Mempergunakan Masjid

Kajian Tafsir Surah At-Taubah ayat 107

0
27

Kajian Tafsir Surah At-Taubah ayat 107. Kaum munafik dan masjid dhirar, keharusan waspada terhadap tipu muslihat orang yang mempergunakan masjid sebagai alatnya, dan pentingnya masjid untuk mengajak manusia kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَالَّذِينَ اتَّخَذُواْ مَسْجِداً ضِرَاراً وَكُفْراً وَتَفْرِيقاً بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ وَإِرْصَاداً لِّمَنْ حَارَبَ اللّهَ وَرَسُولَهُ مِن قَبْلُ وَلَيَحْلِفَنَّ إِنْ أَرَدْنَا إِلاَّ الْحُسْنَى وَاللّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ -١٠٧

Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan bencana (pada orang-orang yang beriman), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang yang beriman, serta untuk menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka dengan pasti bersumpah, “Kami hanya menghendaki kebaikan.” Dan Allah menjadi saksi bahwa mereka itu pendusta (dalam sumpahnya). (Q.S. At-Taubah : 107)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wal ladzīnattakhadzū (dan [di antara kaum munafik] ada orang-orang yang mendirikan), yakni ada orang-orang yang membangun.

Masjidan (masjid). Mereka adalah ‘Abdullah bin Ubay, Jadd bin Qais, Mu‘tab bin Qusyair, dan kawan-kawan mereka yang berjumlah sekitar tujuh puluh orang.

Dlirāran (untuk menimbulkan kemudaratan), yakni untuk memudaratkan kaum mukminin.

Wa kufran (dan kekafiran), yakni di dalam hatinya mereka kukuh dalam kekafiran, yakni kemunafikan.

Wa tafrīqam bainal mu’minīna (serta untuk memecah-belah di antara kaum mukminin), yakni supaya sebagian kaum mukminin shalat di masjid mereka dan sebagian yang lain shalat di masjid Rasulullah ﷺ.

Wa irshādan (dan menunggu), yakni menanti.

Li man hāraballāha wa rasūlahū (orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya), yakni orang-orang yang kafir kepada Allah Ta‘ala dan Rasul-Nya.

Ming qabl (sebelumnya), yakni sebelum mereka, yaitu Abu ‘Amir ar-Rahib yang disebut Rasulullah ﷺ sebagai orang fasik.

Wa la yahlifunna in aradnā (mereka sungguh-sungguh bersumpah, “Tidaklah kami menghendaki), yakni dengan membangun masjid itu tidaklah kami menghendaki.

Illal husnā (melainkan kebaikan”), yakni melainkan untuk berbuat baik kepada kaum mukminin, agar orang-orang yang terlambat shalat di Masjid Quba bisa shalat di masjid itu.

Wallāhu yasyhadu (dan Allah Menyaksikan), yakni mengetahui.

Innahum la kādzibūn (bahwa mereka benar-benar para pendusta) dalam sumpahnya.


BACA JUGA: Kajian Tafsir Juz Ke-11 untuk ayat lainnya

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan bencana (pada orang-orang yang beriman)[1], untuk kekafiran[2] dan untuk memecah belah antara orang-orang yang beriman[3], serta untuk menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu[4]. Mereka dengan pasti bersumpah, “Kami hanya menghendaki kebaikan[5].” Dan Allah menjadi saksi bahwa mereka itu pendusta (dalam sumpahnya)[6].

[1] Jumlah mereka ada dua belas orang.

[2] Karena mereka membangunnya atas perintah seorang pendeta Nasrani bernama Abu ‘Amir agar menjadi bentengnya, di mana orang-orang yang datang dari sisinya singgah di situ. Ia pergi untuk membawa tentara dari Kaisar untuk memerangi Nabi ﷺ. Abu ‘Amir di masa jahiliah adalah seorang ahli ibadah, ketika Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah, ia kafir kepada Beliau dan pergi menemui orang-orang musyrik guna meminta bantuan kepada mereka memerangi Rasulullah ﷺ.

[3] Di mana sebagiannya ada yang shalat di Quba’ dan sebagian lagi ada yang shalat di masjid mereka, karena masjidnya berdekatan.

[4] Yang dimaksudkan dengan orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu ialah Abu ‘Amir, yang mereka tunggu-tunggu kedatangannya dari Syiria untuk datang ke masjid yang mereka dirikan itu, serta membawa tentara Romawi yang akan memerangi kaum muslimin. Akan tetapi kedatangan Abu ‘Amir ini tidak jadi karena ia mati di Syiria. Kemudian masjid yang didirikan kaum munafik itu diruntuhkan atas perintah Rasulullah ﷺ karena wahyu yang diterimanya setelah kembali dari perang Tabuk.

[5] Yakni karena kasihan terhadap orang miskin agar mereka tidak kehujanan atau kepanasan, dan untuk melapangkan kaum muslimin.

[6] Sedangkan persaksian Allah lebih benar daripada sumpah mereka.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan) di antara mereka yang munafik itu (ada orang-orang yang mendirikan masjid) jumlah mereka ada dua belas orang, semuanya orang-orang munafik (untuk menimbulkan kemudaratan) kepada orang-orang mukmin di masjid Quba (dan karena kekafiran) karena mereka membangun masjid itu berdasarkan perintah dari Abu Amir seorang rahib, dimaksud supaya menjadi basis pangkalan baginya dan bagi orang-orang yang berpihak kepadanya. Sedang ia (Amir) pergi untuk mendatangkan bala tentara Kaisar Romawi guna memerangi Nabi ﷺ (dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin) yang biasa salat di masjid Quba, diharapkan sebagian dari orang-orang mukmin melakukan salat di masjid mereka (serta menjadi tempat pemantauan) yakni tempat untuk memantau (bagi orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu) sebelum masjid dhirar ini dibangun; yang dimaksud adalah Abu Amir tadi dan para pembantunya. (Mereka sesungguhnya bersumpah, “Tiada lain) (kami menghendaki) dari pembangunan masjid ini (hanyalah) untuk pekerjaan (yang baik semata.”) yaitu berlaku belas-kasihan terhadap orang-orang miskin dalam musim hujan dan musim panas, serta memberikan tempat persinggahan bagi kaum Muslimin. (Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta) dalam sumpahnya. Mereka pernah meminta kepada Nabi ﷺ supaya melakukan salat di dalam masjidnya itu, akan tetapi kemudian turunlah firman Allah berikut ini, yaitu:

.

Tafsir Ibnu Katsir

Penyebab turunnya ayat-ayat ini ialah bahwa sebelum kedatangan Nabi ﷺ di Madinah terdapat seorang lelaki dari kalangan kabilah Khazraj yang dikenal dengan nama Abu Amir Ar-Rahib. Sejak masa Jahiliah dia telah masuk agama Nasrani dan telah membaca ilmu ahli kitab. Ia melakukan ibadahnya di masa Jahiliah, dan ia mempunyai kedudukan yang sangat terhormat di kalangan kabilah Khazraj.

Ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah untuk berhijrah, lalu orang-orang muslim berkumpul bersamanya, dan kalimah Islam menjadi tinggi serta Allah memenangkannya dalam Perang Badar, maka si terkutuk Abu Amir ini mulai terbakar dan bersikap oposisi serta memusuhi beliau secara terang-terangan. Ia melarikan diri bergabung dengan orang-orang kafir Mekah dari kalangan kaum musyrik Quraisy dan membujuk mereka untuk memerangi Rasulullah ﷺ.

Maka bergabunglah bersamanya orang-orang dari kalangan Arab Badui yang setuju dengan pendapatnya, lalu mereka datang pada tahun terjadinya Perang Uhud. Maka terjadilah suatu cobaan yang menimpa kaum muslim dalam perang itu. tetapi akibat yang terpuji hanyalah bagi orang-orang yang bertakwa.

Tersebutlah bahwa si laknat Abu Amir ini telah membuat lubang-lubang di antara kedua barisan pasukan, dan secara kebetulan Rasulullah ﷺ terjatuh ke dalam salah satunya. Dalam perang itu Rasulullah ﷺ mengalami luka pada wajahnya, gigi geraham bagian bawah kanannya ada yang rontok, dan kepalanya luka.

Pada permulaan perang, Abu Amir maju menghadapi kaumnya yang tergabung ke dalam barisan orang-orang Ansar, lalu ia berkhotbah kepada mereka, membujuk mereka guna membantunya dan bergabung ke dalam barisannya. Setelah menyelesaikan pidatonya itu, orang-orang mengatakan, “Semoga Allah tidak memberikan ketenangan pada matamu, hai orang fasik, hai musuh Allah.” Mereka melempari dan mencacinya. Akhirnya Abu Amir kembali seraya berkata, “Demi Allah, sesungguhnya kaumku telah tertimpa keburukan sepeninggalku.”

Pada mulanya Rasulullah ﷺ telah menyerunya untuk menyembah Allah yaitu sebelum ia melarikan diri dan membacakan Al-Qur’an kepadanya, tetapi ia tetap tidak mau masuk Islam, dan membangkang. Maka Rasulullah ﷺ mendoa untuk kecelakaannya, semoga dia mati dalam keadaan jauh dari tempat tinggalnya dan terusir. Maka doa itu menimpanya.

Kejadian itu terjadi ketika kaum muslim selesai dari Perang Uhudnya dan Abu Amir melihat perkara Rasulullah ﷺ makin bertambah tinggi dan makin muncul. Maka Abu Amir pergi menemui Heraklius Raja Romawi untuk meminta pertolongan kepadanya dalam menghadapi Nabi ﷺ Kaisar Romawi memberikan janji dan harapan kepadanya, lalu ia bermukim di kerajaan Romawi.

Sesudah itu Abu Amir menulis surat kepada segolongan kaumnya dari kalangan Ansar yang tergabung dalam golongan orang-orang munafik lagi masih ragu kepada Islam. Dia menjanjikan dan memberikan harapan kepada mereka, bahwa kelak dia akan datang kepada mereka dengan membawa pasukan Romawi untuk memerangi Rasulullah ﷺ dan mengalahkannya serta menghentikan kegiatannya. Lalu Abu Amir menganjurkan orang-orangnya untuk membuat suatu benteng yang kelak akan dipakai untuk berlindung bagi orang-orang yang datang kepada mereka dari sisinya guna menunaikan ajaran kitabnya. Tempat itu sekaligus akan menjadi tempat pengintaian baginya kelak di masa depan bila ia datang kepada mereka.

Maka orang-orang Abu Amir mulai membangun sebuah masjid yang letaknya berdekatan dengan Masjid Quba. Mereka membangun dan mengukuhkannya, dan mereka baru selesai dari pembangunan masjidnya di saat Rasulullah ﷺ hendak pergi ke medan Tabuk. Lalu para pembangunnya datang menghadap Rasulullah ﷺ dan memohon kepadanya agar sudi melakukan salat di masjid mereka. Tujuan mereka untuk memperoleh bukti melalui salat Nabi ﷺ di dalamnya, sehingga kedudukan masjid itu diakui dan dikuatkan.

Mereka mengemukakan alasannya, bahwa sesungguhnya mereka membangun masjid ini hanyalah untuk orang-orang yang lemah dari kalangan mereka dan orang-orang yang berhalangan di malam yang sangat dingin. Tetapi Allah Subhaanahu wa Ta’aala   memelihara Nabi ﷺ dari melakukan salat di dalam masjid itu. Nabi ﷺ menjawab permintaan mereka melalui sabdanya:

إِنَّا عَلَى سَفَرٍ، وَلَكِنْ إِذَا رَجَعْنَا إِنْ شَاءَ اللَّهُ

Sesungguhnya kami sedang dalam perjalanan. Tetapi jika kami kembali, insya Allah.

Ketika Nabi ﷺ kembali ke Madinah dari medan Tabuk, dan jarak antara perjalanan untuk sampai ke Madinah hanya tinggal sehari atau setengah hari lagi, Malaikat Jibril a.s. turun dengan membawa berita tentang Masjid Dirar dan niat para pembangunnya yang hendak menyebarkan kekufuran dan memecah belah persatuan umat Islam. Mereka hendak menyaingi masjid kaum muslim yaitu Masjid Quba yang sejak semula dibangun dengan landasan takwa.

Maka Rasulullah ﷺ mengutus orang-orang ke Masjid Dirar itu untuk merobohkannya sebelum beliau tiba di Madinah.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan ayat ini, bahwa mereka adalah sejumlah orang dari kalangan orang-orang Ansar yang membangun sebuah masjid baru. Sebelum itu Abu Amir berkata kepada mereka, “Bangunlah sebuah masjid, dan buatlah persiapan semampu kalian untuk menghimpun senjata dan kekuatan, sesungguhnya aku akan berangkat menuju ke Kaisar Romawi untuk meminta bantuan. Aku akan mendatangkan bala tentara dari kerajaan Romawi untuk mengusir Muhammad dan sahabat-sahabatnya dari Madinah.” Setelah mereka selesai membangunnya, maka menghadaplah mereka kepada Nabi ﷺ dan berkata, “Sesungguhnya kami baru selesai membangun sebuah masjid. Maka kami suka bila engkau melakukan salat di dalamnya dan mendoakan keberkatan buat kami.” Maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala   menurunkan firman-Nya: Janganlah kamu salat di dalam masjid itu untuk selama-lamanya, (At-Taubah: 108) sampai dengan firman-Nya: kepada orang-orang yang zalim. (At-Taubah: 109)

Hal yang sama telah diriwayatkan dari Sa’id ibnu Jubair, Mujahid, Urwah ibnuz Zubair, dan Qatadah serta ulama lainnya yang bukan hanya seorang.

Muhammad ibnu Ishaq ibnu Yasar telah meriwayatkan dari Az-Zuhri, Yazid ibnu Rauman, Abdullah ibnu Abu Bakar, Asim ibnu Amr ibnu Qatadah, dan lain-lainnya. Mereka mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ kembali dari medan Tabuk, lalu turun istirahat di Zu Awan, nama sebuah kampung yang jaraknya setengah hari dari Madinah. Sebelum itu di tempat yang sama para pembangun Masjid Dirar pernah datang kepada Rasulullah ﷺ yang saat itu sedang bersiap-siap menuju ke medan Tabuk. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami telah membangun sebuah masjid untuk orang-orang yang uzur dan orang-orang yang miskin di saat malam yang hujan dan malam yang dingin. Dan sesungguhnya kami sangat menginginkan jika engkau datang kepada kami dan melakukan shalat di dalam masjid kami serta mendoakan keberkatan bagi kami.” Maka Rasulullah ﷺ menjawab melalui sabdanya: Sesungguhnya aku sedang dalam perjalanan dan dalam keadaan sibuk. Atau dengan perkataan lainnya yang semisal. Selanjutnya Rasulullah ﷺ bersabda pula: Seandainya kami tiba, insya Allah, kami akan datang kepada kalian dan kami akan melakukan salat padanya untuk memenuhi undangan kalian. Ketika Rasulullah ﷺ sampai di Zu Awan, datanglah berita (wahyu) yang menceritakan perihal masjid tersebut. Lalu Rasulullah ﷺ memanggil Malik ibnud Dukhsyum (saudara lelaki Bani Salim ibnu Auf) dan Ma’an ibnu Addi atau saudara lelakinya (yaitu Amir ibnu Addi yang juga saudara lelaki Al-Ajian). Lalu beliau ﷺ bersabda: Berangkatlah kamu berdua ke masjid ini yang pemiliknya zalim, dan robohkanlah serta bakarlah masjidnya. Maka keduanya berangkat dengan langkah-langkah cepat, hingga datang ke tempat orang-orang Bani Salim ibnu Auf yang merupakan golongan Malik ibnud Dukhsyum. Lalu Malik berkata kepada Ma’an, “Tunggulah aku, aku akan membuatkan api untukmu dari keluargaku.” Lalu Malik masuk menemui keluarganya dan mengambil daun kurma, lalu menyalakan api dengannya. Setelah itu keduanya berangkat dengan cepat hingga datang ke masjid itu dan memasukinya. Di dalam masjid terdapat orang-orangnya, maka keduanya membakar masjid itu dan merobohkannya, sedangkan orang-orang yang tadi ada di dalamnya bubar keluar berpencar-pencar. Dan diturunkanlah Al-Qur’an yang menceritakan perihal mereka, yaitu firman-Nya: Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudaratan (kepada orang mukmin) dan karena kekajiran(pya). (At-Taubah: 107)

Dan tersebutlah bahwa orang-orang yang membangunnya terdiri atas dua belas orang lelaki, yaitu Khaddam ibnu Khalid dari kalangan Bani Ubaid ibnu Zaid, salah seorang dari Bani Amr ibnu Auf yang dari rumahnya dimulai pembangunan Masjid Syiqaq ini, lalu Sa’labah ibnu Hatib dari Bani Ubaid, Mawali ibnu Umayyah ibnu Yazid, Mut’ib ibnu Qusyair dari kalangan Bani Dabi’ah ibnu Zaid, Abu Habibah ibnu Al-Az’ar dari kalangan Bani Dabi’ah ibnu Zaid, Ibad ibnu Hanif (saudara Sahl ibnu Hanif) dari kalangan Bani Amr ibnu Auf, Hari sah ibnu Amir dan kedua anakn ‘a (yaitu Majma’ ibnu Harisah dan Zaid ibnu Hari sah), juga Nabtal Al-Haris mereka dari kalangan Bani Dabi’ah, Mukharrij yang dari kalangan Bani Dabi’ah, Yajad ibnu Imran dari kalangan Bani Dabi’ah, dan Wadi’ah ibnu Sabit serta Mawali ibnu Umayyah golongan Abu Lubabah ibnu Abdul Munzir.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala  :

Mereka sesungguhnya bersumpah. (At-Taubah: 107)

Yakni mereka yang membangun masjid itu.

Kami tidak menghendaki selain kebaikan. (At-Taubah: 107)

Maksudnya, kami tidak menghendaki membangun masjid ini melainkan hanya kebaikan belaka dan belas kasihan kepada orang-orang. Maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala   menjawab perkataan mereka melalui firman-Nya:

Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya). (At-Taubah: 107)

Mereka dusta dalam tujuannya dan mengelabui niat yang sebenarnya. Karena sesungguhnya mereka membangunnya hanyalah semata-mata untuk menyaingi Masjid Quba, hendak menimbulkan kemudaratan, serta karena terdorong oleh kekafiran mereka, dan untuk memecah belah persatuan di antara kaum mukmin; juga menunggu kedatangan orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu, yaitu Abu Amir, seorang fasik yang dijuluki ‘si Rahib la’natullah’.

Hanya Allah-lah Yang Maha mengetahui dan hanya bagi Allah-lah segala puji.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here