Allah Ta’aala Menjungkirbalikkan Negeri Kaum Luth

Tafsir Al-Qur’an: Surah Hud ayat 82-83

0
379

Kajian Tafsir Surah Hud ayat 82-83. Kisah Nabi Luth ‘alaihis salam bersama kaumnya, penjelasan tentang kejahatan mereka sehingga mereka berhak mendapatkan hukuman di dunia dan azab di akhirat. Allah Ta’aala menjungkirbalikkan negeri kaum Luth, dan Allah hujani mereka bertubi-tubi dengan batu dari tanah yang terbakar. Firman-Nya:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

فَلَمَّا جَاء أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِّن سِجِّيلٍ مَّنضُودٍ -٨٢- مُّسَوَّمَةً عِندَ رَبِّكَ وَمَا هِيَ مِنَ الظَّالِمِينَ بِبَعِيدٍ -٨٣

Maka ketika keputusan Kami datang, Kami menjungkirbalikkan negeri kaum Luth, dan Kami hujani mereka bertubi-tubi dengan batu dari tanah yang terbakar, Yang diberi tanda oleh Tuhanmu. Dan siksaan itu tidaklah jauh dari orang yang zalim. (Q.S. Hud : 82-83)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Fa lammā jā-a amrunā (maka tatkala azab Kami datang) untuk membinasakan mereka.

Ja‘alnā ‘āliyahā sāfilahā (Kami Menjadikan bagian atas negeri kaum Luth menjadi ke bawah), yakni Kami membalikkan negeri kaum Luth; bagian bawah menjadi di atas, dan bagian atas menjadi di bawah.

Wa amtharnā ‘alaihā (dan Kami menghujani mereka), yakni menghujani orang-orang yang durhaka dan yang sedang bepergian.

Hijāratam miη sijjīlin (dengan batu dari tanah yang terbakar), yakni dengan tanah keras dan lumpur seperti batu bata. Menurut satu pendapat, dengan batu dari langit.

Maηdlūd (secara bertubi-tubi), yakni susul-menyusul satu sama lain.

Musawwamatan (yang diberi tanda), yakni yang diberi garis hitam, merah, dan putih. Ada juga yang berpendapat, yang bertuliskan nama orang yang akan dibinasakan dengan batu itu.

‘Iηda rabbik (oleh Rabb-mu), yakni batu itu datang dari sisi Rabb-mu, hai Muhammad.

Wa mā hiya (dan tidaklah ia), yakni batu itu.

Minazh zhālimīn bi ba‘īd (jauh dari orang-orang yang zalim), yakni batu itu tidak akan salah sasaran, tetapi tepat mengenai mereka. Menurut satu pendapat, dan tidaklah batu itu jauh dari orang-orang zalim di antara umatmu yang meniru perilaku mereka.


BACA JUGA: Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-12 untuk ayat lainnya

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Maka ketika keputusan Kami datang, Kami menjungkirbalikkan negeri kaum Luth[32], dan Kami hujani mereka bertubi-tubi dengan batu dari tanah yang terbakar,

[32] Malaikat Jibril mengangkat negeri itu ke atas, lalu dibalikkan ke bawah.

  1. Yang diberi tanda oleh Tuhanmu[33]. Dan siksaan itu tidaklah jauh dari orang yang zalim[34].

[33] Yakni nama-nama orang yang akan dilempari batu tertera di batu tersebut. Ada yang mengatakan, di batu itu ada tanda azab dan kemurkaan dari Allah Azza wa Jalla, wallahu a’lam.

[34] Yakni batu itu tidak jauh dari orang-orang yang zalim. Sebagian mufassir mengartikan bahwa negeri kaum Luth yang dibinasakan itu tidak jauh dari penduduk Mekah yang zalim (orang-orang musyrik). Oleh karena itu, hendaknya manusia takut kalau sekiranya mereka berbuat seperti yang dilakukan kaum Luth akan tertimpa azab sebagaimana kaum Luth.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Maka tatkala datang perintah Kami) untuk membinasakan mereka (Kami jadikan bagian atas) dari negeri kaum Luth (ke bawah) artinya malaikat Jibril mengangkat negeri mereka ke atas kemudian menjatuhkannya ke bumi dalam keadaan terbalik (dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar) yaitu lumpur yang panas membara (dengan bertubi-tubi) secara terus-menerus.
  2. (Yang diberi tanda) telah ditandai masing-masing tanah yang membara itu dengan nama orang yang dikenainya (oleh Rabbmu) menjadi zharaf bagi lafal mu`allamatan (dan hal itu) makna yang diisyaratkan di sini adalah azab yang berupa batu itu atau negeri mereka (dari orang-orang yang lalim) artinya penduduk Mekah (tidak jauh).

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

Maka tatkala datang azab Kami. (Hud: 82)

Hal itu terjadi di saat matahari terbit.

Kami jadikan negeri kaum Luth yang bagian atasnya ke bawah (Kami balikkan). (Hud: 82)

Yang dimaksud adalah kota Sodom, sama halnya dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

فَغَشَّاهَا مَا غَشَّى

Lalu Allah menimpakan atas negeri itu azab besar yang menimpanya. (An-Najm: 54)

Artinya, Kami hujani kota itu dengan batu dari tanah liat. Lafaz sijjil menurut bahasa Persia berarti ‘batu dari tanah liat’, menurut Ibnu Abbas dan lain-lainnya. Menurut sebagian ulama adalah dari batu dan tanah liat. Di dalam ayat yang lain disebutkan oleh firman-Nya:

حِجَارَةً مِنْ طِينٍ

Batu-batu dari tanah yang (keras). (Adz-Dzariyat: 33)

Yakni yang telah mengeras jadi batu sehingga kuat. Sebagian ulama mengatakan tanah liat yang dibakar. Imam Bukhari mengatakan bahwa sijjil artinya yang kuat lagi besar. Sijjil dan sijjin mempunyai makna yang sama. Tamim ibnu Muqbil mengatakan dalam salah satu bait syairnya:

وَرَجْلَةٍ يَضْربُون البَيْضَ ضَاحِيةٌ … ضَرْبًا تواصَت بِهِ الْأَبْطَالُ سِجّينا

Dan mereka memukulkan pelana untanya ke pedang yang dibawanya dengan pukulan yang membuat pedang itu menjadi keras dan kuat serta pantas dipakai oleh para pendekar.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

Dengan bertubi-tubi. (Hud: 82)

Sebagian ulama mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah yang dibakar di langit, yakni yang disediakan khusus untuk itu. Ulama lainnya mengatakan, makna mandud ialah yang diturunkan secara bertubi-tubi kepada mereka.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

Yang diberi tanda. (Hud: 83)

Maksudnya, pada tiap-tiap batu itu diberi tanda cap nama-nama pemiliknya. Dengan kata lain, setiap batu tertuliskan nama orang yang akan ditimpa olehnya.

Qatadah dan Ikrimah mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: yang diberi tanda. (Hud: 83) yang dilumuri dengan cairan racun berwarna merah. Menurut suatu riwayat, batu-batu itu diturunkan kepada penduduk kota tersebut, juga kepada penduduk kota itu yang tersebar di berbagai kampung yang ada di sekitarnya. Ketika salah seorang penduduk kota itu sedang berbicara dengan orang-orang banyak, tiba-tiba datanglah batu dari langit menimpanya, maka ia pun roboh dan binasa di hadapan orang banyak. Batu-batu tersebut mengejar mereka di seluruh negeri, lalu membinasakannya hingga ke akar-akarnya tanpa ada seorang pun yang tersisa.

Mujahid mengatakan bahwa Jibril mengambil kaum Luth dari tempat-tempat penggembalaan ternak dan rumah-rumah mereka, lalu mengangkat mereka bersama ternak dan harta benda mereka. Jibril mengangkat mereka ke atas langit, sehingga penduduk langit dapat mendengar lolongan anjing mereka, kemudian mereka dijungkirkan ke tanah. Jibril mengangkat mereka dengan sayap kanannya, dan tatkala Jibril menjungkirkannya ke bumi, maka bagian yang mula-mula terjatuh adalah bagian halaman (pinggiran) kota itu.

Qatadah mengatakan, telah sampai kepada kami bahwa Jibril mengambil pilar tengah kota tersebut, lalu menerbangkannya ke langit sehingga penduduk langit dapat mendengar lolongan anjing mereka, setelah itu Jibril menghancurkan sebagian darinya dengan sebagian yang lain. Kemudian sisa-sisa penduduk kota itu dikejar dengan batu-batu besar yang dijatuhkan dari langit.

Diceritakan pula kepada kami bahwa mereka mendiami empat kota, pada tiap-tiap kota terdapat seratus ribu penduduk. Menurut riwayat lain adalah tiga kota besar, antara lain kota Sodom.

Qatadah mengatakan, telah sampai suatu riwayat kepada kami bahwa Ibrahim ‘alaihis salam menyaksikan penghancuran kota Sodom itu dan ia mengatakan, “Hai penduduk Sodom, ini adalah hari kehancuran kalian!”

Menurut riwayat yang lain dari Qatadah dan lain-lainnya telah sampai kepada kami suatu kisah yang mengatakan bahwa ketika Jibril ‘alaihis salam berada di pagi hari itu, ia membeberkan sayapnya. Maka beterbanganlah karenanya tanah mereka berikut isinya yang terdiri atas gedung-gedung-nya, semua hewan ternaknya, batu-batuan, dan pepohonannya. Lalu Jibril ‘alaihis salam menggenggamnya dengan sayapnya dan mengepitnya di dalam sayapnya. Lalu ia terbang ke langit pertama sehingga penduduk langit mendengar suara manusia dan lolongan anjingnya; jumlah penduduk kota itu adalah empat juta jiwa. Kemudian Jibril ‘alaihis salam membalikkannya dan menjatuhkannya ke tanah dalam keadaan terjungkir, lalu ia menghancurkan sebagiannya dengan sebagian yang lain. Bagian atas kota itu dibalikkan ke bawah, lalu diiringi dengan hujan batu dari tanah yang terbakar.

Muhammad ibnu Ka’b Al-Qurazi mengatakan bahwa kota-kota kaum Luth ada lima buah, yaitu: Sodom yang merupakan kota terbesar, lalu Sa’bah, Su’ud, Gomorah, dan Dauha. Jibril mengangkatnya dengan sayapnya dan membawanya ke langit, sehingga penduduk langit benar-benar dapat mendengar lolongan anjing serta kokokan ayam mereka, lalu membalikkannya ke bumi dalam keadaan terjungkir, setelah itu Allah mengiringinya dengan hujan batu.

Allah Subhaanahu wa Ta’aala telah berfirman:

جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ

Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar. (Hud: 82)

Allah membinasakan kota itu, dan semua kota yang ada di sekitarnya dimusnahkan.

As-Saddi mengatakan balivva Malaikat Jibril turun kepada kaum Luth pada pagi harinya, lalu Jibril mencabut bumi kota itu dari bumi lapis yang ketujuh. Kemudian ia mengangkatnya ke langit, sehingga penduduk langit pertama dapat mendengar lolongan anjing dan suara kokok ayam milik mereka, lalu Jibril membalikkannya dan membinasakan mereka. Yang demikian itu disebutkan di dalam firman-Nya:

وَالْمُؤْتَفِكَةَ أَهْوَى

Dan negeri-negeri kaum Luth yang telah dihancurkan Allah (An- Najm: 53)

Dan siapa di antara mereka yang masih belum mati sesudah negeri mereka dijatuhkan ke bumi, maka Allah menghujaninya dengan batu-batuan sehingga matilah ia. Barang siapa di antara mereka melarikan diri ke negeri lain, maka batu-batuan itu mengejarnya ke tempat ia berada. Tersebutlah seseorang yang sedang asyik berbicara, maka dengan tiba-tiba batu itu menimpanya dan membunuhnya. Yang demikian itu disebutkan oleh firman-Nya:

Dan Kami hujani mereka. (Hud: 82)

Yakni di kota-kota itu dengan batu dari tanah yang terbakar. Demikianlah menurut riwayat As-Saddi.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala

Dan negeri itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim. (Hud: 83)

Artinya, azab dan pembalasan Allah itu tidaklah jauh dari orang-orang yang serupa dengan mereka dalam kezalimannya. Di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan di dalam kitab-kitab Sunan dari Ibnu Abbas secara marfu disebutkan:

مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعَمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ، فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ

Barang siapa yang kalian jumpai sedang mengerjakan perbuatan kaum Luth, maka bunuhlah pelaku dan orang yang dikerjainya.

Imam Syafi’i menurut suatu pendapat yang bersumber darinya dan sejumlah ulama mengatakan bahwa orang yang melakukan perbuatan kaum Luth harus dibunuh, baik dia telah muhsan ataupun belum muhsan, karena berdasarkan hadits di atas.

Lain halnya dengan Imam Abu Hanifah, ia berpendapat bahwa si pelaku dijatuhkan dari tempat yang tinggi (dari ketinggian), kemudian diiringi dengan lemparan batu, seperti yang dilakukan oleh Allah Subhaanahu wa Ta’aala terhadap kaum Luth.

Hanya Allah-lah Yang Maha mengetahui dan hanya bagi Allah-lah segala puji.

 

Berita sebelumyaKisah Nabi Syu’aib ‘Alaihis Salam
Berita berikutnyaWaktu Subuh