Allah Telah Menerima Tobat Nabi

Kajian Tafsir: Surah At-Taubah ayat 117

0
42

Kajian Tafsir: Surah At-Taubah ayat 117. Allah telah menerima tobat Nabi, orang-orang muhajirin dan orang-orang anshar, yang mengikuti Nabi pada masa-masa sulit. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

لَقَد تَّابَ الله عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ الْعُسْرَةِ مِن بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِّنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ إِنَّهُ بِهِمْ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ -١١٧

Sungguh, Allah telah menerima tobat Nabi, orang-orang muhajirin dan orang-orang anshar, yang mengikuti Nabi pada masa-masa sulit, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima tobat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka. (Q.S. At-Taubah : 117)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Laqat tāballāhu ‘alan nabiyyi (sesungguhnya Allah telah menerima tobat nabi), yakni Allah Ta‘ala telah memaafkan nabi.

Wal muhājirīna wal aηshāri (orang-orang Muhajirin dan orang-orang Ansar), yakni orang-orang yang pernah shalat menghadap ke arah dua kiblat dan turut serta dalam Perang Badr. Kemudian Allah Ta‘ala melanjutkan Firman-Nya menjelaskan perihal mereka.

Alladzīnattaba‘ūhu (yang mengikuti nabi), yakni orang-orang yang mengikuti Nabi ﷺ dalam Perang Tabuk.

Fī sā‘atil ‘usrati (dalam masa kesulitan), yakni ketika menghadapi masa-masa sulit. Ketika itu mereka menghadapi kesulitan dalam hal logistik, kendaraan, menghadapi musim panas, menghadapai musuh, dan dalam perjalanan.

Mim ba‘di mā kāda yazīghu (setelah hampir berpaling), yakni hampir goyah.

Qulūbu farīqim minhum (hati sebagian di antara mereka), yakni sebagian di antara kaum mukminin yang ikhlas untuk berangkat bersama Nabi ﷺ.

Tsumma tāba ‘alaihim (kemudian Dia menerima tobat mereka), yakni Allah Ta‘ala memaafkan mereka dan meneguhkan hati mereka, sehingga mereka dapat pergi bersama Nabi ﷺ.

Innahū bihim raūfur rahīm (sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka).


Link untuk Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-11

Hidayatul  Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Sungguh, Allah telah menerima tobat Nabi, orang-orang muhajirin dan orang-orang anshar[1], yang mengikuti Nabi pada masa-masa sulit[2], setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling[3], kemudian Allah menerima tobat mereka[4]. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka[5],

[1] Allah Subhaanahu wa Ta’aala mengampuni ketergelinciran mereka, memperbanyak kebaikan, dan menaikkan mereka ke derajat yang tinggi disebabkan mereka mau melakukan perbuatan-perbuatan yang berat dilakukan.

[2] Yaitu di perang Tabuk, di mana ketika itu dua orang sampai berbagi dalam memakan satu buah kurma, dan sepuluh orang bergantian menunggangi seekor unta. Ketika itu, cuaca sangat panas, perbekalan dan kendaraan kurang, dan musuh berjumlah besar. Semua itu dapat membuat seseorang meninggalkan perang.

[3] Dengan tidak mengikuti Beliau karena keadaan yang begitu sulit. Berpalingnya hati adalah dengan berpaling dari jalan yang lurus, jika berpaling dalam hal yang menyangkut dasar agama, maka bisa menjadi kafir, namun jika berpalingnya dalam syari’at yang cabang (bukan ushul), maka keadaannya tergantung sejauh mana tingginya kedudukan syari’at itu. Berpaling tersebut bisa dengan tidak melakukannya atau melakukannya namun tidak sesuai syari’at.

[4] Dengan menjadikan mereka tetap kokoh.

[5] Di antara kasih sayang-Nya kepada mereka adalah dengan mengaruniakan mereka taufik untuk bertobat, menerimanya dan meneguhkan mereka di atasnya.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Sesungguhnya Allah telah menerima tobat) artinya Dia menerima tobat untuk selamanya (Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Ansar yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan) yakni sewaktu keadaan sedang sulit-sulitnya. Hal ini terjadi sewaktu perang Tabuk; sebiji buah kurma dimakan oleh dua orang, dan sepuluh orang pasukan saling bergantian menaiki satu hewan kendaraan di antara sesama mereka, dan panas pada saat itu terik sekali sehingga mereka meminum air yang ada dalam perut unta karena persediaan air habis (setelah hampir berpaling) dapat dibaca yaziighu atau taziighu, artinya cenderung (hati segolongan dari mereka) dari mengikuti Nabi kemudian mereka bermaksud untuk kembali dan tidak ikut berperang lantaran kesulitan yang sedang mereka alami pada saat itu (kemudian Allah menerima tobat mereka itu) dengan memberikan keteguhan dan kesabaran kepada mereka. (Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang).

Hanya Allah-lah Yang Maha mengetahui dan hanya bagi Allah-lah segala puji.