Fir’aun Itu Benar-benar Telah Berbuat Sewenang-wenang

Tafsir Al-Qur’an: Surah Yunus ayat 83

0
46

Kajian Tafsir Al-Qur’an: Surah Yunus ayat 83. Fir’aun itu benar-benar telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

فَمَا آمَنَ لِمُوسَى إِلاَّ ذُرِّيَّةٌ مِّن قَوْمِهِ عَلَى خَوْفٍ مِّن فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِمْ أَن يَفْتِنَهُمْ وَإِنَّ فِرْعَوْنَ لَعَالٍ فِي الأَرْضِ وَإِنَّهُ لَمِنَ الْمُسْرِفِينَ -٨٣

Maka tidak ada yang beriman kepada Musa, selain keturunan dari kaumnya dalam keadaan takut bahwa Fir’aun dan para pemuka kaumnya akan menyiksa mereka. Dan sungguh, Fir’aun itu benar-benar telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi, dan benar-benar termasuk orang yang melampaui batas. (Q.S. Yunus : 83)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Fa mā āmana (namun, tidak ada yang beriman), yakni tidak ada yang membenarkan.

Li mūsā (kepada Musa) atas apa yang dia sampaikan.

Illā dzurriyyatum ming qaumihī (melainkan keturunan dari kaumnya), yakni dari kaum Fir‘aun, yang bapaknya dari bangsa Qibthi dan ibunya dari Bani Israil. Merekalah yang beriman kepada Musa ‘alaihis salam

‘Alā khaufim miη fir‘auna wa malā-ihim (dalam keadaan takut kalau-kalau Fir‘aun dan para pemuka kaumnya), yakni para pemimpin kaumnya.

Ay yaftinahum (akan menyiksa mereka), yakni akan membunuh mereka.

Wa inna fir‘auna la ‘ālin (sesungguhnya Fir‘aun itu benar-benar sewenang-wenang), yakni benar-benar membangkang.

Fil ardli (di muka bumi) terhadap agama Musa ‘alaihis salam

Wa innahū la minal musrifīn (dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang melampaui batas), yakni termasuk orang-orang musyrik.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Maka tidak ada yang beriman kepada Musa, selain keturunan dari kaumnya[25] dalam keadaan takut bahwa Fir’aun dan para pemuka kaumnya akan menyiksa mereka. Dan sungguh, Fir’aun itu benar-benar telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi, dan benar-benar termasuk orang yang melampaui batas[26].

[25] Ada yang mengatakan, bahwa mereka ini adalah para pemuda Bani Israil. Yang demikian adalah karena biasanya yang lebih segera menerima kebenaran adalah para pemuda, berbeda dengan orang-orang yang sudah tua, di mana mereka sudah terbina di atas kekufuran, dalam hati mereka telah mengakar keyakinan-keyakinan yang rusak sehingga sulit dilepaskan.

[26] Dengan mengaku sebagai tuhan.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Maka tidak ada yang beriman kepada Musa melainkan pemuda-pemuda) segolongan orang (dari) anak-anak (kaumnya) kaumnya Firaun (dalam keadaan takut bahwa Firaun dan pemuka-pemuka kaumnya akan menyiksa mereka.) dalam upayanya untuk memalingkan mereka dari agama Nabi Musa melalui siksaan (Sesungguhnya Firaun itu berbuat sewenang-wenang) berlaku sombong (di muka bumi.) negeri Mesir (Dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang melampaui batas) dia sudah sangat keterlaluan karena mengaku menjadi tuhan.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Subhaanahu wa Ta’aala  menceritakan bahwa tidak ada yang beriman kepada Musa ‘alaihis salam  sekalipun ia datang dengan membawa ayat-ayat yang jelas, hujah-hujah yang pasti, dan bukti-bukti yang jelas melainkan hanya segolongan kecil dari kalangan kaum Fir’aun, yaitu terdiri atas para pemuda. Itu pun dengan dicekam oleh rasa takut dan khawatir terhadap pemuka-pemuka kaum Fir’aun, bila mereka mengembalikannya ke dalam kekufuran yang semula. Karena Fir’aun, la’natullah, adalah orang yang angkara murka, pengingkar kebenaran, dan melampaui batas dalam kecongkakan dan keingkarannya. Dia adalah orang yang sangat kejam sehingga rakyatnya sangat takut kepadanya.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Maka tidak ada yang beriman kepada Musa melainkan pemuda-pemuda dari kaumnya (Fir’aun) dalam keadaan takut bahwa Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya akan menyiksa mereka. (Yunus: 83) Menurutnya, para pemuda yang beriman kepada Musa adalah dari kalangan selain Bani Israil, yaitu dari kalangan kaumnya Fir’aun; jumlah mereka sedikit. Antara lain ialah istri Fir’aun sendiri, orang-orang yang beriman dari kalangan keluarga Fir’aun, dan bendahara Fir’aun beserta istrinya.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas Maka tidak ada yang beriman kepada Musa melainkan pemuda-pemuda dari kalangan kaumnya (Fir’aun). (Yunus: 83) Yakni dari kalangan Bani Israil.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Ad-Dahhak, dan Qatadah, bahwa makna zurriyyah ialah sejumlah kecil.

Mujahid telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: kecuali pemuda-pemuda dari kalangan kaumnya. (Yunus: 83) Bahwa mereka adalah anak-anak dari orang-orang yang Musa diutus kepada mereka sejak semula, sedangkan bapak-bapak mereka telah meninggal dunia.

Ibnu Jarir memilih pendapat yang dikatakan oleh Mujahid sehubungan dengan pengertian zurriyyah ini, yaitu bahwa mereka adalah dari kalangan kaum Bani Israil. bukan dari kalangan kaum Fir’aun, mengingat kembalinya damir adalah kepada lafaz yang paling dekat dengannya.

Pendapat ini masih perlu dipertimbangkan kebenarannya. Menurutnya, yang dimaksud dengan istilah zurriyyah adalah para pemuda, dan bahwa mereka adalah dari kalangan Bani Israil; mengingat hal yang telah dimaklumi menyatakan bahwa kaum Bani Israil seluruhnya telah beriman kepada Musa ‘alaihis salam  dan mereka selalu menanti-nanti kedatangannya. Sebelum itu mereka telah mengenal ciri dan sifatnya serta berita gembira akan kedatangannya melalui kitab-kitab terdahulu. Dikatakan pula bahwa Allah kelak akan menyelamatkan mereka dari penindasan Fir’aun, dan Allah akan memenangkan mereka atas Fir’aun. Karena itulah setelah berita itu sampai kepada Fir’aun, maka Fir’aun bersikap sangat waspada, tetapi ia tidak mempunyai jalan untuk menemukannya. Setelah Musa datang, barulah Fir’aun menindas kaum Bani Israil dengan penindasan yang keras. Disebutkan oleh firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

قَالُوا أُوذِينَا مِنْ قَبْلِ أَنْ تَأْتِيَنَا وَمِنْ بَعْدِ مَا جِئْتَنَا قَالَ عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُهْلِكَ عَدُوَّكُمْ وَيَسْتَخْلِفَكُمْ فِي الأرْضِ فَيَنْظُرَ كَيْفَ تَعْمَلُونَ

Kaum Musa berkata, “Kami telah ditindas (oleh Fir’aun) sebelum kedatanganmu kepada kami dan sesudah kamu datang.” Musa menjawab, “Mudah-mudahan Allah membinasakan musuh kalian dan menjadikan kalian khalifah di bumi-(Nya), maka Allah akan melihat bagaimana perbuatan kalian.” (Al-A’raf: 129)

Apabila telah terbukti hal ini, maka bagaimana mungkin bila makna yang dimaksud dari lafaz zuriyyah diartikan para pemuda dari kalangan kaum Musa, sedangkan mereka adalah kaum Bani Israil?

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala :

Dalam keadaan takut bahwa Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya. (Yunus: 83)

Maksudnya, orang-orang yang terkemuka dari kalangan kaum mereka akan menyiksa mereka, yakni pemuka-pemuka kaum Fir’aun. Di kalangan kaum Bani Israil sendiri tidak terdapat seorang pun yang dikhawatirkan akan terfitnah dari keimanannya selain Qarun. Sesungguhnya dia berasal dari kaum Musa, tetapi ia berbuat aniaya terhadap kaumnya, memihak kepada Fir’aun, dan bersahabat dengannya.

Di antara ulama ada yang mengatakan bahwa damir pada lafaz wamala-ihim kembali kepada Fir’aun dan para pembesar kerajaannya yang mengikutinya. Atau ada yang tidak disebutkan, yaitu lafaz aji; lalu kedudukannya diganti oleh mudaf ilaih. Tetapi pendapat ini jauh dari kebenaran, sekalipun Ibnu Jarir meriwayatkannya dari sebagian ahli Nahwu.

Hanya Allah-lah Yang Maha mengetahui dan hanya bagi Allah-lah segala puji.

 

«««« juz 10«««««« juz 11 «««««« juz 12 ««««