangkannya sebagaimana seseorang mengembangbiakkan anak kudanya, bahkan satu kurma bisa menjadi banyak seperti gunung yang besar. Rasulullah ﷺ bersabda:

 مَا تَصَدَّقَ أَحَدٌ بِصَدَقَةٍ مِنْ طَيِّبٍ  وَلاَ يَقْبَلُ اللَّهُ إِلاَّ الطَّيِّبَ  إِلاَّ أَخَذَهَا الرَّحْمَنُ بِيَمِينِهِ وَإِنْ كَانَتْ تَمْرَةً فَتَرْبُو فِى كَفِّ الرَّحْمَنِ حَتَّى تَكُونَ أَعْظَمَ مِنَ الْجَبَلِ كَمَا يُرَبِّى أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ أَوْ فَصِيلَهُ

Tidaklah seseorang bersedekah dari yang baik dan Allah tidak menerima kecuali dari yang baik- melainkan Allah akan mengambilnya dengan tangan kanan-Nya. Jika berupa satu buah kurma, maka akan berkembang di telapak tangan Ar Rahman sehingga besar melebihi gunung, sebagaimana salah seorang di antara kamu membesarkan anak kuda atau anak untanya.” (HR. Muslim)

[46] Ia banyak menerima tobat orang-orang yang bertobat. Oleh karena itu, barang siapa bertobat kepada-Nya, maka Dia akan menerimanya meskipun telah berulang kali melakukan kemaksiatan, dan Dia tidak pernah bosan menerima tobat hamba-Nya, maka janganlah bosan.

[47] Di mana rahmat-Nya meliputi segala sesuatu, dan ditetapkan rahmat itu di akhirat untuk orang-orang yang bertakwa.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Tidakkah mereka mengetahui bahwasanya Allah menerima tobat dari hamba-hamba-Nya dan mengambil) maksudnya menerima (zakat dan bahwasanya Allah Maha Penerima tobat) hamba-hamba-Nya, yakni dengan menerima tobat mereka (lagi Maha Penyayang) kepada mereka. Kata tanya pada awal ayat ini bermakna taqrir; pengertian yang dimaksud ialah untuk menggugah mereka agar mau bertobat dan berzakat atau bersedekah.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala :

Tidakkah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima tobat dari hamba-hamba-Nya dan menerima zakat. (At-Taubah: 104)

Ayat ini mengandung makna perintah untuk bertobat dan berzakat, karena kedua perkara tersebut masing-masing dapat menghapuskan dosa-dosa dan melenyapkannya. Allah Subhaanahu wa Ta’aala telah memberitakan pula bahwa setiap orang yang bertobat kepada-Nya, niscaya Allah menerima tobatnya. Dan barang siapa yang mengeluarkan suatu sedekah (zakat) dari usaha yang halal, sesungguhnya Allah menerimanya dengan tangan kanan-Nya, lalu Dia memeliharanya untuk pemiliknya, hingga sebiji buah kurma menjadi seperti Bukit Uhud.

Seperti yang disebutkan di dalam sebuah hadis dari Rasulullah ﷺ. Sebagaimana As-Sauri dan Waki’ telah menceritakan, dari Ubadah ibnu Mansur, dari Al-Qasim ibnu Muhammad bahwa ia pernah mendengar Abu Hurairah menceritakan, Rasulullah ﷺ telah bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ الصَّدَقَةَ وَيَأْخُذُهَا بِيَمِينِهِ فَيُرَبِّيهَا لِأَحَدِكُمْ، كَمَا يُرَبِّي أَحَدُكُمْ مُهْرَهُ، حَتَّى إِنَّ اللُّقْمَةَ لتَصير مِثْلَ أُحُدٍ

Sesungguhnya Allah menerima sedekah dan menerimanya dengan tangan kanan-Nya, lalu Dia memeliharanya buat seseorang di antara kalian (yang mengeluarkannya) sebagaimana seseorang di antara kalian memelihara anak kudanya, hingga sesuap makanan menjadi besar seperti Bukit Uhud.

Hal yang membenarkan perkara ini berada di dalam Kitabullah, yaitu di dalam firman-Nya:

Tidakkah mereka mengetahui bahwasanya Allah menerima tobat dari hamba-hamba-Nya dan menerima zakat. (At-Taubah: 104)

يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ

Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. (Al-Baqarah: 276)

As-Sauri dan Al-A’masy telah meriwayatkan dari Abdullah ibnus Saib, dari Abdullah ibnu Abu Qatadah yang mengatakan bahwa Abdullah ibnu Mas’ud radiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Sesungguhnya sedekah itu diterima di tangan Allah Subhaanahu wa Ta’aala sebelum sedekah itu diterima oleh tangan peminta.” Kemudian Ibnu Mas’ud membacakan firman-Nya: Tidakkah mereka mengetahui bahwasanya Allah menerima tobat dari hamba-hamba-Nya dan menerima zakat. (At-Taubah: 104)

Ibnu Asakir di dalam kitab Tarikh-nya pada Bab “Biografi Abdullah ibnusy Sya’ir As-Saksiki Ad-Dimasyqi yang Asalnya adalah Al-Himsi, salah seorang ulama fiqih, Mu’awiyah, dan lain-lainnya” banyak mengambil riwayat darinya. Hausyab ibnu Saif As-Saksiki Al-Himsi pun telah mengambil riwayat darinya, bahwa di zaman Mu’awiyah radiyallahu ‘anhu orang-orang berangkat berperang di bawah pimpinan Abdur Rahman ibnu Khalid ibnul Walid. Kemudian ada seorang lelaki dari pasukan kaum muslim melakukan penggelapan harta rampasan sebanyak seratus dinar Romawi. Ketika pasukan kaum muslim kembali, ia menyesal; lalu ia datang menghadap panglimanya, tetapi si panglima tidak mau menerima hasil penggelapan itu darinya. Panglima mengatakan, “Semua pasukan telah pulang, dan aku tidak mau menerimanya darimu, hingga engkau menghadap kepada Allah dengan membawanya kelak di hari kiamat.” Maka lelaki itu menghubungi para sahabat satu persatu, tetapi mereka mengatakan hal yang sama. Ketika sampai di Damaskus, ia menghadap kepada Mu’awiyah untuk menyerahkannya, tetapi Mu’awiyah menolak, tidak mau menerimanya. Lalu ia keluar dari sisi Mu’awiyah seraya menangis dan mengucapkan istirja’. Akhirnya ia bersua dengan Abdullah ibnusy Sya’ir As-Saksiki yang langsung menanyainya, “Apakah gerangan yang membuatmu menangis?” Lalu lelaki itu menceritakan hal tersebut kepadanya. Maka Abdullah As-Saksiki berkata, “Apakah engkau mau taat kepadaku?” Lelaki itu menjawab, “Ya.” Abdullah berkata, “Pergilah kepada Mu’awiyah dan katakan kepadanya, ‘Terimalah dariku khumusmu!’, dan serahkanlah kepadanya dua puluh dinar, lalu tangguhkanlah yang delapan puluh dinarnya. Setelah itu sedekahkanlah yang delapan puluh dinar itu (kepada kaum fakir miskin) sebagai ganti dari pasukan tersebut. Karena sesungguhnya Allah menerima tobat dari hamba-hamba-Nya dan Dia Maha Mengetahui tentang nama-nama dan tempat-tempat mereka.” Lelaki itu mengerjakan apa yang dikatakannya, dan Mu’awiyah berkata, “Sesungguhnya jika aku memberikan fatwa demikian kepadanya, lebih aku sukai daripada segala sesuatu yang aku miliki sekarang ini. Lelaki itu sungguh telah berbuat baik.”

Hanya Allah-lah Yang Maha mengetahui dan hanya bagi Allah-lah segala puji.

 

Berita sebelumyaDorongan untuk Beramal
Berita berikutnyaPerintah untuk Memungut Zakat