Kaum munafik dan Masjid Dhirar

Kajian Tafsir Surah At-Taubah ayat 109-110

0
14

Kajian Tafsir Surah At-Taubah ayat 109-110. Kaum munafik dan masjid dhirar; Bangunan yang mereka dirikan itu senantiasa menjadi penyebab keraguan dalam hati mereka, sampai hati mereka hancur. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى تَقْوَى مِنَ اللّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَم مَّنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَىَ شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ -١٠٩- لاَ يَزَالُ بُنْيَانُهُمُ الَّذِي بَنَوْاْ رِيبَةً فِي قُلُوبِهِمْ إِلاَّ أَن تَقَطَّعَ قُلُوبُهُمْ وَاللّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ -١١٠

Maka apakah orang-orang yang mendirikan bangunan (masjid) atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu lebih baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu (bangunan) itu roboh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam? Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. Bangunan yang mereka dirikan itu senantiasa menjadi penyebab keraguan dalam hati mereka, sampai hati mereka hancur. Dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Q.S. At-Taubah : 109-110)

.

Tafsir Ibnu Abbas

A fa man assasa bunyānahū (maka apakah orang-orang yang mendirikan bangunannya), yakni membangun fondasinya.

‘Alā taqwā minallāhi (atas dasar ketakwaan kepada Allah), yakni dalam kerangka taat dan zikir kepada Allah Ta‘ala.

Wa ridlwānin (dan keridaan), yakni mereka membangun Masjid Quba demi mengharapkan keridaan Rabb mereka.

Khairun am man assasa bunyānahū (itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya), yakni membangun fondasi Masjid asy-Syiqaq.

‘Alā syafā jurufin (di tepi jurang), yakni di tepi jurang yang tidak memiliki dasar.

Hārin (yang runtuh), yakni roboh.

Fanh āra bihī (lalu bangunan itu runtuh bersamanya), yakni bangunan itu rubuh bersama orang yang membangunnya.

Fī nāri jahannam, wallāhu lā yahdil qaumazh zhālimīn (ke dalam neraka Jahannam? Dan Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim), yakni tidak akan mengampuni dan menyelamatkan orang-orang munafik.

Lā yazālu bunyānuhumul ladzī banau (bangunan-bangunan yang mereka dirikan senantiasa), yakni setelah dirobohkan.

Rībatan (menjadi kegelisahan), yakni kesedihan dan penyesalan.

Fī qulūbihim illā aη taqath-tha‘a qulūbuhum (dalam hati mereka, kecuali bila hati mereka telah terpotong-potong), yakni kecuali bila mereka telah mati.

Wallāhu ‘alīmun (dan Allah Maha Mengetahui) tujuan mereka membangun Masjid adl-Dlirar (adl-dirār: kemudaratan) dan niat mereka.

Hakīm (lagi Maha Bijaksana) dalam menetapkan keputusan untuk menghancurkan dan membakar masjid mereka. Sekembalinya dari Perang Tabuk, Rasulullah ﷺ mengutus ‘Amir bin Qais dan Wahsyi, maulā Muth‘im bin ‘Adi untuk membakar dan menghancurkan masjid tersebut.


BACA JUGA: Kajian Tafsir Juz Ke-11 untuk ayat lainnya

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

109.[12] Maka apakah orang-orang yang mendirikan bangunan (masjid) atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu lebih baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu (bangunan) itu roboh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam?[13] Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

[12] Di ayat ini, Allah Subhaanahu wa Ta’aala membedakan masjid sesuai tujuan pembangunannya, antara masjid yang dibangun dengan niat yang ikhlas dan mengikuti perintah-Nya dengan masjid yang dibangun bukan karena itu.

[13] Ini merupakan perumpamaaan bangunan yang tidak dibangun di atas takwa. Pertanyaan di ayat ini adalah untuk taqrir (menetapkan).

  1. Bangunan yang mereka dirikan itu senantiasa menjadi penyebab keraguan dalam hati mereka, sampai hati mereka hancur[14]. Dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana[15].

[14] Yakni sampai mereka mati. Bisa juga maksudnya bahwa bangunan yang mereka bangun itu menjadi sebab keraguan dalam hati mereka, kecuali jika mereka menyesal dengan penyesalan yang dalam seakan-akan hati mereka tersayat-sayat, bertobat kepada Tuhannya, dan takut kepada-Nya dengan sesungguhnya, maka Allah akan memaafkan mereka. Jika mereka tidak bertobat, maka yang mereka bangun akan terus menambah keraguan dan kemunafikan di hati mereka, nas’alullahas salaamah wal ‘aafiyah. Dari ayat di atas dapat diambil kesimpulan:

  • Membuat masjid dengan maksud menimbulkan bencana bagi masjid sebelahnya adalah haram, dan bahwa masjid tersebut mesti dirobohkan jika diketahui maksud dari pembangunannya.
  • Amal, meskipun saleh dapat dirubah oleh niat sehingga berubah menjadi terlarang.
  • Setiap keadaan yang mengakibatkan perpecahan antara kaum mukmin termasuk maksiat yang mesti ditinggalkan dan disingkirkan, sebagaimana keadaan yang menjadikan kaum mukmin bersatu harus diikuti, dan didorong melakukannya.
  • Larangan shalat di tempat-tempat maksiat, menjauhinya dan tidak mendekatinya.
  • Maksat dapat mempengaruhi tempat, sebagaimana maksiat kaum munafik berpengaruh pada masjid dhirar dan terlarangnya melakukan shalat di sana.
  • Demikian pula, bahwa ketaatan juga mempengaruhi tempat sebagaimana pada masjid Quba’. Oleh karena itu, masjid Quba’ memiliki kelebihan di atas masjid yang lain sehingga Rasulullah ﷺ sering mengunjungi masjid Quba’ setiap hari Sabtu untuk shalat di situ, dan mendorong untuk melakukan shalat di sana. Jika masjid Quba’ yang dibangun atas dasar takwa demikian mulianya, apalagi masjid yang dibangun langsung oleh Nabi ﷺ, yaitu masjid Nabawi.
  • Setiap perbuatan, jika di dalamnya terdapat hal yang membahayakan seorang muslim, atau di dalamnya terdapat maksiat kepada Allah, atau memecah belah kaum mukmin, atau membantu musuh Allah dan Rasul-Nya, maka perbuatan iu haram dilakukan.
  • Amalan yang dibangun atas dasar ikhlas dan mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ itulah amal yang dibangun atas dasar takwa, sedangkan amalan yang dibangun dengan niat yang buruk dan tidak mengikuti sunnah (di atas bid’ah) merupakan amal yang diangun di atas tepi jurang yang hampir roboh.

[15] Dia tidaklah berbuat, mencipta, memerintah, dan melarang kecuali sesuai hikmah-Nya.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Maka apakah orang-orang yang mendirikan masjidnya di atas dasar takwa) karena takut (kepada Allah dan) selalu mengharapkan (keridaan)-Nya itu (yang lebih baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi) dapat dibaca jurufin dan dapat pula dibaca jurfin, artinya di pinggir (jurang) yakni hampir roboh (lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia) maksudnya bangunannya roboh berikut orang-orang yang membangunnya (ke dalam neraka Jahanam?) ungkapan ayat ini merupakan tamtsil/perumpamaan yang paling baik, yaitu menggambarkan pembangunan masjid yang berdasarkan bukan kepada takwa, kemudian akibat-akibat yang akan dialaminya. Kata tanya pada permulaan ayat ini mengandung makna taqrir, artinya masjid pertamalah yang baik seperti halnya masjid Quba. Sedangkan gambaran yang kedua adalah perumpamaan masjid dhirar. (Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang lalim).
  2. (Bangunan-bangunan yang mereka dirikan itu senantiasa menjadi pangkal keraguan) yakni keragu-raguan (dalam hati mereka kecuali bila telah hancur) tercabik-cabik (hati mereka itu) lantaran mereka mati. (Dan Allah Maha Mengetahui) tentang makhluk-Nya (lagi Maha Bijaksana) dalam perlakuan-Nya terhadap makhluk-Nya.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Subhaanahu wa Ta’aala   berfirman bahwa tidak sama antara orang yang membangun bangunannya atas dasar takwa dan rida Allah dengan orang yang membangun Masjid Dirar karena kekafirannya dan untuk memecah belah orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Karena sesungguhnya mereka yang kafir itu membangun bangunannya di tepi jurang yang runtuh, yakni perumpamaannya sama dengan orang yang membangun bangunannya di tepi jurang yang longsor.

Lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dia ke dalam neraka Jahanam. Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (At-Taubah: 109)

Artinya, Allah tidak akan memperbaiki amal perbuatan orang-orang yang merusak.

Jabir ibnu Abdullah mengatakan bahwa ia melihat masjid yang dibangun untuk menimbulkan mudarat terhadap orang-orang mukmin itu keluar asap dari dalamnya di masa Rasulullah ﷺ.

Ibnu Juraij mengatakan, telah diceritakan kepada kami bahwa pernah ada sejumlah kaum laki-laki membuat galian, dan mereka menjumpai sumber asap yang keluar darinya.

Hal yang sama telah dikatakan oleh Qatadah. Khalaf ibnu Yasin Al-Kufi mengatakan bahwa ia melihat masjid orang-orang munafik yang disebutkan oleh Allah di dalam Al-Qur’an, di dalamnya terdapat sebuah liang yang mengeluarkan asap. Di masa sekarang tempat itu menjadi tempat pembuangan sampah. Demikianlah menurut apa yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir rahimahulldh.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala  :

Bangunan-bangunan yang mereka dirikan itu senantiasa menjadi pangkal keraguan dalam hati mereka. (At-Taubah: 110)

Yakni menjadi keraguan dan kemunafikan dalam hati mereka disebabkan kekurangajaran mereka yang berani melakukan perbuatan jahat itu. Hal tersebut meninggalkan kemunafikan dalam hati mereka. Sebagaimana para penyembah anak lembu di masa Nabi Musa, hati mereka dijadikan senang dengan penyembahan mereka terhadap anak lembu itu.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala  :

Kecuali bila hati mereka itu telah hancur. (At-Taubah: 110)

Yaitu dengan kematian mereka. Demikianlah menurut Ibnu Abbas, Mujahid, Qatadah, Zaid ibnu Aslam, As-Saddi, Habib ibnu Abu Sabit, Ad-Dahhak, Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam, dan lain-lainnya dari kalangan ulama Salaf yang bukan hanya seorang.

Dan Allah Maha Mengetahui. (At-Taubah: 110)

Allah Maha Mengetahui semua amal perbuatan makhluk-Nya.

Lagi Maha Bijaksana. (At-Taubah: 110)

dalam memberikan balasan terhadap perbuatan mereka, yang baik ataupun yang buruk.

Hanya Allah-lah Yang Maha mengetahui dan hanya bagi Allah-lah segala puji.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here