Peringatan Agar Tidak Berbuat Syirk

Tafsir Al-Qur’an: Surah An-Nahl ayat 51-52

0
399

Kajian Tafsir Surah An-Nahl ayat 51-52. Peringatan agar tidak berbuat syirk kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala. Dia berfirman:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

{س} وَقَالَ اللّهُ لاَ تَتَّخِذُواْ إِلـهَيْنِ اثْنَيْنِ إِنَّمَا هُوَ إِلهٌ وَاحِدٌ فَإيَّايَ فَارْهَبُونِ -٥١- وَلَهُ مَا فِي الْسَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَلَهُ الدِّينُ وَاصِباً أَفَغَيْرَ اللّهِ تَتَّقُونَ -٥٢

Dan Allah berfirman, “Janganlah kamu menyembah dua tuhan; hanyalah Dia Tuhan Yang Maha Esa. Maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut.” Dan milik-Nya segala apa yang ada di langit dan di bumi, dan kepada-Nyalah (ibadah dan) ketaatan selama-lamanya. Mengapa kamu takut kepada selain Allah? (Q.S. An-Nahl : 51-52)

.

Tafsir Ibnu Abbas

Wa qālallāhu lā tattakhidzū (dan Allah berfirman, “Janganlah kalian menjadikan), yakni janganlah kalian menyembah.

Ilāhainitsnaini (dua tuhan), yakni Allah Ta‘ala dan berhala-berhala.

Innamā huwa ilāhuw wāhidun (sesungguhnya Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa) yang tidak beranak dan tidak pula bersekutu.

Fa iyyāya farhabūn (oleh karena itu, hanya kepada-Ku-lah hendaknya kalian takut”), yakni hendaklah kalian takut kepada-Ku jangan sampai menyembah berhala-berhala itu.

Wa lahū mā fis samāwāti wal ardli (dan kepunyaan-Nya-lah segala apa yang ada di langit dan bumi), yakni semua makhluk dan perkara-perkara yang menakjubkan.

Wa lahud dīnu wāshibā (dan hanya untuk-Nya-lah ketaatan itu selama-lamanya). Ada juga yang berpendapat, ketaatan yang dilakukan secara ikhlas.

A fa ghairullāhi tattaqūn (maka apakah kepada selain Allah kalian bertakwa), yakni kalian beribadah?


BACA JUGA Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-14 untuk ayat lainnya

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an

  1. [27]Dan Allah berfirman, “Janganlah kamu menyembah dua tuhan; hanyalah Dia Tuhan Yang Maha Esa[28]. Maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut[29].”

[27] Di ayat ini, Allah Subhaanahu wa Ta’aala memerintahkan untuk beribadah hanya kepada-Nya, dan Dia menguatkan perintah-Nya itu dengan sendiri-Nya Dia memberikan nikmat.

[28] Oleh karena Dia Mahaesa dalam zat-Nya, sifat-Nya, nama-Nya dan perbuatan-Nya, maka beribadahlah hanya kepada-Nya.

[29] Yakni takutlah kepada-Ku saja, kerjakanlah perintah-Ku, dan jauhilah larangan-Ku dengan tanpa menyekutukan-Ku dengan suatu makhluk pun, karena semuanya milik Allah Ta’ala.

  1. Dan milik-Nya[30] segala apa yang ada di langit dan di bumi, dan kepada-Nyalah (ibadah dan) ketaatan selama-lamanya. Mengapa kamu takut kepada selain Allah[31]?

[30] Milik-Nya, ciptaan-Nya, dan hamba-Nya.

[31] Padahal mereka tidak kuasa menolak madharrat dan memberi manfaat.

.

Tafsir Jalalain

  1. (Allah berfirman, “Janganlah kalian menyembah dua tuhan) lafal istnaini berfungsi sebagai taukid atau pengukuhan makna (Sesungguhnya Dialah Tuhan Yang Maha Esa) disebutkannya lafal ilaahun dan waahidun untuk menetapkan sifat uluhiah dan sifat wahdaniah Allah (maka hendaklah kepada-Ku saja kalian takut.”) janganlah kalian takut kepada selain Aku. Di dalam ungkapan ini terkandung pengertian iltifat dari dhamir gaib.
  2. (Dan kepunyaan-Nyalah segala apa yang ada di langit dan di bumi) sebagai milik, makhluk dan hamba-Nya (dan untuk-Nyalah agama itu) ketaatan itu (selama-lamanya) untuk selamanya; lafal waashiban menjadi hal dari lafal ad-diin, sedangkan sebagai `amilnya adalah makna zharaf. (Maka mengapa kalian bertakwa kepada selain Allah?) sedangkan Dia adalah Tuhan yang sebenarnya, dan tiada Tuhan selain-Nya. Istifham atau kata tanya di sini mengandung pengertian ingkar dan celaan.

.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Swt. menyebutkan bahwa tidak ada Tuhan selain Dia, dan bahwa penyembahan itu hanyalah ditujukan kepada Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Sesungguhnya Dialah yang memiliki segala sesuatu, yang menciptakannya, dan Dialahi Tuhan semuanya.

Dan untuk-Nyalah ketaatan itu selama-lamanya. (An-Nahl: 52)

Ibnu Abbas, Mujahid, Ikrimah, Maimun ibnu Mahran, As-Saddi, Qatadah, dan lain-lainnya mengatakan bahwa makna wasiban ialah selama-lamanya.

Diriwayatkan pula dari Ibnu Abbas, bahwa wasiban artinya wajib.

Mujahid mengatakan bahwa makna wasiban ialah murni hanya untuk-Nya, yakni yang wajib disembah oleh semua makhluk yang ada di langit dan di bumi hanyalah Allah saja. Seperti yang disebutkan dalam ayat lain, yaitu:

أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا

Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nyalah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allah-lah mereka dikembalikan. (Ali Imran: 83)

Berdasarkan pendapat Ibnu Abbas dan Ikrimah, maka pengertiannya termasuk ke dalam Bab “Kebaikan”. Adapun berdasarkan pendapat Mujahid, maka pengertiannya termasuk ke dalam Bab “Talab (Perintah)”. Dengan kata lain, takutlah kalian, janganlah kalian mempersekutukan Aku dengan sesuatu pun, dan murnikanlah ketaatan kalian hanya kepada-Ku. Pengertian ini sama dengan yang disebutkan di dalam ayat lain melalui firman-Nya:

أَلا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ

Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). (Az-Zumar: 3)

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Berita sebelumyaSegala Nikmat yang Ada Padamu
Berita berikutnyaBersujud Kepada Allah