Pesan Nabi Ya’qub ‘Alaihis Salam

Tafsir Al-Qur’an: Surah Yusuf ayat 67-69

0
357

Kajian Tafsir Surah Yusuf ayat 67-69. Pesan Nabi Ya’qub ‘alaihis salam kepada anak-anaknya, pentingnya orang tua memiliki sikap perhatian kepada anak-anaknya, serta memberitahukan kepada mereka cara agar selamat dari bahaya. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَقَالَ يَا بَنِيَّ لاَ تَدْخُلُواْ مِن بَابٍ وَاحِدٍ وَادْخُلُواْ مِنْ أَبْوَابٍ مُّتَفَرِّقَةٍ وَمَا أُغْنِي عَنكُم مِّنَ اللّهِ مِن شَيْءٍ إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ لِلّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَعَلَيْهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ -٦٧- وَلَمَّا دَخَلُواْ مِنْ حَيْثُ أَمَرَهُمْ أَبُوهُم مَّا كَانَ يُغْنِي عَنْهُم مِّنَ اللّهِ مِن شَيْءٍ إِلاَّ حَاجَةً فِي نَفْسِ يَعْقُوبَ قَضَاهَا وَإِنَّهُ لَذُو عِلْمٍ لِّمَا عَلَّمْنَاهُ وَلَـكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ -٦٨- وَلَمَّا دَخَلُواْ عَلَى يُوسُفَ آوَى إِلَيْهِ أَخَاهُ قَالَ إِنِّي أَنَاْ أَخُوكَ فَلاَ تَبْتَئِسْ بِمَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ -٦٩

Dan dia (Ya’kub) berkata, “Wahai anak-anakku! Janganlah kamu masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berbeda; namun demikian aku tidak dapat mempertahankan kamu sedikit pun dari (takdir) Allah. Keputusan itu hanyalah bagi Allah. Kepada-Nya aku bertawakkal dan kepada-Nya pula beratawakkallah orang-orang yang bertawakkal.” Dan ketika mereka masuk sesuai dengan perintah ayah mereka, (masuknya mereka itu) tidak dapat menolak sedikit pun keputusan Allah, (tetapi itu) hanya suatu keinginan pada diri Ya’kub yang telah ditetapkannya. Dan sesungguhnya dia mempunyai pengetahuan, karena Kami telah mengajarkan kepadanya. Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Dan ketika mereka masuk ke (tempat) Yusuf, dia menempatkan saudaranya (Bunyamin) di tempatnya, dia (Yusuf) berkata, “Sesungguhnya aku adalah saudaramu, jangan engkau bersedih hati terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S. Yusuf : 67-69)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa qāla (dan Ya‘qub berkata) kepada mereka.

Yā baniyya lā tadkhulū mim bābiw wāhidin (“Hai anak-anakku, janganlah kalian masuk dari satu pintu), yakni dari satu jalan.

Wad khulū min abwābim mutafarriqah (tetapi masuklah melalui beberapa pintu yang berlainan), yakni melalui jalan yang berlainan.

Wa mā ughnī ‘angkum minallāhi (namun demikian, tidaklah aku dapat membantu kalian dari Allah), yakni dari Takdir Allah Ta‘ala tentang kalian.

Miη syai’, inil hukmu (sedikit pun. Tiadalah keputusan itu), yakni tiadalah keputusan takdir kalian itu.

Illā lillāh, ‘alaihi tawakkaltu (melainkan kewenangan Allah. Hanya kepada-Nya aku bertawakal), yakni hanya kepada-Nya aku bersandar dan menyerahkan persoalanku dan persoalan kalian.

Wa ‘alaihi fal yatawakkalil mutawakkilūn (dan hanya kepada-Nya pula hendaklah orang-orang yang bertawakal berserah diri), yakni orang yang percaya mempercayakan (urusannya). Menurut pendapat yang lain, hendaklah orang-orang Mukmin bertawakal kepada Allah Ta‘ala. Ya‘qub ‘alaihis salam benar-benar khawatir akan terjadi sesuatu terhadap anak-anaknya, karena mereka memiliki wajah yang tampan.

Wa lammā dakhalū (dan tatkala mereka masuk) ke negeri Mesir.

Min haitsu amarahum (sesuai dengan yang diperintahkan), yakni sebagaimana yang diperintahkan.

Abūhum, mā kāna yughnī ‘anhum minallāhi (oleh ayah mereka, maka tidaklah hal itu membantu mereka dari Allah), yakni dari Takdir Allah Ta‘ala terhadap mereka.

Miη syai-in illā hājatan (sedikit pun, kecuali hanya keinginan), yakni kecuali perasaan sakit.

Fī nafsi ya‘qūba (dalam diri Ya‘qub), yakni dalam hati Ya‘qub ‘alaihis salam.

Qadlāhā (yang ditetapkannya), yakni yang diperlihatkannya.

Wa innahū (dan sesungguhnya dia), yakni Ya‘qub.

La dzū ‘ilmin (benar-benar memiliki pengetahuan) dan perlindungan.

Limā ‘allamnāhu (karena Kami telah Mengajarinya), yakni karena Kami telah Mengajarinya berbagai hukum, had, qadla, dan qadar. Ya‘qub ‘alaihis salam telah mengetahui bahwa tak akan terjadi sesuatu pun melainkan dengan Takdir Allah Ta‘ala.

Wa lākinna aktsaran nāsi (tetapi kebanyakan manusia), yakni penduduk Mesir.

Lā ya‘lamūn (tidak mengetahui) dan tidak pula membenarkan hal tersebut.

Wa lammā dakhalū yūsufa āwā ilaihi (dan setelah mereka menghadap Yusuf, Yusuf membawa ke tempatnya), yakni Yusuf ‘alaihis salam memeluk.

Akhāhu (saudaranya [Bunyamin]) yang seibu-sebapak seraya menahan saudara-saudaranya yang lain di dekat pintu.

Qāla innī ana akhūka (berkatalah Yusuf, “Sesungguhnya aku adalah saudaramu), yakni saudaramu yang dikatakan sudah mati itu.

Fa lā tabta-is (karena itu janganlah kamu berdukacita), yakni janganlah kamu bersedih hati.

Bimā kānū ya‘malūn (atas apa yang telah mereka perbuat”), yakni atas perbuatan sia-sia yang telah mereka lakukan. Demikian pula atas cemoohan dan ejekan yang telah mereka katakan kepadamu.


BACA JUGA: Kajian Tafsir Juz Ke-13 untuk ayat lainnya

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Dan dia (Ya’kub) berkata, “Wahai anak-anakku! Janganlah kamu masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berbeda[1]; namun demikian aku tidak dapat mempertahankan kamu sedikit pun dari (takdir) Allah[2]. Keputusan itu hanyalah bagi Allah[3]. Kepada-Nya aku bertawakkal dan kepada-Nya pula beratawakkallah orang-orang yang bertawakkal[4].”

[1] Agar tidak tertimpa penyakit peyakit ‘ain (mata jahat) dari orang-orang. Yang demikian adalah karena mereka adalah orang-orang yang berparas cakep, berpakaian bagus dan berpenampilan indah.

[2] Yang ditetapkan-Nya bagimu, akan tetapi aku hanya kasihan terhadap kamu.

[3] Apa yang diputuskan-Nya itulah yang terjadi.

[4] Karena dengan bertawakkal kepada Allah apa yang diinginkan akan terwujud dan apa yang dikhawatirkan akan hilang.

  1. Dan ketika mereka masuk sesuai dengan perintah ayah mereka, (masuknya mereka itu) tidak dapat menolak sedikit pun keputusan Allah, (tetapi itu) hanya suatu keinginan pada diri Ya’kub yang telah ditetapkannya[5]. Dan sesungguhnya dia mempunyai pengetahuan, karena Kami telah mengajarkan kepadanya. Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui[6].

[5] Yaitu keinginan untuk menolak penyakit ‘ain karena rasa sayang kepada anak-anaknya.

[6] Akibat dari suatu perkara serta perkara-perkara halus.

  1. Dan ketika mereka masuk ke (tempat) Yusuf, dia menempatkan saudaranya (Bunyamin) di tempatnya, dia (Yusuf) berkata, “Sesungguhnya aku adalah saudaramu, jangan engkau bersedih hati terhadap apa yang telah mereka kerjakan[7].”

[7] Berupa sikap hasad kepada kita. Yusuf kemudian menyuruhnya untuk merahasiakan hal itu dari mereka dan Yusuf mengadakan kesepakatan dengan Bunyamin bahwa ia akan mengatur siasat dengan menaruh sesuatu dalam karungnya.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Dan Yakub berkata, “Hai anak-anakku! Janganlah kalian masuk) ke negeri Mesir (dari satu pintu gerbang, tetapi masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlainan) supaya kalian tidak menjadi sial karenanya (namun demikian aku tidak dapat menghindarkan) menolak (diri kalian) dengan melalui saranku ini (dari takdir Allah) huruf min di sini adalah zaidah (barang sedikit pun) yang telah ditakdirkan-Nya terhadap kalian; sesungguhnya hal tersebut hanyalah terdorong oleh rasa sayangku. (Tiada lain) (keputusan hanyalah hak Allah) semata (dan hanya kepada-Nyalah aku bertawakal) artinya hanya kepada-Nyalah aku percaya (dan hanya kepada-Nyalah hendaknya orang-orang yang bertawakal berserah diri.”)
  2. Allah berfirman: (Dan tatkala mereka masuk menurut yang diperintahkan oleh ayah mereka) yaitu masuk secara berpencar-pencar (maka hal itu tidak dapat melepaskan diri mereka dari Allah) yakni dari kepastian-Nya (barang) huruf min di sini adalah zaidah (sedikit pun akan tetapi itu hanya) tetapi hal itu hanyalah (suatu keinginan pada diri Yakub yang telah ditunaikannya) yaitu bermaksud untuk menghindarkan mereka dari kesialan karena terdorong oleh rasa sayang (dan sesungguhnya dia mempunyai pengetahuan karena Kami telah mengajarkan kepadanya) disebabkan Kami telah mengajarkan kepadanya (akan tetapi kebanyakan manusia) mereka adalah orang-orang kafir (tiada mengetahui.) ilham Allah yang dianugerahkan kepada orang-orang pilihan-Nya.
  3. (Dan tatkala mereka masuk ke tempat Yusuf, Yusuf menempatkan) yakni membawa saudaranya Bunyamin (saudaranya ke tempatnya. Yusuf berkata, “Sesungguhnya aku ini adalah saudaramu, maka janganlah kamu berduka cita) bersedih hati (terhadap apa yang telah mereka lakukan.”) yaitu kedengkian mereka terhadap kita. Kemudian Nabi Yusuf menyuruh Bunyamin supaya jangan menceritakan hal ini kepada mereka. Yusuf telah bersepakat dengan Bunyamin, bahwa ia akan membuat siasat supaya Bunyamin tetap tinggal bersamanya.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Subhaanahu wa Ta’aala menceritakan tentang Nabi Ya’qub ‘alaihis salam bahwa dia memerintahkan kepada anak-anaknya ketika melepas keberangkatan mereka bersama Bunyamin menuju negeri Mesir, bahwa janganlah mereka masuk dari satu pintu gerbang semuanya, tetapi hendaklah masuk dari berbagai pintu gerbang yang berlainan.

Menurut Ibnu Abbas, Muhammad ibnu Ka’b, Mujahid, Ad-Dahhak, Qatadah, As-Saddi, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang, hal itu untuk menghindari ‘ain (kesialan). Demikian itu karena mereka adalah orang-orang yang berpenampilan bagus dan mempunyai rupa yang tampan-tampan serta kelihatan berwibawa. Maka Ya’qub ‘alaihis salam merasa khawatir bila mereka tertimpa ‘ain disebabkan pandangan mata orang-orang. Karena sesungguhnya ‘ain itu adalah benar, ia dapat menurunkan pengendara kuda dari kudanya.

Ibnu Abu Hatim meriwayatkan dari Ibrahim An-Nakha’i sehubungan dengan firman-Nya: dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lainan. (Yusuf: 67) Ya’qub merasa yakin bahwa Yusuf pasti akan menjumpai salah seorang dari saudara-saudaranya di antara pintu-pintu gerbang itu.

Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala:

Namun demikian, aku tiada dapat melepaskan kalian barang sedikit pun dari (takdir) Allah. (Yusuf: 67)

Yakni sesungguhnya tindakan hati-hati ini tidak dapat menolak takdir dan keputusan Allah; karena sesungguhnya apabila Allah menghendaki sesuatu, maka kehendak-Nya itu tidak dapat dicegah, tidak dapat pula ditolak.

Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nyalah aku bertawakal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakal berserah diri. Dan tatkala mereka masuk menurut yang diperintahkan ayah mereka, maka (cara yang mereka lakukan itu) tiadalah melepaskan mereka sedikit pun dari takdir Allah, tetapi itu hanya suatu keinginan pada diri Ya’qub yang telah ditetapkannya. (Yusuf: 67-68)

Menurut banyak ulama tafsir, Ya’qub melakukan hal itu untuk menghindarkan anak-anaknya dari terkena penyakit ‘ain.

Dan sesungguhnya dia mempunyai pengetahuan, karena Kami telah mengajarkan kepadanya. (Yusuf: 68)

Qatadah dan As-Sauri mengatakan, makna yang dimaksud ialah sesungguhnya Ya’qub adalah orang yang mengamalkan ilmunya. Menurut Ibnu Jarir, sesungguhnya Ya’qub mempunyai pengetahuan karena Kami telah mengajarkan kepadanya.

Akan tetapi, kebanyakan manusia tiada mengetahui. (Yusuf: 68)

Allah Subhaanahu wa Ta’aala menceritakan tentang saudara-saudara Yusuf, ketika mereka tiba ke hadapan Yusuf bersama saudara sekandungnya (yaitu Bunyamin), bahwa lalu Yusuf membawa mereka masuk ke dalam ruangan kehormatannya, yaitu tempat tamu-tamu terhormatnya. Dan Yusuf melimpahkan kepada mereka semua penghormatannya, sikap lemah lembut, dan kebajikannya. Kemudian ia sendiri membawa saudara sekandungnya terpisah dari mereka, dan Yusuf membuka rahasia dirinya kepada Bunyamin serta menceritakan kepadanya tentang semua yang telah dialaminya.

Selanjutnya Yusuf berkata, “Janganlah kamu bersedih hati atas apa yang telah mereka perbuat terhadap diriku.” Yusuf memerintahkan kepada Bunyamin agar merahasiakan hal itu dari mereka dan jangan menceritakan kepada mereka bahwa dirinya adalah saudara mereka. Yusuf bersepakat dengan Bunyamin. bahwa dirinya akan membuat tipu daya terhadap mereka untuk membiarkan Bunyamin tinggal di dekatnya dalam keadaan dihormati dan dimuliakan.

Hanya Allah-lah Yang Maha mengetahui dan hanya bagi Allah-lah segala puji.

 

Berita sebelumyaKetika Telah Disiapkan Bahan Makanan
Berita berikutnyaPentingnya Bersikap Hati-hati dan Waspada