Alam Semesta Memiliki Undang-undang yang Tidak Berubah

Tafsir Al-Qur’an: Surah Yunus ayat 65-67

0
51

Kajian Tafsir Al-Qur’an: Surah Yunus ayat 65-67. Alam semesta memiliki undang-undang yang tidak berubah, barang siapa yang mendapat petunjuk, maka dialah yang beruntung dan sukses. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَلاَ يَحْزُنكَ قَوْلُهُمْ إِنَّ الْعِزَّةَ لِلّهِ جَمِيعاً هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ -٦٥- أَلا إِنَّ لِلّهِ مَن فِي السَّمَاوَات وَمَن فِي الأَرْضِ وَمَا يَتَّبِعُ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ اللّهِ شُرَكَاء إِن يَتَّبِعُونَ إِلاَّ الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلاَّ يَخْرُصُونَ -٦٦- هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِتَسْكُنُواْ فِيهِ وَالنَّهَارَ مُبْصِراً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَسْمَعُونَ -٦٧

Dan janganlah engkau (Muhammad) sedih oleh perkataan mereka. Sungguh, kemuliaan itu seluruhnya milik Allah. Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ingatlah, milik Allah meliputi siapa yang ada di langit dan siapa yang ada di bumi. Dan orang-orang yang menyeru sekutu-sekutu selain Allah, tidaklah mengikuti (suatu keyakinan). Mereka hanya mengikuti persangkaan belaka, dan mereka hanyalah menduga-duga. Dialah yang menjadikan malam bagimu agar kamu beristirahat padanya dan (menjadikan) siang terang benderang (agar kamu dapat mencari karunia Allah). Sungguh, yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mendengar. (Q.S. Yunus : 65-67)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa lā yahzungka (dan janganlah membuat kamu bersedih), hai Muhammad ﷺ!

Qauluhum (perkataan mereka), yakni pendustaan mereka terhadapmu.

Innal ‘izzata (sesungguhnya kekuatan itu), yakni kekuasaan itu.

Lillāhi jamī‘ā (seluruhnya Kepunyaan Allah), termasuk kekuasaan untuk membinasakan mereka.

Huwas samī‘u (Dia-lah Yang Maha mendengar) perkataan mereka.

Al-‘alīm (lagi Maha Mengetahui) perbuatan mereka dan hukuman untuk mereka.

Alā inna lillāhi maη fis samāwāti wa maη fil ardl (ketahuilah, sesungguhnya kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi), yakni semua makhluk. Dia mengubah-ubah mereka Sekehendak-Nya.

Wa mā yattabi‘u (dan [sebenarnya] tidaklah mengikuti), yakni tidaklah menyembah.

Alladzīna yad‘ūna (orang-orang yang menyeru), yakni orang-orang yang menyembah.

Miη dūnillāhi syurakā’ (selain Allah, sekutu-sekutu itu), yakni tuhan-tuhan berhala itu.

Iy yattabi‘ūna (tidaklah mereka mengikuti), yakni tidaklah mereka menyembah (sekutu-sekutu Allah).

Illazh zhanna (kecuali prasangka belaka), yakni kecuali hanya berdasar pada prasangka belaka, tanpa suatu keyakinan.

Wa in hum (dan mereka), yakni para pemimpin itu.

Illā yakhrushūn (hanyalah menduga-duga), yakni hanya membodohi para pengikutnya.

Huwal ladzī (Dia-lah yang), yakni Tuhan kalianlah yang ….

Ja‘ala lakum (menjadikan bagi kalian), yakni menciptakan bagi kalian.

Al-laila li taskunū fīhi (malam supaya kalian bisa beristirahat padanya).

Wan nahāra mubshirā (dan [menjadikan] siang terang benderang), yakni menjadikan siang bercahaya untuk berlalu lalang.

Inna fī dzālika (sesungguhnya pada yang demikian itu), yakni pada apa yang telah Aku kemukakan itu.

La āyātin (benar-benar terdapat tanda-tanda), yakni pelajaran-pelajaran.

Li qaumiy yasma‘ūn (bagi orang-orang yang mendengarkan) nasihat-nasihat Al-Qur’an dan menaatinya.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Dan janganlah engkau (Muhammad) sedih oleh perkataan mereka[13]. Sungguh, kemuliaan itu seluruhnya milik Allah[14]. Dia Maha Mendengar[15] lagi Maha Mengetahui[16].

[13] Seperti ucapan mereka, “Kamu bukanlah seorang rasul.” Sesungguhnya ucapan itu tidaklah memuliakan mereka dan tidak berbahaya bagimu.

[14] Dia memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki dan mencegahnya dari siapa yang Dia kehendaki.

[15] Semua ucapan.

[16] Semua perbuatan. Oleh karena itu, Dia akan membalas mereka dan akan menolongmu.

  1. Ingatlah, milik Allah meliputi siapa yang ada di langit dan siapa yang ada di bumi[17]. Dan orang-orang yang menyeru sekutu-sekutu selain Allah[18], tidaklah mengikuti (suatu keyakinan). Mereka hanya mengikuti persangkaan belaka[19], dan mereka hanyalah menduga-duga[20].

[17] Semua milik Allah, hamba-Nya dan ciptaan-Nya, Dia berhak bertindak terhadap mereka apa yang Dia kehendaki dengan hukum-hukum-Nya. Semuanya milik Allah, ditundukkan-Nya dan diatur-Nya, mereka tidak berhak sedikit pun disembah dan mereka bukan sekutu Allah dari sisi apa pun.

[18] Seperti patung dan berhala.

[19] Mereka menyangka bahwa sekutu-sekutu itu adalah tuhan yang dapat memberi syafaat bagi mereka. Padahal persangkaan itu tidaklah membuahkan kebenaran.

[20] Jika persangkaan mereka benar, yakni patung-patung dan berhala adalah sekutu Allah, maka tunjukkanlah sifat-sifatnya yang menjadikannya berhak untuk disembah, dan apakah patung dan berhala itu mampu menciptakan, memberi rezeki, menguasai atau mengatur malam dan siang?

  1. Dialah yang menjadikan malam bagimu agar kamu beristirahat padanya[21] dan (menjadikan) siang terang benderang (agar kamu dapat mencari karunia Allah). Sungguh, yang demikian itu terdapat tanda-tanda[22] bagi orang-orang yang mendengar[23].

[21] Jika tidak ada malam, tentu mereka tidak dapat beristirahat.

[22] Yakni tanda-tanda yang menunjukkan keesaan Allah, bahwa hanya Dia yang berhak diibadahi, dan menunjukkan bahwa beribadah kepada selain-Nya adalah batil. Demikian juga menunjukkan bahwa Dia Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.

[23] Yakni mendengar yang disertai mentadabburi (merenungi) dan mengambil pelajaran.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Janganlah kamu sedih oleh perkataan mereka) terhadap dirimu, seperti perkataan mereka, “Engkau adalah bukan utusan Allah,” dan lain sebagainya. (Sesungguhnya) huruf inna di sini merupakan pertanda isti’naf atau kalimat baru (kekuatan itu) kekuatan (adalah kepunyaan Allah seluruhnya. Dialah Yang Maha Mendengar) semua perkataan (lagi Maha Mengetahui) semua perbuatan, maka karenanya Dia membalas perbuatan mereka dan menolong kamu.
  2. (Ingatlah, sesungguhnya kepunyaan Allah semua yang ada di langit dan semua yang ada di bumi) sebagai hamba-Nya, milik-Nya dan sebagai makhluk-Nya. (Dan tidaklah mengikuti orang-orang yang menyeru) yang menyembah (selain daripada Allah) selain Allah, yaitu berupa berhala-berhala (berupa sekutu-sekutu) bagi-Nya secara nyata, Maha Suci Allah dari sekutu-sekutu (tidaklah) tiada lain (mereka mengikuti) dalam hal tersebut (melainkan hanya dugaan saja) mereka menduga bahwa berhala-berhala sesembahan mereka itu adalah tuhan yang dapat memberikan syafaat terhadap diri mereka (dan tidaklah) tiadalah (keadaan mereka melainkan hanya berdusta belaka) yakni berbuat dusta dalam hal tersebut.
  3. (Dialah yang menjadikan malam hari bagi kalian supaya kalian beristirahat padanya dan menjadikan siang terang) diisnadkannya lafal al-ibshaar yang artinya melihat kepada lafal an-nahaar yang artinya siang hari mengandung pengertian majaz, karena seseorang dapat melihat pada siang hari. (Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda) bukti-bukti yang menunjukkan keesaan-Nya (bagi orang-orang yang mendengar) dengan pendengaran yang dibarengi dengan perasaan mengambil pelajaran dan nasihat dari apa yang didengarnya.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Subhaanahu wa Ta’aala  berfirman kepada Rasul-Nya:

Janganlah kamu sedih. (Yunus: 65)

oleh perkataan orang-orang musyrik itu. tetapi mintalah pertolongan kepada Allah dalam menghadapi mereka, dan bertawakallah kepada-Nya. Karena sesungguhnya kemenangan itu hanyalah milik Allah semuanya, Rasul-Nya serta orang-orang mukmin.

Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Yunus: 65)

Yakni Maha Mendengar semua ucapan hamba-hamba-Nya, lagi Maha Mengetahui semua keadaan mereka. Kemudian Allah Subhaanahu wa Ta’aala  memberitahukan bahwa kepunyaan Dialah semua yang ada di langit dan bumi; dan bahwa orang-orang musyrik yang menyembah berhala-berhala itu, sedangkan berhala-berhala itu tidak dapat menimpakan mudarat, tidak pula manfaat, tiada dalil yang menjadi pegangan mereka dalam menyembah berhala-berhala itu. Bahkan sebenarnya mereka dalam penyembahannya itu hanyalah semata-mata mengikuti dugaan dan khayalan, kedustaan dan buat-buatan mereka sendiri.

Kemudian Allah Subhaanahu wa Ta’aala  memberitahukan bahwa Dialah yang telah menjadikan malam hari untuk hamba-hamba-Nya agar mereka beristirahat dari kelelahan dan kecapaian sehabis berusaha dan bekerja.

Dan (menjadikan) siang hari terang-benderang. (Yunus: 67)

Maksudnya, terang-benderang untuk penghidupan mereka, usaha mereka, bepergian mereka, dan kepentingan-kepentingan mereka.

Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang mendengar. (Yunus: 67)

Yaitu yang mendengar hujah-hujah dan dalil-dalil ini, lalu mereka mengambil pelajaran darinya: dan mereka menyimpulkan darinya kebesaran dari Tuhan yang menciptakan, mengatur, dan memperjalankan semuanya itu.

Hanya Allah-lah Yang Maha mengetahui dan hanya bagi Allah-lah segala puji.

 

«««« juz 10«««««« juz 11 «««««« juz 12 ««««