Pelajaran dari Kisah Nabi Syu‘aib

Tafsir Al-Qur’an: Surah Hud ayat 91-92

0
61

Kajian Tafsir Al-Qur’an: Surah Hud ayat 91-92. Mengambil pelajaran dari kisah Nabi Syu‘aib ‘alaihis salam. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

قَالُواْ يَا شُعَيْبُ مَا نَفْقَهُ كَثِيراً مِّمَّا تَقُولُ وَإِنَّا لَنَرَاكَ فِينَا ضَعِيفاً وَلَوْلاَ رَهْطُكَ لَرَجَمْنَاكَ وَمَا أَنتَ عَلَيْنَا بِعَزِيزٍ -٩١- قَالَ يَا قَوْمِ أَرَهْطِي أَعَزُّ عَلَيْكُم مِّنَ اللّهِ وَاتَّخَذْتُمُوهُ وَرَاءكُمْ ظِهْرِيّاً إِنَّ رَبِّي بِمَا تَعْمَلُونَ مُحِيطٌ -٩٢

Mereka berkata, “Wahai Syu’aib! Kami tidak banyak mengerti tentang apa yang engkau katakan itu sedang kenyataannya kami memandang engkau seorang yang lemah di antara kami. Kalau tidak karena keluargamu, tentu kami telah merajam engkau, sedang engkau pun bukan seorang yang terpandang di lingkungan kami.” Dia (Syu’aib) menjawab, “Wahai kaumku! Apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah, bahkan Dia kamu tempatkan di belakangmu (diabaikan)?. Ketahuilah (pengetahuan) Tuhanku meliputi apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Hud : 91-92)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Qālū yā syu‘aibu mā nafqahu katsīram (mereka berkata, “Hai Syu‘aib, kami tidak banyak mengerti), yakni kami tidak dapat memahami.

Mimmā taqūlu (tentang apa yang kamu katakan itu), yakni tentang apa yang kamu perintahkan.

Wa innā la narāka fīnā dla‘īfan (dan sesungguhnya kami benar-benar melihatmu seorang yang lemah di antara kami), yakni seorang yang matanya buta.

Wa lau lā rahthuka (kalaulah bukan karena keluargamu), yakni kaummu.

La rajamnāka (pastilah kami telah merajammu), yakni pastilah kami telah membunuhmu.

Wa mā aηta ‘alainā bi ‘azīz (sedangkan kamu bukanlah seorang yang mulia dalam pandangan kami), yakni bukanlah seorang yang terpandang.

Qāla yā qaumi a rahthī (Syu‘aib menjawab, “Wahai kaumku, apakah keluargaku), yakni apakah kaumku.

A‘azzu ‘alaikum minallāh (lebih mulia menurut pandangan kalian daripada Allah), yakni daripada Kitab Allah dan Agama-Nya. Ada juga yang berpendapat, apakah menurut kalian pembalasan keluargaku lebih berat daripada pembalasan Allah Ta‘ala?

Wattakhadztumūhu warā-akum zhihriyyā (sedangkan Allah, kalian campakkan ke belakang kalian), yakni kalian mencampakkan kitab yang aku bawa ini ke belakang punggung kalian.

Inna rabbī bimā ta‘malūna muhīth (sesungguhnya Rabb-ku Maha Meliputi segala apa yang kalian perbuat”), yakni Maha Mengetahui hukuman atas semua perbuatan kalian.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an

  1. Mereka berkata[28], “Wahai Syu’aib! Kami tidak banyak mengerti tentang apa yang engkau katakan itu[29] sedang kenyataannya kami memandang engkau seorang yang lemah di antara kami. Kalau tidak karena keluargamu, tentu kami telah merajam engkau, sedang engkau pun bukan seorang yang terpandang di lingkungan kami.”

[28] Memberitahukan tentang kurang pedulinya mereka terhadap seruan Nabi Syu’aib ‘alaihis salam dan menujukkan kebosanan mereka.

[29] Yang demikian adalah karena kebencian mereka terhadap nasehatnya dan sikap menjauh darinya.

  1. Dia (Syu’aib) menjawab, “Wahai kaumku! Apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah[30], bahkan Dia kamu tempatkan di belakangmu (diabaikan)?. Ketahuilah (pengetahuan) Tuhanku meliputi apa yang kamu kerjakan[31].

[30] Sehingga kamu tidak merajamku karena keluargaku, bukan karena takut kepada Allah.

[31] Amalmu tidaklah tersembunyi bagi-Nya meskipun kecil sebesar semut, dan Dia akan membalas amalanmu dengan sempurna.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Mereka berkata) dengan nada yang menunjukkan kurang perhatian mereka terhadap perkataan Nabi Syu‘aib (“Hai Syu‘aib! Kami tidak mengerti) kurang memahami (banyak tentang apa yang kamu katakan itu dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami) maksudnya orang yang rendah (kalau tidaklah karena keluargamu) familimu (tentulah kami telah merajam kamu) dengan batu (sedangkan kamu pun bukanlah seorang yang berwibawa di sisi kami.”) bukan orang-orang tidak pantas untuk dihukum rajam; dan sesungguhnya hanya keluargamu sajalah orang-orang yang berwibawa itu.
  2. (Syuaib menjawab, “Hai kaumku! Apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandangan kalian daripada Allah) oleh sebab itu lalu kalian tidak mau membunuhku demi mereka dan kalian tidak mau membiarkan aku demi karena Allah (sedangkan kalian menjadikan Dia) yakni kalian menganggap Allah (sebagai sesuatu yang terbuang di belakang kalian) terasing di belakang kalian tanpa kalian hiraukan Dia. (Sesungguhnya Rabbku meliputi apa yang kalian kerjakan.”) Dia Maha Mengetahui kesemuanya; oleh karena itu kelak Dia akan membalas kalian.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Mereka mengatakan:

Hai Syu’aib, kami tidak banyak mengerti. (Hud: 91)

Maksudnya, kami tidak banyak memahami perkataanmu itu.

Dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah. (Hud: 91)

Sa’ id ibnu Jubair dan As-Sauri mengatakan, Nabi Syu’aib adalah seorang yang tuna netra. As-Sauri mengatakan bahwa Nabi Syu’aib dijuluki sebagai juru bicara para nabi.

As-Saddi mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: Dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami. (Hud: 91) Bahwa yang dimaksud ‘lemah’ ialah karena dia sendirian.

Abu Rauq mengatakan bahwa mereka bermaksud bahwa dia adalah orang yang hina, karena kaum kerabatnya tidak memeluk agamanya.

Kalau tidaklah karena keluargamu, tentulah kami telah merajam kamu. (Hud: 91)

Yang dimaksud dengan rahtun ialah kaum, yakni ‘seandainya tidaklah karena kaummu yang kami hormati, niscaya kami akan merajam kamu’. Menurut suatu pendapat dengan batu, sedangkan menurut pendapat yang lainnya mengatakan dengan caci maki.

Sedangkan kamu pun bukanlah seorang yang berwibawa di sisi kami. (Hud: 91)

Artinya, kamu bukanlah orang yang berwibawa di kalangan kami.

Syu’aib menjawab, “Hai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandangan kalian daripada Allah?” (Hud: 92)

Yakni apakah kalian membiarkan aku karena kaumku, bukan karena menghormati Tuhan Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi bila kalian menimpakan keburukan kepada Nabi-Nya. Sesungguhnya kalian telah menjadikan Allah terlupakan oleh kalian.

Di belakang punggung kalian. (Hud: 92)

Maksudnya, kalian mengesampingkan-Nya di belakang kalian; karena itulah kalian tidak taat dan tidak menghormati-Nya.

Sesungguhnya (pengetahuan) Tuhanku meliputi apa yang kalian kerjakan. (Hud: 92)

Yakni Dia mengetahui semua amal perbuatan kalian, dan kelak Dia akan membalaskannya kepada kalian..

Hanya Allah-lah Yang Maha mengetahui dan hanya bagi Allah-lah segala puji.

.

«««« juz 11 «««««« juz 12 «««««« juz 13 ««««

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here