Apakah Anak-anak Kaum Musyrik Dimasukkan ke Dalam Surga?

Tafsir Al-Qur’an: Surah Al-Israa’ ayat 15

0
192

Kajian Tafsir Surah Al-Israa’ ayat 15. (Sebelumnya: di sini ….) Sebuah pasal: Sesungguhnya para ulama masih memperselisihkan, apakah anak-anak kaum musyrik dimasukkan ke dalam surga? Ada dua pendapat di kalangan para ulama.

Pertama, pendapat yang mengatakan bahwa mereka dimasukkan ke dalam surga. Orang-orang yang berpendapat demikian beralasan dengan hadis Samurah yang mengatakan bahwa Nabi ﷺ (dalam perjalanan Isra-nya) melihat anak-anak kaum muslim dan kaum musyrik ada bersama Nabi Ibrahim. Juga beralasan dengan hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad melalui Khansa, dari pamannya yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Anak yang baru lahir berada di dalam surga.

Dalil ini memang sahih, tetapi hadis-hadis yang menyebutkan adanya ujian di hari kiamat lebih khusus lagi daripada dalil ini. Anak yang menurut ilmu Allah kelak akan menjadi orang yang taat, rohnya di alam Barzakh bersama Nabi Ibrahim dan anak-anak kaum muslim yang mati dalam keadaan fitrah (yakni masih anak-anak dan belum berusia balig). Dan anak yang menurut ilmu Allah kelak tidak taat, maka perkaranya diserahkan kepada Allah Swt., dan kelak di hari kiamat ia akan di masukkan ke dalam neraka, seperti apa yang di tunjukkan oleh hadis-hadis imtihan (ujian) yang dinukil oleh Al-Asy’ari dari kalangan ulama ahli sunnah.

Kemudian mereka yang berpendapat bahwa anak-anak tersebut berada di dalam surga, di antara anak-anak tersebut ada yang di jadikan hidup bebas di dalam surga, dan di antara mereka ada yang dijadikan sebagai pelayan-pelayan ahli surga; seperti yang disebutkan di dalam hadis Ali ibnu Zaid, dari Anas yang ada pada Imam Abu Daud At-Tayalisi. Hadis ini daif.

Kedua, yaitu yang mengatakan bahwa anak-anak kaum musyrik tinggal bersama ayah-ayah mereka, yakni di dalam neraka. Pendapat ini berdalilkan kepada apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad ibnu Hambal melalui Abul Mugirah:

حَدَّثَنَا عُتْبَةُ بْنُ ضَمْرَةَ بْنِ حَبِيبٍ، حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبَى قَيْسٍ مَوْلَى غُطَيْف، أَنَّهُ أَتَى عَائِشَةَ فَسَأَلَهَا عَنْ ذَرَارِيِّ الْكُفَّارِ فَقَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: هُمْ تَبَعٌ لِآبَائِهِمْ. فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، بِلَا عَمَلٍ؟ فَقَالَ: اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا كَانُوا عَامِلِينَ

telah menceritakan kepada kami Atabah ibnu Damrah ibnu Habib, telah menceritakan kepadaku Abdullah ibnu Abu Qais maula Gatif, bahwa ia datang kepada Siti Aisyah, lalu bertanya kepadanya mengenai nasib anak-anak kaum Kuffar. Maka Siti Aisyah menjawabnya dengan hadis Rasul ﷺ yang mengatakan: “Mereka mengikuti kepada ayah-ayah mereka.” Saya (Aisyah) bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah demikian sekalipun mereka tidak beramal?” Rasulullah menjawab, “Allah lebih mengetahui tentang apa yang bakal mereka amalkan (bila terus hidup).”

Imam Abu Daud mengetengahkan hadis ini melalui riwayat Muhammad ibnu Harb, dari Muhammad ibnu Ziyad Al-Ilhani; ia pernah mendengar Abdullah ibnu Abu Qais mengatakan bahwa ia pernah mendengar Siti Aisyah menceritakan hadis berikut:

سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَرَارِيِّ الْمُؤْمِنِينَ قَالَ: هُمْ مِنْ آبَائِهِمْ. قُلْتُ: فَذَرَارِيُّ الْمُشْرِكِينَ؟ قَالَ: هُمْ مَعَ آبَائِهِمْ قُلْتُ: بِلَا عَمَلٍ؟ قَالَ: اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا كَانُوا عَامِلِينَ

Saya pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang nasib anak-anak kaum mukmin. Maka beliau ﷺ menjawab, “Mereka ada bersama ayah-ayah mereka (yakni di dalam surga).” Saya bertanya lagi, “Bagaimanakah dengan nasib anak-anak kaum musyrik?” Nabi ﷺ menjawab, “Mereka tinggal bersama ayah-ayah mereka.” Saya bertanya, “Sekalipun tanpa amal?” Nabi ﷺ menjawab, “Allah lebih mengetahui tentang apa yang bakal mereka kerjakan.”

Imam Ahmad telah meriwayatkan pula dari Waki’, dari Abu Uqail Yahya ibnul Mutawakkil yang hadisnya berpredikat matruk (tidak dapat dipakai), dari tuan perempuannya (yaitu Bahiyyah), dari Siti Aisyah, bahwa ia pernah menceritakan perihal anak-anak kaum musyrik kepada Rasulullah ﷺ. Maka Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنْ شِئْتِ أَسْمَعْتُكِ تَضَاغِيَهُمْ فِي النَّارِ

Jika engkau suka, aku akan memperdengarkan suara tangisan mereka sedang berada di dalam neraka kepadamu.

قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْإِمَامِ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ فُضَيْلِ بْنِ غَزْوَانَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عُثْمَانَ، عَنْ زَاذَانَ عَنْ عَلِيٍّ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: سَأَلَتْ خَدِيجَةُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ وَلَدَيْنِ لَهَا مَاتَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَقَالَ: هُمَا فِي النَّارِ. قَالَ: فَلَمَّا رَأَى الْكَرَاهِيَةَ فِي وَجْهِهَا [قَالَ] لَوْ رَأَيْتِ مَكَانَهُمَا لَأَبْغَضْتِهِمَا. قَالَتْ: فَوَلَدِي مِنْكَ؟ قَالَ: [قَالَ: فِي الْجَنَّةِ. قَالَ: ثُمَّ قَالَ رَسُولُ الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ]. إِنَّ الْمُؤْمِنِينَ وَأَوْلَادَهُمْ فِي الْجَنَّةِ، وَإِنَّ الْمُشْرِكِينَ وَأَوْلَادَهُمْ فِي النَّارِ ثُمَّ قَرَأَ: وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ

Abdullah ibnu Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Usman ibnu Abu Syaibah, dari Muhammad ibnu Fudail ibnu Gazwan, dari Muhammad ibnu Usman, dari Zazan, dari Ali r.a. yang menceritakan bahwa Siti Khadijah pernah bertanya kepada Rasulullah tentang anaknya yang mati di masa Jahiliah. Maka Nabi bersabda bahwa keduanya berada di dalam neraka. Ali r.a. melanjutkan kisahnya, bahwa setelah kelihatan muka Khadijah murung karena tidak suka, maka Rasulullah bersabda kepadanya, “Seandainya engkau aku perlihatkan kedudukan keduanya (bila telah besar), tentulah kamu akan membenci keduanya.” Siti Khadijah kembali bertanya, “Maka bagaimanakah nasib anakku yang lahir dari kamu?” Nabi menjawab: Sesungguhnya orang-orang mukmin dan anak-anak mereka berada di dalam surga, dan sesungguhnya orang-orang musyrik dan anak-anak mereka berada di dalam neraka. Kemudian Rasulullah membacakan firman-Nya: Dan orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka. (Ath-Thur: 21)

Hadis ini garib, karena sesungguhnya di dalam sanadnya terdapat Muhammad ibnu Usman, sedangkan dia orangnya tidak dikenal; dan gurunya (yaitu Zazan) sesungguhnya tidak menjumpai masa sahabat Ali r.a.

Abu Daud telah meriwayatkan melalui hadis Ibnu Abu Zaidah, dari ayahnya, dari Asy-Sya’bi yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

الْوَائِدَةُ وَالْمَوْءُودَةُ فِي النَّارِ

Wanita yang menguburkan anak perempuannya hidup-hidup dan anaknya yang dikuburnya hidup-hidup, keduanya berada di dalam neraka.

Kemudian Asy-Sya’bi mengatakan, “Hadis ini telah diriwayatkan kepadaku oleh Alqamah, dari Abu Wa-il, dari Ibnu Mas’ud.”

Hadis ini telah diriwayatkan pula oleh Jama’ah, dari Daud ibnu Abu Hindun, dari Asy-Sya’bi, dari Alqamah, dari Salamah ibnu Qais Al-Asyja’i yang mengatakan, “Aku dan saudaraku datang kepada Nabi ﷺ lalu kami bertanya, ‘ Sesungguhnya ibu kami telah meninggal dunia dimasa Jahiliah, padahal dahulu dia adalah seorang yang suka menghormati tamu, suka bersilaturahmi, tetapi ia pernah mengubur hidup-hidup saudara perempuannya yang belum balig di masa Jahiliah.’ Maka Rasulullah ﷺ bersabda:

الْوَائِدَةُ وَالْمَوْءُودَةُ فِي النَّارِ، إِلَّا أَنْ تُدْرِكَ الْوَائِدَةُ الْإِسْلَامَ، فَتُسْلِمَ

‘Wanita yang mengubur hidup-hidup anak perempuan dan anak perempuan yang dikuburnya hidup-hidup (keduanya) berada di dalam neraka, terkecuali bila si wanita yang mengubur hidup-hidup anak perempuannya itu menjumpai masa Islam, lalu masuk Islam’.”

Sanad hadis ini hasan.

Pendapat terakhir mengatakan bahwa segala sesuatunya diserahkan kepada Allah. Dengan kata lain, mereka bersikap abstain, dan mereka melandasi pendapatnya dengan hadis Nabi ﷺ yang mengatakan: Allah lebih mengetahui apa yang bakal mereka kerjakan.

Hal ini di dalam kitab Sahihuin disebutkan melalui hadis Ja’far ibnu Abu Iyas, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah ﷺ pernah ditanya mengenai anak-anak kaum musyrik. Beliau ﷺ menjawab:

اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا كَانُوا عَامِلِينَ

Allah lebih mengetahui apa yang bakal mereka kerjakan.

Hal yang sama disebutkan pula dalam kitab Sahihain melalui hadis Az-Zuhri, dari Ata ibnu Yazid, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ bahwa Nabi ﷺ pernah ditanya mengenai anak-anak kaum musyrik, maka beliau ﷺ menjawab: Allah lebih mengetahui apa yang bakal mereka kerjakan.

Akan tetapi, di antara ulama ada yang berpendapat bahwa mereka dijadikan oleh Allah untuk menghuni Al-A’raf (tembok-tembok yang tinggi yang membatasi antara surga dan neraka). Pendapat ini merujuk kepada pendapat yang mengatakan bahwa mereka termasuk ahli surga, karena sesungguhnya Al-A’raf bukanlah tempat untuk menetap; dan tempat kembali para penduduknya tiada lain adalah surga, seperti apa yang telah dijelaskan di dalam tafsir surat Al-A’raf.

Sebuah pasal

Perlu diketahui bahwa perbedaan pendapat ini menyangkut anak-anak kaum musyrik. Adapun anak-anak orang-orang mukmin, tidak ada perbedaan pendapat di kalangan mereka mengenainya, seperti yang diceritakan oleh Abu Ya’la ibnul Farra Al-Hambali, dari Imam Ahmad yang mengatakan bahwa tidak ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama tentang anak-anak kaum muslim, semua bersepakat bahwa mereka termasuk ahli surga. Pendapat inilah yang terkenal di kalangan orang-orang banyak, dan pendapat ini pulalah yang dapat kita buktikan kebenarannya.

Adapun mengenai apa yang disebutkan oleh Syekh Abu Umar ibnu Abdul Bar dari sebagian ulama, bahwa mereka bersikap abstain mengenai masalah ini dan menyerahkan nasib mereka kepada kehendak Allah Swt., Abu Umar mengatakan bahwa pendapat ini dikatakan oleh sejumlah ulama dari kalangan ahli fiqih dan ahli hadis, antara lain Hammad ibnu Zaid, Hammad ibnu Salamah, Ibnul Mubarak, Ishak ibnu Rahawaih, dan lain-lainnya. Mereka mengatakan bahwa pendapat ini mirip dengan apa yang digambarkan oleh Imam Malik di dalam kitab Muwatta ‘-nya dalam Abwabul Qadar, yakni hadis-hadis yang diketengahkannya dalam hal ini.

Pendapat ini pulalah yang dijadikan pegangan oleh murid-muridnya, padahal tiada suatu nas pun yang bersumber dari Imam Malik mengenainya. Akan tetapi, kalangan ulama terkemudian dari kalangan pengikutnya berpendapat bahwa anak-anak dari kaum muslim berada di dalam surga, sedangkan anak-anak kaum musyrik khususnya berada dalam kehendak Allah. Demikianlah menurut Abu Umar, dan pendapat ini dinilai garib sekali.

Abu Abdullah Al-Qurtubi mengatakan hal yang semisal dengan pendapat di atas dalam kitabnya At-Tazkirah.

Dalam masalah ini mereka menyebutkan pula hadis Aisyah binti Talhah, dari Aisyah Ummul Mu’minin yang menceritakan bahwa:

دُعِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى جِنَازَةِ صَبِيٍّ مِنَ الْأَنْصَارِ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، طُوبَى لَهُ عُصْفُورٌ مِنْ عَصَافِيرِ الْجَنَّةِ لَمْ يَعْمَلِ السُّوءَ وَلَمْ يُدْرِكْهُ، فَقَالَ: أَوَ غَيْرَ ذَلِكَ يَا عَائِشَةُ، إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ الْجَنَّةَ وَخَلَقَ لَهَا أَهْلًا وَهُمْ فِي أَصْلَابِ آبَائِهِمْ، وَخَلَقَ النَّارَ وَخَلَقَ لَهَا أَهْلًا وَهُمْ فِي أَصْلَابِ آبائهم

Nabi ﷺ diundang untuk mengurusi jenazah seorang anak dari kalangan Ansar. Maka saya (Aisyah) berkata, “Wahai Rasulullah, beruntunglah anak ini, dia menjadi seekor burung pipit surga, tidak pernah melakukan suatu dosa dan tidak pula menjumpainya.” Maka Nabi ﷺ bersabda: Hai Aisyah, tidaklah demikian keadaannya. Sesungguhnya Allah menciptakan surga dan menciptakan pula penduduknya, sedangkan mereka masih berada di dalam tulang sulbi bapak-bapak mereka. Dan Allah menciptakan neraka serta menciptakan pula penduduknya, sedangkan mereka masih berada di dalam tulang sulbi bapak-bapak mereka.

Hadis riwayat Muslim, Ahmad, Abu Daud, Nasai, dan Ibnu Majah.

Mengingat pembahasan dalam masalah ini memerlukan dalil-dalil yang sahih lagi baik  sedangkan orang-orang banyak yang mengutarakan pendapatnya mengenai masalah ini, padahal mereka tidak mempunyai pengetahuan dari pentasyri’ mengenainya maka sejumlah ulama memakruhkan pembahasan masalah ini.

Hal ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Al-Qasim ibnu Muhammad ibnu Abu Bakar As-Siddiq, Muhammad ibnul Hanafiyah, dan yang lainnya.

Ibnu Hibban di dalam kitab sahihnya telah mengetengahkan sebuah hadis dari Jarir ibnu Hazim; ia pernah mendengar Abu Raja Al-Utaridi mengatakan bahwa ia pernah mendengar Ibnu Abbas r.a. berkhotbah di atas mimbarnya seraya mengeluarkan hadis berikut, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

لَا يَزَالُ أَمْرُ هَذِهِ الْأُمَّةِ مُوَاتِيًا -أَوْ مُقَارِبًا-مَا لَمْ يَتَكَلَّمُوا فِي الوِلْدان والقَدَر

Perkara umat ini tetap dalam keadaan lancar atau mendekati (kebenaran) selama mereka tidak membicarakan masalah wildan dan takdir.


BACA JUGA Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-15 untuk ayat lainnya

Ibnu Hibban mengatakan, yang dimaksud dengan wildan ialah anak-anak kaum musyrik. Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Abu Bakar Al-Bazzar melalui jalur Jarir ibnu Hazm dengan sanad yang sama, kemudian ia mengatakan bahwa hadis ini telah diriwayatkan pula oleh jama’ah melalui Abu Raja, dari Ibnu Abbas secara mauquf.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

Berita sebelumyaPembinasaan kepada Negeri-negeri yang Zalim
Berita berikutnyaKampung Akhirat Adalah Kampung Pembalasan