Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat

Kajian Tafsir: Surah At-Taubah ayat 118

0
35

Kajian Tafsir: Surah At-Taubah ayat 118. Perang Tabuk, dan diterimanya tobat oleh Allah Subhaanahu wa Ta’aala dari tiga orang yang tidak ikut berperang. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَعَلَى الثَّلاَثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُواْ حَتَّى إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنفُسُهُمْ وَظَنُّواْ أَن لاَّ مَلْجَأَ مِنَ اللّهِ إِلاَّ إِلَيْهِ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُواْ إِنَّ اللّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ -١١٨

Dan terhadap tiga orang yang ditinggalkan. Hingga ketika bumi terasa sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah (pula terasa) sempit bagi mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksaan) Allah, melainkan kepada-Nya saja, kemudian Allah menerima tobat mereka agar mereka tetap dalam tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. (Q.S. At-Taubah : 118)


Link untuk Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-11

Tafsir Ibnu Abbas

Wa ‘alats tsalātsatil ladzīna khullifū (dan juga terhadap tiga orang yang ditangguhkan [penerimaan tobat] mereka), yakni Allah Ta‘ala juga memaafkan tiga orang yang ditangguhkan penerimaan tobatnya, mereka adalah Ka‘b bin Malik dan dua orang sahabatnya.

Hattā idzā dlāqat ‘alaihimul ardlu bimā rahubat (hingga ketika bumi terasa sempit oleh mereka, padahal bumi itu lapang) dengan segala keluasannya.

Wa dlāqat ‘alaihim aηfusuhum (dan diri mereka pun telah terasa sempit pula oleh mereka), yakni hati mereka pun terasa sempit dengan adanya penangguhan itu.

Wa zhannū (serta mereka telah mengetahui), yakni mereka pun telah mengetahui dan meyakini.

Al lā malja-a minallāhi (bahwa tidak ada tempat perlindungan dari [azab] Allah), yakni bahwa mereka tidak akan selamat dari (azab) Allah Ta‘ala.

Illā ilaih (melainkan kepada-Nya semata), yakni selain dengan jalan bertobat kepada-Nya atas ketidakikutsertaan mereka dalam Perang Tabuk.

Tsumma tāba ‘alaihim (kemudian Allah menerima tobat mereka), yakni Allah Ta‘ala mangampuni dan memaafkan mereka.

Li yatūbū (supaya mereka bertobat), yakni supaya mereka bertobat atas ketidakikutsertaannya.

Innallāha huwat tawwābu (sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima Tobat), yakni Maha Pemberi Ampunan.

Ar-rahīm (lagi Maha Penyayang) kepada orang-orang yang bertobat.

Hanya Allah-lah Yang Maha mengetahui dan hanya bagi Allah-lah segala puji.