Ketika Hari Itu Datang

Tafsir Al-Qur’an: Surah Hud ayat 104-105

0
74

Kajian Tafsir Al-Qur’an: Surah Hud ayat 104-105. Hari Kiamat adalah hari yang disaksikan, ketika hari itu datang, tidak seorang pun yang berbicara, kecuali dengan izin-Nya dan bahwa kesengsaraan yang hakiki adalah ketika masuk neraka, sedangkan kebahagiaan yang hakiki adalah ketika masuk surga. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

  وَمَا نُؤَخِّرُهُ إِلاَّ لِأَجَلٍ مَّعْدُودٍ -١٠٤- يَوْمَ يَأْتِ لاَ تَكَلَّمُ نَفْسٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَسَعِيدٌ -١٠٥

Dan Kami tidak akan menunda (kedatangan hari kiamat), kecuali sampai waktu yang sudah ditentukan. Ketika hari itu datang, tidak seorang pun yang berbicara, kecuali dengan izin-Nya, maka di antara mereka ada yang sengsara dan ada yang berbahagia. (Q.S. Hud : 104-105)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa mā nu-akh-khiruhū (dan tidaklah Kami mengundurkannya), yakni mengundurkan hari kiamat.

Illā li ajalim ma‘dūd (melainkan sampai batas waktu yang telah ditentukan), yakni sampai waktu tertentu.

Yauma ya’ti (ketika ia datang), yakni ketika hari kiamat datang.

Lā takallama nafsun (tidak ada seorang pun yang dapat berbicara), yakni tak seorang saleh pun yang dapat memberikan syafaat kepada orang lain.

Illā bi idznihī (kecuali dengan izin-Nya), yakni kecuali dengan perintah-Nya.

Fa minhum (maka di antara mereka), yakni di antara orang-orang yang ada pada hari kiamat.

Syaqiyyun (ada yang celaka), yakni di antara mereka ada ditetapkan mendapat kecelakaan.

Wa sa‘īd (dan ada pula yang bahagia), yakni dan ada pula yang ditetapkan mendapat kebahagiaan.

.

Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Dan Kami tidak akan menunda (kedatangan hari kiamat), kecuali sampai waktu yang sudah ditentukan[15].

[15] Yakni apabila ajal dunia habis. Ketika itulah, manusia dipindahkan ke alam akhirat dan diberlakukan hukum-hukum jaza’i(balasan)-Nya sebagaimana ketika di dunia diberlakukan hukum-hukum syar’i-Nya.

  1. Ketika hari itu datang[16], tidak seorang pun yang berbicara[17], kecuali dengan izin-Nya, maka di antara mereka ada yang sengsara dan ada yang berbahagia[18].

[16] Dan semua makhluk berkumpul.

[17] Meskipun ia seorang nabi atau pun malaikat.

[18] Semuanya tercatat sejak dahulu. Orang-orang yang sengsara adalah orang-orang yang kafir kepada Allah dan Rasul-Nya serta mendurhakai perintah-Nya. Sedangkan orang-orang yang berbahagia adalah orang-orang yang beriman dan bertakwa.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan Kami tiadalah mengundur-undurkannya melainkan sampai waktu yang tertentu) waktu yang hanya diketahui oleh Allah.
  2. (Di kala datang hari itu) sudah tiba saatnya (tidak dapat berbicara) lafal takallama pada asalnya adalah tatakallama, kemudian salah satu huruf tanya dibuang sehingga jadilah ia takallama (seorang pun melainkan dengan izin-Nya) izin Allah Subhaanahu wa Ta’aala (maka di antara mereka) makhluk (ada yang celaka dan) yang lainnya (ada yang berbahagia) masing-masing telah dipastikan nasibnya di zaman azali.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

Dan Kami tiadalah mengundurkannya, melainkan sampai waktu yang tertentu. (Hud: 104)

Artinya, tidak sekali-kali Kami mengundurkan terjadinya hari kiamat melainkan karena telah ditetapkan oleh Allah dalam takdir-Nya yang terdahulu tentang keberadaan sejumlah manusia dari keturunan anak Adam, dan telah ditetapkan-Nya masa tertentu bagi mereka. Apabila masa itu telah mereka lalui dan keberadaan mereka di dunia telah terpenuhi menurut takdir-Nya, maka barulah hari kiamat terjadi. Karena itulah dalam firman-Nya disebutkan:

Dan Kami tiadalah mengundurkannya, melainkan sampai waktu yang tertentu. (Hud: 104)

Yaitu sampai waktu yang tertentu, tidak ditambahi dan tidak dikurangi.

Di kala datang hari itu, tidak ada seorang pun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya. (Hud: 105)

Pada waktu hari kiamat terjadi, tiada seorang pun yang berbicara melainkan dengan seizin Allah. Ayat ini semakna dengan ayat lain yang disebutkan melalui firman-Nya:

لَا يَتَكَلَّمُونَ إِلا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَنُ وَقَالَ صَوَابًا

Mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar. (An-Naba: 38)

وَخَشَعَتِ الأصْوَاتُ لِلرَّحْمَنِ فَلا تَسْمَعُ إِلا هَمْسًا

Dan merendahlah semua suara kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. (Thaha: 108), hingga akhir ayat.

Di dalam hadits Sahihain mengenai syafaat disebutkan:

وَلَا يَتَكَلَّمُ يَوْمَئِذٍ إِلَّا الرُّسُلُ، وَدَعْوَى الرُّسُلِ يَوْمَئِذٍ: اللهُم سَلّم سَلِّمْ

Pada hari itu seorang pun yang berbicara selain para rasul, dan doa para rasul pada hari itu ialah, “Ya Allah, selamatkanlah selamatkanlah.”

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

Maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia. (Hud: 105)

Artinya, di antara mereka yang dihimpunkan pada hari perhimpunan itu ada yang celaka, ada pula yang berbahagia; perihalnya sama dengan yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

فَرِيقٌ فِي الْجَنَّةِ وَفَرِيقٌ فِي السَّعِيرِ

Segolongan masuk surga dan segolongan masuk neraka. (Asy-Syura: 7)

Al-Hafiz Abu Ya’la di dalam kitab Musnad-nya mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Hissan, telah menceritakan kepada kami Abdul Malik ibnu Amr, telah menceritakan kepada kami Sulaiman Abu Sufyan, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Dinar, dari Ibnu Umar, dari Umar yang mengatakan bahwa ketika ayat berikut diturunkan: maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia. (Hud: 105) Ia bertanya kepada Nabi ﷺ, “Wahai Rasulullah, apakah yang harus kita kerjakan? Apakah yang kita kerjakan adalah sesuatu yang telah dirampungkan, ataukah sesuatu yang belum dirampungkan?” Rasulullah ﷺ menjawab:

عَلَى شَيْءٍ قَدْ فُرِغَ مِنْهُ يا عمر وجرت به الأقلام، وَلَكِنْ كُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ

Hai Umar, hal yang kita kerjakan adalah sesuatu yang telah dirampungkan dan telah dicatat oleh qalam (pena) takdir, tetapi tiap-tiap orang diciptakan sesuai dengan bakatnya masing-masing..

Hanya Allah-lah Yang Maha mengetahui dan hanya bagi Allah-lah segala puji.

.

«««« juz 11 «««««« juz 12 «««««« juz 13 ««««