Menakwilkan Mimpi

Tafsir Al-Qur’an: Surah Yusuf ayat 45-46

0
125

Kajian Tafsir Surah Yusuf ayat 45-46. Pandai menakwilkan mimpi, takwil Yusuf ‘alaihis salam terhadap mimpi raja, berusaha memberikan manfaat untuk umat serta tidak menyembunyikan ilmu. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَقَالَ الَّذِي نَجَا مِنْهُمَا وَادَّكَرَ بَعْدَ أُمَّةٍ أَنَاْ أُنَبِّئُكُم بِتَأْوِيلِهِ فَأَرْسِلُونِ -٤٥- يُوسُفُ أَيُّهَا الصِّدِّيقُ أَفْتِنَا فِي سَبْعِ بَقَرَاتٍ سِمَانٍ يَأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ عِجَافٌ وَسَبْعِ سُنبُلاَتٍ خُضْرٍ وَأُخَرَ يَابِسَاتٍ لَّعَلِّي أَرْجِعُ إِلَى النَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَعْلَمُونَ -٤٦

Berkatalah orang yang selamat di antara mereka berdua dan teringat (kepada Yusuf) setelah beberapa waktu lamanya, “Aku akan memberitakan kepadamu tentang (orang yang pandai) menakwilkan mimpi itu, maka utuslah aku (kepadanya).” (Setelah pelayan itu bertemu dengan Yusuf dia berseru), “Yusuf, wahai orang yang sangat dipercaya! Terangkanlah kepada Kami (takwil mimpi) tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus, tujuh tangkai (gandum) yang hijau dan (tujuh tangkai) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahui (takwilnya).” (Q.S. Yusuf : 45-46)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa qālal ladzī najā minhumā (dan berkatalah orang yang selamat di antara mereka berdua), yakni selamat dari penjara dan dari hukuman mati, yaitu si penyaji minuman.

Waddakara (dan dia baru teringat) tentang Yusuf ‘alaihis salam

Ba‘da ummatin (setelah sekian lama), yakni tujuh tahun. Menurut satu pendapat, apabila lafazh ummatin dibaca amahin maka artinya setelah dia lupa.

Ana unabbi-ukum bi ta’wīlihī (aku akan memberitahu kalian [orang yang bisa] mena‘birkannya). Si penyaji minuman itu berkata kepada raja, “Tuan raja, hamba akan memberi tahu paduka ta‘bir mimpi-mimpi itu.”

Fa arsilūn (oleh karena itu, utuslah aku”) ke penjara, sebab di sana ada seseorang …, seraya menjelaskan ilmu Yusuf ‘alaihis salam, sikap santunnya, kebaikannya kepada penghuni penjara, dan ketepatannya dalam mena‘birkan mimpi. Akhirnya, sang raja pun mengutus si penyaji minuman, dan ketika ia telah tiba (di tempat Yusuf ‘alaihis salam), dia berkata kepada Yusuf ‘alaihis salam:

Yūsufu ayyuhash shiddīqu (“Yusuf, hai orang yang tepercaya), yakni orang yang benar ketika pertama kali mena‘birkan mimpi.

Aftinā fī sab‘i baqarātiη simānin (terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk) yang keluar dari sungai.

Ya’kuluhunna (yang dimakan), yakni yang ditelan.

Sab‘un ‘ijāfun (oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus), yakni oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan hampir mati.

Wa sab‘i sumbulātin khudlriw wa ukhara yābisātin (serta tujuh bulir [gandum] yang hijau dan [tujuh bulir] lainnya yang kering), yang melingkupi ketujuh bulir (gandum) yang hijau, hingga hijaunya tertutupi oleh yang kering.

La‘allī arji‘u ilan nāsi (supaya aku kembali kepada orang-orang itu), yakni kepada raja.

La‘allahum ya‘lamūn (agar mereka mengetahui”), yakni agar mereka mengetahui ta‘bir mimpi raja. Maka berkatalah Yusuf ‘alaihis salam “Benar! aku mengetahuinya. Tujuh ekor sapi betina yang gemuk menunjukkan tujuh tahun masa subur, dan tujuh bulir gandum hijau menunjukkan kemakmuran dan kesejahteraan dalam tahun-tahun yang subur itu. Sedangkan tujuh ekor sapi betina yang kurus lagi hampir mati, menunjukkan tujuh tahun masa kekeringan, dan tujuh bulir gandum kering menunjukkan keadaan paceklik dan harga-harga yang melambung selama tahun-tahun kekeringan itu.” Selanjutnya Yusuf ‘alaihis salam menjelaskan tindakan apa yang seharusnya mereka lakukan.


BACA JUGA: Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-12 untuk ayat lainnya

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Berkatalah orang yang selamat di antara mereka berdua[4] dan teringat (kepada Yusuf) setelah beberapa waktu lamanya, “Aku akan memberitakan kepadamu tentang (orang yang pandai) menakwilkan mimpi itu, maka utuslah aku (kepadanya).”

[4] Yaitu si pemberi minum.

  1. (Setelah pelayan itu bertemu dengan Yusuf dia berseru), “Yusuf[5], wahai orang yang sangat dipercaya! Terangkanlah kepada Kami (takwil mimpi) tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus, tujuh tangkai (gandum) yang hijau dan (tujuh tangkai) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu[6], agar mereka mengetahui (takwilnya)[7].”

[5] Yusuf tidak bersikap keras kepadanya karena melupakannya, bahkan ia tetap mendengarkan kata-katanya dan mau menjawab takwil mimpi itu.

[6] Yakni raja dan para pemukanya.

[7] Karena mereka ingin sekali mengetahui takwilnya dan sampai membuat mereka sibuk memikirkannya.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan berkatalah orang yang selamat di antara mereka berdua) yaitu salah satu di antara kedua teman sepenjara Nabi Yusuf, mantan penyuguh minuman raja (dan ia teringat) kepada Nabi Yusuf. Lafal waddakara pada asalnya ialah tadzakkara, kemudian huruf ta diganti dal, selanjutnya huruf dzal asal diidghamkan kepada dal sehingga jadilah iddakara, artinya sama dengan lafal tadzakkara, yaitu ingat (sesudah beberapa waktu lamanya) setelah Nabi Yusuf tinggal beberapa lama di penjara, lalu mantan penyuguh minuman raja itu berkata (“Aku akan memberitahukan kepada kalian tentang orang yang pandai menakwilkan mimpi itu, maka utuslah aku kepadanya.”) lalu mereka mengirimkan orang itu kepada orang yang dimaksudnya; kemudian orang itu mendatangi Nabi Yusuf seraya berkata kepadanya:
  2. “Hai (Yusuf, hai orang yang amat dipercaya!) artinya orang yang jujur (Terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir gandum yang hijau dan tujuh lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu) yaitu raja dan pembantu-pembantunya (agar mereka mengetahui”) takwil mimpi itu.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Sebagian ulama membaca ummatin menjadi amahin, yakni sesudah lupa. Lalu ia berkata kepada raja dan orang-orang yang dikumpulkan oleh raja untuk tujuan itu:

Aku akan memberitakan kepada kalian tentang (orang yang pandai) mena’birkannya. (Yusuf: 45)

Maksudnya yaitu seseorang mengetahui ta’bir mimpi itu.

Maka utuslah aku (kepadanya). (Yusuf: 45)

Yakni suruhlah aku untuk menemui Yusuf yang jujur di dalam penjaranya. Lalu mereka mengutusnya kepada Yusuf. Ketika pelayan itu datang, ia berkata:

Yusuf, hai orang yang sangat dapat dipercaya, terangkanlah kepada kami. (Yusuf: 46)

Selanjutnya si pelayan menceritakan tentang apa yang dilihat oleh raja dalam mimpinya. Saat itu juga Yusuf ‘alaihis salam menceritakan ta’bir mimpi itu kepada si pelayan raja tanpa menegurnya atas kelalaiannya terhadap apa yang ia pesankan kepadanya, juga tanpa mensyaratkan agar dia dikeluarkan dari penjara sebelumnya.

Hanya Allah-lah Yang Maha mengetahui dan hanya bagi Allah-lah segala puji.

 

Berita sebelumyaAgar Bercocok Tanam Tujuh Tahun Berturut-turut
Berita berikutnyaRaja Bermimpi Melihat Tujuh Ekor Sapi Betina