Allah Adalah Pencipta Segala Sesuatu

Tafsir Al-Qur’an: Surah Ar-Ra’d ayat 16

0
217

Kajian Tafsir Surah Ar-Ra’d ayat 16. Allah adalah Pencipta segala sesuatu. Dialah yang berhak ditujukan doa dan ibadah, segala sesuatu tunduk kepada-Nya. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 قُلْ مَن رَّبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ قُلِ اللّهُ قُلْ أَفَاتَّخَذْتُم مِّن دُونِهِ أَوْلِيَاء لاَ يَمْلِكُونَ لِأَنفُسِهِمْ نَفْعاً وَلاَ ضَرّاً قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الأَعْمَى وَالْبَصِيرُ أَمْ هَلْ تَسْتَوِي الظُّلُمَاتُ وَالنُّورُ أَمْ جَعَلُواْ لِلّهِ شُرَكَاء خَلَقُواْ كَخَلْقِهِ فَتَشَابَهَ الْخَلْقُ عَلَيْهِمْ قُلِ اللّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ -١٦

Katakanlah (Muhammad), “Siapakah Tuhan langit dan bumi?” Katakanlah, “Allah.” Katakanlah, “Pantaskah kamu mengambil pelindung-pelindung selain Allah, padahal mereka tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudharat bagi dirinya sendiri?” Katakanlah, “Samakah orang yang buta dengan yang dapat melihat? Atau samakah yang gelap dengan yang terang? Apakah mereka menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?” Katakanlah, “Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.” (Q.S. Ar-Ra’d : 16)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Qul (katakanlah) hai Muhammad, kepada penduduk Mekah!

Mar rabbu (“Siapakah Rabb), yakni pencipta.

As-samāwāti wal ardl (langit dan bumi”), maka mereka akan menjawab, “Allah”. Namun, jika tidak menjawab.

Qulillāhu (katakanlah, “Allah”) Pencipta langit dan bumi.

Qul (katakanlah), hai Muhammad!

A fattakhadztum (“Maka patutkah kalian menjadikan), yakni mengibadahi.

Miη dūnihī (selain-Nya), yakni selain Allah Ta‘ala.

Auliyā-a (sebagai para pelindung), yakni sebagai tuhan-tuhan.

Lā yamlikūna li aηfusihim naf‘an (padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan untuk diri mereka sendiri), yakni mandatangkan manfaat.

Wa lā dlarrā (dan tidak pula kemudaratan”), yakni menolak mudarat.

Qul (katakanlah) kepada mereka, hai Muhammad!

Hal yastawil a‘mā wal bashīru (“Samakah orang buta dengan orang yang awas), yakni orang kafir dengan orang Mukmin?

Am hal tastawizh zhulumātu wan nūru (atau samakah kegelapan-kegelapan dengan cahaya), yakni kekafiran dengan keimanan.

Am ja‘alū lillāhi (ataukah mereka menjadikan bagi Allah), yakni menggambarkan bahwa Allah mempunyai.

Syurakā-a (sekutu-sekutu), yakni tuhan-tuhan.

Khalaqū (yang dapat menciptakan) makhluk.

Ka khalqihī (seperti ciptaan-Nya), yakni seperti ciptaan Allah Ta‘ala.

Fa tasyābahal khalqu (hingga ciptaan itu serupa), yakni masing-masing ciptaan itu serupa.

‘Alaihim (menurut pandangan mereka”). Sehingga mereka tidak tahu mana yang ciptaan Allah dan mana ciptaan tuhan-tuhan mereka.

Qul (katakanlah), hai Muhammad!

Allāhu khāliqu kulli syai-in (“Allah adalah Pencipta segala sesuatu), yakni segala sesuatu berasal dari-Nya dan tidak ada tuhan selain Dia.

Wa huwal wāhidul qahhār (dan Dia-lah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa), yakni yang menguasai semua makhluk-Nya. Allah Ta‘ala kemudian membuat perumpamaan berkenaan dengan kebenaran dan kebatilan.


BACA JUGA: Kajian Tafsir Juz Ke-13 untuk ayat lainnya

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. Katakanlah (Muhammad)[17], “Siapakah Tuhan langit dan bumi?” Katakanlah, “Allah[18].” Katakanlah, “Pantaskah kamu mengambil pelindung-pelindung selain Allah[19], padahal mereka tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudharat bagi dirinya sendiri?[20]” Katakanlah, “Samakah orang yang buta dengan yang dapat melihat[21]? Atau samakah yang gelap dengan yang terang[22]? Apakah mereka menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka[23]?” Katakanlah, “Allah adalah Pencipta segala sesuatu[24] dan Dia Tuhan Yang Mahaesa lagi Maha Perkasa.”

[17] Kepada orang-orang yang menyekutukan Allah dengan patung dan berhala, di mana mereka arahkan kurban dan ibadah kepada patung dan berhala itu.

[18] Kalau pun mereka tidak mengucapkannya, maka tidak ada jawaban selain itu.

[19] Seperti halnya patung dan berhala.

[20] Dan kamu malah meninggalkan yang berkuasa memberikan manfaat dan menolak mudharrat. Pertanyaan ini merupakan pertanyaan celaan.

[21] Yakni samakah orang kafir dengan orang mukmin?

[22] Atau samakah kekafiran dengan keimanan? Samakah beribadah kepada makhluk yang lemah dengan beribadah kepada al Khaliq (Pencipta) yang memiliki nama dan sifat yang sempurna, yang menguasai makhluk hidup hidup dan makhluk yang mati, yang di Tangan-Nya mencipta, mengatur, memberi manfaat dan menolak bahaya? Tentu tidak sama, sebagaimana kegelapan dengan cahaya tidak sama.

[23] Padahal kenyataannya sekutu-sekutu itu tidak mampu mencipta, dan lagi mereka dicipta.

[24] Tidak ada sekutu bagi-Nya dalam mencipta. Oleh karena hanya Dia yang menciptakan segala sesuatu, maka Dia pula yang berhak disembah saja.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Katakanlah) hai Muhammad kepada kaummu (“Siapakah Rabb langit dan bumi?” Jawabnya, “Allah.”) jika mereka tidak mau mengatakannya, maka tiada jawaban lain kecuali itu. (Katakanlah) kepada mereka (“Maka patutkah kalian mengambil selain Allah) selain-Nya (sebagai pelindung-pelindung) berhala-berhala yang kalian sembah (padahal mereka tidak memiliki kekuasaan untuk memberikan kemanfaatan dan tidak pula kemudaratan bagi diri mereka sendiri?”) kemudian kalian meninggalkan untuk menyembah kepada Yang memiliki dan Yang menguasai kemanfaatan dan kemudaratan? Kata tanya di sini mengandung pengertian cemoohan dan ejekan. (Katakanlah, “Adakah sama orang buta dan orang yang melihat?) orang kafir dan orang mukmin itu apakah sama? (atau samakah gelap-gulita) yakni kekafiran (dan terang-benderang?) yakni keimanan? Tentu saja tidak. (Apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa) artinya sekutu-sekutu itu dapat menciptakan seperti ciptaan Allah (menurut pandangan mereka?”) sehingga mereka berkeyakinan bahwa berhala-berhala atau sekutu-sekutu itu berhak untuk disembah oleh sebab kemampuan mereka dalam hal menciptakan? Kata tanya di sini mengandung makna ingkar; atau dengan kata lain berarti bahwa hakikatnya tidaklah demikian karena sesungguhnya tidak ada yang berhak untuk disembah selain daripada Yang Maha Pencipta. (Katakanlah, “Allah adalah pencipta segala sesuatu) tiada sekutu bagi-Nya di dalam penciptaan ini, maka tiada sekutu pula bagi-Nya dalam hal disembah (dan Dialah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.”) di atas semua hamba-hamba-Nya.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Dia sendiri, karena sesungguhnya mereka mengakui bahwa Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi. Dia adalah Tuhannya dan yang mengaturnya. Tetapi sekalipun demikian, mereka telah mengambil dari selain-Nya penolong-penolong yang mereka sembah-sembah, padahal sembahan-sembahan mereka itu sama sekali tidak memiliki sedikit manfaat pun tidak pula sedikit mudarat pun bagi diri mereka, juga bagi diri para penyembahnya. Dengan kata lain, sembahan-sembahan itu tidak dapat memberikan suatu manfaat pun kepada para penyembahnya, tidak dapat pula menolak suatu mudarat pun dari mereka. Maka apakah sama orang yang menyembah tuhan-tuhan ini selain Allah dengan orang yang menyembah Allah semata tiada sekutu bagi-Nya, sedangkan dia berada pada jalan petunjuk dari Tuhannya? (Jawabannya tentu saja tidak sama). Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الأعْمَى وَالْبَصِيرُ أَمْ هَلْ تَسْتَوِي الظُّلُمَاتُ وَالنُّورُ أَمْ جَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَاءَ خَلَقُوا كَخَلْقِهِ فَتَشَابَهَ الْخَلْقُ عَلَيْهِمْ

Katakanlah, “Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?” (Ar-Ra’d: 16)

Artinya, apakah orang-orang musyrik itu menjadikan sembahan-sembahan bagi mereka selain Allah yang mereka samakan dan sejajarkan dengan kekuasaan-Nya dalam menciptakan segala sesuatu, lalu sembahan-sembahan itu menciptakan hal-hal yang sama dengan ciptaan-Nya, sehingga kedua ciptaan itu sama menurut pandangan mereka, dan mereka tidak dapat membedakannya lagi bahwa padahal makhluk-makhluk itu diciptakan oleh selain-Nya? Jawabannya, tentu saja tidak; yakni tidaklah kenyataannya seperti itu. Karena sesungguhnya tiada sesuatu pun yang menyerupai dan sama dengan Dia, tiada tandingan bagi-Nya, tiada lawan bagi-Nya, tiada pembantu bagi-Nya, tidak beranak, dan tidak beristri. Maha Tinggi Allah dari hal tersebut dengan ketinggian yang sebesar-besarnya. Sekalipun mereka yang musyrik itu menyembah sembahan-sembahan selain Allah, tetapi dalam hati mereka mengakui bahwa sembahan-sembahan itu adalah makhluk dan hamba Allah. Hal ini terbukti melalui talbiyah mereka yang mengatakan, “Labbaika, tiada sekutu bagi­Mu, kecuali sekutu yang menjadi milik-Mu. Engkau menguasainya, sedangkan dia tidak berkuasa,” juga seperti yang disebutkan oleh Allah Subhaanahu wa Ta’aala dalam firman-Nya menceritakan perihal mereka:

مَا نَعْبُدُهُمْ إِلا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekat­kan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya. (Az-Zumar: 3)

Maka Allah membantah dugaan mereka itu, dan Allah menyatakan bahwa tiada seorang pun yang dapat memberikan syafaat di sisi-Nya kecuali dengan seizin-Nya, yaitu melalui firman-Nya dalam ayat lain:

وَلا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ عِنْدَهُ إِلا لِمَنْ أَذِنَ لَهُ

Dan tiadalah berguna syafaat di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafaat itu. (Saba’: 23)

وَكَمْ مِنْ مَلَكٍ فِي السَّمَاوَاتِ

Dan berapa banyaknya malaikat di langit. (An-Najm: 26), hingga akhir ayat.

إِنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ إِلا آتِي الرَّحْمَنِ عَبْدًا لَقَدْ أَحْصَاهُمْ وَعَدَّهُمْ عَدًّا وَكُلُّهُمْ آتِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْدًا

Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri. (Maryam: 93-95)

Apabila semuanya adalah hamba-hamba Allah, maka sebagian dari mereka tidak boleh menyembah sebagian yang lain tanpa dalil dan tanpa bukti. Apa yang mereka lakukan itu tiada lain hanyalah berdasarkan pendapat, buat-buatan, dan ciptaan mereka sendiri. Kemudian Allah telah mengutus rasul-rasul-Nya dari awal sampai yang terakhir untuk melarang mereka melakukan penyembahan kepada selain Allah. Akan tetapi, mereka didustakan dan ditentang. Maka mereka yang menentang para rasul itu benar-benar berhak mendapat azab Allah.

وَلا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang jua pun. (Al-Kahfi: 49)

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Berita sebelumyaArus Itu Membawa Buih yang Mengambang
Berita berikutnyaSemua Sujud Kepada Allah Baik yang di Langit Maupun yang di Bumi